海洋之奴 Budak – Budak Formosa

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 海洋之奴 Budak – Budak Formosa

👤 Setyana Mblems

 

Taiwan 2013. Suasana sejuknya udara pagi hari di sekitar pelabuhan Nanfang Ao menyapa kedatanganku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi Formosa. Berjejer kapal-kapal dengan rapinya bersandar di dermaga. Apalagi ditambah dengan megahnya jembatan Tuo yang membentang jalan menuju kota. Sejauh mata memandang terlihat indahnya view kota beserta laut yang mengelilingi pelabuhan. Pelabuhan Nanfang Ao yang terletak di Su’ao Township, Yilan merupakan pelabuhan terbesar kedua penghasil ikan di Taiwan. Ada sekitar 1.300 ABK asal Indonesia yang bekerja di pelabuhan Nanfang Ao.
Begitulah sedikit penjelasan mengenai pelabuhan Nanfang Ao dari egentcy yang mengantarkanku menuju tempat majikan baru. Tak berapa lama kemudian sampailah di tempat majikan baruku. Bergegas turun dari mobil, mulai berdegup kencang dadaku untuk pertama kalinya bertemu dengan Mr. Wang sebagai majikan sekaligus kapten kapal tempat aku bekerja. Mr. Wang beserta Egentcy kemudian mengantarkanku menuju kapal tempat kami bekerja.
“Mas Arif Wibowo sudah mengertikan untuk peraturan kerjanya seperti apa?” tanya Egentcy kepadaku.
“Sudah mengerti pak.” Jawabku singkat.
“Owh..iya nama panggilan kamu A Wei ya, disingkat saja biar majikan lebih mudah dan cepat ingat nama kamu. Oke. Kerja yang hati-hati jaga keselamatan nyawa kamu saat berlayar.” Pesan egentcy sambil beranjak meninggalkanku bersama Mr. Wang.
Kulihat ada beberapa teman dari Indonesia tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk berlayar . Ada diantara mereka sibuk menggulung jaring-jaring ikan dan ada pula yang sedang memasak. Di kapal An Fong milik Mr. Wang ada sekitar 7 ABK asal Indonesia dan 3 ABK asal Filipina. Kapal An Fong merupakan jenis kapal jaring atau kapal besar dengan kapasitas bisa memuat berton-ton ikan hasil tangkapan dari laut. Kemudian aku diantar oleh mas Bashir menuju tempat tidur para ABK untuk menaruh barang. Mas Bashir adalah salah satu ABK asal Indonesia yang sudah setahun lalu bekerja dengan Mr. Wang. Keadaan kamar di dalam kapal lumayan kotor, tak rapi serta sangat sempit. Tak sengaja ku lihat ada banyak serangga berkeliaran di sekitar dinding dan lantai kapal. Bau yang tak sedap serta banyak sekali puntung rokok yang berserakan dan botol minuman bekas semakin memperburuk keadaan kamar. Dalam hati berkata mungkin ini baru pemanasan saja, nantinya akan terbiasa dengan kehidupan di lautan yang begitu keras.
Setelah selesai berkemas, akhirnya aku mulai bergabung dengan teman ABK lain untuk mempersiapkan pelayaran sore nanti. Tanpa basa-basi mas Bashir langsung mengajariku mengenai cara penangkapan ikan dan pengenalan operator mesin kapal. Ada salah satu ABK lain yang terus memandangiku dengan wajah yang sinis. Tiba-tiba dia mulai mendekatiku setelah mas Bashir selesai memberikan pengarahan.
“Selamat datang di kapal An Fong, neraka jahanam bagi budak-budak samudra bodoh seperti kamu. Mau setor nyawa kamu di sini.” Dengan suara yang lirih namun begitu menusuk di relung hati.

Begitulah kebiasan sifat buruk Anto ABK Indonesia lain yang sama bekerja di kapal An Fong mengancamku sebagai salam perjumpaan.
Namun tak kuhiraukan apa ocehan Anto. Sudah menjadi tekatku bekerja di Taiwan dan berharap pulang membawa kesuksesan untuk segera melamar dik Sri, wanita pujaan hatiku. Jadi apapun rintangannya aku yakin bisa melaluinya sebagai wujud tulusnya cintaku untuk meminangnya.
Aku memang bukanlah seorang kapten Jack Sparrow sang bajak laut tangguh dan pemberani dengan membawa kapal Black Pearlnya bisa menguasai seluruh wilayah kepulauan Karibia di Benua Eropa dan Amerika. Dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya seperti Hector Barbossa, Komodor James Norrington, Davy Jones, dan Cultler Beckett. Setidaknya sekarang Tuhan telah mengijinkanku berada di atas kapal An Fong yang siap berlayar mengarungi samudra, bertempur dengan gelombang dan bertarung dengan badai sekalipun.

*****
Sapa senja di ufuk Nanfang Ao bergegas membawa kapal An Fong meninggalkan pelabuhan. Nyanyian deburan ombak seolah melantunkan harapan untuk kembali bersandar dengan hasil tangkapan yang melimpah. Sore ini pertama kalinya aku melaut bersama rekan ABK yang lain masih di sekitaran Samudra Pasifik menuju kearah barat daya perbatasan kepulauan utama Jepang yaitu Kepulauan Ryukyu. Berdasarkan pengalaman Mr. Wang yang sudah mahir puluhan tahun menjadi nelayan sehingga beliau tahu dimana letak bersarangnya ikan tuna, ikan layang dan ikan kembung yang sedang banyak-banyaknya pada musim panas saat ini. Sedang Mr. Wang sendiri yang mengemudikan kapal sekaligus sebagai kapten kapal. Beberapa menit yang lalu Mr. Wang sudah berteriak marah-marah menyuruh kita untuk cepat dalam bekerja sambil mengunyah pinang yang membuat wajahnya semakin terlihat sangar.
“Prangggg…Hei, kamu! Budak bodoh yang baru datang, cepat kerjanya jangan malas.” Bentak Mr. Wang sambil menendang sebuah ember di dekat tali jaring. Aku terhentak, tak sepatahkatapun berani aku lontarkan.
Kupercepat langkahku untuk manarik jaring-jaring ikan yang sangat berat sebelum nanti di lemparkan ke laut. Lampu lampion sudah dinyalakan untuk menarik perhatian ikan-ikan .Meskipun aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Mr. Wang namun dari nadanya yang kasar dan tatapan matanya yang penuh amarah aku tahu kalau beliau sedang memarahiku. Bukan hanya aku yang baru, tetapi banyak dari ABK lain sering kena bentak bahkan kena pukul dari Mr. Wang. Namun dari kami tidak ada yang berani melawan, karena kalau kami melawan bisa dibunuh lalu mayatnya dibuang di laut. Begitulah penuturan oleh mas Bashir ketika memberitahuku di sela-sela kesibukan menggulung jaring ikan.
Waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi, namun dari kami semua belum ada yang boleh untuk makan nasi . Padahal lemparan jaring pertama sudah ditarik ke atas kapal dan hasilnya lumayan banyak. Ada sekitar 10 ton ikan tuna yang berjenis yellowfin dan cakalang berhasil kami peroleh untuk pelayaran perdanaku malam ini. Karena Mr. Wang belum mengijinkan kami untuk beristirahat sebentar sekedar untuk makan nasi. Kata Mr. Wang radar kapal menunjukkan bahwa ada segerombolan ikan tuna berada di sekitaran kapal An Fong. Untuk itu kita dipaksa siap siaga bila sewaktu radar menangkap lagi keberadaan ikan tuna tersebut.
Ikan Tuna jenis yellowfin atau lebih dikenal dengan sebutan ikan tuna sirip kuning mempunyai nama latin Thunnus albacares dengan berat bisa mencapai 200 kg banyak diminati oleh permintaan pasar Internasional seperti Jepang dan Amerika. Untuk itu Mr. Wang sangat antusias mengincar keberadaan ikan tuna jenis yellowfin sehingga para ABK yang sudah mulai melemas belum diperbolehkan untuk beristirahat apabila Mr. Wang belum merasa puas dengan hasil tangkapannya.
Bahkan sang surya mulai menyapa dunia, membangunkan alam dengan sinarnya yang menyilau perlahan. Namun radar kapal tak kunjung menunjukkan tanda-tanda adanya ikan tuna. Akhirnya Mr. Wang memberikan perintah kepada semua ABK untuk beristirahat. Sebuah awal perjuangan yang menyiksa. Padahal dari kemarin sore hingga subuh menyapa semua ABK baru diperbolehkan untuk sekedar makan nasi. Sungguh tiada belas kasihan sama sekali kepada kita semua. Sambil menyantap nasi dalam piring lempeng, mas Bashir bercerita mengenai jadwal istirahat yang tidak tentu apabila waktu pelayaran.
“Lah. Kayak begini sudah menjadi hal biasa. Mau kelaparan atau kita sekarat sekalipun apabila Mr. Wang belum memberi perintah boleh makan, ya tidak boleh makan.“ Tutur mas Bashir sambil melahap cepat nasinya karena rasa lapar yang menyiksa.
Jadi kondisi yang seperti ini sudah menjadi hal biasa bagi semua ABK di kapal An Fong. Dan waktunya untuk istirahat kadang hanya dijatah sekitar 2-3 jam saja dalam sehari. Apabila Mr. Wang memerintahkan untuk siap kembali dalam bekerja semua ABK hanya bisa nurut.
Setelah habis waktu istirahat, Mr. Wang kembali memerintahkan semua ABK untuk kembali bekerja. Dengan sifatnya yang arogan dan kasar Mr. Wang kembali memperlakukan kita layaknya seperti budak. Tak sengaja Joni ABK asal Filipina menjadi sasaran kemurkaan Mr. Wang karena tak sengaja salah menjahit pada jaring ikan yang rusak. Mr. Wang dengan seenaknya memukul kepala Joni dan menendangnya dengan bingas. Ingin sekali rasanya membela Joni, namun semakin dilawan Mr. Wang semakin brutal tingkahnya. Jadi para ABK yang lain hanya bisa diam tanpa berani membela Joni.
Akupun juga pernah kena pukulan di kepala hanya gara-gara aku tidak mengerti apa yang disuruh oleh Mr. Wang. Kesalahpahaman diantara ABK dengan Mr. Wang atau tidak mengerti dalam bahasa mandarin adalah pokok permasalahannya. Setidaknya jangan perlakukan kami seperti budak. Sudah dipukuli dan dipekerjakan secara tidak manusiawi. Kerasnya bebatuan karang saja lebih mudah diluluhkan daripada kerasnya tabiat seseorang yang buruk.

****
Sudah lebih dari purnama ke enam bersama kapal An Fong kuarungi samudra kehidupan di pulau Formosa. Sore tadi kudengar kabar gembira dari wanita pujaanku, dik Sri masih setia menungguku. Melalui pinjaman handphone milik mas Bashir kudengar suara lembutnya dalam keadaan baik-baik saja. Semakin membuatku tambah semangat dalam bekerja meskipun penuh perjuangan yang melelahkan.
“Mas, kerja yang hati-hati ya di Taiwan. Jaga keselamatan diri mas. Aku selalu menunggumu pulang.” Seperti kedamaian yang merasuk dalam kalbu, suara dik Sri melalui handphone sungguh menenangkanku.
Hampir setengah tahun bekerja dengan Mr. Wang namun kenyataannya baru dibayar 2 bulan saja oleh beliau. Sungguh ironis sekali ketika meminta gaji secara langsung kepada Mr. Wang mengenai gaji selama 6 bulan namun tidak diberi. Mr. Wang selalu menghindar ataupun mencari alasan yang tak jelas. Mas Bashir pernah membantuku untuk mencoba menghubungi egencty namun malah tidak digubris sama sekali. Begitupun dengan ABK yang lain sama belum menerima gaji yang seharusnya diterima.
Dan lagi jika kapal sedang tidak melaut atau kembali bersandar di pelabuhan Nanfang Ao seharusnya waktunya semua ABK untuk beristirahat setelah beberapa hari di lautan. Namun, Mr. Wang selalu saja menyuruh kita untuk bekerja seperti menjahit jaring ikan yang robek ataupun memperbaiki bagian kapal yang rusak. Karena Mr. Wang tidak mau rugi dengan kehilangan tangkapan gara-gara jaring yang robek, untuk itu dia memanfaatkan waktu istirahat ABK untuk menjahit jaring. Apalagi pekerjaan menjahit jaring yang panjangnya seluas lapangan sepak bola harus di bawah terik matahari yang menyengat. Sungguh membuat kulitku yang dulu dan sekarang mengalami transformasi yang menakjubkan berubah menjadi hitam sekali. Sialnya itupun tidak dihitung gaji lembur.

****
Menurut badan Meteorologi Taiwan akan terjadi Topan Soulik, sebuah badai tropis yang membawa angin kencang dan hujan lebat pada Jum’at pagi nanti. Biro cuaca Taiwan mengatakan bahwa Topan Soulik mulai muncul di sebuah wilayah yang berjarak 450 km (280 mil) dari wilayah Tenggara Yilan. Semua stasiun televisi ataupun stasiun radio di Taiwan sedang gencar-gencarnya memberitahu akan datangnya Topan Soulik untuk menghimbau khususnya masyarakat pesisir agar berhati-hati dan menghentikan sementara aktifitas melautnya.
Karena sudah ada pemberitahuan akan datangnya topan Soulik sehingga memberikan kesempatan ABK untuk tidak melaut dan bisa beristirahat penuh.

Sewaktu hujan belum terlalu deras, mas Bashir segera mengajakku ke Masjid Baitul Muslimin dan itu atas ijin dari Mr. Wang. Masjid Baitul Muslimin adalah salah satu tempat ibadah umat muslim di sekitar pelabuhan Nanfang Ao. Di lantai 1 digunakan seperti shelter yang menyediakan kantor kecil, kamar mandi dan juga dapur sedang di lantai 2 digunakan ssebagai masjid. Di masjid banyak sekali ABK lain yang hadir di sana sekedar untuk beristirahat ataupun saling berbincang mengenai masalah pekerjaan.
“A Wei, ayo cepat ambil air wudhu. Kita sholat maghrib berjamaah dilanjut membaca Surat Yasin bersama agar terhindar dari bahaya topan Soulik.” Kata mas Bashir sebelum mengumandangkan Adzan maghrib.
“Iya mas, saya pamit untuk berwudhu dulu.” Bergegas meninggalkan mas Bashir untuk segera mengambil air wudhu.
Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib berjamaah dilanjut dengan membaca Surat Yasin dengan keadaan hujan yang semakin lebat dan angin terdengar kencang sekali sebagian besar ABK yang hadir di masjid sedang mengadakan rapat mengenai hak dan kewajiban sebagai ABK yang semakin memprihatinkan nasibnya. Rapat dipimpim oleh organisasi FKPIT (Forum Komunikasi Pelaut Indonesia Taiwan). Sebuah organisasi swadaya perkumpulan ABK di pelabuhan Nanfang Ao. Organisasi FKPIT sendiri yang menyewa tempat untuk dijadikan masjid Baitul Muslimin ini. Tanpa ada bantuan dana dari pemerintah Indonesia sama sekali. Kekompakkan dari organisasi FKPIT dengan menggalang dana dari sesama ABK bisa menyewa tempat untuk masjid dan uang kas yang bisa digunakan untuk membantu ABK yang sedang bermasalah ataupun mengadakan sebuah kegiatan.

Dengan adanya organisasi FKPIT lebih bisa menekan kebiasan buruk para ABK yang terkenal dengan sebutan 3M. 3M yang dimaksud dalam bahasa jawa adalah Mendem, Main dan Medok. Mendem yang dimaksud adalah tukang mabok, Main yang dimaksud adalah suka berjudi dan Medok itu yang dimaksud adalah suka main perempuan. Image ABK 3M sudah terkenal karena kerasnya kehidupan di lautan membuat mereka melampiaskan emosi dengan cara minum-minuman keras, main judi dan suka main perempuan. Namun tidak semua ABK seperti itu. Setelah banyak ABK yang bergabung dengan organisasi FKPIT lebih membangun jiwa sosial ABK Nanfang Ao dengan mengikuti kegiatan keagamaan dan club sepak bola saat tidak berlayar.
*****
Entah sudah purnama keberapa, tak kuingat lagi bersama kapal An Fong perjalanan hidupku di atas samudra ini. Amukan ombak besar, terpaan angin laut, dan gigilnya musim dingin kali ini, serta majikan yang memperlakukan kita seperti robot mainannya. Mengkisahkan cerita tentang rindu yang menggebu untuk seorang wanita pujaanku. Pada malam yang hening muncul sesosok wajah itu, dik Sri.
“Bagaimana kabarmu, aku rindu yang teramat padamu.” Seketika teriakan Mr. Wang membuyarkan lamunanku karena radar menunjukkan ada segerombolan ikan mendekati kapal.
Bergegas mempersiapkan jaring-jaring ikan untuk segera dilemparkan ke laut. Dengan cepat dan sigap sesuai aba-aba dari Mr. Wang. Ternyata tangkapan malam ini hasilnya lumayan. Setelah tangkapan berhasil ditarik ke atas kapal, segera dimasukkan di gudang penyimpanan dengan suhu seperti berada di frezer kulkas. Karena hasil tangkapan ikan sudah memenuhi standart bobot kapal akhirnya Mr. Wang memutuskan untuk pulang kembali ke pelabuhan.
Sesampainya di pelabuhan dan perintah Mr. Wang yang memperbolehkan para ABK untuk beristirahat akhirnya aku bergegas mandi dan ingin pergi ke toko Indo membeli sabun cuci. Di toko Indo aku bertemu dengan Dimas ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal lain. Dia bercerita tentang kapalnya yang dikenai denda oleh pemerintah Jepang karena beroperasi di wilayah perairan yang berjarak sekitar 150 mil laut dari Okinotori. Kapal tempat Dimas bekerja dikenakan denda sekitar 6 juta Yen atau sekitar 54.442 dolar AS sebagai jaminan keamanan yang diminta pihak berwenang Jepang untuk menunda prosedur hukum. Dimas bercerita bahwa Jepang mengklaim wilayah 200 mil laut sebagai Zona Ekonomi Eksklusif di sekitar atol kecil tersebut, namun Taiwan beranggapan bahwa Okinotori sebuah batu karang bukan pulau sebagaimana yang didefinisikan oleh Jepang.
Untungnya Dimas serta teman ABK lain hanya ditahan beberapa hari saja oleh pihak kelautan Jepang karena majikannya mau membayar denda jaminan. Mendengar cerita Dimas tadi nasib ABK lainpun tak lebih tragis dari apa yang aku alami. Karena sifat majikan atau kapten kapal yang sangat gila kerja sehingga mengabaikan peraturan kelautan mengenai ZEE.
Tak berapa lama kemudia datanglah Endro ABK Indonesia lain yang bekerja di kapal Tseng Cung dengan nafas yang terengah-engah. Endro mengangetkan semua orang yang ada di toko Indo.
“Kamu itu kenapa Dro, lari kayak dikejar-kejar setan saja.” Ketus mba Eva pemilik toko Indo yang kaget dengan kedatangan Endro.
“Ada berita hotnews teman-teman.” Jawab Endro dengan nafasnya yang tidak beraturan.
Semakin penasaran seakan semuanya yang berada di toko Indo diam ingin mendengarkan kabar berita apa yang akan disampaikan Endro. Perlahan Endro mulai mengatur nafasnya dan mulailah ia menceritakan apa yang sedang terjadi.
Endro mendapatkan informasi dari kapten kapalnya sendiri bahwa ada 9 ABK Indonesia di Nanfang Ao yang membunuh kapten kapal bernama Chen Te-sheng dan kepala teknisi Ho Chang-lin dengan kapal nelayan Te Hung Hsing no. 368 lalu membuang jasad kedua korban ke laut. Namun tragedi tersebut terjadi bukanlah karena arogan dan anarkisnya kelakuan para ABK Indonesia, melainkan karena mereka menyatakan bahwa selama di tengah laut para ABK tersebut diperlakukan seperti budak dan ada 8 ABK yang tidak digaji selama 2 tahun.

Setelah mendengar cerita dari Endro, banyak yang bersimpati dengan 9 ABK tersebut namun ada pula yang menghujat mereka. Memang tindakan ke 9 ABK merupakan kesalahan fatal dengan membunuh seseorang yang harus ditebus melalui jalur hukum. Namun selalu ada alasan yang melandasi mereka untuk melakukan perbuatan keji tersebut. Menurut hukum ,9 ABK tersebut memang bersalah dan harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di Taiwan. Namun apakah mungkin perlakuan kapten kapal dan kepala teknisi yang memperlakukan mereka seperti budak dan gaji yang tak dibayar juga harus dibenarkan?
Semoga saja dengan kejadian tersebut kita bisa saling mengoreksi diri terutama untuk semua ABK dan juga majikan ataupun kapten kapal serta untuk pemerintah baik Indonesia ataupun pemerintah Taiwan sendiri. Tak seharusnya memperlakukan ABK seperti budak. Para ABK bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertaruh nyawa di lautan, malah tidak dipenuhi apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Sudahkah maksimal pemerintah melindungi hak-hak dan kewajiban para ABK? Dengan adanya kasus pembunuhan kapten kapal oleh 9 ABK siapakah yang seharusnya disalahkan.
******
Taiwan, akhir 2015. Dimana masa kontrakku telah selesai sebagai ABK yang bekerja dengan Mr. Wang di kapal An Fong. Berbagai cerita mengenai sisi kelam kehidupan sebagai budak-budak samudra yang dipenjara oleh kejamnya lautan telah mencapai masa pembebasan. Cerita kehidupan sebagai ABK menjadi pengalaman terhebat dalam hidupku. Kemerdekaan atas penjajahan di lautan melawan ombak-ombak raksasa, amukan badai, dan kemurkaan hati seorang manusia yang menganggap dirinya raja lautan (Mr. Wang). Namun Tuhanku adalah raja dari segala raja dengan segala kuasaNya selalu melindungiku. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosanya.
Kini telah usai semuanya dan saatnya aku kembali pulang ke Indonesia untuk segera meminang wanita pujaanku, dik Sri. Dengan hasil perjuanganku, akan segera kupinang dia untuk menjadi milikku selamanya.

THE END

*Hanya sekelumit kisah perjuangan ABK Indonesia di pelabuhan Nanfang Ao, Yilan.

Taipei, 30 Mei 2016


📜 海洋之奴 Budak – Budak Formosa

👤 Setyana Mblems

 

 2013年,台灣。

南方澳漁港口的微風,迎接我第一次踏上寶島土地。一排排整齊的船,停靠在碼頭。壯觀大橋連結了漁港和城市,整個視野可以飽覽城市的美景以及圍繞著漁港的海洋。

位於宜蘭蘇澳里的南方澳漁港,是台灣第二大海產生產地。有大約一千三百位印尼漁工在南方澳漁港工作。帶我見新雇主的仲介公司,如此為我簡短介紹南方澳漁港。不久,我便抵達新雇主的所在之處,急忙下車。第一次遇到王先生,他既是我的雇主也是船長,看見他,我的心跳加速。王先生及仲介公司帶著我前往將成為我們工作地點的船。

Mas Arif Wibowo了解工作規則了嗎?」仲介公司問我。
「了解。」我簡短的回答。
好,對了,你就阿威吧,這樣雇主比較容易也能夠比較快記得你的名字。工作小心,出海時注意自己的安全。」仲介公司叮嚀著便離開我與王先生。

我看著幾位來自印尼的朋友,正忙著準備出海的裝備。幾個正在捲魚網,幾個在煮東西。王先生的安豐船上總共有七位印尼漁工以及三位菲律賓漁工。安豐這艘船是專門捕漁的船型,有著可以載數噸的容量。之後Mas Bashir帶我去漁工睡覺的房間放行李Mas Bashi來自印尼,已經跟著王先生一年時間。房間的狀況挺髒的,混亂又窄小。我也發現,許多小蟲在地板、牆壁爬著。空氣中瀰漫不好聞的味道,地上有無數的菸蒂、空瓶罐造成房間的髒亂,這應該只是個開始,之後會慢慢習慣海上艱苦的生活。

整理完行李之後,我加入其他漁工準備行列Mas Bashir二話不說直接教我如何捕魚以及操作這艘船的控制器。有一位漁工一直不懷好意的觀察我。在Mas Bashir結束說明後,突然,他走向了我。

「歡迎來安豐船,你這白癡海奴的地獄。你是專程來送上你的命吧。」他輕聲地說,刺入了我的心骨。Anto也來自印尼,他用恐嚇別人的壞習慣作為初次見面的招呼。

但我不理睬Anto說的話,來台灣打拼已是我的使命,希望能夠能在這裡帶回豐收好Dik Sri,我最崇拜的女人求婚。所以無論遇到什麼挑戰,我相信自己安然度過,作為我她求婚的真誠表現。

我不是指揮著<黑珍珠>四處征服歐洲、美洲加勒比島嶼,勇敢又強悍的捷克史派羅船長。打敗著他的宿敵,例如赫克托巴博萨,詹姆斯諾林頓,戴維瓊斯以及卡特勒貝克特等人。但至少上帝允許了我搭上這準備出海的安豐,與海浪甚至是狂風暴雨打仗。

***

南方澳的落日,送安豐離開漁港。海浪的歌聲如同歌頌,祝福我們帶著豐富的收穫回岸邊。下午是我第一次與其他漁工出海,一起探索著太平洋,向著西南方前往日本主要島嶼:琉球島嶼。依王先生幾十年來身為的漁夫經驗,他知道,哪裡才是季為數眾多的金槍魚、飛魚和鯖魚最佳地點。王先生自己駕駛這艘船,同時也是這艘船的船長。幾分鐘前王先生發著脾氣命令著我們,口裡嚼著檳榔,讓他看起來更兇狠。

「嘿,你!剛來的笨奴,動作快一點不要偷懶。」王先生踹了漁網旁的桶子,一邊吶喊著。我嚇了一跳,一句話也說不出口。

趕緊加快腳步,拉起非常重的漁網。燈籠已點燃,準備吸引魚兒的注意。雖然我聽不懂王先生說的話,但從他粗魯的口氣以及憤怒的眼神,我可以猜測,他正在狠狠罵我。不只是我這個新人,其他的漁工也經常被痛罵甚至被毆打一頓。我們當中沒有人敢反抗,如果反抗,有可能下次飄在海上,被船長殺害的屍體就是我們,Mas Bashir在收漁網的空檔中這告訴我。時鐘已顯示凌晨兩點,但我們沒有一個人可以吃任何一口飯。在我首次出海的夜晚,我們成功捕到約噸的黃翅鮪魚以及鯖魚但即使豐收,王先生仍不准我們休息一會兒、吃個飯。王先生說,雷達顯示有一群鮪魚就在安豐附近。因此我們被逼迫在雷達再次感應到們的存在時隨時出動。

黃翅鮪魚、拉丁文為Thunnus albacares,重量可達兩百公斤,在國際市場的需求相當高,日本及美國都相當受歡迎。因此,王先生很興奮追著黃翅鮪魚,在他還沒感到滿足之前,決不讓開始無力的漁工們休息。

甚至太陽當升起,陽光漸漸喚醒大自然之際。雷達然沒有顯示鮪魚的存在。王先生才下達指令,允許每一位漁工休息,這真是一個煎熬奮鬥的開始。從昨日下午到破曉,漁工才被允許吃一頓飯。對我們,實在是毫不留情。

「呀,這樣是很常見的事了,就算餓死或快累死,如果王先生沒有給予吃飯的命令,就是不吃。」Mas Bashir說著,被飢餓折磨得受不了的我們狼吞虎嚥吃下盤中食物。這種待遇對於安豐的漁工們是家常便飯。而且一天休息時間有時只是大約兩到三個小時。如果王先生命令準備動工,每一個漁工也只能順著他的意。

休息時間完畢,王先生又命令漁工們回來開工。王先生驕傲、粗魯的個性又把我們對待的如奴才一般。Joni,來自菲律賓的漁工,成為了王先生發洩脾氣的下一個目標,就只因為他不小心縫錯壞掉的魚網。王先生隨意地毆打Joni的頭、凶狠的踹了他。讓人真的很想過去保護Joni,但是越反抗,王先生的舉動更是可怕。所以其他的漁工只能成為旁觀者,不敢維護Joni。我也有一次,因為不懂王先生的指令而被毆打的經驗雖然漁工與王先生之間難免存在誤解,或是因為不懂中文而爭執至少,不要把我們當成奴才對待。被毆打又遭受沒人性的工作待遇。再堅硬的岩石也敵不過一個人的壞行為。

***

已過了六個滿月,我在安豐船上沿著太平洋過著在寶島台灣的日子。下午我聽到了來自我心中唯一女人的好息,Dik Sri 仍然等待著我。透過Mas Bashir借給我的手機,我終於聽到她細膩的聲音,我們互報平安,讓我更有繼續打拼,就算是很煎熬的過程。

Mas,在台灣工作要小心。要注意自己的安全,我一直等你回來。」Dik Sri的聲音穿透我的心靈,給了我安寧的力量

已經跟著王先生工作快半年,但實際上他只支付了兩個月的薪水。親自向王先生要那六個月的薪水,但他卻不給真令人心寒。王先生一直迴避或是用些不清楚的理由搪塞Mas Bashir曾經幫我聯絡仲介公司卻不被理睬。其他沒有收到工資的漁工也是如此。

而且當船不出海或是停靠在南方澳漁港時,應該是每位漁工的休息時間。但是,王先生一直要我們工作,例如縫補破掉的漁網或是修理船。因為王先生不想因為漁網破洞造成漁獲損失,他利用漁工的休息時間來補漁網。而且這個大小如足球場的漁網需在太陽下進行縫,真的是讓我的皮膚黑了許多,而且倒楣的是,這並不納入加班時數中。

***

根據台灣氣象局指出,禮拜五早上將會受到蘇力颱風的影響,帶著熱帶強風以及大雨登陸台灣。蘇莉颱風將從宜蘭四百五十公里的東南方進攻。台灣電視台以及廣播電台不斷提醒居住在海岸的民眾多加注意並且停止任何出海的活動。這個蘇力颱風,給了漁工們不用出海、完完全全休息的機會。在雨勢不大之前,Mas Bashir邀了我去Baitul Muslimin清真寺,當然是在王先生的同意下進行Baitul Muslimin清真寺是南方澳漁港附近,穆斯林做禮拜的其中一個地方。第一層樓作為收容所,也有小辦公室、廁所以及廚房,第二層則是清真寺。在清真寺裡有許多漁工,不管是休息或是聊著工作事情。

「阿威,快拿wudhu水吧。我們一起馬格里布祈禱再接著念亞辛古蘭經,躲避蘇力颱風的危險。」Mas Bashir在念著azan前對我說道。

「好的,Mas我先去做wudhu。」我快速離開Mas Bashir,進行我的洗禮。

馬格里布祈禱、念亞辛古蘭經完畢後,外面的風雨愈來愈大,大多數在場的漁工正開著關於情況不樂觀的漁工權利與雇主責任。此會議由FKPIT(台灣印尼海員組織)主導這是一個位於南方澳漁港的漁工組織。FKPIT自己租了這個地方,將之變成Baitul Muslimin清真寺,沒有接受任何印尼政府的補助,FKPIT募集了漁工熱心捐款承租清真寺,幫助受困的漁工以及不定期舉辦活動。

FKPIT的存在,成功壓制了漁工的壞習慣:3M。所謂的3M是爪哇語的MendemMain以及MedokMendem指的是酒鬼;Main是愛賭博;Medok形容愛玩女人。3M已成為漁工的刻板印象,艱苦的海上生活,讓許多漁工養成發洩習慣如喝酒,賭博以及玩女人。但並不是每一位漁工都是如此。加入了FKPIT後,喚南方澳漁工的同理心,讓漁工們在沒有出海時,能進行信仰相關活動以及踢足球

***

已經不知道第幾個滿月,我在安豐上度過在太平洋的生活。忍受海浪的劇烈拍打,迎面吹來的大風,以及冬天的酷寒,加上對待我們有如機器人玩具的老闆。我只能在心中,訴說對愛人的強烈想念。在一個平靜的夜晚,我的夢裡出現了那位女人的臉孔,Dik Sri

你到底過得如何,我多麼的想念。」

不久,王先生尖銳的喊聲,毀了我的幻想,雷達顯示一群鮪魚在這艘船附近

趕緊準備丟入大海的魚網,迅速地完成王先生的指令。今晚的收穫真不錯。把捕來的魚拉上船後,必須直接放入跟冷凍庫同溫度的儲藏室。因為今晚捕的魚已經達到這艘船的標準重量,王先生決定回到漁港。

到了漁港,在王先生的允許休息後,我馬上跑去洗澡並且前往印尼雜貨店購買洗衣粉。在印尼店我遇到了Dimas他是在其他艘船工作的印尼漁工。他告訴我,他們船因超過了距離沖之鳥島大約一百五十英里的邊境,而被日本政府開了罰單。Dimas工作的那艘船需要支付六百萬日幣,大約54,442美金作為保證金。他也說,日本對外申明這座島的兩百英里內為日本專屬經濟區,但台灣認為沖之鳥只是一座岩礁,而非日本所認為的島。

幸好Dimas以及其他漁工朋友們只被日本海關收押幾天,因為他們的雇主願意付保證金。聽到Dimas的故事,頓時覺得比起其他漁工,自己沒有更加艱苦。因為他的船長,竟然忽略了法律規定以及經濟專屬區。

不久後,陸續來了幾位印尼漁工, Endro上氣不接下氣跑進印尼店,嚇壞了每個人。

Dro,你怎麼了?像被鬼追一樣。」Mba Eva,印尼店的老闆嫌棄著。

「有個大新聞,朋友們。」Endro喘著氣回答。

大家變得很安靜,想要知道Endro到底要說什麼。Endro漸漸調整了自己的呼吸開Endro他的船長那獲得消息,有九名在南方澳的印尼漁工殺死了特宏興三六八號漁船船長陳德生、輪機長何昌琳並將屍體丟到大海。但這個悲劇並不單單是印尼漁工的暴力行為,而是因為漁工在海上受到如奴才的對待,其中八位漁工更是長達兩年都沒收到任何薪水。聽到Endro的故事後,許多人同情這些漁工,但也有不少人痛罵他們。這位漁工的所作所為本來需要受到法律的懲罰。但這件事背後,一定有逼得他們不得不犯下慘事的原因。在法律眼裡,這九位漁工的確有罪,需要台灣法律定讞。但是,船長以及輪機長不人性的對待並不支付薪水的行為,應該被鼓勵嗎?

希望由這個事件,我們可以反思自的行為,尤其漁工、雇主或者是船長,還有印尼政府、台灣政府來說。漁工不應該受到奴才般的對待。漁工們努力、賣命的工作,卻沒有受到應有的待遇與尊重。政府是否曾盡全力保護漁工的權利以及責任呢?試問在這九名漁工殺死船長的案件中,究竟,誰才是加害者?

****

2015年底,我在安豐的約已結束。海洋之奴的各種黑暗故事已到了解脫時刻。成為漁工是我人生中最輝煌經歷,我成功適應海上生活,打敗巨大海浪強風的怒氣,以及認為自己是大海之王,總是怒氣沖沖的王先生。我的上帝,真正的王上之王,永遠的保護著我,希望上帝原諒他的罪。

現在一切都結束了,我回到印尼,向我最崇拜的女人Dik Sri求婚。拿著我努力獲得的成果,我要讓進入我的生命,成為我永遠的女人。

台北,2016530


Comment  the story quite well. but the title is too bombastic.  這個故事相當不錯,但標題是太誇張。

Comment  Tema menarik sekali. Bahasa Indonesia baik. Penceritaan lancara dengan referensi dan pengetahuan di bidang yang diangkat yang baik.  很有趣的主題,很好的印尼語。有適度的將該領域的知識引用在故事中。

Comments are closed.