女人心裡的尖叫聲 Jeritan Hati Wanita

【2015年印尼文入圍佳作欣賞】2015/5/25 / Azra Hasyim / Jeritan Hati Wanita / Indonesia 印尼 / FLP Taiwan 《女人心裡的尖叫聲》

任何人都無法選擇自己的父母。我們不能討價還價要求生在任何窮人家、有錢人家、種族、國家以及宗教信仰。但我們生在這世界後,最起碼還有幾件我們能做的事,那就是心存感激,因為他們的存在,而有了我們。
也因為這個理由,我從來沒有抱怨,雖然出生在貧困家庭中。我很幸福,雖然我家不富裕,但我們從來沒有缺乏家庭關愛,父母親給孩子滿滿親情。
我是三姐弟中的長女,大弟弟是還在念國中的帥哥,而么女今年是她上國小的第一年。父母親每天在市場賣糕點,每天清晨三點起床製作,在離我們家最近的市場販賣。他們攜手共進,父親騎車到市場,母親坐在後座拿著要販賣的糕點。他們就這樣把我們養大。
雖然我們的房子已老舊,但父母親比較重視我們的學業。賣糕點的收入,除了用在每天家庭開銷,其他全部用來繳我們的學費。因此,奶奶留下來的房子如今變得老舊一點都不奇怪,因為快要20年沒有整修過。
我高中畢業後,試著到都市找工作,目的是要減輕父母親的負擔。高中我主修管理會計,結果我無法成功就業,因為公司只請大學畢業的人才。後來,我在一家蝦子工廠當鐘點工人。
我的工作是剝蝦,薪資也不固定,要看我剝蝦的速度。有時候尖銳的蝦殼刮到我大拇指,雖然已用布包起來,還是會被刮到。每天我能剝上千隻蝦殼。疲累、汗水以及被蝦殼刺到手,讓我每天都感到刺痛。事實上我得到的工資只夠繳房租與我每日生活。而我仍想幫父母整修我們的房子。
在蝦子工廠做一個月後,我決定找更好的工作,成為移工。雖然剛開始父母反對,但看見我們的房子已經不適宜居住,一下雨天花板就會開始漏水。我說服父母,直到他們准許。我看到兩個弟妹還需要學費,讓我意念更強。我想讓弟弟念書念到大學,我不希望他們跟我一樣,在自己國家找不到工作。
「女兒,不要忘了祈禱。」父母交代我。這就是我一直遵從的教導。
「好。」我簡單地回答他們。好像有東西卡住我的喉嚨,我想跟他們講更多告別的話,但那些話都在喉頭鎖住了。
「姊姊,如果到了台灣,要幫我買新包包與新鞋子喔!」當我跟我們家老么維拉告別要去台灣賺錢時,她跟我撒嬌。維拉仍然年幼,無法理解她姊姊是以所有決心和屈服的心態去台灣賺錢。希望在台灣,我能容易地賺到錢。而我弟弟,我大弟弟,已經能理解我在異鄉賺錢的風險,他只有抱住我,忍著他的眼淚,以他的小嘴祈禱,希望我在台灣會很好。
「等我長大了,我不會讓姊姊離開我們。」弟弟對我說,他的眼角開始泛淚水。
「好,我記住你的諾言。答應姊姊,你會好好讀書,要拿到最高分且考上國立大學,這樣以後你就不難找到工作。」我回答弟弟,無法阻止眼淚落下。
「男孩子不要那麼容易掉眼淚!我把父母親和維拉交給你喔,弟弟。你是這個家唯一的男孩!你一定要照顧他們。」我對他說。
「好,姊姊。」弟弟是十幾歲的青少年,竟在我懷抱裡痛哭。
*****
我被分派到台中,照顧一位八十四歲的阿嬤。阿嬤是糖尿病患者,她的腳因為疾病而骨頭彎掉。幸運的是,雖然要拿柺杖,阿嬤還是能自己走路。每天幫她洗澡、換尿布以及做早餐是我的責任,再來用輪椅推她去公園散步,這是我每天的工作。其實阿嬤人很好,個性也不錯,她時常逗我笑。但問題出在阿公,阿嬤的老公。雖然已經八十五歲了,還是很健康。
我們只有三個人住,我、阿嬤與阿公。他的小孩一個月來一次。阿嬤有六個小孩,三個女生以及三個男生。每個月都會來探望他們的父母,他們都對我很好,他們對我與其他家庭成員沒有差別待遇。我跟他們同桌吃飯,他們也與我聊天,雖然知道我才剛學中文不太會回答。
*****
最初事件始於阿公,當我在廚房煮菜或清理二樓的時候,時常尾隨著我。剛開始他只有微笑,對我開玩笑,但自從在那裡上班滿三個月後,阿公開始對我不禮貌。如果我沒注意,他的手就摸我的腰、屁股甚至我的全身。我拒絕、抗議,和阿公說這樣是不對的。我連想都沒想到阿公反而開一個條件給我。原來在一年內,阿公已經幫阿嬤換了三次看護工,這是我從阿敦那裡得知的訊息,她是我帶阿嬤去公園散步時認識的印尼同鄉。
阿公的條件是每次他摸我,都會給我500元,我非常生氣。難怪這裡的看護工會做不下去。雖然我很需要工作,也很需要錢,但我不想賣掉我的尊嚴。
「我朋友的看護工,也是印尼人,有錢她就願意被摸。」阿公對我解釋。我開始明白了,可能他覺得每個印尼女生都願意像他朋友的看護一樣。
「對不起阿公,我只賺正當的錢。我在這裡照顧阿嬤,只要阿公明確的發薪資給我,就足夠了。」他沉默。然後轉移他失望的眼神。
為了賺更多的錢,少數的印尼人利用老人。結果每個印尼人都被影響到,雖然我敢肯定,很多人不會做不當的事。
經過爭論後,阿公仍不死心。他一樣偷偷的找機會摸我身體,我現在不再沉默,向仲介表明我想更換雇主,因為阿公時常對我毛手毛腳。
「阿嬤對妳如何?很好嗎?」翻譯人員問我。感覺他了解我所有的問題,可能因為我是他處理的第三個人了。
「對,阿嬤對我很好。」我坦白地回答。
「這樣的話,妳就不要理阿公,最主要的是妳阿嬤的事情。」他接著說。
「待會兒我會跟妳的雇主講,讓他告訴阿公。」翻譯人員勸我後我才有點安心。
但我已經決定了,如果狀況不變,沒有其他選擇,我只好通報外勞保護專線1955,申訴我受到的侮辱。我怎麼能忍讓阿公的行為?每當他那皺皺的手停在我的身上,都讓我感到噁心與恐懼。現在的我只能祈禱,期望老天爺保護我。
到了每個月的家庭聚餐,像往常一樣,阿嬤的小孩都到家裡。阿嬤的二女兒要我到房間裡,她好像從仲介那裡得知我對阿公的抱怨。
「阿公到底對妳做了什麼?」她很小聲的問我。然後我用很有限的中文加上肢體動作,全告訴太太。那中年婦女拍拍我的肩膀,抱了抱我。感覺她能了解我的感受,太太說她有像我一樣年紀的女兒,也可能因為這樣她很關心我,她一直代替阿公向我說對不起。
「阿公是不是只敢趁妳不在阿嬤身邊時才靠近妳?」太太問。
「對。」我回答。
「這樣的話,妳儘量不要遠離阿嬤。阿公一定不敢再這樣對妳了!如果妳覺得這樣無法做家事,那妳就不用做,只要照顧好阿嬤就好。」太太給我建議,我點點頭表示了解。
「拜託妳要忍耐!因為若又要換看護會很難,畢竟已經換了好幾次。」太太用充滿希望的眼神看我。如果當時我的中文能力強到能跟太太表達,我很想跟她說,我也很需要這份工作。前兩月工資被扣掉仲介費後,已經被我寄回給印尼家人。當維拉透過電話表示很開心收到包包跟新鞋子時,我很高興。我也要維拉、弟弟跟父母能開心,因為我將能整修我們的房子。但如果我選擇在這裡停住的話,我要往哪裡去闖我未來的命運。
當我聽到維拉那高興的聲音,我的意念越強烈,她當然也希望她的姊姊不要放棄。從現在起,我再也沒有離開阿嬤的身邊。像郵票一樣黏住信封。我就這樣對阿嬤,雖然在大熱天,我現在時常穿包住身體的衣服。當我要到廚房煮菜時,我也牽著阿嬤到廚房,叫她坐在飯桌的椅子上。我與她講話,勸她陪我煮菜,當我問她關於台灣菜的特色,阿嬤會很認真的回答,她不了解我帶著她的用意。因為阿公很怕阿嬤,雖然有時阿嬤會老人癡呆發作,到現在她也從來沒有叫過我的名字。她時常用她從小照顧的孫子名字叫我,雖然這樣,她的眼力與聽力能力都還很好。
早上我跟阿嬤時常在外面,阿嬤有幾位同年齡的朋友,喜歡在公園聚在一起聊天。其中一位是阿敦照顧的阿嬤,我們能花上幾個小時在公園榕樹下的椅子上聊天。呼吸從樹釋放出來的芬多精新鮮空氣,中午阿嬤睡完午覺後,我也時常帶阿嬤去走走。阿嬤在外面時都很開心,因為她的行動力有限,也沒有太大的空間可以讓她走動,而在外面她能走走見朋友,我也同樣有了擺脫阿公的好方法。
我沒有再做每週一次的二樓打掃,阿公也沒有叫我做了。偶而我看見阿公自己掃,但我也沒有幫他。我只待在阿嬤身旁,因為像太太說的,這就是我的主要工作,待在阿嬤身邊。
我跟阿嬤走得很近,我的台語也越來越流利。我們緊密地依靠彼此,我需要阿嬤的存在來保護我遠離阿公對我的非禮,而阿嬤需要我當她的聊天對象。由於我們經常黏在一起,因此當我離開阿嬤到洗手間,阿嬤就開始撒嬌,一直叫我,雖然已經跟她說我要去洗手間。
但我一點都不會抱怨阿嬤的驕寵,反而很感激她。因為有了阿嬤的存在,我能維持三年的工作環境。
阿公與我們也沒太大的差別,他也花大部分時間在外面。他終於不敢再對我非禮,去找其他願意被他摸的印尼女生,而那個人顯然不是我。不管到何時,我都不願意為了錢賭上我的尊嚴。我知道我賺錢是為了弟弟妹妹的學費,而用在學費的錢更不能是以不乾淨的方式賺來。
***
再四個月,我就要回印尼了,我用上班的錢來整修在印尼的房子。有一部分存起來要繳弟弟妹妹的學費。雇主要求我再次回來照顧阿嬤,但我決定要在自己國家創業。用一點點本錢,我希望能用上我以前學校學到的技術,讓自己走在成功的路上。
阿嬤就像我自己的奶奶,雖然要離開她讓我感到很難過,對我來說阿嬤不只是我照顧的病人,她也是我的朋友和恩人。我很感激能遇到充滿愛心的阿嬤。希望我回去後,阿嬤能找到比我更疼愛她的人。我也不斷地幫阿嬤祈禱能永遠健康。
這是我在台灣的人生故事,我要跟可能會遇到類似情況的同鄉分享。不要放棄,要想盡辦法避開,始終保持作為一個女人的尊嚴和自尊。

***

【2015 Pengumuman Nama Finalis】2015/5/25 / Azra Hasyim / Jeritan Hati Wanita / Indonesia 印尼 / FLP Taiwan

Jeritan Hati Wanita

Hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan manusia manapun adalah memilih orang tua kita. Kita tidak akan pernah bisa menawar terlahir di keluarga miskin, kaya, suku, negara dan agama manapun. Namun setelah kita lahir di dunia ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, yaitu bersyukur karena merekalah kita ada. Karena alasan itu pula, aku tidak pernah mengeluh meski terlahir dari keluarga yang serba kekurangan secara materi. Aku bahagia karena meski keluargaku tidak kaya materi, namun kami tidak pernah kekurangan kasih sayang. Ibu dan bapakku, mereka sangat kaya akan cinta untuk anak-anaknya.

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamaku dia adalah remaja tampan yang sekarang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sementara si bungsu, tahun ini merupakan tahun pertamanya duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap harinya Ibu dan Bapak menjual kue jajanan pasar, bangun setiap pukul tiga dini hari untuk membuat semua kue. Kemudian menjajakannya di pasar terdekat dari rumah kami. Mereka saling bahu membahu. Bapak yang mengotel sepeda selama perjalanan ke pasar, sementara Ibu yang duduk di belakang dengan membawa kue yang akan dijual. Begitulah mereka membesarkan kami bertiga.

Meski rumah kami sudah reot, tapi Ibu dan Bapak lebih mementingkan pendidikan kami. Uang hasil penjualan itu, setelah diguanakan untuk biaya kehidupan sehari-hari, sepenuhnya hanya untuk biaya pendidikan kami. Tidak heran rumah warisan milik nenekku itu, kini sudah usang karena selama hampir dua puluh tahun tidak pernah diperbaiki.

Setelah aku lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas. Aku mencoba mencari pekerjaan ke ibukota dengan tujuan bisa membantu meringankan beban Ibu dan Bapak. Aku yang waktu di bangku Sekolah mengambil jurusan management akuntansi, nyatanya tidak dapat berbuat apa-apa karena di perusahan-perusahan, mereka hanya menerima lulusan sarjana. Ahirnya aku pun bekerja menjadi buruh mingguan di pabrik udang.

Pekerjaanku adalah mengelupas cangkang udang dari dagingnya. Gajiku pun tidak tentu, tergantung secepat apa tanganku berhasil menguliti udang. Terkadang kulit udang yang tajam itu menggores kulit ibu jariku meski aku sudah membalutkan kain pada ibu jariku itu. Tiap harinya aku mampu mengelupas puluhan ribu kulit udang. Lelah, dan peluh yang bercucuran serta tangan yang perih karena luka sayatan kulit udang, yang sepanjang hari aku rasakan. Nayatanya, dari hasil kerjaku itu hanya cukup untuk membayar biaya kontrakan dan kebutuhanku sehari-hari saja. Sementara aku ingin membantu Ibu dan Bapak untuk memperbaiki rumah kami.

Baru bekerja di pabrik udang selama satu bulan, aku pun memutuskan ingin mencari pekerjaan yang lebih baik, dengan menjadi buruh migran. Meski awalnya Ibu dan Bapak menolak, namun melihat rumah yang kami tempati sudah tidak layak huni dan jika hujan tiba, atap rumah kami bocor di sana sini. Aku meyakinkan ibu dan bapak, hingga ahirnya merekapun memberiku izin. Serta melihat kedua adikku yang masih membutuhkan biaya pendidikanpun, yang membuat tekadku semakin kuat. Aku ingin adik-adikku melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Aku tidak ingin mereka seperti diriku yang kesusahan mencari pekerjaan di negeri sendiri.

“”Jangan pernah tinggalkan shalat, Nak!”” Pesan Ibu dan Bapak padaku. Itulah pedoman yang selalu aku jaga selalu.
“”Iya.”” Jawabku singkat pada mereka. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Aku ingin mengucapkan lebih banyak kata perpisahan pada mereka, namun semua kata-kata itu seperti terkunci di tenggorokanku.

“”Kakak, kalau sudah sampai di Taiwan, nanti belikan aku sepatu dan tas baru ya!”” Si bungsu, Vira. Merengek padaku ketika aku pamitan padanya ingin kerja ke Taiwan. Vira memang masih terlalu kecil untuk mengerti kakaknya ini berangkat kerja ke Taiwan dengan segenap tekad dan kepasrahan yang ada. Aku berharap semoga jalan rizkiku bisa aku dapat dengan mudah di Taiwan. Sementara Adi, adik pertamaku, dia sudah mengerti akan resiko yang akan aku jalani di negeri orang. Dia hanya memelukku dengan tangisnya yang sekuat tenaga dia tahan, dan dengan mulut mungilnya mendoakanku semoga aku baik-baik saja di Taiwan.

“”Kalau aku sudah besar nanti. Aku tidak akan membiarkan kakak bekerja jauh dari kami.”” Ucap Adi padaku. Sudut matanya mulai berair.

“”Baiklah, aku pegang janjimu, berjanjilah pada kakak. Kamu akan belajar dengan baik. Lulus dengan nilai tertinggi dan bisa masuk universitas negeri. Agar kelak kamu tidak susah mencari pekerjaan.”” Balasku pada Adi, aku semakin tidak bisa membendung air mataku.

“”Laki-laki jangan mudah menangis! Aku titipkan ibu, bapak dan Vira padamu, Adi. Kamu anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini! Kamu harus bisa menjaga mereka!”” Pesanku padanya.

“”Iya, Kak.”” Adi, remaja belasan tahun itu ahirnya menangis sesenggukan di pelukanku.

***

Aku mendapatkan job menjaga seorang Nenek berusia delapan puluh empat tahun di daerah Taichung. Nenek punya penyakit kencing manis dan tulang kakinya sedikit bengkok karena penyakitnya itu. Namun beruntung, Nenek masih bisa berjalan meski dengan menggunakan tongkat berkaki empat. Setiap harinya tugasku adalah membantunya mandi, mengganti popok, kemudian membuatkan sarapan untuknya. Setelah itu pergi jalan-jalan ke taman dengan mengunakan kursi roda. Begitulah kegiatanku sehari-harinya. Sebenarnya Nenek sangat baik, sifatnya juga menyenangkan karena sering membuatku tertawa akan candanya. Namun justru kendala datang pada Kakek, suami Nenek yang aku jaga ini. Kakek meski sudah berumur delapan puluh lima tahun, namun dia masih sangat sehat.

Kami tinggal bertiga saja, aku Nenek dan Kakek. Anak-anak mereka hanya satu bulan sekali datang. Nenek punya enam anak, tiga perempuan, dan tiga lagi laki-laki. Setiap kali datang menjenguk orang tuanya, mereka semua baik padaku, aku bahkan tidak dibeda-bedakan dengan anggota keluarga lain. Makan satu meja bersama dan mereka sering menagajakku ngobrol meski aku yang masih belajar bahasa Mandarin sedikit kewalahan menjawabnya.

***

Awal kejadian yang tidak diharapkan itu adalah Kakek sering membuntutiku ketika aku sedang masak di dapur atau ketika aku pergi membersihkan ruang lantai dua. Awalnya dia hanya bercanda dengan senyum ramahnya. Tapi begitu menginjak tiga bulan aku kerja di tempat itu, Kakek mulai berani berbuat tidak senonoh padaku. Jika aku lengah, tangannya berani menggrayangi pinggang, pantatku, bahkan seluruh badan. Aku menolak, protes, dan mengajak Kakek bicara bahwa apa yang dia lakukan padaku tidak benar. Hanya saja Kakek justru memberiku sebuah tawaran yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ternyata Kakek juga sudah tiga kali ini mengganti perawat untuk Nenek dalam satu tahun terahir. Aku mendapatkan informasi itu dari Atun, anak Indoneisa yang aku temui saat membawa Nenek jalan-jalan di taman.

Tawaran yang Kakek berikan adalah dia ingin membayar setiap sentuhannya seharga lima ratus dolar Taiwan. Aku benar-benar kesal dibuatnya. Dalam benakku pantas saja pembantu yang bekerja di sini semuanya memilih pindah. Meski memang aku sedang membutuhkan pekerjaan, juga aku sangat butuh uang tapi aku tidak mau menjual harga diriku sebagai wanita.

“”Ada orang Indonesia, pembantu rumah tangga milik temanku itu, dia mau dipegang-pegang asal dikasih uang.”” Kakek memberiku penjelasan, aku mulai paham sekarang. Mungkin dia merasa wanita Indonesia semua bisa berbuat seperti pembantu temannya itu.

“”Maaf, Kakek. Aku mau mencari uang yang halal. Aku di sini bekerja menjaga Nenek. Asalkan Kakek menggajiku dengan benar, itu sudah cukup buatku.”” Balasku pada Kakek. Dia hanya terdiam. Lalu memalingkan pandangan kecewanya padaku.

Karena prilaku segelintir orang Indonesia yang mau memanfaatkan kakek-kakek untuk meraup uang lebih. Ahirnya semua orang Indonesia kena imbasnya. Meski sejatinya aku yakin lebih banyak juga dari mereka tidak melakukan hal tidak terpuji seperti itu.

Setelah berdebatan itu, ternyata tidak membuat Kakek jera. Dia tetap saja curi-curi kesempatan untuk meraba seluruh badanku. Aku-pun kini tidak mau tinggal diam, aku melaporkan semua pada agency, bahwa aku ingin dipindahkan saja ke tempat lain karena Kakek sering berbuat tidak sopan padaku.

“”Bagaimana dengan Nenek, dia baikkan?”” tanya penerjemah padaku. Sepertinya dia paham masalahku dengan baik. Mungkin karena aku orang ke tiga yang dia tangani.

“”Iya, kalau Nenek dia sangat baik padaku.”” Jawabku jujur.

“”Kalau begitu jangan pedulikan Kakek, kamu kerja jaga Nenek. Yang terpenting adalah urusan Nenek.”” Tambahnya lagi.

“”Nanti aku bicara dengan majikanmu, suapaya dia bilang pada Kakek.”” Bujuk penerjemahku yang ahirnya membuatku merasa sedikit tenang.

Tapi, aku bertekad kalau keadaan tidak berubah, tidak ada pilihan selain mengadukan ke layanan perlindungan, 1955. Tentang pelecehan yang aku terima ini. Bagaimana aku bisa membiarkan saja perlakuan Kakek seperti itu? Setiap kali tangan keriputnya mendarat di bagian tubuhku membuatku jijik dan ketakutan. Yang aku bisa lakukan saat ini hanya berdoa, berserah diri pada Yang Kuasa memohon lindunganNya.

Ketika acara makan-makan bulanan seperti biasa anak-anak Nenek semua berkumpul. Anak perempuan Nenek nomor dua mengajakku biacara di ruangan tertutup. Sepertinya dia mendapatkan laporan dari agency akan pengaduanku tentang Kakek.

“”Emang, Kakek sering berbuat apa padamu?”” tanyanya dengan suara pelan. Lalu aku menceritakan semua yang aku alamai padanya dengan keterbatasan bahasa yang aku miliki. Aku sedikit menggunakan bahasa tubuh, dengan linangan air mata menjelaskan semua pada Nyonya. Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk pundakku. Dia memelukku. Seperti dia bisa merasakan apa yang aku rasakan. Nyonya itu juga berkata bahwa aku seumuran dengan putrinya. Karena alasan itulah mungkin dia amat peduli padaku. Dia terus mengucapkan maaf atas nama Kakek.

“”Kakek berani mendekatimu saat kamu tidak bersama Nenekkan?”” tanya Nyonya.

“”Iya,”” jawabku.

“”Kalau begitu, kamu usahakan jangan jauh-jauh dari Nenek. Kakek pasti tidak akan berani berbuat seperti itu lagi! Kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah jika itu sulit. Yang terpenting jaga baik- baik Nenek.”” Sarannya. Aku-pun mengangguk-ngangguk paham.
“”Tolong kamu bisa sabar ya! Kalau harus ganti perawat lagi akan sulit, karena sudah ganti beberapa kali.”” Nyonya menatapku dengan pandangan penuh harap. Sementara aku ujur saja, andai aku pintar bahasa Mandarin saat itu, andai aku bisa mengungkapkan semua pada Nyonya. Aku ingin berkata padanya, aku-pun sangat butuh pekerjaan ini. Gaji dua bulan pertamaku yang setelah dipotong biaya agency sudah aku kirimkan ke keluargaku di Indonesia. Aku begitu bahagia ketika Vira, adik bungsuku berbicara lewat telepon menyampaikan rasa senangnya karena telah dibelikan tas dan sepatu baru. Aku ingin Vira, Adi, Ibu dan Bapak juga merasa bahagia karena aku telah berhasil memperbaiki rumah kami. Namun jika aku memilih menyerah pada titik ini, harus ke mana lagi aku mengadukan nasibku.

Tekadku semakin kuat, mendengar celoteh riang Vira. Tentu dia ingin kakaknya ini tidak pantang menyerah. Mulai saat itu aku tidak pernah barang sejenak meninggalkan Nenek. Aku seperti perangko yang selalu menempel pada amplop. Begitulah aku pada Nenek. Aku-pun kini selalu memakai pakaian serba panjang meski di musim panas. Saat aku ingin memasak di dapur, aku papah Nenek ke dapur juga. Menyuruhnya duduk di kursi meja makan. Aku membujuknya dengan berbicara menemaniku memasak. Nenek begitu semangat ketika aku bertanya ini- itu tentang masakan khas Tawian. Dia tidak mengerti alasan sebenarnya kenapa aku ingin membawanya kemanapun aku pergi. Karena Kakek begitu takut dengan Nenek, meski Nenek kadang-kadang pikun, dan sampai saat ini-pun dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan namaku. Nenek selalu memanggilku dengan panggilan nama cucu perempuannya yang sejak kecil dia rawat. Tapi meski begitu indra penglihatan dan pendengarannya masih begitu baik.

Pagi hari, aku dan nenek sering menghabiskan waktu kami di luar rumah. Nenek yang punya beberpa teman seusianya. Sering berkumpul di taman sekadar mengobrol. Salah satunya adalah nenek yang Atun jaga. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di bangku taman di bawah rindangnya pohon beringin. Menghirup udara segar oksigen (o2), yang keluar dari pepohonan yang ada di taman. Pada siang hari setelah tidur siangpun aku biasa mengajak nenek jalan-jalan sore. Nenek begitu senang saat berada di luar rumah, karena kemampuan berjalannya yang terbatas memang tidak banyak ruang gerak untuknya. Sementara saat di luar rumah dia bisa berjalan-jalan dan bertemu teman-temannya. Begitu juga denganku yang punya cara jitu menghindar dari Kakek.

Jadwal seminggu sekali membersihkan ruangan lantai dua tidak lagi aku kerjakan. Kakek juga tidak pernah menyuruhku membersihkannya. Sesekali aku melihat Kakek membersihkannya sendiri, tapi aku tetap diam saja tidak membantunya. Aku hanya berada di sisi Nenek. Karena seperti kata nyonya inilah tugas utamaku, di samping Nenek.

Begitu dekatnya aku dan nenek hingga aku sekarang lancar berbahasa tayi. Hubungan saling membutuhkan di antara kita begitu kuat. Aku membutuhkan kehadiran nenek untuk melindungiku dari kejailan Kakek, dan Nenek yang membutuhkanku menjadi teman bicaranya. Saking seringnya kami bersama, hingga setiap kali aku tinggal barang sejenak untuk ke kamar mandi-pun Nenek dengan tingkah manjanya sudah memanggil-manggilku terus menerus. Meski aku sudah berpamitan padanya aku hendak ke kamar mandi.

Tapi sedikitpun aku tidak pernah mengeluh atas sifat manja nenek itu. Justru aku sangat berterima kasih padanya. Karena neneklah hampir tiga tahun sudah aku bisa bertahan dari situasi kerja seperti ini.

Tidak berbeda jauh dengan aku dan nenek, Kakek-pun sekarang lebih sering berada di luar rumah ke tempat teman-temannya. Dia ahirnya tidak lagi berani macam-macam padaku. Biarlah dia mencari wanita Indoneisa yang pernah dia ceritakan padaku yang mau dengan uangnya. Tapi yang jelas orang itu bukan aku. Sampai kapanpu aku tidak akan mempertaruhkan harga diriku demi uang. Aku sadar karena uang yang aku dapatkan ini, nantinya akan aku gunakan untuk pendidikan adik-adikku mana mungkin aku memberi pendidikan untuk mereka dengan hasil uang yang tidak halal.

***

Sekarang tepat empat bulan lagi kepulanganku ke Indonesia, hasil kerjaku selama ini sudah berhasil memperbaiki rumah kami di Indonesia. Dan sebagian tabungan yang masih aku simpan untuk pendidikan kedua adikku. Majikanku memintaku kembali merawat Nenek, namun aku bertekad akan memulai sebuah usaha di negeriku sendiri. Dengan sedikit modal yang aku punya ini, aku berharap dengan bekal ilmu yang pernah aku terima dari bangku sekolah dulu, bisa untukku meraih kesuksesan di kampung halamanku.

Meski berat meninggalkan Nenek yang sudah seperti Nenekku sendiri. Nenek bagiku bukan sekedar seorang pasien yang aku jaga. Tapi dia adalah sahabat sekaligus penolongku. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan wanita penyayang seperti Nenek. Setelah kepulanganku nanti, aku harap penggantiku bisa lebih menyayangi nenek lebih dari sayangku padanya. Tidak henti aku mendoakan agar nenek diberikan kesehatan selalu.

Inilah kisah perjalananku di Taiwan, aku ingin berbagi pada semua teman-teman yang mungkin mengalami nasib serupa denganku. Jangan pantang menyerah dan berusahalah menghindarinya. Serta jagalah selalu martabat dan harga diri kita sebagi wanita.
Tamat.

Comments are closed.