還我阿蜜娜 Bring me back my Aminah

 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 還我阿蜜娜 Bring me back my Aminah

👤 Jenny Ervina

 

Dan pada akhirnya, dua belas tahun masa pengabdian Aminah di keluarga Mr. Chang harus terhenti. Manakala ia memutuskan kembali Ke tanah air dan memilih untuk hidup bersama ananda Ana yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun silam. Sudah saatnya ia menebus rasa kesepian anak gadis semata wayang yang ia titipkan pada si mbah di kampung sana.

“When you come back to Hongkong again, Aminah?” Sebuah dilemma membelenggu langkah Aminah. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk begitu saja melepaskan setiap jejak kenangan bersama Joshua. Anak lelaki yang ia asuh bahkan sebelum suara tangisnya menghebohkan sesudut ruangan di rumah sakit tempat Mrs. Chang mempertaruhkan hidup dan matinya.

“Aminah, will you come back again, please…?” Dan, ah! Meski ia kerap merasa kesal dengan tingkah nakal anak itu, tapi toh anak itu pula lah yang selama dua belas tahun menjadi pelipur lara saat ia menanggung rindu pada Ananda Ana. Maka hanya airmata yang merembas membasahi pipi Aminah yang menjadi jawabnya.

“I will be a good boy and work hard, Aminah. I will earn much money so I can go to Indonesia someday. Wait for me…” Joshua terisak. Bagaimanapun, Aminah sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Anak itu bahkan lebih menyayangi Aminah ketimbang kedua orangtuanya yang kerap diperbudak oleh waktu. Pekerjaan membuat keberadaan Joshua tersisihkan.

“Its for your future, dear…your mom and dad of course love you.” Dan itulah jawaban yang selalu Aminah lontarakan manakala Joshua menuntut sedikit perhatian terhadap kedua orangtua yang jarang didapatnya. Lantas memberikan Joshua pelukan terhangat seraya menyenandungkan lagu yang itu-itu saja sampai akhirnya anak itu tertidur. ‘Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky…’ Dan Aminah pun ikut terlelap dalam buaian lagu yang ia senandungkan. Lagu yang juga ia kirimkan untuk Ananda Ana. Sebab ia tahu, si mbah tidak mungkin bisa menyanyikannya. Ya, Ananda Ana. Gadis kecil yang dulu ia tinggalkan itu kini pasti sudah tumbuh seperti Joshua.

“Aminah, I will miss you…” Tangis itu pun akhirnya membuncah. Mr. Dan Mrs. Chang bahkan tidak bisa melepaskan pelukan keduanya. Mereka pun sama. Ya, mereka pun merasakan apa yang dirasakan Joshua. Kehilangan. Dan itu tentu sangat menyakitkan. Tapi inilah keputusan Aminah. Merelakannya pergi, berarti menyempurnakan kembali kebahagian Ananda Ana.

“Mo ham la sou ci. Lei yiu kuai kuai teng Mommy Daddy hua. Ho mo?” (Jangan menangis, kamu harus nurut, dengar apa yang mommy daddy katakan, ya?) Meski berat, toh Aminah harus melepaskan pelukan itu. Di ciumnya rambut Joshua dengan penuh cinta. Diusapnya airmata yang terus mengalir dari mata sipitnya. Baginya, inilah perpisahan kedua terberat yang ia lalui. Setelah sebelumnya, dulu, ia harus menyerahkan Ananda Ana dalam pelukan si mbah. Ketika ia memutuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita di Hongkong. Apapun jalan yang ia pilih, tentu demi masa depan Ananda Ana. Sebab sang ayah sudah melepas tanggung jawabnya.

“Ho, li ke pei lei.” Tangis Joshua mereda, tangan mungilnya menelusup Ke dalam saku celana demi mengambil sesuatu. Selembar foto yang Aminah abadikan lewat kamera handphone hadiah ulang tahunnya dari Mr. Dan Mrs. Chang tahun lalu. Joshua meminta pada sang mommy untuk mencetaknya tadi malam. Nyata terlihat Aminah memeluk Joshua dengan penuh kasih sayang di sebuah Taman di sekitar apartment. Tempat dimana Aminah selalu mengajaknya bermain selepas pulang sekolah. Taman yang juga tempat berkumpulnya para mba-mba TKW lain dari berbagai peloksok di Indonesia sana. Mereka pun sama seperti Aminah, sama-sama berjuang demi kehidupan keluarga yang lebih baik. Sementara Joshua, masih dengan seragam yang belum ia tanggalkan. Larut dalam ketulusan yang Aminah ciptakan. Tertawa memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang terawat rapi. Tawa yang membuat pipi chubby itu menyembul merah menutupi mata sipitnya. Sebab cinta, lahir dari sebuah ketulusan.

“Ngo hoi kuai kuai ga la. Tan hai le, lei fan yanna ge shi ho. Lei yiu ta pei Ngo, ho mo?” (Saya akan jadi anak yang baik. Tapi, nanti kalau kamu sudah pulang Ke Indonesia, kamu harus telephone saya, ya?” Aminah tersenyum. Disimpannya Selembar foto yang Joshua berikan Ke dalam tas LV pemberian Mrs. Chang. Yang di dalamnya juga terselip sepuluh lembar ribuan dollar Hongkong dari Mr. Chang. Untuk Ananda Ana katanya. Kedua titipan itu akan ia berikan dan perlihatkan nanti pada Ananda Ana. Lantas kembali memeluk anak itu sebelum akhirnya pamit undur diri dalam kerumunan antrian pemeriksaan petugas Imigrasi bandara. Aminah pulang. ‘And thank you for everything, Hongkong…’ Aminah tersenyum, mantap dalam langkahnya menuju rumah. Kembali dalam pelukan Ananda Ana.
~••~
12 tahun kemudian…

Anak lelaki itu tumbuh menjadi Jejaka berkacamata. Tubuhnya tegap dan berpundak kokoh. Langkahnya mantap. Tidak seperti laki-laki Tionghoa kebanyakan. Kulit putih masa kecilnya kini menjadi pudar kecoklatan. Anak lelaki kecil yang manja itu telah tumbuh menjadi petualang. Mendaki gunung, menyelam lautan, menyatu dengan alam. Ya, Joshua yang Aminah tinggalkan dua belas tahun lalu. Lebih memilih mencari kesibukan di luar daripada harus mengemis kasih Sayang yang jarang didapatnya di dalam rumah. Semenjak Aminah pergi, anak lelaki itu telah belajar banyak untuk bisa hidup mandiri. Meski kadang, ia kerap merindukan kehadiran Aminah. Sebab hanya berlangsung satu minggu sekali selama hampir satu tahun Aminah memberi kabar. Selanjutnya, suara Aminah hanyalah menjadi sebuah gema rindu yang terus mendengung di kamar tempat dimana Aminah menemaninya tidur sewaktu ia masih kecil.

Kini, lelaki itu tengah termenung di sebuah Perpustakaan. Sebuah tugas berat sedang menanti keputusannya. Dua lembar surat undangan pertukaran pelajar dari dua Universitas beda negara nyaris membuatnya tidak bisa tertidur belakangan ini. Satu lembar datang dari Polytechnic University of the Philippines, Manila. Sementara lembar yang lain datang dari Universitas Brawijaya I Malang, Indonesia. Joshua yang tengah mengenyam Pendidikannya di HKU Space Human resources management sedang diripuhkan oleh thesis. Banyaknya pekerja asing di Hongkong, terutama buruh migrant yang datang dari Indonesia dan Philippina, menjadi salah satu bahan penelitian yang ia pilih untuk menentukan akhir pendidikannya. Dan tentu saja ini bukan hanya sekedar penelitian. Tapi juga tentang jalan kesempatan agar ia bisa mencari Aminah. Pekerja asal Indonesia yang dulu pernah menjadi bagian dari keluarganya. Dan Ah! Bukankah dulu ia pernah berjanji pada Aminah untuk datang Ke Indonesia? Negeri yang kaya dengan keindahan alamnya yang dulu sering dikisahkan Aminah. Maka mungkin inilah saatnya untuk Joshua menunaikan janji itu.

Dan keputusannya sudah tidak bisa dirubah. Maka satu bulan jatah waktu dari pihak Universitas Brawijaya harus ia gunakan dengan sempurna.
~••~

Pagi yang hangat di akhir musim semi. Bus khusus airport dari Kowloon Bay membawa Joshua Ke Bandara Chek Lap Kok. Tempat dimana dulu ia melepas kepergian Aminah. Ah! Wanita itu kini pasti sudah beranjak tua.

“Kalau di Indonesia nanti kamu bertemu dengan Aminah. Tolong Mommy kasihkan gelang Giok ini. Untuk anaknya, Ananda Ana. Dia sekarang pasti sudah besar seperti kamu.” Perhatian Mommy untuk Aminah ternyata belum hilang meski sudah dua belas tahun berpisah. Dan ya, Ananda Ana. Anak gadis yang sering Aminah ceritakan itu, yang kadang tak jarang membuatnya cemburu. Sebab betapa beruntungnya ia karena memiliki ibu seperti Aminah. Ia pasti akan mencarinya.
~••~
Pesawat China Airlines mendarat manis di Bandara Juanda, Surabaya. Kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Ya, Surabaya. Kota yang juga dulu Aminah ceritakan yang masih tertulis jelas di memorynya. Di Bandara Juanda ini, dulu. Dengan segala harapan demi masa depan Ananda Ana, ia telah membulatkan tekad menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita di Hongkong. Berbaur bersama puluhan wanita-wanita lain yang dikirim oleh berbagai agency dari kota ini.
Ah! Betapa diam-diam ia menyimpan kekaguman tersendiri pada wanita-wanita hebat yang berasal dari Indonesia yang banyak bertebaran di setiap sudut negerinya. Pekerja keras, penyabar, patuh dan tak pernah mengeluh. Seperti Aminah. Ya, seperti wanita yang dulu sering ia ripuhkan dengan segala kekacauan yang sengaja ia ciptakan. Betapa rentang waktu dua belas tahun itu tidak cukup untuk melunturkan rasa rindunya terhadap Aminah.
Dan hari ini ia sudah menunaikan janjinya. Datang Ke Indonesia. Meski mutlak bukan hanya bertujuan untuk mencari alamat yang tertera di photo copy surat perjanjian kerja yang telah ditanda tangani oleh Aminah dan Mommynya dua puluh empat tahun silam.
: Kampung Singosari, Malang.
Kota yang juga akan menjadi tempat tinggal Joshua dalam waktu sebulan kedepan.
~••~
Sementara di sudut lain, seorang wanita berjilbab yang diutus pihak Universitas Brawijaya untuk menjemput kedatangan Joshua di Bandara terlihat ripuh. Selembar photo seukuran baliho ia angkat tinggi-tinggi. Matanya tak luput dari lalu lalang para penumpang pesawat yang satu persatu keluar dari bandara. Mahasiswi muda nan anggun itu adalah juga seorang aktivis buruh migrant yang tengah disibukan oleh tugas bernama thesis. Tanpa ia sadari, Joshua memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Memastikan bahwa selembar photo lengkap dengan nama yang tertera adalah benar atas namanya. Melihat keluguan wajah wanita itu, rasa usilnya pun tumbuh. Ia sengaja tidak segera menghampirinya. Ia sengaja keluar dan diam-diam berdiri di samping wanita yang wajahnya kini mulai terlihat panik. Sebab orang yang ditunggunya tidak juga menanampakan diri.

“Excuse me, who are you waiting for, Miss?” Joshua iseng, sambil satu tangannya menyeret koper dan meletakannya persis di samping wanita itu. Sementara tangan yang lain membenarkan posisi ransel berisi laptop dan document-decument penting.

“My friend, he come from Hongkong.” Wanita itu spontan menjawab tanpa sedikit pun menoleh Ke arah Joshua.

“Is he handsome, like me?” Joshua kembali jahil, kali ini lengkap dengan senyum kemenangan karena telah berhasil mempermainkan wanita itu.

Dan, well…pertanyaan Joshua kali ini memaksa wanita itu secepat kilat menoleh ke arahnya. Photo seukuran baliho itu ia turunkan. Pegal sudah kedua tangan itu dibuatnya.
Sempat beberapa detik keduanya terjebak dalam pandang yang tak bisa diartikan. Sebelum akhirnya, wanita itu tersadar bahwa sosok yang Ada di hadapannya Saat ini adalah orang yang ia tunggu.
Ah! Kalau saja bukan karena dalam rangka menghormati tamu, habis sudah Joshua dalam kuasa wanita itu.

“Sorry for making you wait me…” Nadanya tulus, membuat amarah yang wanita itu tahan seketika pupus.

“We’re late. Prof. Oktavian waiting for us at our campus.” Satu kalimat ia selesaikan dalam satu tarikan nafas. Lantas menyambar koper milik Joshua dan menyeretnya menuju tempat parkir.

“Hey, what are you doing?” Tanya Joshua setengah berteriak. Kemudian menyusul langkah wanita itu.

“Let me help you, Mr…” Jawab wanita itu sambil membenarkan posisi kerudungnya.

“No, I’m a man. I can do it by myself.” Oh! Well. Whatever. Tanpa memperpanjang debat, wanita anggun berkerudung cokelat itu memberikan kembali koper Ke tangannya. Lantas berjalan menuju mobil di tempat parkir. Seorang supir tengah terkantuk-kantuk menunggu kedatangan mereka. Setelah barang-barang dimasukan Ke dalam bagasi, lantas mempersilahkan Joshua duduk di samping Pak Sopir. Mereka pun melaju meninggalkan Surabaya menuju Malang.
~••~
Surabaya yang gersang tak luput dari bidikan kamera poket milik Joshua. Baginya, setiap perjalanan adalah jejak yang harus ia abadikan dalam sebuah bingkai kenangan. Senyum manis milik wanita berkerudung cokelat yang tengah duduk manis di bangku belakang diam-diam juga menjadi sasaran. Joshua sudah tidak asing melihat pemandangan wanita berkerudung. Sebab di negerinya. Hongkong. Para buruh migrant itu pun tetap pada pendiriannya. Bukan hanya memakainya pada Saat mereka libur di hari minggu dan berkumpul di Victoria Park, tapi juga pada saat mereka bekerja.

“Wanita berkerudung itu ibarat barang yang masih tersegel yang dipajang di etalase. Harganya pasti lebih mahal ketimbang barang yang diobral terbuka yang siapa saja bisa menyentuhnya.” Kata Aminah dulu, yang juga selalu tidak lepas dari penutup kepalanya. Bagi kebanyakan para majikan di Hongkong, terutama bagi keluarga Joshua sendiri. Kebebasan penampilan seseorang tidak lah penting. Sebab yang terpenting, adalah bagaimana mereka bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan sempurna.
Tapi entahlah, seiring berjalannya waktu, kata-kata Aminah tentang perempuan berkerudung sepertinya sudah tidak lagi berlaku. Sebab nyatanya, seperti yang sering ia baca dan lihat di berita. Mereka memakainya bukan karena kewajibannya terhadap Tuhan yang mereka sembah. Tapi karena fashion yang mereka puja.

Ah, sudahlah. Toh nyatanya Saat ini perempuan berkerudung cokelat itu malah tertidur. Jadilah sepanjang perjalanan Joshua sibuk sendiri dengan kameranya.
Surabaya gersang berganti pemandangan kota Malang yang hijau. Tapi rasa lelah setelah melewati perjalanan panjang akhirnya membuat Joshua tertidur juga.
: Jl. Mayjen Haryono 169, Lowokwaru, Malang 65145, Jawa Timur. Sebuah bangunan kampus yang anggun dengan Taman hijau yang menghiasi sekelilingnya, adalah sebuah keistimewaan tersendiri bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di kota ini. Di sebuah lapangan parkir, Pak Sopir tua itu menghentikan mobilnya.

“Hey, wake up! And welcome to our campus” tangan wanita itu mencoba menggoyang-goyangkan lengan berotot yang masih terlelap. Membuat matanya perlahan terbuka dan mengucapkan Bahasa planet yang tidak wanita itu mengerti.

“O i ga hai pi na?” (Sekarang saya dimana?) Sambil menguap dan menggeliat. Baginya, pemandangan yang ia saksikan Saat ini seperti masih dalam mimpi.
Sementara wanita itu hanya mengernyitkan alis. “What are you talking about?”

Oh! Ya…mendengar suara wanita itu Joshua akhirnya benar-benar terjaga.
“Mmm, sorry. Where are we now?”

“Welcome in our campus. Brawijaya, Malang.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, mereka pun keluar dari mobil. Wanita itu membawa Joshua Ke sebuah ruangan dan memperkenalkannya kepada Prof. Oktavian. Professor pendamping yang akan membantu kelancaran tugas Joshua dalam melakukan penelitian.

“Ana will help everything you need about the research. If there’s any problem. You can find me here.” Kata laki-laki dengan kemeja batiknya itu penuh wibawa.
Ya, Ana. Dan wanita berkerudung cokelat yang menjemput dan menemaninya sepanjang perjalanan itu bernama Ana. Ah! Dan tetiba Joshua merasa bahwa waktu sebulan itu tidak akan cukup untuk mengenalnya lebih dekat.
~••~

Maka selanjutnya menjadi hari-hari yang menyenangkan bagi Ana dan Joshua. Karena keduanya bisa bekerja sama dengan baik. Ana banyak bertanya tentang kehidupan para buruh migrant di Hongkong. Yang dalam setiap penjelasan dari Joshua harus ia bayar dengan mengajaknya keliling kota Malang. Kesejukan dan alam hijau kota Batu. Pesona keindahan matahari terbit dari Gunung Bromo. Juga air terjun Coban Rondo tak luput dari penjelajahan keduanya. Selain juga tempat-tempat yang memang wajib Joshua kunjungi demi nasib thesisnya. Adalah penampungan demi penampungan yang menjadi tempat pelatihan para Tenaga kerja wanita sebelum akhirnya mereka dikirim ke negara yang menjadi tujuan.

“My mom also migrant worker. She work for twelve years in Hongkong before.” Pada suatu ketika di sebuah angkringan di alun-alun kota Malang. Setelah mereka mengunjungi salah satu penampungan di Singosari. Ana mulai berkisah tentang kehidupan pribadinya.

“Really? And where’s she now?” Joshua yang sudah mulai terbiasa dengan makanan Indonesia berusaha masuk dalam kisahnya.

“She passed away two years ago. Cancer.” Wajah anggun itu berubah mendung. Joshua bisa merasakan kehilangan itu. Ia ingin memeluknya. Tapi rasa enggan hanya membuatnya bisa memandang penuh iba.

“Oh! Sorry….”
Malang yang basah pada akhirnya. Sebab gerimis tetiba menjelma hujan yang menderas. Seperti airmata yang menetes di pipi Ana.
~••~
Maka tinggal tersisa dua minggu jatah Joshua untuk menetap di Indonesia. Kesibukannya dalam mempersiapkan jurnal untuk bahan thesis membuat ia lupa pada satu hal. Aminah, dan gelang giok titipan sang mommy untuk anaknya, Ananda Ana.

“Let’s me take you to my village, Joshua…” Di suatu pagi yang basah. Ana mengajak lelaki itu menaiki becak Ke suatu tempat. Wajahnya sudah tak lagi mendung seperti kemarin lalu.
Joshua manut dan menjadi buntut. Baginya, menikmati setiap perjalanan bersama wanita itu adalah sebuah hal yang menyenangkan tersendiri.

: Seperti sebuah sanggar, menyerupai pendopo berupa candi. Para wanita muda, setengah baya, bahkan yang hampir menjelang manula. Semua berkumpul dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dengan mesin jahitnya, kerajinan tangannya. Pendopo yang luasnya hampir setengah lapangan bola itu seperti bernyawa. Riuh tawa disela-sela keripuhan mereka yang menjadi ruhnya.

“They are worked as migrant worker before.” Ana mulai menjelaskan. Sementara mata Joshua sibuk merekam pemandangan baru yang sedang ia saksikan.

“This place is specially set up for them.” Kali ini Ana mengajaknya Ke sebuah ruangan. Lantas duduk di sebuah bangku bambu yang hampir usang di dekat Jendela. Memandang tawa-tawa tanpa beban yang terukir dari para wanita mantan Tenaga Kerja yang memilih untuk mengekspresikan diri di tempatnya. Berwirausaha, berbisnis, dan membuat laju perekonomian di kampung itu bergulir.

“Who built this place?” Tanya Joshua sembari mengembalikan kesadaran Ana. Tapi lantas dia mendesah, ia menunduk dalam diam. Teringat akan ibunya yang sudah tiada. Betapa mimpinya untuk mensejahterakan para wanita di kampungnya kini sudah terwujud. Ana, satu-satunya harapan yang ia didik dari hasil jerih payahnya selama dua belas tahun menjadi TKW telah berhasil memenuhi petuah sang bunda.
“My Mom…” Jawabnya pelan terhalang tangis yang tertahan.
Dan pada saat terucapnya jawaban yang terlontar dari Ana, mata Joshua menangkap sebuah potret usang yang terpajang di atas meja kerja. Pada saat itulah roda dunia seolah berhenti. Hanya satu kata yang membuatnya yakin bahwa apa yang ia saksikan adalah nyata.
“Aminah…”
Ya, dan Joshua yakin potret itu adalah potret yang ia berikan kepada Aminah dua belas tahun silam.
Ana tercengang.
“And you, Ananda Ana…” Lantas Joshua memutar badan Ke arah Ana. Memandangnya dalam mimik wajah kemustahilan.
“Finally I find you!” Senyumnya merekah. Keajaiban. Takdir. Adalah rahasia Pemilik Semesta.
~••~
Joshua bersimpuh luruh di atas tanah pusara. Rumput-rumput nan hijau serta taburan bunga segar menghiasi pembaringan terakhir dimana Aminah disemayamkan dua tahun silam. Ia tergugu dalam doa pengormatan. Betapa ia sangat merindukan Aminah. Sementara Ana, hanya berani menyembunyikan tangisnya dalam usapan ujung kerudung. Berdiri mematung di balik punggung Joshua. Betapa bukan hanya dia seorang yang merasa kehilangan. Tapi Joshua juga. Anak lelaki nakal yang sering Aminah ceritakan selepas kepulangannya ke Indonesia.

“Will you go to Hongkong with me, Ana?”
Dan benar, waktu satu bulan itu tidak cukup. Berkat bantuan Ana, Joshua telah berhasil menyelesaikan tugas penelitiannya dengan baik. Jurnal yang ia tulis telah di approve oleh Prof. Oktavian sebelum nanti dia serahkan kepada Mr. Wang. Dosen di kampusnya.

“No, I will stay here. In my country. They need me more than your family. And I didn’t want to let them leave their children. Like my mom leave me…” Jawabnya tegas seraya tersenyum memandang Ke arah para wanita-wanita yang tengah bercanda di sela kesibukan mereka.

“Well, I know. This is for you. From my mom. And thanks for everything, Ana…” Maka akhirnya gelang Giok titipan sang mommy telah berpindah Ke tangan Ana. Tepat sehari sebelum Joshua kembali ke tempat asalnya. Hongkong.


 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 還我阿蜜娜 Bring me back my Aminah

👤 Jenny Ervina

 

終於,阿蜜娜 (Aminah)在張先生家12年的合約結束了。她打算回鄉陪伴她久別的孩子,安娜 (Ana)。是時候了,她覺得自己該彌補托付給祖父母、唯一且寂寞的女兒。

「阿蜜娜,妳什麼時候再回香港?」一個讓阿蜜娜進退兩難的問題。12年的時間不短,足以容納她與約書亞的每一段回憶。約書亞是她照顧的小男孩,在張太太冒著生命危險生下約書亞的醫院裡,每個角落都聽得到他可怕的哭鬧聲。

「阿蜜娜,妳會不會再回來呢?拜託……」唉!雖然她經常被男孩頑皮的行為激怒,但是不管怎麼說,每當她想念家鄉的女兒安娜時,這孩子是她12年來的慰藉。溼了臉頰的眼淚,成了阿蜜娜的回答。

「阿蜜娜,我會當一個乖小孩也會努力工作。我會賺很多錢,這樣有一天我才能去印尼找妳。要等我喔……」約書亞哽咽地說。他已經把阿蜜娜當作自己的母親。因為父母沒時間陪他,相較之下,他反而更喜愛阿蜜娜。父母的工作,把約書亞推得遠遠的。

「這是為了你的將來,親愛的……你的爸媽當然愛你。」每當約書亞抱怨父母不關心他時,阿蜜娜總是這樣回答,然後給約書亞一個最溫暖的擁抱,同時哼著歌,直到孩子睡著。「Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky……」阿蜜娜也跟著搖籃曲睡著,那也是她送給女兒安娜的歌曲。因為她知道,祖母一定不會唱。是的,我的女兒阿南達.安娜,離開她時還是一個小女孩,現在已經跟約書亞一樣大了。

「阿蜜娜,我會想妳的……」眼淚終於奪眶而出。張先生和張太太甚至無法拉開他們倆。他們也一樣,同樣感受到約書亞的難過、失落、痛苦。但這是阿蜜娜的決定。放下約書亞,回到安娜身邊,才是完美的幸福。

「不要哭,你要乖乖聽媽咪和爹地的話,好嗎?」阿蜜娜用廣東話安慰約書亞。雖然深深不捨,但是阿蜜娜仍必須鬆開這最後的擁抱,滿懷愛意地親吻了約書亞的頭髮,抹去流不停的淚水。對她而言,這是她第二次經歷難過的離別。在這之前,當她決定到香港當女性移工時,她不得不把女兒安娜託付到祖母懷裡。無論她選擇哪一條道路,當然都是為了安娜的將來。因為安娜的父親,已經不負責任地離開了。

「好,這個給妳。」約書亞終於不哭了,小手伸進褲子口袋拿東西。一張照片,這是阿蜜娜去年生日時,用張先生和張太太送給她的照相手機拍攝的。約書亞昨晚拜託他媽咪把照片洗出來。照片是在公寓附近的公園裡拍的,阿蜜娜擁抱著約書亞的畫面,清清楚楚。下課後,阿蜜娜時常帶著他到公園玩,那個公園也是印尼女性移工聚會之處。她們來自印尼的各個地方,也和阿蜜娜一樣,為了替家人爭取更好的生活。還穿著學校制服的約書亞,在阿蜜娜的懷裡笑著,胖嘟嘟的臉頰泛紅,露出整齊潔白的牙齒,小眼睛瞇成一線。這是阿蜜娜以誠摯的愛,所營造出的情景。

「我會做個乖孩子,但是妳回去印尼後,要打電話給我,好嗎?」阿蜜娜微笑。她將約書亞給的照片,放在張太太送她的LV包包中,裡面還有張先生說要給安娜的十張千元港幣。這兩樣東西,她會拿給安娜看了以後再給她。再次抱著那男孩跟他們說再見,阿蜜娜在機場排隊過海關。阿蜜娜要回家鄉了,「感謝一切,香港……」阿蜜娜面帶微笑,步伐穩健,邁向阿南達.安娜的懷抱。

~••~

12年後……

當時的小男孩已經變成帶著眼鏡的大男孩,身材魁梧強壯,他的步伐也很穩健,不像一般華人。小時候的白皮膚現在成了巧克力色,愛撒嬌的小男孩現在成了喜愛冒險挑戰的人。登山、潛水,與大自然融為一體。是的,約書亞12年前與阿密娜分離之後,選擇把時間花在外頭,而不是在家裡乞求少得可憐的親情。自從阿密娜離去,那男孩開始自理生活,獨立學會了很多事情。雖然有時仍會懷念阿密娜的存在。阿密娜回去後的那一年,他們還每星期聯絡一次。而後,阿密娜的聲音成了他思念的迴聲,不斷的繚繞在男孩小時候和阿蜜娜睡覺的房間裡。

現在,那男孩正在圖書館裡沈思,一個重大決定等著他。兩張來自不同國家的大學交換生邀請函,使他最近幾乎無法入睡。一張來自菲律賓理工大學(Polytechnic University of the Philippines),位在馬尼拉。另一張來自印尼布勞爪哇大學(Brawijaya University),位在東爪哇的瑪瑯(Malang)。約書亞目前就讀香港大學,專業是人力資源管理(HKU Space Human resources management),正忙著趕論文。香港的外籍勞工很多,尤其是來自印尼和菲律賓的外勞,是他畢業論文的研究對象。當然,這不只是一份研究而已。藉著這個機會,他可以尋找阿蜜娜。她一位來自印尼的外勞,曾經是家裡的一份子。對了!他之前不是答應阿密娜,要到印尼找她嗎?阿密娜時常告訴他,印尼是擁有豐富自然美景的國家。這是約書亞履行諾言的時候了。

布勞爪哇大學(Brawijaya University)給他一個月時間考慮,決定了就不能改變。他必須在這段時間好好想清楚。
~••~

晚春的溫暖早晨,機場巴士載著約書亞從九龍灣前往香港赤鱲角國際機場。也就是從前他送走阿密娜的地方。啊!這女人如今肯定隨著歲月變老了。

「如果你之後在印尼見到了阿蜜娜,幫媽媽轉交這個玉鐲給她的女兒安娜。安娜現在一定跟你一樣大了。」儘管已經分離12年了,媽媽還是惦記著阿蜜娜。沒錯,安娜,那個阿蜜娜一直掛在嘴邊的小女孩,有時候會讓他吃醋。因為能有個像阿蜜娜的母親,是多麼幸運的事情。他一定會找她。

~••~

華航在泗水機場降落,這是除了雅加達以外的印尼第二大城。對,這就是以前阿蜜娜講的城市,還清楚的浮現在他腦海裡。在這泗水機場,第一次,為了安娜的前途、抱著所有希望,阿蜜娜下定決心到香港當外勞,與其他十幾名透過城市人力機構而來的女外勞住在一起。

他默默地對這些散落在香港各地的偉大印尼女性,感到敬佩。勤奮、有耐心、逆來順受、而且從不抱怨,如同阿密娜。是的,以前他經常故意惹麻煩。這12年的時間還不足以把他對阿蜜娜的思念沖掉。今天他履行承諾來到印尼,雖然第一個目的地,並不是找24年前媽媽和阿蜜娜簽的合約影本上的地址:Kampung Singosari, Malang(瑪瑯)。

這個城市,也將是約書亞往後一個月居住的地方。

~••~

而在機場另一個角落,有一位戴頭巾的女性,她是被布勞爪哇大學(Brawijaya University)派來迎接約書亞的大學生。她高舉一張看板大小的照片,眼睛緊盯著一個個下飛機的乘客。年輕優雅的女大學生也是一位移民工運動者,忙著寫相關論文。她絲毫沒有察覺到,約書亞從遠處看著她,確認那張照片上是不是自己的名字。看著那女大學生純真的臉龐,約書亞想捉弄她,不立刻走近,故意繞到女大學生旁邊,靜靜站著。女大學生開始緊張,因為她等待的人一直沒出現。

「不好意思,小姐,妳在等誰呢?」約書亞說著英文,故意逗她,一手把行李箱放在她旁邊,另一隻手整理背包裡的筆記型電腦和其他重要文件。

「我朋友,他從香港來。」那女生沒有轉頭看約書亞,很自然地回答。

「他有我那麼帥嗎?」約書亞再次逗她,這次帶著勝利的微笑,因為他已經成功引起女生的注意。

就這樣,約書亞的提問迫使那女生瞬間轉過身來。她放下看板大小的照片,舉得兩手都痠了。兩個人無法解釋地互看好幾秒。終於,女生意識到站在她面前的這個人,正是她等待的人。

哈!如果不是因來者是客,約書亞一定死在那女生手裡。

「對不起,讓你久等了……」他的語氣很誠懇,讓那女生壓抑著的怒氣瞬間消失。

「我們遲到了,Oktavian教授在學校等我們。」她一口氣講完一句話,然後一把搶過約書亞的行李箱,拖著走向停車場。

「嘿,妳在做什麼?」約書亞大聲的問,然後追上那女生的腳步。

「讓我幫你,先生……」那女生一邊回應,一邊整理自己頭巾的位置。

「不,我是男生,我可以自己來。」喔!好吧,隨便。不想繼續爭辯,優雅地帶著棕色頭巾的女生把行李箱還給他,然後走到停車場的汽車。一位司機打著瞌睡等他們,東西放在後車廂後,就請約書亞坐在司機先生旁,他們駛離泗水前往瑪琅。

~••~

約書亞用數位相機拍下乾燥的泗水,對他而言,每一次旅行一定要拍照留念。後座那披著棕色頭巾的女生的甜美笑容,也成了他的目標。約書亞對帶著頭巾的女生已經不陌生,因為在他的國家—香港,那些外勞還是堅持披頭巾。不僅放假聚集在維多利亞公園時披,工作時也會披。

「帶著頭巾的女生,就像在展示櫃仍密封的商品,價錢當然比任何人都可以觸摸的開架商品更昂貴。」以前阿密娜說過,當然她也從來沒與頭巾分離。對大部分香港的雇主,例如是約書亞的家庭,外勞怎麼打扮並不重要,重要的是,她們可以完美地完成每項工作。

但不知何故,隨著時代的改變,阿蜜娜的說法好像已經不再適用於戴頭巾的女生了。他從閱讀、新聞裡得知,現在女生戴頭巾不是因為宗教信仰的義務,而是因為她們崇拜時尚。

啊,算了。反正現在戴棕色頭巾的女生已經睡著了,整段路程,約書亞忙著玩他的相機。景色由乾燥的泗水變成綠色的瑪琅。漫長的旅途,終於使約書亞感到疲倦,也睡著了。

: Jl. Mayjen Haryono 169, Lowokwaru, 瑪琅 65145,東爪哇,一所優雅的校園建築,周遭環繞著綠色公園,對於在這城市就讀的學生是一大特色。在一個停車場,老司機停車。

「嘿,起來!歡迎來到我們學校。」女生努力搖了搖還在睡夢中的健壯手臂。他的眼睛慢慢睜開,開始說那女生聽不懂的外星語。

「現在我在哪裡?」邊打哈欠伸懶腰,對他而言,眼前的景象仿佛在夢中。而那女生只是皺了皺眉頭:「你在說什麼?」

「喔!是的……」聽到那女生的聲音約書亞終於完全清醒。「嗯,對不起,我們現在在哪裡?」

「歡迎來到我們學校,布勞爪哇(Brawijaya),瑪琅。」講完後,他們下車。女生帶約書亞到校內,把他介紹給Oktavian教授,教授的助理會幫助約書亞順利進行研究的任務。

「安娜會協助你所有需要的研究。如果有任何問題,你可以來這裡找我。」穿著蠟染襯衫充滿威嚴的男人說道。對,安娜。戴著棕色頭巾,一路上陪同他的女生叫做安娜。約書亞突然覺得,一個月的時間不夠讓他好好地認識她。

~••~
接下來是安娜和約書亞快樂的日子,因為他倆合作無間。安娜問了很多關於外勞在香港生活的問題,約書亞以回答作為交換,安娜要帶他逛逛瑪琅周圍的城市。涼爽結合綠色大自然的石頭市,在布羅莫火山看美麗迷人的日出,還有第二個不能錯過探索的科班朗多瀑布。此外,還有約書亞為了完成他的論文必須要去的地方,就是訓練所,女性外勞被被送到各國之前訓練工作的地方。

「我媽也是移工,她在香港工作了12年。」在瑪朗市一個著名的廣場,他們參觀了一間位在Singosari的訓練所,安娜開始講她的生命故事。

「真的嗎?那她現在在哪裡?」已經習慣吃印尼食物的約書亞,試著進入她的故事。

「她兩年前過世了,癌症。」女孩優雅的臉蛋變沮喪。約書亞也感到失落,他想抱住她,但只能壓抑情緒,憐惜地看著她。

「喔,對不起……」
瑪琅變得溼答答,因為濛濛細雨突然轉為大雨,像滴落在安娜臉頰的眼淚。

~••~

約書亞留在印尼的時間只剩下兩個禮拜,忙著準備期刊論文的資料的他,忘了阿蜜娜,也忘了媽媽託付他轉交給阿蜜娜女兒安娜的玉鐲。

「我帶你去我家鄉吧,約書亞……」在一個濕漉漉的下雨的早晨,安娜邀請他坐三輪車到某個地方。她的臉不像昨日那麼沮喪。約書亞順從地當跟屁蟲,對他而言,享受每一段跟這位女生在一起的旅程,是一件很快樂的事。

這裡像一個工作室,類似於寺廟的涼亭。年輕女生、中年、甚至老年人聚在一起,忙著自己的事,使用縫紉機、做手工藝品。佔地將近半個足球場的亭子彷彿活了過來,場邊熱鬧的笑聲,是他們的靈魂。

「他們以前當過移工。」安娜解釋。同時,約書亞的眼睛忙著觀察眼前看到的景象。

「這個地方是專門為她們設置的。」安娜帶他到一個房間,坐在靠近窗戶的陳舊竹板凳上。看著眼前女工笑得沒有負擔,選擇在此發揮能力,創業做生意,促進村裡的經濟發展。

「這裡是誰蓋的?」約書亞的問題,讓安娜回過神來。她嘆了口氣,低頭不語,想起她已經過世的媽媽。造福村中女性的夢想,現在已經實現了。安娜,她用12年辛辛苦苦當女傭所栽培的唯一希望,已經不辜負母親的期盼了。

「我媽媽……」當答案從安娜的口中說出的那一刻,約書亞的目光盯著書桌上一張老舊的肖像。那一刻,世界彷彿停止轉動。只有一個字確保他看到的是事實。

「阿蜜娜……」
對,約書亞肯定那張照片是12年前他送給阿蜜娜的。

安娜愣住了。
「那妳是阿南達.安娜……」約書亞轉身朝著安娜的方向,不可思議地看著她。
「我終於找到妳了!」他放聲大笑。奇蹟、命運,是造物者的秘密。

~••~

約書亞跪在墓地上,綠草如茵以及鮮花點綴了阿蜜娜兩年前埋葬的長眠之地。他沉默哀悼,他是多麼想念阿蜜娜。而安娜,只敢用頭巾末端擦拭她的眼淚。站在約書亞身後,不只她一個人覺得失落,約書亞也是。阿蜜娜回印尼後,時常提起這個頑皮的男孩。

「安娜,妳會跟我一起去香港嗎?」
事實上,一個月的時間是不夠的。多虧了安娜的協助,約書亞已經順利完成他的研究。他寫的論文已經得到Oktavian教授的認可,之後他還要交給香港大學的王教授。

「不,我會留在這裡,在我的國家。比起你們家,她們更需要我。我不希望她們離開自己的小孩,像我媽離開我那樣……」她堅定地回答,同時面帶微笑,看著那些一邊做事一邊開玩笑的女生婦女。

「好的,我知道了。這個給妳,我媽要給你的。還有,謝謝一切,安娜……」媽媽的玉鐲終於到了安娜手上,恰好是約書亞回他香港的前一天。


Recommendation(評審評語);
Hubungan dan kedekatan secara emosional yang tergambar dalam cerita “Bring me back my Aminah “ antara pengasuh (Aminah) dengan anak yang diasuh (Joshua) serta penggunaan bahasa asing (inggris) dalam beberapa dialog menjadikan cerita ini sangat berkwalitas. Selain itu pertemuan antara Joshua dengan Ana (putri Aminah) di tempat usaha yang dibangun Aminah sebagai mantan TKW membuat alur cerita menjadi lebih realistis dan perlu diteladani.