我的腳步停留在寶島 Dan Langkah Kakiku Singgah Di Formosa

 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 我的腳步停留在寶島 Dan Langkah Kakiku Singgah Di Formosa

👤 Rita Sugianti

 

Suara detak jarum jam di kamarku terdengar jelas malam hari ini, aku terbaring di ranjang merasakan letihnya badan karena seharian aku bekerja merawat pasien, namun jika aku melelapkan untuk tidur maka malam akan murka kepadaku karena kesunyian seperti inilah yang membantuku untuk berpetualang dengan aksara. Akhirnya aku harus mengalah dengan rasa capek dan aku harus bangun. Ini adalah kesempatanku untuk mengikuti event lomba menulis karya bebas yang diadakan oleh Pemerintah Taiwan pikirku.

Hmmmmm… kuhempaskan nafas dalam-dalam sambil kuucap bismillah.

Hi Sobat, panggil aku dengan Secha nama account facebookku Rita Secha! Aku lahir di Bengkulu dan sekolah SD di sana. Kemudian melanjutkan SMP di Palembang dan SMA di Lampung, keren bukan? Aku anak bungsu dari tiga bersaudara selama 12 tahun sebelum akhirnya ibu melahirkan adikku hingga ia menghembuskan nafasnya pulang ke pangkuan Ilahi.
Inilah awal dari perjalanan hidupku ketika diusia masih belia harus kehilangan orang tuaku.

Sobat, pernahkah kalian merenung untuk apa kita diciptakan, mengapa kita dipertemukan atau dikenalkan dengan orang-orang disekitar kita baik itu orang jahat, orang baik? Sedih jika terkadang aku tak dapat menemukan jawaban atas renungan-renungan itu namun itulah fitrahnya aku hanya sebagai manusia biasa, aku hanya berusaha berbaik sangka padaNya. ketika Allah memanggil orang tuaku disaat aku masih butuh kasih sayang mereka ini problem besar pikirku saat itu.

Siapa manusia di atas bumi ini yang tidak mengalami permasalahan, setiap orang pasti menghadapi problematika ada yang diliputi kesedihan kekurangan financial, ada yang sedih memikirkan hutang yang bertumpuk-tumpuk, ada yang gundah gulana karena jodoh tak kunjung datang, sedih karena sudah bertahun-tahun belum memiliki keturunan dan ada juga yang bersedih karena menderita penyakit yang sangat berbahaya, seperti halnya aku sedih karena ditinggalkan orang tuaku. Dari berbagai problematika ini kita tentunya mencari solusi untuk bisa keluar dari permasalahan tersebut.
“Well… karena kita manusia memang harus berusaha.”
Namun solusi yang utama adalah Do’a, kata ustadz Yusuf Mansur, “Do’a, ikhtiar, Do’a.” Inilah solusi yang utama yaitu do’a sebelum solusi yang lain dilakukan.
Di dalam hadits riwayat At-Tirmidzi juga disebutkan, “ Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan.”

do’a adalah senjata utama orang mukmin untuk menyelesaikan problematika juga dijelaskan oleh Allah melalui firmanNya, “berdoalah kamu kepadaku,niscaya kuperkenankan permintaan kamu itu” (AL-mu’min : 60).

Walau aku tak memiliki orang tua, aku selalu memohon padaNya agar aku dipertemukan dengan orang-orang yang menyayangiku. Sehingga aku merasa betah tinggal dimana pun.

Mungkin aku pernah bangga karena terpilih menjadi siswa teladan tingkat kabupaten oleh Pemerintah Lampung Utara saat duduk di bangku MTsN, mungkin karena faktor keberuntungan. dan dukungan dari orang-orang di sekitarku. Atau dahsyatnya do’a karena setiap saat aku mohon padaNya untuk memberiku daya pikir lebih dari teman sekolahku.

Di sini, saat aku menuliskan jejak langkahku, ingatanku pun terbayang masa silam ketika dua rasa menyelimutiku saat itu. Satu sisi aku bahagia karena aku lulus sekolah dengan memperoleh predikat juara umum jurusan IPA di sekolahku. Setelah berkutat dengan buku pelajaran dan berjuang agar bisa membiayai sekolahku akhirnya hari kelulusan itu tiba. Namun di sisi lain aku sangat kecewa dan sedih yang teramat dalam karena keadaan yang tak memungkinkan untuk melanjutkan studyku, pengumuman beasiswa pun tak kunjung aku dapatkan, dulu aku malu untuk menanyakan hal itu kepada pihak sekolah.

Dua minggu sudah aku berada di dalam kamar merenung akan kemana langkah kaki ini membawa asa, akhirnya penat ini menghampiri, aku kehilangan tujuan hidup berjibaku dengan keadaan kian tak menentu namun aku tak mau kehilangan Engkau ya Rabb.
Selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal semua yang pernah aku lalui begitu pula masa silam aku ingin terbang tinggi bersama mimpi yang pernah aku kubur dalam aspal kini menjulang dalam angan kian melambung menghantarkan dalam rangkaian daftar kehidupan yang kusiapkan.

Aku bangkit untuk meraihnya, succes menyingsing hari esok nan cerah secerah embun pagi yang suci, aku pun sibuk menyingkirkan aral yang melintang.
Tak ada orang yang mendukung aku tidak akan peduli, asal Allah bersamaku.
Orang bilang: Memang bisa kau mencapai kesuccesan, siapa yang akan membiayai sekolahmu?
Jika kuteringat kalimat itu perih dan tersayat hati ini. Apa pedulimu menanyakan hal itu yang akan mematahkan mimpi-mimpiku menambah keterpurukan menakuti bak hantu malam kian mencekam.

Dengan keyakinan yang tinggi aku melangkah pergi, jiwa sepenuhnya mendapat kebebasan memilih jalan hidup yang aku lalui. Meningalkan negri tercinta demi sebuah cita-cita.
Yah! Aku pergi untuk kembali. Mencari sesuap nasi dan sebungkah berlian.
“Kemana aku harus pergi?” tanyaku ketika aku dalam kebingungan kala itu.
“Jepang, Taiwan atau Korea?”
Mungkin sepeda miniku bisa menghantarkanku ke Negara seberang, karena aku tau tak satu sen pun uang yang aku miliki. Atau perahu kertas bisa aku tumpangi? Agar bisa berlabuh di salah satu Negara tersebut. Agar bisa cepat mendapatkan uang sehingga aku mampu meraih mimpiku menggapai cita-cita menjadi seorang ahli kimia reaksi.

Tak juga nampak apa yang kucari. Di hadapanku bukan sebungkah berlian melainkan pasien-pasien yang menunggu uluran tanganku agar aku bisa membantu merawatnya.
“Well… ini langkah awal menuju cita-cita itu mungkin,” hiburku dalam hati ketika aku tiba di negeri Formosa. Aku bahagia seberkas cahaya menerangi langkahku menapaki jalan hidup ini.

“Lakon apa yang sedang aku perankan?”
Tak jarang hati mulai bertanya pada sang maha kuasa.
Man shabara dzafira Rita(Siapa yang bersabar dia yang beruntug), ketika aku mulai kehilangan kesabaran hanya kalimat itu yang bisa menguatkan dalam kepenatan di tengah keramaian kota. Jauh dari keluarga tercinta, bersyukur aku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti keluarga baru di Taiwan yang bisa mengobati kerinduan akan belaian kasih sayang. Bukankah ini semua demi masa depan.

Bertahun-tahun sudah aku berada di Taipei, Taiwan. Kurasakan kembali suasana yang aku rindukan. Suara kicauan burung di pagi hari, Kokokan ayam, bau khas pembuatan gula aren tetanggaku tidak jauh beda dengan aroma bubur kacang ijo yang sering menipu panca indra penciumanku.
Menyapu sekitar halaman rumah almarhum kakek angkatku dengan tidak menggunakan alas kaki.
Aku merindukan masa-masa ini. Duduk bersama kakek, mendengarkan kisah-kisah jaman penjajahan. Ah, namun itu tak akan terulang karena kakek sudah meninggalkan aku untuk menghadap sang kuasa.
Semoga engkau bahagia di sana kek, walau aku bukan cucumu engkau menyayangiku dan aku belum sempat membalas budi baikmu hanya do’a yang bisa kuberikan. Semoga Allah memberikan kasih sayangNya, memberikan tempat seperti dulu engkau memberiku segalanya.

Ah, siapa sangka aku yang dulu sering memotifasi adik-adik didikku saat aku mengajar pramuka di SD dan mengajar les private di daerahku, kini menjadi rapuh. Mudah terhempas oleh angin tatkala aku mulai merindukan orang-orang yang menyayangi dan mengasihi telah meninggalkanku.
Aku malu kepada diriku sendiri. Namun aku memaklumi karena aku hanya wanita biasa, jangankan aku, seorang motifator handal saja tidak akan ada bisa bertahan jika menghadapi suatu masalah dalam hidupnya sendiri.

Aku menatap langit yang tak berhenti berawan itu artinya aku tak boleh putus asa dengan keadaan.
“Ayo bangkit…bangkit. Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini!”
Tahun ini 2011 pun datang masa dimana aku harus meninggalkan Negara ini, namun bosku mengharapkan aku tetap melanjutkan untuk bekerja di sini dengan menambah gajiku.

Tiga tahun bukan waktu yang sedikit bagiku untuk berhenti bergerak dari buku-buku pelajaranku, berhenti dari mimpiku. Allah apa yang harus aku lakukan? Dari hatiku yang terdalam aku tak ingin berhenti lebih lama lagi untuk menunda kuliahku. Aku ingin meneruskan studyku ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Di sisi lain nuraniku berat untuk menolak tawaran perpanjangan kontrak kerja mengingat aku pun butuh membiayai kehidupanku, kuliahku sedangkan ekonomi keluargaku masih di titik nadir kala itu.
Dengan bibir yang bergetar serta keyakinan yang kuat setelah aku memohon petunjukNya, aku mengatakan, “Iya, aku mau melanjutkan kontrak kerjaku tiga tahun lagi asalkan aku diijinkan melanjutkan studyku di Formosa.”

“Well, ofcourse you can continue your study in Taiwan,” Jawaban dari bos tempatku bekerja yang membuatku bersujud syukur. Aku bahagia bukan main saat itu mana kala mendapatkan dukungan atas niatku untuk melanjutkan study di bumi Formosa.

Aku tertarik, aku menyanggupi dan tanda tangan perpajangan kontrak kerja. Rasa haru menyelimutiku. Di saat hati ini gundah gulana menempuh perjalanan lika-liku kehidupan, mereka mendukungku dengan caranya.

Aku pasrah dengan jalan yang diberikan oleh Allah atas hidupku, pasrah bukan berarti tidak berusaha. Aku berusaha dan berdo’a agar hari esok lebih baik lagi. Akankah ini menjadi langkah untuk menuju satu titik yang dinamakan kesuksesan? Ataukah ini awal dan masih banyak rintangan hidup di depan sana?

Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, September 2011 aku persiapkan persyaratan-persyaratan dan mendaftarkan diri untuk bisa menjadi seorang mahasiswa di Universitas Terbuka Taiwan.
Setiap do’a yang teruntai aku pasrah dan hanya berharap padaNya, aku yakin dengan firman-Nya, “Sesungguhnya, setelah kesulitan ada kemudahan.”
Setiap apa-apa yang terjadi pada diri kita semua sudah dengan rahmat, perhitungan serta ilmuNya.
Meski dinaungi langit yang sama, manusia berjalan dalam jalanan dengan bobot yang berbeda. Semua tidak lain adalah anugrah karunia Ilahi.

Semakin bertambah usia, maka semakin berkurang daya pikir manusianya, itulah yang aku rasakan setelah lama otak ini tidak digunakan untuk berfikir pelajaran yang berat-berat maka aku sangat kesulitan beradaptasi dengan situasi dimana aku harus bekerja, belajar serta aktifitas pribadiku. Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan menjadi pekerja sekaligus pelajar di Negara orang.
Pada awal semester memang berat kujalani, tak jarang aku jatuh sakit ketika aktif perkuliahan.
Sering nilaiku tidak sesuai dengan yang aku harapkan namun aku tak berkecil hati karena bukan nilai semata menjadi prioritasku saat ini.
Aku tak akan menyerah dengan keadaan. Aku bosan dengan kebodohan, aku tak ingin anak-anakku kelak sepertiku.

Tak disangka waktu sangatlah cepat berlalu, 2014 genap sudah enam tahun aku di kota Taipei, Taiwan. Dan aku sudah duduk di smester enam itu artinya kuliahku pun hampir selesai, mungkin kini saatnya aku memikirkan pulang ke Indonesia membawa sedikit modal financial dan ilmu-ilmu yang selama ini kupelajari baik ilmu di bangku kuliahku maupun ilmu yang lainnya seperti kedisiplinan orang Taiwan yang memberi kesan tersendiri bagiku.

Hal yang aku sadari dari pengalaman hidup ini adalah setiap kejadian yang kita alami patutlah kita syukuri, karena Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya semua ada hikmah, layaknya ujian dalam sekolah pasti ada kunci jawabannya.
Setiap prestasi yang kita raih adalah cambuk untuk memacu kita lebih giat lagi, lebih berani mengejar impian kita walau rintangan silih berganti walau terkadang kita merasa tidak mampu meraihnya tugas kita hanya berusaha namun Allahlah yang berhak atas segala-galanya.
Karena aku sudah berjanji dengan diri ini untuk menyelesaikan studyku minimal lulus S1 walau salah jurusan aku tidak peduli dan ini bagian dari hidupku yang harus disyukuri.

Memang tidak akan mudah, perlu kerja keras dan komitmen tinggi untuk tidak gampang menyerah akan kegagalan, keadaan yang tidak kita inginkan, situasi yang tidak mendukung namun aku kembali lagi berfikir semua ini demi masa depan bukan hanya untuk aku melainkan untuk anak-anakku kelak. Aku bisa menceritakan bagaimana perjuangan hidup ini kepada mereka.

Satu hal lagi aku ingin menghadirkan senyum kebanggaan dan kebahagiaan kepada Almarhum orang tuaku, “Ayah, Ibu anakmu sudah tumbuh dewasa. Walau aku tak mampu meraih cita-citaku sebagai ahli kimia reaksi, aku bisa sekolah dan kuliah dengan biayaku sendiri.”

Ya, aku masih memiliki keinginan suatu hari nanti aku bisa melanjutkan studyku ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Mencontoh orang-orang Taiwan di sekitarku yang rajin belajar, kerja keras dan tidak bermalas-malasan, satu hal lagi orang Taiwan sangat irit dalam menggunakan uang.
Dalam hati aku selalu berdo’a, “Ya Allah, berilah hambaMu ini kekuatan, kesabaran serta kegigihan dalam meraih kesuksesan baik dunia dan akhirat.”

Perjuangan untuk meraih kesuksesan tidaklah mudah banyak hinaan dan cacian bahkan sering dipandang sebelah mata karena aku hanya seorang TKI. Aku tidak peduli yang terpenting pekerjaan itu halal. Apa artinya kita di hadpan manusia, aku hanya mementingkan tahta di hadapan yang maha kuasa dengan ilmu dunia dan akhiratNya.

Alhamdullilah, Allah memberiku jalan hidup seperti ini tentu semua ini bisa aku ambil hikmahnya suatu hari nanti.
Aku benar-benar tersentuh dengan skenario-Nya. Begitu indah rencaNya, pertama aku diciptakan kedunia ini, kemudian menghadapkanku dengan segala yang tidak aku inginkan kehilangan orang tuaku hingga aku bertanya-tanya apa maksud Allah memanggil begitu cepatnya. Ternyata dari situlah langkah kaki ini membawaku singgah di bumi Formosa demi menuju satu titik yang dinamakan kesuksesan, kebahagiaan.
Walau aku sendiri belum menemukan kesuksesan seperti apakah patokan dalam hidupku. Yang pasti aku hanya ingin hidup bahagia dunia dan akhirat dengan keridhoan-Nya.
Allah memang maha bijaksana. Bukan memberikan sesuatu yang kita inginkan, namun memberikan yang kita butuhkan.


 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 我的腳步停留在寶島 Dan Langkah Kakiku Singgah Di Formosa

👤 Rita Sugianti

 

半夜裡,我房間裡的鐘聲滴答作響清晰可聞,我身體疲憊地躺在床上,因為照顧一整天的病人。可是,如果我睡著,會覺得對不起夜晚,因為夜晚的清靜能幫助我進行文字探險。我絕不屈服於疲勞,我一定要起床。我腦海裡想的,這是我參加台灣政府舉辦的移民工文學獎的機會。

嗯…我嘆很長的氣,一邊唸真主的名。(bismillah)

嗨,朋友,叫我瑟查,我的臉書帳號是Rita Secha!我在明古魯出生也在那裡念小學。然後在巨港念國中、在楠榜念高中,很酷吧?三兄妹裡,我當了12年的老么,在那之後,我母親生完我弟弟,她就回到神的懷抱。
我初成年少,就開始了失去父母的旅程。

朋友,你們有沒有沉思過,為什麼自己會被神所創造?為什麼我們會相遇或認識我們周圍的人們,不管他是好人或壞人?有時感傷,因為我經常無法得到問題的答案,但事實上我只是一個普通的凡人,我試著用正面態度來看待祂的註定。阿拉召喚我父母時,那時的我正需要他們的關愛,我想在當時這是個很大的難題。

在世上有哪個人沒有遇過難題,地球上每個人一定有自己的困境,有的是賺不到錢,有的是為了還不完的債務而難過,有的因為找不到對象而沮喪,因為沒有傳宗接代而遺憾,也有因為罹患了重大疾病而悲嘆,像我,因為失去父母而哀傷。面對各種困境,我們當然必須要想盡辦法來擺脫這些難題。

「呃……,我們只是人,必須要努力試試。」
但最終的解決之道是祈禱,阿訇Yusuf Mansur說,「祈禱,努力,祈禱」這就是主要的解決方法,亦即在其他方案出現前,就要自行先祈禱。(阿訇是伊斯蘭教的神職人員)
在可蘭經裡也提過:「沒有什麼能阻擋天命,除了祈禱;沒有什麼能增加你的歲壽,除了做好事。」

祈禱是虔誠信徒的武器,用來解決難題,阿拉也從他的聖言裡解釋過:「你們要向我祈禱,我會完成你們的願望。」(AL-mu’min : 60)

雖然我已經沒有父母了,我經常向祂祈求,讓我能見到愛我的人。這樣不管住在哪裡,我都能無入而不自得。

這件事我覺得很自豪。在念國中時,我曾被地方政府選為北楠榜學校的模範生,也許是運氣因素,以及親朋好友的支持。或是因為我的祈禱,所以祂賜給我的靈感,勝過我的同學。

在這裡,當我寫起我的足跡,我的記憶就回到過去。一方面我很高興,因為我畢業拿到學校的科學總冠軍。經過我的努力,不斷的複習看書,直到能對得起我的學費,畢業典禮終於到來。但一方面我非常難過與失望,因為我無法繼續唸書,我沒收到獎學金的通知,以前的我不敢向學校問。

已經兩個星期過去,我一直在房間內思考,不知道我的腳步該往何處去,直到疲憊的感覺靠近,我失去了生活方向,在不明朗的情況下苦苦掙扎,但我不想失去祢啊,真主。

再見了往事,再見了我所經過的每一件事,包括過去。我想飛揚,帶著曾被我埋進泥沼裡的夢想。現在,越來越多、若隱若現的夢想將要起飛翱翔,我要按步實現我已準備好的生活計畫。

我起身抓住它,迎接黎明奪目的露水,燦爛的成功就會到來,我也忙著擺脫崎嶇的道路。
有沒有人會支持,我不會在意,只要有阿拉與我同在。
人說:「你會成功嗎?誰來幫你付學費?」

當我想起那句話,我的心就破碎疼痛。你們在乎什麼,問那些只會打碎我夢想的問題,增加我情緒的低迷與孤獨,像鬼魅出沒嚇唬我的夜晚。

很有自信心的我轉身離去,靈魂得到了完全的自由,選擇我自己的路。為了志向,離開我親愛的國家。
好吧!我離開,是為了回來。尋找一口飯,和一顆鑽石。
「我該往哪裡走?」我無所適從地自問。
當我茫然時,我問自己「我該往哪裡走?」
「日本?台灣?還是韓國?」

除非我的迷你腳踏車可以帶我去鄰國,因為我知道,我沒有一毛錢。還是我可以駕著紙船去?這樣我可以在其中一個國家的港口靠岸定錨。為了可以快速賺到錢,讓我達成我的夢想,成為化學家。

我要找的東西,還未看見。在我眼前的不是一顆鑽石,而是病人在等待我的援手,讓我照顧他們。
「呃……,這可能是朝著志向的第一步吧。」當我踏上台灣的土地,我心裡安慰自己。我很高興有一道光芒照亮我生活的道路。

「這部戲我在扮演什麼?」
有時心裡會開始問全能者。
「誰有耐心,誰就會有好運。」當我失去耐心時,在我最疲憊的時候,只有那句話能成為一股力量。遠離親愛的家人,很感激能在台灣認識一些像家人一樣的好人,撫慰思鄉的情緒。是不是這一切都為了未來?

我在台灣台北已經好幾年了。我再次回味那種懷念的感覺。清晨鳥叫、雞鳴,鄰居熬煮棕櫚糖的氣味和綠豆粥味道很相似,時常騙過我的嗅覺。
味道飄過已經過世的乾爺爺院子前面。

我懷念這些時光。和爺爺坐在一起,聽他說殖民時期打仗的故事。唉,但這些不可能再復返了,因為爺爺已經離開我而去面對全能者了。

希望你在那裡能快樂,爺爺,雖然我不是你的親孫,你一樣疼愛我,我還來不及報答你,我只能用祈禱回報你。希望阿拉憐憫,給你一個位子,像以前你給我的一樣。

唉,誰會想得到,以前當我擔任幼童軍老師和補習班老師時,常常鼓勵學弟妹,現在的我,變得很脆弱。當我開始懷念疼愛我又離開我的人時,我可以輕易被風擊倒。

我感到羞愧。但我理解我只是平凡的女生,不只我,知名心靈講師面對自己生活上的難題也會受不了。

我遙望著烏雲密布的天空,這表示我不能因為這些情況而放棄。
「來,奮起……奮起。在世上沒有不可能的事!」
2011年到來,是我不得不離開這國家的時候了,但我雇主希望我能繼續留在這裡工作,他要幫我加薪。

三年對我來說不是很短的時間,我休學,停止我的夢想,阿拉,我該怎麼做?我打心底不想再延遲我的大學學業。我想繼續進修到更高的學業。

另一方面,我的心難以拒絕續約,因為想起我還需要支付我的生活開銷,我的大學學業,同時我的家庭經濟在那時候還是很糟糕。

我用顫抖的嘴唇以及堅定的信念向祂請求指導,之後我表示:「好,只要我能被允許在台灣完成我的學業,我願意延長三年工作合約。」

「嗯,當然你可以在台灣繼續唸書,」我雇主的回答令我懷抱感激之情。當時我很高興得到支持,在台灣完成我的學業。

我開心地我答應簽延長工作合約,心裡覺得很感動。當我遇到困境心生煩惱時,他們用他們的方式來支持我。

我順從阿拉賜給我的生命道路,順從不代表不努力。我不斷祈求更美好的明天。這會通往成功的下一步嗎?還是說這只是生活重重阻礙的開端?

我不會浪費這機會,2011年9月我準備報名台灣的大學進修部就讀。
每一次祈禱,我只能順從倚靠祂,我肯定祂的諾言:「誠然,過了苦境就有順境。」
發生在我們身上的每一件事情,都充滿了祂的恩典、計畫、和智慧。

雖然待在同樣的天空下,每個人走路的重量都不同。這都是因為真主賜的恩典。

年紀越增長,人的記憶力就會退化,我感覺到,我沒辦法用腦解決學業的難題,讓我很難適應,我有課業、工作、還有私生活。原來在別人的國家當工人與學生,比我想像中的還要困難。
第一學期我困難的度過,忙功課之外經常生病。

有時我的學習成績不符合我的預期,不過我不因此而感到氣餒,因為成績不是我眼前的目標。
我不會向現況低頭。我害怕無知,我不希望我的小孩未來像我。

不知不覺,時間過得好快。到了2014年,我已經來台灣台北六年。而我的學業也快完成,可能現在我該考慮回印尼了,帶著一點錢與這段時間我在大學學到的知識,以及台灣人令我敬佩的自律。

在生活經驗上,我體會到我們遇到的每件事情,都要抱著感激的心,因為阿拉不會給你超過你所能負擔的考驗,一切都有祂的恩典,像學校辦的考試,也一定會有它的答案一樣。

我們達到的每一份成就都是鞭子,鞭策我們更加努力,更加大膽的追逐我們的夢想,儘管前方又是一個障礙,即使有時我們覺得無法完成,我們的任務就是努力,因為阿拉的權柄掌握一切。

我已經對自己做了一個承諾,我要完成我的學業,最起碼要大學畢業,雖然我念錯科系,但我不管因為這就是我生活的一部分,理當心存感激。

這確實不是一件容易的事,艱苦工作,並致力不成為一個半途而廢的人,種種的不利的阻礙,並不是我們所希望遇到的情況,但我再回想,這一切都是為了未來,不只為我自己而已,也為我小孩的未來。我可以對他們娓娓道來我的人生奮鬥史。

還有一件事,我想要把我驕傲的笑容與幸福獻給我已故的父母:「爸、媽,你們的孩子已經長大了。雖然我無法實現我的目標,成為化學家,但我能上大學,也能自行承擔大學費用。」

對,我還有一個願望,有一天我可以讀到更高的學位。仿效我周遭的台灣人,他們勤奮好學、吃苦耐勞、不偷懶,還有一件事,台灣人很節儉。

我一直在心裡不斷的祈禱:「阿拉,求祢賜給祢的子民力量、耐心、與毅力通往成功,無論是人間還是天堂。」

成功不是一件容易的事,許多怒罵和侮辱甚至被歧視,因為我只是個外籍勞工。但我不在乎,只要那份工作是阿拉認可的工作。我們在人類面前不代表什麼,我只關注全能者寶座面前的人間與天堂。

感謝真主阿拉給我這條路,當然,總有一天我能從這一切得到恩典。

我真的被祂的安排所感動,祂的計劃如此美妙。首先,我被創造在這世上,然後讓我面對我不想要的事情,失去雙親,我不斷的質問阿拉那麼快就招回我父母的意思。原來,祂就是要把我的腳步帶到寶島,前往成功與幸福。

雖然我自己還沒找到成功,也不知道自己的生活標竿。可以肯定的是,我只想要獲得祂的恩典過得幸福快樂。
阿拉是明智的。不是給我們想要的東西,而給我們所需要的東西。

鼓舞人心的移民工,漂流異鄉的故事,說明外籍勞工的決心,不會受到身分地位而停止。


關於很有啟發力的外籍勞工生活故事,描述一名外勞的意志不會因為自己身分而停住。
(1) Cerita mengenai perjalanan hidup TKI yang cukup menginspirasi, menggambarkan tekad seorang BMI yang tidak terhenti hanya karena status diri
(2) Artikel ini memberikan contoh kepada kita semua bahwa kesuksesan membutuhkan usaha, kesabaran dan doa, jangan berkecil hati apabila kita gagal dalam melakukan sesuatu, terus berjuang tetap semangat suatu saat nanti kita pasti akan meraih apa yang kita cita-citakan.