阿嬤給的藍色圍巾 SYAL BIRU DARI AMA

 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 阿嬤給的藍色圍巾 SYAL BIRU DARI AMA

👤 Disyak Ayummy

 

Ibu adalah malaikat tanpa sayap yang paling dekat dengan kita. Sayangi dan bahagiakanlah dia, selagi kamu masih punya waktu dan kesempatan.

*****

Hampir dua tahun aku bekerja merawat seorang ama yang berusia 78 tahun. Ama masih lumayan sehat, meski punya penyakit jantung. Jadi aku harus ekstra hati-hati dalam menjaga dan merawatnya. Ama tidak boleh telat minum obat atau terlalu capek. Kami tinggal berdua di sebuah perumahan, dekat danau Lantan, Chiayi. Kedua anak laki-laki ama tidak bisa tinggal bersama kami, karena kesibukan mereka di kota lain

Anak pertama ama bernama tuan Cheng. Dia sudah menikah dan tinggal di kota Tainan. Sesekali dia datang ke rumah ini untuk menjenguk ama. Namun, aku tidak pernah melihat istri tuan Cheng karena dia selalu datang sendirian, meski Konien sekali pun. Sementara anak kedua ama bernama tuan Yayu. Dia belum menikah dan sekarang bekerja serta tinggal di Jepang. Enam bulan sekali dia pulang dan tinggal di sini selama satu minggu.

Akhir-akhir ini kesehatan ama sedikit menurun. Beberapa kali penyakit jantungnya kambuh, sehingga membuat dia harus keluar-masuk rumah sakit.

Seperti siang ini, saat kami sedang makan tiba-tiba penyakit jantung ama kembali kambuh. Dia sempat pingsan sebelum mobil ambulans yang aku telpon, datang. Dalam perjalanan ke rumah sakit, seperti biasa aku segera menelpon tuan Cheng, untuk mengabarkan keadaan ama. Malamnya tuan Cheng datang ke rumah sakit untuk menjenguk ama. Lagi-lagi dia datang sendiri tanpa istrinya.

Selama dua minggu lebih ama dirawat di rumah sakit, tuan Cheng hanya datang dua kali. Namun, saat ama diperbolehkan pulang, tuan Cheng menyempatkan diri datang ke rumah sakit. Dia bilang, ingin mengajak ama tinggal beberapa hari di rumahnya, karena dia ingin ikut merawat ama. Akhirnya, kami pun pulang ke rumah tuan Cheng di kota Tainan.

Tuan Cheng tinggal di sebuah apartemen yang lumayan besar, bersama istrinya –nyonya Yi Ming. Namun, ternyata kedatanganku dan ama tidak diinginkan oleh nyonya. Dia terang-terangan menolak kedatangan kami di rumah ini. Baru saja kami masuk ke dalam rumah, nyonya sudah menunjukkan sikap tidak sukanya.

“Pa, ngapain kamu bawa mereka ke sini?” tanya nyonya dengan tatapan sinis ke arah kami.

“Ibu baru saja keluar dari rumah sakit dan masih lemah. Jadi, untuk sementara waktu aku ingin mereka tinggal di sini, sampai ibu benar-benar sehat. Sekalian aku ingin ikut merawat ibu, di sini, ” jawab tuan sambil mempersilakan kami duduk. Aku dan ama pun duduk di sofa, meski agak ragu dan rasanya tidak enak hati.

“Buat apa kamu ikut merawat ibu? Bukankah sudah ada orang Indonesia itu?” kata nyonya sambil menunjukku. “Kalau dia tidak bisa merawat, kirim saja ibumu ke panti jompo. Kalau mereka akan tinggal di sini, bisa-bisa biaya bulanan kita membengkak untuk menghidupi mereka.”

Aku sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan nyonya ucapkan. Bagaimana mungkin seorang menantu menolak, bahkan seolah membenci mertuanya sendiri? Bukankah dia juga seorang wanita, yang kelak akan menjadi ibu dan juga seorang mertua?

“Ma! Dia itu ibuku! Ibu yang melahirkan dan membesarkanku. Jadi apa salahnya kalau aku ikut merawatnya.” Kali ini suara tuan agak keras. Ama menggenggam tanganku erat melihat pertengkaran mereka di depan matanya. Kurangkul ama dan kubelai punggungnya pelan, untuk menenangkannya. Aku khawatir penyakit jantungnya akan kambuh lagi jika melihat tuan dan nyonya bertengkar.

“Baiklah … tapi jangan lama-lama tinggal di sini.” kata nyonya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.

Sepeninggal nyonya, tuan segera menghampiri kami berdua. “Ibu, tidak apa-apa kan? Maafkan istriku ya, Bu,” kata tuan sambil mengusap tangan ama.

“Ibu tidak apa-apa, Cheng. Mungkin istrimu benar, sebaiknya ibu pulang saja ke Chiayi. Ibu tidak mau kamu bertengkar dengan istrimu, hanya gara-gara ibu.” Ama mencoba bangkit dari duduknya dan meraih tas yang berisi baju-bajunya. Saat aku ingin mengambil alih tas itu dari tangan ama, ternyata tuan lebih dulu meraih tas itu, dan berusaha mencegah kepergian ama.

“Saya mohon Ibu tetap tinggal di sini. Ijinkan saya ikut merawat Ibu meski hanya beberapa hari.” Kembali tuan Cheng mencoba membujuk ama. “Kumohon, Bu ….”

“Hmm … baiklah …,” jawab ama agak sedikit ragu.

“Terima kasih, Bu,” kata tuan Cheng sambil memeluk ama. Kemudian tuan Cheng mengantar kami ke kamar yang terletak agak belakang, tempat kami beristirahat.
Baru lima hari tinggal di sini, rasanya aku dan ama sudah tidak betah. Aku sungguh kasihan dengan ama, karena nyonya masih saja tidak mau menerima kehadirannya di rumah ini. Nyonya bersikap baik, hanya pada saat tuan berada di rumah. Jika tuan Chen pergi kerja, nyonya selalu memperlakukan kami seperti seperti orang asing.

Aku tidak diperbolehkan menggunakan mesin cuci untuk mencuci baju ama. Bahkan mengambil air minum dan memasak bubur buat ama, juga tidak boleh. Ama sendiri tidak diperbolehkan menonton Tv, tidak boleh keluar kamar, dan tidak boleh mandi pakai air hangat. Kami hanya diperbolehkan makan sehari dua kali, yaitu saat tuan Cheng ada di rumah. Pagi dan malam. Untuk makan siang dan persediaan air minum, aku terpaksa membeli di luar. Ingin rasanya aku mengadukan perlakuan nyonya kepada tuan, tapi selalu dicegah oleh ama.

“Jangan, Yumi. Kasihan Cheng, nanti dia bertengkar lagi dengan istrinya. Aku ikhlas dengan perlakuan menantuku padaku,” cegah ama saat kuutarakan maksudku untuk mengadu pada tuan. Aku pun terpaksa menuruti ucapan ama. Betapa mulianya hati ama, dia tidak pernah membenci nyonya Yi Ming, meski menantunya itu memperlakukannya tidak baik.

Hari ini tuan Cheng pulang lebih awal. Saat aku membukakan pintu untuknya, aku melihat tuan membawa beberapa tas belanjaan bertuliskan sebuah nama super market terkenal.
“Yumi, ini syal dan jaket buat ama. Sedangkan yang ini, jaket buat kamu,” kata tuan sambil menyerahkan tas belanjaan itu, padaku.

“Terima kasih, Tuan,” jawabku sambil membungkuk. Aku segera membawa barang pemberian tuan ke kamar, dan kutunjukkan pada ama.

“Ama, sini saya bantu untuk memakainya,” kataku sambil membantu ama memakai jaket dan syal dari tuan. “Wah, warnanya cocok sekali. Ama jadi tambah cantik dech pakai syal warna biru ini.”

Ama hanya tersenyum saja mendengar pujianku. Kemudian dia melepas syal itu dan disodorkan padaku. “Yumi, syal ini buat kamu saja. Kamu baik. Kamu menyayangiku lebih dari menantuku. Terima kasih telah menemani dan merawatkuku selama ini. Pakailah ….”

“Ta-tapi, Ama … tuan membelikan ini untuk Ama. Nanti kalau tuan …,” jawabku agak ragu.

“Tuan tidak akan marah. Ambillah, anggap saja hadiah dariku.”

“Terima kasih, Ama.” Aku pun memakai syal warna biru itu, lalu berputar dan bergaya di depan ama, seperti seorang foto model. Kemudian kami berdua tertawa bersama.
Disaat kami tengah tertawa, tiba-tiba terdengar tuan dan nyonya bertengkar di ruang tamu. Sepertinya nyonya tidak suka jika tuan membelikan kami barang-barang tadi.

“Kenapa Papa menghambur-hamburkan uang buat mereka?” tanya nyonya dengan suara yang tinggi.

“Sekarang sedang musim dingin, jadi apa salahnya kalau aku membelikan jaket dan syal untuk mereka?”

“Kalau Papa terus-menerus memanjakan mereka seperti ini, kapan kita bisa beli rumah yang lebih besar dan mobil baru?”

“Cukup, Ma! Kenapa kau tega sekali perhitungan dengan Ibu? Selama ini ibu sudah memberiku segalanya, tapi dia tidak pernah meminta balasan apapun. Bahkan dia tidak pernah marah saat aku tidak bisa menemani di hari tuanya.” Kali ini suara tuan tak kalah keras dari nyonya.

Mendengar pertengkaran itu, wajah ama terlihat sedih. Senyum yang baru saja menghiasi wajahnya, seketika hilang. Kemudian ama memintaku untuk berkemas.

“Yumi, sebaiknya kita pulang saja ke Chiayi. Aku tidak mau jadi beban Cheng. Kasihan dia …,” perintah ama padaku.

Aku segera memasukkan baju dan beberapa barang lainnya ke dalam tas. Kemudian aku menuntun ama keluar kamar, menghampiri tuan dan nyonya masih bertengkar di ruang tamu.

“Sudah … sudah, jangan bertengkar lagi. Istrimu benar, Cheng, tidak seharusnya ibu menjadi beban kalian. Sebaiknya ibu pulang saja ke Chiayi,” kata ama sambil menghampiri tuan dan nyonya.

“Tapi, Bu …,” kata tuan Cheng ragu.

“Ibu tidak apa-apa, kan ada Yumi di samping ibu. Dia bisa menjagaku.” Ama mengusap lengan tuan Cheng. Seolah ingin meyakinkan tuan Cheng, kalau dia memang tidak apa-apa.

Aku tahu ama berusaha menyembunyikan tangis kesedihannya. Meskipun bibirnya tersenyum tapi tangan ama gemetar saat menggenggam tangan dengan kuat.

“Cheng, Yi Ming, ibu pamit pulang. Tidak usah diantar. Biar nanti ibu cari taxi di bawah,” pamit ama.

Lalu aku dan ama melangkah ke pintu depan, meski tuan masih berusaha menahan kami. Sebelum keluar rumah, aku sempat melihat nyonya duduk terpaku di sofa. Dia sama sekali tidak mau memandang ke arah kami. Bahkan sepatah kata pun tidak terucap dari bibirnya.

Begitu masuk ke dalam taxi, ama langsung memelukku sambil menangis.
“Yumi, apa karena aku sudah tua, sehingga mereka menganggap aku sebagai beban dan tidak mau menerimaku?” tanya ama diantara isak tangisnya.

“Ama jangan menangis, masih ada Yumi di sini yang sayang dan akan merawat Ama,” hiburku sambil mengusap-usap punggung ama.

Baru saja taxi yang kami tumpangi keluar dari jalan tol, ama yang tengah tertidur tiba-tiba merintih sambil mendekap dadanya. Sepertinya penyakit jantung ama kambuh lagi. Aku segera mencari obat jantung ama di dalam tasku, tapi sampai seluruh isi tas aku keluarkan, tak juga kutemukan obat itu. Mungkin tertinggal di rumah tuan Cheng. Aku dan supir taxi pun panik dan ketakutan melihat keadaan ama.

“Ama, tahan sebentar … tahan … Ama,” pintaku sambil memeluk tubuh ama yang masih terus merintih. Air mataku mengalir deras melihat keadaan ama yang berjuang melawan rasa sakit, di dadanya.

“Apa yang terjadi dengan Ama?” tanya supir taxi itu sambil menepikan mobilnya.

“Tuan, tolong segera panggilkan ambulans ke sini. Tolong …,” pintaku pada supir taxi itu. “Ama bertahanlah … aku mohon bertahanlah ….”

Kupeluk tubuh ama dengan erat. Aku sungguh tak tega melihat wajahnya yang semakin pucat dan susah bernapas. Perlahan tubuh ama terkulai lemas. Matanya tertutup rapat.

“Amaaa …!! Tidak …!! Ama, aku mohon bagunlah … bangun Amaa …!!” Kugancang-goncangkan tubuh ama, tapi dia tetap diam. “Tuan cepat panggil ambulans-nya. Cepaatt …!” Aku berteriak panik diantara tangisku yang semakin keras.

“Su-sudah Nona. Sebentar lagi mobil ambulans-nya sampai,” jawab supir taxi itu dengan gugup.

****

Aku masih terduduk lemas di sebuah kursi di Energy room, saat nyonya dan tuan Cheng tiba di rumah sakit.

“Yumi, ba-bagaimana keadaan ibuku?” tanya tuan Cheng sambil memegang pundakku.

Kupandangi wajah tuan Cheng dan istrinya secara bergantian. Hatiku terasa pilu bila ingat kelakuan nyonya yang menyia-nyiakan ama di usia tuanya. Aku hanya bisa menggeleng dan menunjuk ke arah ranjang yang dikelilingi gorden, tanpa bisa berkata apa-apa.

Perlahan tuan dan nyonya melangkah menghampiri gorden itu. Sementara aku mengikuti di belakangnya.

“Keluarga ama Wang …?” tanya seorang dokter yang keluar dari dalam gorden itu, diikuti beberapa suster.

“Iya, Dok, saya anaknya. Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya tuan Cheng dengan wajah gugup.

“Maaf Tuan, ibu anda tidak dapat kami selamatkan. Dia baru saja pergi untuk selamanya,” jawab dokter itu sambil menepuk pundak tuan.

“Ibuu … maafkan aku, Bu ….” Tubuh tuan Cheng terlihat lemas dan.limbung. Aku dan nyonya segera memegangi tubuh tuan dan memapahnya mendekati jasad ama. Dengan tangan gemetar, tuan membelai wajah ama yang terlihat tenang dalam tidur panjangnya. Kemudian tuan mencium kening ama. Suara isak tangisnya terdengar lirih, dan air matanya menetes membasahi wajah ama. Sementara nyonya berusaha menenangkannya sambil terus menerus meminta maaf pada tuan dan ama. Namun, semuanya sudah terlambat. Penyesalan dan air mata nyonya tak akan bisa mengubah takdir. Kini ama telah pergi untuk selamanya.

Aku hanya bisa terpaku melihat jasad ama. Ama yang malang dan kesepian. Ama yang tak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua anaknya, di hari tuanya. Bahkan ama pergi dengan sejuta luka akibat perlakuan menantunya.

“Selamat jalan, Ama. Semoga kau temukan kebahagian abadi di sisi Tuhan.” Kuhapus air mataku dengan syal biru pemberian ama. Syal yang akan selalu mengingatkanku pada sosok ama yang begitu bersahaja dan penuh cinta.


 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 阿嬤給的藍色圍巾 SYAL BIRU DARI AMA

👤 Disyak Ayummy

 

母親是最接近我們的、沒有翅膀的天使。疼愛她、讓她過得幸福,趁你還有時間與機會。兩年來,我的工作是照顧一位78歲的阿嬤。阿嬤還很健康,不過患有心臟病,因此我要格外小心地照顧她。阿嬤必須定時吃藥,不能或太累。我們倆單獨住在一棟房子,靠近嘉義蘭潭。阿嬤的兩個兒子沒辦法跟我們一起住,因為他們在其他城市忙碌地生活。

鄭先生是阿嬤的大兒子。已婚,住在台南市。偶而會回到家裡探視阿嬤,但我從來沒看過鄭先生的老婆,因為他每次都獨自一個人來,即使過年也一樣。阿嬤的二兒子叫亞育,還沒結婚,目前在日本工作。半年回家一次,每次回家會在這裡住一個星期。

像今天中午,我們正在吃飯,阿嬤突然心臟病復發。我連絡的救護車還沒到,阿嬤就已經昏倒了。在去醫院的路上,像往常一樣,我立刻打電話給鄭先生報告阿嬤的狀況。晚上鄭先生到醫院看阿嬤,只有一個人來,沒有看見他老婆。

阿嬤住院兩個多星期,鄭先生只來了兩次。當醫生准許阿嬤出院回家時,鄭先生抽空來到醫院。他說,想要請阿嬤到他家住幾天,想要照顧阿嬤。最後,我們回到鄭先生在台南的家。

鄭先生與他老婆宜敏太太,住在一間相當大的公寓。然而事實證明,我和阿嬤的到來,並不受到太太的歡迎。她斷然拒絕我們到她家,我們才剛踏進家門,太太就顯露不高興的態度。

「孩子的爸爸,你帶她們來這裡做什麼?」太太用不友善的眼神看著我們。

「媽才剛出院,身體還很虛弱。所以我想暫時讓她們住在這裡,直到媽的身體完全康復。我也可以在這裡照顧媽媽。」先生一邊回答,一邊請我們坐下。我和阿嬤坐在沙發上,雖然有點猶豫和不好意思。

「你幹嘛要跟著照顧她?不是已經有那個印尼人了嗎?」太太指著我說:「如果她不會照顧,那就把你媽送到養老院。如果她們住這裡,我們每個月的開銷就要增加了。」

我目瞪口呆,簡直不敢相信剛才太太說的話。一個媳婦怎麼可以這樣拒絕、甚至憎恨自己的婆婆呢?她不也身為一個女人,以後也會成為媽媽或婆婆嗎?

「孩子的媽!她是我母親!生下我,養育我長大的母親。所以假如有什麼意外,我得去照顧他。」這次先生的聲音稍微大一點。阿嬤緊緊地握著我的手,看著他們在她眼前爭吵。我抱住阿嬤,輕輕地摸她的背,讓她平靜下來。我很擔心阿嬤,擔心太太和先生爭吵,會讓她心臟病復發。

「好吧!不過不能住太久。」太太說完,然後進了她的房間。

太太離開後,先生立刻走近我們:「媽媽,沒事吧?原諒我老婆好嗎?媽。」先生握著阿嬤的手說道。

「媽媽沒事,或許你老婆說的沒錯,媽媽應該回嘉義比較好。媽媽不希望因為我,害你和你老婆吵架。」阿嬤試圖從座位站起來,拿起裝滿衣服的包包。當我要從阿嬤手中接過包包時,先生搶先拿走,阻止阿嬤離開。

「我拜託媽留在這裡,讓我照顧妳,雖然只有幾天時間而已。」鄭先生試圖說服阿嬤:「拜託,媽……」

「嗯……好吧……」阿嬤回答得有點猶豫。

「謝謝妳,媽!」鄭先生抱著阿嬤說。接著,鄭先生帶我們到後面的房間休息。

我們才住五天,我和阿嬤已經受不了。我實在很同情阿嬤,因為太太還是不接受我們出現在這個家。只有當先生在家的時候,太太的態度才算好。如果先生去上班,太太對待我們始終像對待陌生人一樣。

我不能用洗衣機洗阿嬤的衣服,甚至倒水、煮粥給阿嬤也不可以。阿嬤不准看電視,不能走出房間,也不能洗熱水澡。我們一天只能吃兩餐,只有鄭先生在家的時候能吃,早餐和晚餐。至於午餐和飲用水,我不得不在外面買。我很想向先生告狀,告訴他太太對待我們的態度,但都被阿嬤阻止。

「不要,Yumi。阿城很可憐,我們不要讓他又跟他太太吵架。我甘願被我媳婦這樣對待。」每當我想跟先生告狀時,阿嬤就阻止我。我不得不聽阿嬤的話。阿嬤的心地多麼高尚,她從來不恨宜敏太太,雖然她的媳婦對她一點都不好。

今天鄭先生提早回家。我幫他開門,看見他提著好幾袋知名大賣場的購物袋。

「Yumi,這圍巾和外套給阿嬤。這是你的,外套給你。」先生把購物袋拿給我。

「謝謝!先生。」我彎腰答謝,立刻拿著先生給的東西到房間給阿嬤看。

阿嬤聽到我的讚美,只是微笑。接著她脫下圍巾,遞給我說:「育密,這圍巾給妳。妳人很好,比我媳婦更喜歡我。謝謝妳一直以來的陪伴和照顧,圍上吧…….。」

「可……可是,阿嬤……這是先生買給阿嬤的,到時候先生……」我有點遲疑地回答。

「先生不會生氣的。拿去吧,當做我給妳的禮物。」

「謝謝,阿嬤。」我圍上那條藍色圍巾,在阿嬤面前轉圈圈擺pose,如同照片上的模特兒。然後我們都笑了起來。

正當我們在笑,突然聽見先生與太太在客廳吵架。太太似乎不太高興先生買那些東西給我們。

「為什麼要在她們身上浪費錢?」太太大聲的問。

「現在是冬天,我買外套和圍巾給她們有什麼錯?」

「如果你一直像現在這樣寵壞她們,我們要到什麼時候才能買更大的房子和新車啊?」

「夠了!妳怎麼可以跟媽媽計較那麼多?媽媽給了我一切,但她從來沒有要求任何回報。甚至沒有抱怨我沒能陪她度過晚年。」這次先生的聲音不輸給太太。

聽見吵架聲音,阿嬤的臉看起來很難過。剛剛的笑容瞬間消失,然後要我收拾行李。

「Yumi,我們應該回嘉義了。我不想變成阿城的負擔,他很可憐……」阿嬤對著我說。

我立刻把幾件衣服和其他隨身物放進包包。然後扶著阿嬤走出房間,走近還在客廳吵架的先生和太太。

「好了……好了,不要再吵了。你老婆說得沒錯,阿城,我不應該變成你們的負擔。媽媽還是回嘉義比較好。」靠近先生和太太時,阿嬤說。

「可是,媽……」鄭先生遲疑地說。

「媽沒關係,在嘉義有Yumi在媽身邊,她能照顧我。」阿嬤摸摸鄭先生的手臂。彷彿是為了說服鄭先生,她會沒事。

我知道阿嬤極力隱藏她悲傷的淚水。雖然她面帶微笑,但阿嬤緊握著我的手,一直抖。

「阿城,宜敏,媽媽回家了。不用送,媽媽待會兒在樓下攔計程車。」阿嬤告別。

然後我和阿嬤走到大門,雖然先生試著阻止我們。離開這個家之前,我看見太太呆若木雞地坐在沙發上。她完全不想理會我們,一句話也沒說。

一坐上計程車,阿嬤立刻抱著我大哭。

「Yumi,是因為我老了,所以他們把我當做負擔,不願意接受我嗎?」阿嬤哽咽著問。

「阿嬤不要哭,還有Yumi在這裡,Yumi會疼惜、照顧阿嬤。」我拍拍阿嬤的背,安慰她。

我們搭的計程車剛上高速公路,睡著的阿嬤突然摀著胸口呻吟。看樣子,阿嬤心臟病復發了!我立刻在包包裡找阿嬤心臟病藥,但我翻出所有的東西,也找不到那藥。可能還留在阿城先生家。看著阿嬤的狀況,我和計程車司機驚慌又害怕。

「阿嬤,忍一下……忍住……阿嬤!」我懇求,同時抱著仍在痛苦呻吟的阿嬤。我的眼淚一直流,看著阿嬤痛苦地對抗胸口的疼痛。

「阿嬤怎麼了?」車靠邊停下,計程車司機問。

「先生,請立刻叫救護車來,拜託……」我請求計程車司機。
「阿嬤撐住……我求你撐住……」

我緊緊地抱住阿嬤的身體,我真的很不忍心看她臉色越來越蒼白,呼吸困難。慢慢的,阿嬤身體癱軟下滑,雙眼緊閉。

「阿嬤!不!阿嬤,我求求妳醒來呀……醒來呀阿嬤!」我一直搖晃阿嬤身體,但她始終沒有反應。「先生,快叫救護車,快啊!」我驚慌地大聲哭喊。

「好的好的,小姐。救護車很快就會到。」計程車司機緊張地回答。

****

當先生和太太趕到醫院時,我癱坐在急診室的椅子上。

「Yumi,我媽狀況怎……怎麼樣?」阿城先生按住我肩膀問。

我輪流看了看鄭先生和太太的臉,心很痛,想著太太對於年邁的阿嬤所做的種種行為。我只能搖搖頭,手指著被布簾圍起來的病床,無法再說什麼。

先生和太太慢慢靠近布簾,我跟隨在後。

「對,醫生,我是她兒子。我媽情況怎麼樣,醫生?」鄭先生緊張地問。

「對不起,先生,我們救不回你母親,她走了。」醫生拍著鄭先生的肩膀回答。

「媽……原諒我,媽……」鄭先生的身體無力地搖晃,我和太太扶著先生,帶他靠近阿嬤的屍體。鄭先生用顫抖的雙手撫摸阿嬤的臉,阿嬤看起來像是在平靜地睡覺。然後先生吻了阿嬤的額頭,聽得見他輕聲啜泣,眼淚一直滴在阿嬤臉上。太太想要安撫他,並一直對先生和阿嬤道歉。然而,這一切都太遲了,太太的懺悔與眼淚無法改變命運。現在阿嬤已經永遠的離開了。

我只能盯著阿嬤看。可憐又寂寞的阿嬤,在過去的日子裡,從來沒得到兩個兒子的關心與照顧,甚至因為媳婦的苛薄對待,阿嬤走的時候還帶著傷痛。

「再見了,阿嬤。希望妳在神的身邊能夠永遠幸福快樂。」我用阿嬤給的藍色圍巾擦掉我的眼淚。這條圍巾將永遠提醒我,阿嬤是多麼的溫暖,多麼的有愛心。


Recommendation(評審評語):

A dramatic story which show the relation between mother and son, master and their workers, and husband and wive. An ordinary story that we can found in anywhere else, but she wrapped it up in a situation that every migrant workers had in commons. The first line of the story is also a beautiful-short poem that give every respect for all the mothers outside. And for me these story is very relevant, because most of the migrant workers that facing domestic harassment is woman. These latest story doesn’t need anything to be revised. It is short, clear, compact, and enjoyable for every readers.
from the start until end. She also gave some tips alongside it, to help other workers, whom still doesn’t know where to go if they facing the same problem. My revisions is only variation of grammars that she used. In Indonesian language, some words are just misplaced and she can find words that have the same meaning but more powerful.

Comments are closed.