永不掉淚的鑽 Zuan, Air Mata yang Tidak Pernah Menetes

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 永不掉淚的鑽 Zuan, Air Mata yang Tidak Pernah Menetes

👤 莉莉

 

Ketika rumah bukan lagi tempat terakhir untuk pulang, kemana kaki akan melangkah?
Kemana rindu akan bermuara?

Kereta MRT jurusan Dingpu melaju kencang. Mendekati stasiun Jiangzicui seorang wanita berambut panjang berdiri dari tempatnya duduk. Di pundaknya menggantung tali tas ukuran sedang, sementara di tangan kiri memegang tas berbahan kertas. Ia berjalan mendekati pintu keluar kereta ketika operator memberitahu jika kereta sudah sampai di stasiun Jiangzicui. Stasiun yang sebagian orang menganggap seram setelah kejadian dua tahun lalu. Pembunuhan brutal yang dilakukan oleh seorang remaja. Ia menarik napas panjang sebelum keluar dari pintu kereta yang baru saja terbuka.

A Zuan, wanita itu biasa dipanggil. Ia berjalan menaiki eskalator menuju peron. Tidak ada yang menyangka jika sebenarnya ia seorang wanita Indonesia. Perawakannya yang tinggi semampai dengan postur tubuh yang ideal ditambah dengan kulit putih dan rambut hitam yang panjang. Matanya sipit seperti kebanyakan penduduk Taiwan. Beberapa kali ia menarik napas panjang, seperti ada beban yang ingin dilepaskan.

Jam besar di atas pintu keluar peron menunjukkan pukul empat sore ketika A Zuan sudah sampai di lantai B1, tempat peron berada. Ia melangkah cepat menuju pintu keluar nomor tiga. Sejajar dengan jalan menuju rumahnya di Section 2 Shuangshi Road.

“A Zuan…!” Seseorang berteriak memanggilnya ketika ia sudah sampai di pertigaan Shuangshi Road dan Zhuangjing Road. A Zuan menoleh, senyumnya tersimpul ketika tahu siapa yang memanggilnya.
“Apa kabar? Lama tidak bertemu.” A Zuan langsung menyapanya.
“Aku baik, bagaimana denganmu?” Wanita separuh baya itu terengah-engah.
“Aku mengejarmu dari stasiun tadi.” Ia melanjutkan.
“Maaf Kak Lin, aku tidak tahu.”

Mereka beriringan melangkah menuju apartmen mewah di samping Bade Park. Taman besar yang terletak di pinggir Shuangshi Road dan Wanban Road. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama. Beberapa kali tangan Lin mencubit A Zuan.

“A Zuan, kamu benar-benar tidak ingin pulang?” Lin menarik tangan A Zuan mengisyaratkan untuk duduk di kursi dari semen yang terletak di sebuah perkantoran di seberang kantor Chunghwa.
“Bukan tidak ingin, tapi apa aku masih ada kesempatan untuk itu?” nada suara A Zuan terdengar sayu.
“Kamu tidak pernah mencoba? Bagaimana kamu tahu jika sebenarnya kesempatan itu ada?” Lin menepuk pelan punggung A Zuan.

Tidak ada jawaban dari A Zuan. Matanya menerawang jauh. Rindu itu kian membuncah. Namun, rumah itu bukan lagi tempat mengobati rindunya. Ada airmata yang tertahan di pelupuk matanya. Rasa itu kian menyesakkan dada. Lin masih menepuk pundak A Zuan.

“Bicara baik-baik dengan suamimu, aku tahu suamimu orang yang baik.” Lin memecahkan suasana.
“Bukan masalah Yang Jingzhong, Kak. Tapi kedua orangtuaku.” A Zuan merapatkan jaket hijau yang ia kenakan.
Ini musim dingin ke lima A Zuan tinggal di Taiwan, menjadi istri dari seorang dokter muda bermarga Yang. Enam tahun sebelum menikah A Zuan sama seperti Lin, datang ke Taiwan sebagai TKI. Hampir sama dengan Lin, tujuan datang ke Taiwan untuk membantu perekonomian keluarga. Namun siapa sangka, benang merah menautkan jodoh Lin pada dokter yang merawat pasien A Zuan ketika itu. Kedekatan mereka berakhir di pelaminan meski tanpa restu.

Di Pontianak, menikah dengan orang Taiwan bukan hal yang asing lagi. Namun tidak dengan keluarga A Zuan. Orangtuanya masih menginginkannya bekerja untuk membantu mereka membiaya kedua adiknya sekolah. Tidak enak memang menjadi anak pertama dan tulang punggung keluarga. Namun, A Zuan bersikeras menikah dengan lelaki pilihannya meski ia berjanji akan tetap membantu keluarganya. Pilihan A Zuan yang akhirnya membuatnya dicoret dari daftar nama keluarga.

“ Sudahlah, Kak. Aku baik-baik saja. Ini pilihanku, aku harus siap menerima akibatnya.” A Zuan berdiri dari tempatnya duduk, kakinya melangkah, berjalan ke arah apartmen, tempatnya tinggal.
“Bagiamana dengan kakak sekarang?” A Zuan ganti bertanya ketika Lin sudah berjalan di sampingnya.
“Aku? Aku sedikit bisa bernapas lega. Laki-laki itu akan segera kuceraikan.” Tatapan mata begitu tajam, ada amarah besar tersimpan di dalamnya.
“Apa tidak dipikir lagi?” A Zuan menoleh ke arah Lin.
“Jika kamu menjadi aku, akan berapa ribu kali kamu mikir menceraikan laki-laki itu?” Nada suara Lin meninggi.
“Kamu pikirkan saja bagaimana jika laki-laki itu suamimu, apa kamu akan bertahan?”
Lin, umurnya hampir empatpuluh tahun. Ini tahun kedelapan ia berada ke Taiwan. Kedatangannya hanya untuk mengubah nasib keluarga kecilnya menjadi lebih baik, namun nasib tidak berpihak kepadanya. Memasuki kontrak ketiga, suaminya mulai berubah. Selidik punya selidik suaminya mempunyai wanita lain, bahkan sudah menikah siri. Sementara anaknya yang masih berumur tujuh tahun tidak pernah diurusnya. Hati wanita mana yang kuat menahan cobaan rumah tangga seperti itu.

Beruntung Lin bukan orang yang lemah. Ia begitu tegar menghadapinya. Meski hatinya porak-poranda namun, ia tidak pernah mengeluh. Hanya A Zuan sahabatnya yang tahu bagaimana keadaannya. A Zuan dan Lin sudah berteman sejak A Zuan belum menikah dengan dokter Yang.
“Kak, aku pulang dulu ya. Nanti kalau ada waktu kita ngobrol lagi.” A Zuan melambaikan tangan ketika sudah sampai di apartmennya. Apartmen mewah dengan empat gedung terpisah tapi terhubung.
“Nanti malam aku kembali ke apartmen, aku masih mau ke tempat nenek.” Lin berjalan meninggalkan A Zuan yang mulai masuk ke apartmennya.
Lin dan A Zuan tinggal satu apartmen. A Zuan di gedung tiga, sementara Lin di gedung dua. Sebelum menikah, A Zuan satu gedung dengan Lin. Dan beruntung, setelah menikah suami A Zuan membeli rumah satu apartmen dengan Lin, meski berbeda gedung.
A Zuan meletakkan tas berisi bahan makanan yang tadi dibelinya. Satu per satu ia keluarkan. Dua bungkus tepung tapioka dan kacang hijau kupas juga beberapa sayur. Ia berniat membuat lek tau suan1, makanan kesukaannya. Sudah sangat lama ia tidak memakannya. Ditariknya kursi meja makan yang ada di samping ia berdiri. Pandangannya kosong menatap bahan-bahan itu. Pikirannya melayang ke masa kecil.
“A Zuan ke sini!” Wanita muda berpakaian daster memanggil anaknya.
“Aku datang, Ma.” A Zuan berlari kecil menuju dapur, dimana suara yang memanggilnya berasal.
“Wah, lek tau suan .” A Zuan begitu girang ketika tahu apa yang dimasak mamanya.
“Kamu mau bantu mama aduk kuah kentalnya, tidak?” Wanita itu menyerahkan sendok besar berbahan kayu kepadanya.
A Zuan menerima sendok itu dari tangan mamanya. Wajahnya begitu berseri. Lek tau suan makanan kesukaannya dan ia selalu suka mengaduk kuah berbahan dasar air dan tepung tapioka yang ditambah gula dan daun pandan itu.

“Kalau besar nanti, aku akan masak lek tau suan buat mama.” Celoteh A Zuan.
“Kuahnya sudah mendidih, kacang hijau kupasnya masukin.” Mamanya menyodorkan mangkok berisi kacang hijau.
“Ma, mama… potongnya Ca Kwee kecil saja. Mulut A Zuan kecil.” A Zuan tertawa.
Ada air mata yang tertahan di pelupuk mata. A Zuan menggigit bibirnya kuat. Ia menarik napas dalam lalu dilepaskannya perlahan. Begitu ia lakukan beberapa kali hingga perasaannya kembali membaik. Matanya kian berkaca-kaca, namun ia terus menahannya. Tiba-tiba ada sepasang tangan memegang kedua bahunya. A Zuan kaget dan mengibaskannya.

“Siapa?” Suara A Zuan serak. Ia bangkit dari kursi dan membalikkan badan.
“A Zhong!” A Zuan berkali-kali mengedipkan matanya, bukan tidak percaya jika laki-laki dengan senyum menawan itu adalah suaminya, tapi ia ingin menghilangkan air mata yang sedari tadi ingin jatuh. Ia ingin menyamarkannya.
“Menangislah, sudah terlalu lama kamu tidak menangis?” Yang Jingzhong memapah A Zuan untuk duduk kembali.
“Buat apa menangis? Menangis tidak akan mengembalikan semuanya.” A Zuan mencoba tersenyum.
“Sampai kapan kamu menyimpan kepedihanmu, A Zuan?”
“Tunggu aku ambil cuti, kita pulang ke Indonesia. Ok?” Yang Jingzhong melanjutkan kata-katanya.
“Tidak! Aku sudah tidak punya rumah untuk pulang. Di sinilah aku sekarang tinggal, bersamamu dan anak kita.” A Zuan berdiri, tangannya meraih bahan makanan yang tadi diletakkannya di atas meja. Ia melangkah menuju dapur.
A Zuan sudah mempunyai anak laki-laki berumur tiga tahun. Karena kesibukannya bekerja di kantor imigrasi, anaknya dititipkan kepada orangtua suaminya, di Changhua. Beruntung, mertua dan keluarga besar suaminya menerima kehadirannya sebagai bagian baru keluarga Yang. Jika nasib berkata lain, A Zuan tidak akan sekuat sekarang.
“Kamu tahu makna namamu?” Yang Jingzhong mengikuti A Zuan ke dapur.
“Aku tahu.” Jawabnya singkat.
“Berlian. Dimanapun ia berada berlian tetaplah berlian, akan tetap berkilau meski di dalam kubangan lumpur.” Yang Jingzhong sudah berada di hadapan A Zuan.
“Dan kamu, juga sama. Dimanapun dan apapun keadaanmu, kamu wanita yang kuat. Tapi kuat bukan berarti tanpa airmata.” Yang Jingzhong melangkah meninggalkan dapur. Membiarkan A Zuan sendiri meski ia tidak tega.

Waktu masih menunjukkan pukul delapan ketika A Zuan keluar dari rumah. Ia merapatkan jaketnya sebelum berjalan menjauh dari apartmen. Tujuannya hanya satu, menemui Ani, salah satu teman Lin di rumah sakit dimana suaminya bekerja. Sudah lebih dari sepuluh tahun Ani menjadi pekerja illegal. Itu yang diceritakan Lin pada A Zuan. Dari Lin pula pihak imigrasi berhasil menemukan keberadaan Ani.

Setahun terakhir Ani kurang beruntung. Ketika pindah ejen gelap, bukannya diberikan pekerjaan yang layak, ia justru masuk ke dalam perangkap kehidupan prostitusi. Setiap hari dipaksa melayani lebih dari sepuluh orang. Bahkan untuk memegang ponselpun ia tidak diijinkan. Ketika berhasil kabur, Lin orang pertama yang ia hubungi.

Tiga bulan dalam persembunyian, nasib baik tidak berpihak pada Ani. Ia divonis mengidap kanker payudara stadium akhir. Keadaan itulah yang memaksa Lin melaporkan keberadaannya kepada pihak Imigrasi. Harapan Lin hanya satu, di tangan imigrasi Ani ada yang menjaga juga membantunya. Biaya pengobatannya tidak murah memang, karena semua hak-hak Ani hilang bersamaan dengan ia memutuskan menjadi pekerja illegal.

Jam tangan A Zuan sudah menunjukkan pukul sembilan. Langkahnya sudah sampai di rumah sakit Cardinal Tien, yang terletak di Xindian Distrik. Ia mengeluarkan secarik kertas yang ditulis suaminya kemarin malam. Sebuah nomor ruangan di mana Ani dirawat.

Bukan hal sulit untuk mencari ruangan di rumah sakit Cardinal Tien. A Zhuan sudah biasa keluar masuk rumah sakit itu. Lift di bagian belakang gedung dua membawa A Zuan menuju lantai sepuluh, tempat di mana Ani di rawat. Suasana cukup lenggang. Hanya satu dua orang berjalan di koridor. Ia bergegas mencari nomor kamar yang tertera di atas kertas yang tadi di keluarkannya.

A Zuan melangkah pelan ketika sampai di depan kamar yang dituju. Pintu dibukannya perlahan. Di ranjang paling depan seorang wanita muda tertidur dengan selang infus di pergelangan tangannya. Alat bantu pernapasan juga terpasang di hidungnya. Wajahnya pucat. Langkah A Zuan belum sampai mencapai ranjang, wanita bernama Ani itu membuka matanya.

“Pagi, maaf mengganggu.” Sapa A Zuan ramah.
“Pagi, mbak siapa?” suara Ani terdengar sangat lemah.

A Zuan semakin mendekat, duduk di kursi panjang di samping ranjang.

“Perkenalkan saya Zuan. Petugas dari imigrasi.” A Zuan tersenyum ramah.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah sarapan?” Mendengar pertanyaan A Zuan, Ani hanya mengangguk.
“Jangan tegang, saya juga teman dari Lin. Jadi anggap teman juga.”
“Saya dari pihak imigrasi akan membantu mengurus semuanya, tapi bisa membantu soal biaya rumah sakit. Tapi, saya pribadi akan berusaha mencarikan dana bantuan untuk pengobatanmu. Jadi kamu cukup konsentrasi untuk kesembuhanmu.” Sambung A Zuan panjang lebar.
“Terimakasih banyak.” Ani berusaha kuat menggigit bibirnya. Ia mencoba menahan tangis yang mulai mendesak keluar.
“Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Semua sudah terjadi. Meski menangis tidak akan mengembalikan semua, tapi setidaknya bisa membuatmu tenang.” A Zuan mengusap punggung tangan Ani. Memberinya semangat.
A Zuan mulai berpikir kepada dirinya sendiri. Bagaimana ia selalu berusaha keras untuk tidak menangis. Menahan setiap air mata yang berlarian ingin keluar. A Zuan hanya berpikir jika ia menangis maka akan menambah beban orang yang menyayanginya. Ia hanya ingin menunjukkan betapa ia kuat menghadapi kegetiran hati setelah diusir dari keluarganya karena memilih menikah daripada melanjutkan bekerja. Ya menurut A Zuan, Ani dan Lin selalu berusaha tidak menangis hanya karena mereka ingin terlihat tegar dan kuat. Padahal semuanya rapuh di dalam, seperti A Zuan.

“Maaf, apa boleh saya bertanya?” Ani mengubah posisi berbaringnya. Miring menghadap A Zuan.
“Silakan, apapun boleh kamu tanyakan.”
“Jika aku meninggal, apa pihak imigrasi akan memulangkan jasadku, atau membakarku.” Ani tidak berkedip menunggu jawaban A Zuan.
“Sssttt! Berpikirlah untuk sembuh, bukan untuk meninggal.” A Zuan tersenyum meski hatinya tersayat. Bagaimanapun ia tahu, keadaan Ani tidak bisa bertahan lama.
“Berpikir positif akan menghasilkan hal-hal positif juga, begitu juga sebaliknya. Berdoa dan terus semangat berjuang untuk kesembuhanmu. Ok?”
“Apapun yang terjadi denganmu, kita dari pihak Taiwan juga Indonesia akan berusaha yang terbaik untukmu.” A Zuan berdiri mendekat ke ranjang, dibelainya rambut Ani.
Pintu kamar diketuk ketika A Zuan menyuapi makan siang Ani. Seorang perawat masuk mengganti infus Ani yang baru saja habis. Perawat berperawakan sedikit gemuk itu sibuk dengan pekerjaannya setelah menyapa A Zuan dan Ani. Ponsel A Zuan berbunyi, tahu siapa yang meneleponnya ia berbisik kepada perawat dan berpamitan sebentar kepada Ani.

“Hari ini aku ada lembur?” Laki-laki berpakain dokter berujar kepada A Zuan ketika ia sampai di kantin.
“Ada yang ingin aku bicarakan.” Laki-laki yang tak lain suaminya kemudian duduk di hadapannya.
“Aku sedang menemui Ani, pekerja illegal yang aku ceritakan semalam. Ada masalah apa sampai meneleponku. Apa tidak bisa dibicarakan di rumah tanpa mengganggu pekerjaan kita.” A Zuan terlihat manyun.
“Ini.” Yang Jingzhong menyerahkan dua lembar tiket pesawat tujuan Jakarta.
“Apa ini?” A Zuan mendelik ke arah suaminya.
“Kita pulang. Aku sudah ambil cuti satu minggu, dan aku akan bantu kamu ambil cuti juga di waktu yang sama.”
“Apa yang kamu lakukan? Rumahku di Taiwan, kenapa kamu menyuruhku pulang.” Nada suara A Zuan meninggi.
“Kita hadapi bersama. Lima tahun bukan waktu yang pendek untuk berpikir. Aku yakin orangtuamu bisa menerimamu kembali. Percayalah.” Yang Jingzhong meyakinkan A Zuan.
“Bagaimana kamu bisa sepercaya itu?”
“Sebenci apapun mereka, akan ada saat di mana mereka mengingat segala kebaikanmu. Sebenci apapun mereka, rindu pasti selalu terselip.” Yang Jingzhong tersenyum lebar.
“Kita bawa Youchia ke Indonesia, semoga kedatangannya bisa meluluhkan kedua orangtuamu. Menerimamu kembali dan rindumu akan bermuara. Rumah itu juga akan menjadi tempatmu pulang jika kamu menginginkannya.” Ia melanjutkan impiannya panjang lebar.
Senyum A Zuan mengembang. Ada sebersit harapan muncul dari kalimat-kalimat yang diucapkan suaminya. Air matanya ingin berlarian keluar, tapi ia kembali menahannya. Kali ini bukan kegetiran tapi sebuah harapan untuk memperbaiki masa lalu.

A Zuan menghela napas panjang. Dalam hatinya juga ikut berdoa untuk sahabatnya Lin. Tentang perceraian dengan suaminya. Juga untuk sebuah keajaiban yang diharapkan datang menyembuhkan Ani. A Zuan mulai bersemangat menjalani hari menanti hari kepulangannya ke Indonesia.

***
1. Makanan khas Pontianak biasa disebut “butiran mutiara kacang hijau”. Jenis makanan yang dibuat dari kacang hijau kupas yang dimasukkan ke dalam kuah kental (campuran tepung tapioka, gula, air dan daun pandan) dengan taburan potongan ca kwee di atasnya.
Jiangzicui di musim panas
31 Mei 2016


📜 永不掉淚的鑽 Zuan, Air Mata yang Tidak Pernah Menetes

👤 莉莉

 

當家,再也不是心中最終的目的地,腳,還能往哪裡跨出步伐?思念又該往裡靠岸?

飛馳的捷運列車開往頂埔站。接近江子翠車站時,一長髮女子從她的座位上起身。包包掛在她的肩膀上,左手握住紙袋子。當語音告知車子已到江子翠站時,她走向列車的出口處。一個在部分人眼中,因兩年前的事件而心生詭譎的站。那是由一位青少年所犯的殘忍謀殺案。走出車門之前,女子深深的吸了一口氣。

阿鑽是她的。她乘著手扶梯上樓。沒人會料到,其實她來自印尼。高挑的身材配上白皙皮膚和一頭烏黑長髮。她一雙細長的瞇瞇眼跟大部分的台灣人很像。她深呼吸好幾次,彷彿想卸掉心裡的重擔。當她在車站地下一樓時,出口大鐘已經指下午四點鐘。她快步走向三號出口,直往在雙十路二段的家。

「阿鑽…!」當她走到雙十路與莊敬路的交叉路口,有人喚她。阿鑽回頭一看,看到熟悉的朋友,臉上露出微笑。
「妳好嗎?好久不見」阿鑽打招呼。
「我很好,妳呢?」那位中年婦女氣喘噓噓的回應
「我從車站一路追著妳跑。」她接著說。
「不好意思,林姐,我不知道啊。」她們一同走向八德公園旁的豪宅,那大公園就在雙十與萬板路上。偶爾,她們笑成一團,林也不時捏阿鑽的手。
「阿鑽,妳真的不想回去嗎?」林拉著阿鑽的手,邀她坐在中華電信辦公室大樓對面的水泥椅上。
「不是不想,但我還能怎麼辦?」阿鑽的話聽起來好洩氣。
「妳又沒有試過,怎麼知道還有沒有機會呢?」林輕拍阿鑽的後背。阿鑽沒有回答,她眺望遠方,對家的思念更加濃烈。但,那已經不是療癒相思的家了。她的眼眶凝聚著眼淚。那個感覺使她變得好壓抑。林還是拍拍她的肩膀。

「好好的跟妳先生說吧,我知道妳先生是好人。」林打破氣氛。
「不是楊精忠的問題呀,姐,是我的家人。」阿鑽拉了拉身上穿的綠色外套,她楊醫師的太太,這是阿鑽在台灣的第五個冬天。六年前未嫁時,阿鑽跟林一樣,是來台灣工作的印尼移工,當初來台灣工作是為了幫助家裡的經濟。誰曉得,紅線結合了阿鑽與她當時照顧病人的醫師。長久相處下來,使她們步入禮堂,即使沒有得到祝福。在坤甸,嫁給台灣男人不是什麼陌生的事。但在阿鑽家是行不通的。她的父母希望她工作,幫忙支援兩位在念書的弟弟。當長女本來就是吃力不討好的事何況還要當家裡的支柱。但是阿鑽堅持要嫁給自己選的男生,她承諾將繼續幫助家裡。然而,阿鑽的選擇最終使她從家族名冊上除名。

「算了啦,姐。我會好好的。這是我的選擇,一切後果由我承擔。」阿鑽起身走回居住的大樓。
「姐姐現在怎麼辦?」換阿鑽詢問走在身旁的林。
「我?我現在可以稍微鬆了一口氣。我會盡快跟那個男人離婚。」她的眼神如此的犀利,裏頭有著極大的憤怒。
「妳要不要再想一想?」阿鑽轉身望向林。
「如果妳是我,恐怕會有幾千次想跟他離婚。」林的聲音開始大聲。
「想想看,如果那男人是妳的先生,妳堅持得住嗎?」林,快四十歲了。這是她在台灣的第八年。原先,她來這裡不過想改善家裡的情況,可是好運不站在她這邊。進入第三個合約時,她先生開始改變了。經過調查,赫然發現原來她先生在外面有其他女人,甚至還犯了重婚。而她七歲的小孩也沒照顧好。哪個女人的心,能夠抵這樣的家庭試驗題呀。

幸好,林不是一個軟弱的人,她堅強應對就算心是碎的,但她從來沒有一聲抱怨。只有阿鑽這位朋友,才了解她真正的情況。阿鑽和林,早在阿鑽嫁給楊醫生前就是好朋友了。

「姐,我先回去了,有空再聊喔。」阿鑽走回公寓時揮揮手,雖然她們各自住在社區大樓但是彼此互通。
「晚上我會回到大樓裡,我還要到奶奶家。」

林和阿鑽住在同一個社區,阿鑽住在第三棟,林住在第二棟。結婚前,阿鑽跟林住在同一棟大樓,幸運的,婚後,阿鑽的先生買的房子仍是同一個社區,只是不同棟。阿鑽放下袋子,然後一一拿出食材兩包麵粉、綠豆仁和幾樣青菜。她打算做綠豆湯那是她最喜愛的食品,即使已經很久沒吃到了。她拉著餐桌的椅子到一旁坐下。眼睛空蕩蕩的盯著那些食材,使她想起了童年。

「阿鑽過來!」一位穿著睡衣的年輕女子叫著她的小孩。
「媽,我來了。」阿鑽跑向廚房,聲音的來源。
「哇,綠豆湯。」當知道媽媽煮什麼時阿鑽非常的高興。
「妳要不要幫忙攪拌?」說著,那位女子交給她一個木湯杓。阿鑽從她媽媽手中接過湯杓。她的臉是那樣容光煥發。綠豆湯是她最喜歡的食物了,她也時常幫忙攪拌由加了麵粉、糖和七葉蘭的湯。
「將來我長大,我也要做綠豆湯給媽媽。」年幼的阿鑽說。
「湯滾了,加入綠豆仁吧。」媽媽遞一婉綠豆仁給阿鑽
「媽,油條切小一點,阿鑽的嘴巴比較小。」阿鑽笑了。

想到這,眼淚在阿鑽眼眶裡打轉,她緊咬住嘴唇,反覆深呼吸再緩緩的吐氣。到心情恢復一點。即使眼淚在眼眶裡打轉,但她還是堅強的堅持住。突然,有一雙手抱著她的肩膀。阿鑽嚇一大跳,一邊將撥開。

誰?」阿鑽的聲音沙啞了。她立刻站起來並轉身。
「阿忠!」阿鑽眨了眨眼,想要掩飾自己快落下的淚直到現在,心裡還是無法相信,這位有著迷人微笑的人是她的先生。
「哭吧,妳太久沒哭了。」楊精忠讓阿鑽坐回去。
「幹嘛哭? 哭又不能挽回一切。」阿鑽試著微笑以對
「妳到底想掩飾痛苦多久呀,阿鑽?」
「等我放假,我們回印尼,好不好?」楊精忠接著說。
「不!我沒有家可以回了。我現在住在這裡,跟你和我們的小孩一起。」阿鑽站起身,拿食材走向廚房。阿鑽已經有一個三歲的兒子。因為移民署忙碌的工作,小孩暫時寄放在彰化先生父母的家。幸運的,她的公婆和先生,以及一個大家族接受她成為家裡的一份子。如果沒有這樣的話,阿鑽不會如此的堅強。

「妳曉得妳名字的含意嗎?」楊精忠跟著阿鑽到廚房。
「我知道呀。」阿鑽簡單的回答。
「鑽石,無論到何處,鑽石仍然是鑽石,就算處於泥潭還是一樣閃閃發光。」楊精忠站在阿鑽面前。
「妳也一樣,不管在那裡,妳仍是一位堅強的女人。但是堅強,不意味不掉眼淚。」楊精忠離開廚房,就算他再不捨,但仍必需留下阿鑽一個人。

當阿鑽離開家的時候,時鐘指著八點。她的目的地只有一個─去見阿妮,阿妮是林在她先生工作地方結交的朋友。阿妮已在台非法工作十幾年了。那是林告訴阿鑽的訊息,也是透過林,移民署得知阿妮的存在。這一年來,阿妮比較不幸。當她換非法仲介時,沒有得到好工作,反而掉下賣淫集團的陷阱,每天被逼迫接十幾位客人,也不能擁有手機。當她成功逃脫,林是她第一位聯繫的人。

即使經過三個月的躲藏,好運氣沒有在阿妮這邊。她被判定罹患乳腺癌末期。就是這樣的情況,逼迫林把阿妮的存在通報移民署。林最後的期望只有一個,希望阿妮在移民署得到妥善的協助和照顧。因為醫療費還真的不少,這些權益都隨著阿妮成為非法外勞時消失了。

阿鑽的手錶指向九點。她的腳步已到位在新店的耕莘醫院。她拿出昨晚先生所寫的一張紙,上頭寫著安妮的病房號碼。在耕莘醫院找病房不是一件難事。阿鑽已經習慣在那個醫院出入。後方二棟大樓有電梯可以直接載阿鑽至十樓,安妮被照顧的病房。醫院人很少,只有一、兩個人在走廊上走路。她趕緊拿出那張紙,尋找上方所寫的病房號碼。病房前她放慢了腳步,緩緩打開門。最前的床,睡著一位手腕上插著點滴;呼吸器掛在鼻子上的年輕女子。她的臉色蒼白,阿鑽的腳步還未到床邊,那位名叫阿妮的女子忽地睜開眼睛。

「早,不好意思打擾了。」阿鑽親切的向女子打招呼。
「早,妳是誰?」阿妮的聲音聽起來很虛弱。阿鑽走過來,坐在床邊的長椅上。
「我先自我介紹,我是阿鑽,移民署人員」阿鑽親切的微笑。
「妳現在感覺怎麼樣了?吃過早餐了嗎?」聽了阿鑽的問題,阿妮只是點點頭,不知道做何回應
「不要緊張,我是林的朋友,把我當做朋友吧。」
「我們移民署會幫忙處理一切事情,我個人會盡力籌促經費支付醫藥費。所以妳只要專心養病就好。」阿鑽解釋的很仔細。
「非常感謝妳。」阿妮拼命咬自己的嘴唇,試著強忍不哭。
「哭吧,如果那樣可以讓妳好過一點,一切都發生了,就算哭無法挽回一切,但至少能讓妳的心平靜下來。」阿鑽揉揉阿妮的手背,鼓勵她。這一幕,讓阿鑽想到自己,一路以來,她是如何忍著不哭。忍住快要掉下來的眼淚。只想到一哭只會增加愛她的人的負擔,她就更展現出她有多堅強,尤其當她被家人趕出家園,只因為她選擇結婚而不是工作的時候。阿鑽認為,阿妮和林一直忍著不哭,那是因為她們想在別人眼中看起來堅強和強大。但其實彼此內心都很脆弱,就像自己一樣。

「不好意思,我可以問問題嗎?」阿妮移了移躺下的位置,面向阿鑽。
「請,任何問題都可以問。」
「如果我死了,移民署會將我的回印尼嗎,還是把我燒了?」阿妮張眼睛,等阿鑽的答案。
「噓!要想著快快好,而不是死亡。」阿鑽微笑著,就算她的心如刀割,即使她知道,阿妮的病情可能不會持續太久。
「積極的思維將產生好的結果,反之亦然。請繼續祈禱並為康復而奮鬥,好嗎?」
「無論發生什麼事,台灣還有印尼還有我,都會竭盡所能為您服務。」阿鑽走近床沿,撫摸阿妮的頭髮。

當阿鑽餵阿妮吃午餐時,有人敲門。一位護士幫阿妮換新的點滴。身材微胖的護士跟阿妮和阿鑽打完招呼後就忙著她的工作了。這時,阿鑽的手機響了,當知道是誰打的時候,她小聲的跟護士與阿妮暫時道別。

「今天我加班」穿著醫生白袍的男,在餐廳撥出電話
「而且我有話要說。」原來,那位男子就是阿鑽的先生,就坐在她前面。
「我正在陪阿妮,那位昨天我所說的非法外勞。有什麼事情難道不能等回家後再講?比較不會打擾到我們的工作。」阿鑽嘟著嘴說話。
「這個。」楊精忠轉過身,向身後的阿鑽遞出兩張前往雅加達的機票。
「這是什麼?」阿鑽怒視她的先生。
「我們回家,我已經向醫院請一個星期的假了,我也會幫妳請同一個時間的假。」
「你想幹嘛?我家在台灣,為什麼要我回家?」阿鑽不自覺提高音量
「我們一起面對吧。五年不是短的思考時間。我敢肯定,妳的父母會接受妳的,相信我。」楊精忠試著說服阿鑽。
「你怎麼如此相信?」
就算他們再怨恨,還是會記妳的好。不管多恨,心中還是有想念」說到這,楊精忠笑了。
「我們帶有嘉一起回印尼,希望她的出現能融化妳的父母,重新接受妳。妳也該釋懷,那個家,變成想回的地方。」先生繼續長篇大論,向阿鑽訴說他的期望。

終於,阿鑽展開笑容,從她先生的話中看到一線希望。眼淚從眼眶裡竄出,她又忍住了。但,這一次流的不是苦澀的淚,而是彌補過去的希望之淚。阿鑽嘆了一口氣,內心開始為她的好友,林和她先生的事禱告。期望上天可以治癒阿妮。此後,阿鑽開始認真地過生活,一心等待回印尼的時間到來。

***

江子翠的夏季
2016年5月31日


Comment  Bahasa indonesia baik. tema menarik. Cara penceritraan cukup menarik. 很好的印尼語,有趣的主題。故事講述得挺有意思的。

Comment  Cerita ini menghadirkan perspektif lain dari perjalanan hidup seorang pengantin asing. Hidup di negara orang memang tak pernah mudah, namun menjadi lebih pahit ketika di tanah sendiri kehadirannya ditolak karena mengambil keputusan yang tidak lazim dengan kebiasaan komunitasnya. Pernikahan antar-negara selalu membawa cerita yang menarik. Dan di sini, penulis menyusunnya dengan kata-kata yang mengalir enak diikuti.  這個故事呈現一位外籍配偶心路歷程的另一個角度。在別的國家過生活並不是一件容易的事,但更苦的是他在自己的故鄉被拒絕,只因為他所做的決定不符合當地的習俗。異國婚姻經常帶來有趣的故事。在這裡,作者用流暢的話語使得故事更有趣。

 

Comments are closed.