太陽的夢 MIMPI MENTARI

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 太陽的夢 MIMPI MENTARI

👤 Tari Sasha

 

Sudah tiga hari aku dikejutkan oleh mimpi yang sama. Tidurku gagal lelap, malahan pengap. Keringat membasahi badan. Tenggorokanku kering kerontang dan kepalaku perih bukan kepalang. Tubuhku kehilangan haknya untuk istirahat. Butuh setengah menit untuk memulihkan kesadaran dan untuk memikirkan makna apa gerangan? Aku berharap mimpiku segera kabur dari ingatan, hanya bunga tidur yang mengganggu ketenanganku dengan jutaan bimbang.
Aku bangun dari ranjang dan segera membuka gorden. Serentak cahaya hangat menyinariku. Matahari fajar menyapa Mentari. Itu namaku. Namun, aku bukanlah pusat tata surya. Hanya Mentari yang bersinar lara. Kian hari sinarku yang kian redup seiring raga yang kian susut. Dalam palang tertutup kaca aku meradang, entah apa gerangan tapi kian detik merayap siang gulanaku maju menyerang. Aku rindu pulang.
Aku embuskan nafasku dalam-dalam. Tiga hari ini aku seperti serdadu kalah perang, pasien yang kujaga tak membiarkan mataku memejam. Dia merengek manja meminta iba, dan kewajibanku melukiskan kasih pada kanvas hatinya yang berwarna putih. Kasih tulus seorang Mentari, seorang abdi yang datang dari seberang lautan, untuk merawatnya, menjaganya dengan segenap raga dan jiwa.
Semilir angin menabrak kaca jendela. Musim dingin nyaris tersingkir, berganti udara lembab menyongsong musim panas yang sebentar lagi menguasai jagat Formosa yang berbau dupa. Kota ini menorehkan sejuta cerita, di balik tumpang tindih pelbagai papan pengenal pusat perbelanjaan, iklan, dan penunjuk jalan yang menjadi saksi keberadaanku di atas panggung drama Formosa. Yang kini tengah kumainkan babak demi babaknya. Drama kehidupan dari lakon menjadi batur, menjadi sahaya tetapi bersahaja.
Jika aku boleh bercerita tentang secuil masa laluku, aku adalah seorang penari. Bapak adalah seorang begawan tari. Biasanya kala senja merangkak ke pelukan cakrawala, lumaksana kaki kami mengguncang bawana, memijakinya menuruti alur gending yang berdentang, semua gema gong, gambang, saron, dan bonang berkumandang dalam alam bawah sadar. Rona jingga surya seperti sorotan lampu panggung yang terang. Di panggung alam itu kami pertontonkan mahadaya tari tak bercela. Tarian serimpi kami menjadi atma di atas bumi parastra.
“Grama, angin, toya, bumi,” sibak Bapak menjelaskan falsafah serimpi.
“Apa itu grama, Pak?”
“Api jiwamu, Nak. Yang menggerakkan jiwa ragaku sehingga menyatu dengan tarian itu. Bahkan, kamu tidak menyadari dirimulah tarian itu.”
Sampai sekarang aku tidak mengerti perkataan bapak. Namun waktu itu, beliau hanya tersenyum membiarkan aku didera bingung. Sampai aku berdiri di sini, di depan jendela bening apartemenku yang menghadap balai kota Taichung. Aku masih bertanya apa itu grama? Api semangat? Semangat apa? Aku sudah bukan penari yang meliuk, atau sampurku melambai. Aku abdi kini, kawulo alit yang naif lantaran percaya pada balasan sang bayu, semilir akan berbalik semilir, badai tak akan pernah datang tanpa diundang. Itulah filosofi angin yang kumengerti, kebaikan akan berbalas kebaikan, dan tak mungkin berbalas kejahatan.
Gramaku kukobarkan di sini, sebagai abdi yang bersimpuh pada dawuh, terpasung sendiri dibentengi kaca-kaca tebal, peluhku mengalir tanpa keluh. Aku dekati nenek yang terbaring lemah, dengan gumaman lebahnya yang mendengung tak bermakna. Entah apa yang dirasakannya, setelah dua puluh tahun terbaring tak berdaya. Hanya matanya yang bicara saat aku menyentuh kulit keriputnya. Bicara tentang hidup setelah mati yang kutakuti, atau hidup seperti mati yang dia jalani. Entah!.
Sebuah pesan masuk ke ponsel jadulku. Pesan dari bapakku.
“Nduk, ibu sudah membaik. Jaga dirimu baik-baik. Angin yang membawamu pergi adalah angin kesejukan yang tulus kurelakan. Tiada durja, hanya elok sifat dan penuh welas. Itu sejatinya hidup kita sebagai manusia. Di manapun bumi kau pijak di situlah kau harus menapak.” Demikian tulis bapak.
Kabar ibu sudah membaik menyunggingkan sebuah senyum di bibirku. Seperti toya yang tersiram di dalam ragaku yang kerontang. Terima kasih Tuhan atas penghidupan yang Kau tambahkan pada ibu yang tengah melawan lara.
Aku lewati hari ini seperti biasa, dengan segala rutinitas merawat sang renta yang tak berdaya. Aku bayangkan kini kurawat ibu. Dengan segala welas asihku. Kuabdikan diriku. Untukmu ibu, kulupakan semua mimpi besarku. Menjadi penari hanya terlintas sesekali kala kumimpikan suara gamelan. Aku akan mengumpulkan keping-keping uang, untuk ibu, untuk kesembuhanmu.
Aku coba memejamkan mata, saat bulan bertengger anggun di singgasana langit, nenek telah terlelap dalam buaian mimpi. Aku pun ingin sama, berpelukan dengan mimpi, melupakan sejenak lelah duniawi. Andai gending-gending sinden berkumandang, aku akan mengibaskan sampurku dan ukel serta kenser gemulai kuliukkan.
Mentari … Mentari …
Suara serak itu jelas-jelas memanggilku. Awalnya sedikit kubuka mata mengintip dari mana panggilan itu berasal, tetapi sontak mataku terbelalak. Nenek  tengah berdiri di depan ranjangku. Aku tengok ranjangnya, dia tidak ada di sana. Pandanganku tidak keliru. Wajahnya muram. Diakah yang menyebut namaku barusan?
“Nek …. “ Sapaku menggantung. Jujur keadaan ini membuatku takut.
Yang kedengaran cuma langkah disaruk mendekatiku. Kaki-kaki lumpuh itu maju senti demi senti mendekatiku. Aku alihkan wajah dan selimutku menghampar di bawah.
“Mentari.” Panggilnya lagi.
Wajah tirus nenek merendah hingga kurasakan dengus napasnya. Aku pejamkan mata kembali, tetapi tak bisa. Bahkan tubuhku kini lumpuh dan kaku.
“Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku.”
Tangan keriputnya meraba bahuku.
“Lepaskan aku, Nek.”
“Kumohon tetaplah di sini.”
“Lepaskan aku!”
“Tetaplah di sini.” Cengkeraman tangannya mengerat, kurasakan bahuku diguncang.
“Lepas, Nek!”
“Dia telah pergi, dia telah pergi. Percuma kembali,” teriaknya di telinga kiri.
“NEK!”
Suara ketukan pintu terdengar keras.  Kemudian menggebrak terbuka. Aku tahu itu, sosok tinggi itu Lin Yi Ting. Dia menyalakan lampu dan membentakku.
“Mentari kamu kenapa?”
Buru-buru dia menyambangi kasur nenek, dan wanita tua itu masih lelap melena.
“Maafkan aku.”
“Kamu mimpi lagi?” sanggahnya.
“Lagi?” balasku tak mengerti.
“Sudah beberapa hari ini kudengar igauanmu. Tapi tadi yang paling kencang. Ada apa sebenarnya? Tidak tahukah kamu kalau aku masih bekerja?”
Aku lirik jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi.
“Maafkan aku. Aku ingin ke kamar mandi.”
Aku beranjak dari kasur. Kulihat majikanku masih termangu memandang ibunya yang mendengkur. Kuguyur badanku dengan air walau pakaian masih lengkap kukenakan. Air ini menenangkan, laksana kasih paramita kedua orang tuaku. Mereka yang tak pernah memaki, membentak, atau mengasariku. Seperti air yang tenang dan dalam mereka mengajariku menapaki bumi, tumbuh dan terus kuat menantang matahari. Ra-rasa ingsun handusilih..
Fajar itu mendung menggelayut. Dingin seperti berkabut. Titik-titik hujan menabrak tanah dengan lembut. Sebuah getaran halus membangunkanku dari lamunan. Bapak menelepon.
“Nduk.”
“Iya, Pak.”
“Ibumu, Nduk?”
“Kenapa Ibu, Pak?”
“Ibumu telah menghadap Gusti Allah, Nduk.”
Aku dengar suaranya melirih. Betapa kuatnya dia menahan detas kepedihan agar tak membuas. Hanya untuk mengabarkan pijar kehidupan yang telah padam.
Tubuhku merosot ke lantai dan bersimpuh luluh. Atmaku terlonjak menari dengan air mata berderai. Terus menari di bawah guyuran hujan pagi. Waktu ketika ibu benar-benar pergi. Batinku menjerit di tempat paling sunyi bernama hati.

Taiwan, 15 April 2015
Catatan:
1. Batur: pembantu
2. Lumaksana: gerakan langkah kaki maju mundur dalam menari
3. Bawana : bumi, dunia
4. Gending: lagu yang nyanyikan diiringi gamelan
5. Atma : jiwa, ruh
6. Parastra : mati
7. Grama : api
8. Toya : air
9. Sampur: selendang panjang yang digunakan penari dalam menari
10. Kawulo alit:  rakyat kecil
11. Dawuh: perintah
12. Nduk: panggilan pada anak gadis Jawa
13. Durja: jahat
14. Welas asih: belas kasih, iba
15. Sinden: penyanyi yang menyanyi lagu berbahasa Jawa diiringi suara gamelan
16. Ukel: gerakan tangan dalam menari Diana pergelangan tangan memutar ke arah dalam berlawanan dengan jarum jam, jari tengah bertemu dengan jempol
17. Kenser : gerakan kaki dalam menari, berpindah posisi menggeserkan telapak kaki secara bersamaan
18. Paramita : sempurna
19. Ra-rasa ingsun handusilih : rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 太陽的夢 MIMPI MENTARI

👤 Tari Sasha

 

已經三天了,我做了同樣的夢。我無法熟睡,而且悶熱不堪,全身都被汗水濕透。我的喉嚨乾渴同時頭痛欲裂,身體失去了它休息的權利。我花了半分鐘來恢復意識,想一下這到底怎麼回事。

我希望我的夢能儘快從腦海裡消失,讓我相信它只是紛亂如麻、讓人想逃開的夢一場。

我起身下床,打開窗簾,溫暖的陽光照了進來。「太陽」迎接黎明的曙光,那就是我的名字。但我不是太陽系的中心,只是陽光悲傷的普照。我的光,隨著日漸萎縮的身體越來越暗淡。不知為何像被拴進封閉的玻璃裡,隨白晝分秒推移。

我想回家。

深深的,我嘆了一口氣,這三天我就像一個輸掉戰場的士兵,我照顧的病人不讓我閉上眼睛。她埋怨地對我撒嬌,要求被同情,而我的義務是把對她的愛,刻劃在她如白色畫布似的心上。用一顆太陽的真心,來自海洋那一端的僕人,全心全意地看顧她。

微微的風吹打在玻璃窗上,冬天差不多過了,沒多久福爾摩沙將迎來主宰全台的濕熱夏天。這都市曾寫下很多故事,在商場、廣告看板、以及層疊的路標背後,台灣這個舞台將見證我的存在。輪到我上演它的戲劇。一名奴僕的故事,樸素的佣人。

如果可以,我願告訴你我的過去,我是一個舞者,父親是舞蹈高手。每當暮色悄悄進入地平線的懷抱,我們腳下的舞步能震撼大地,跟著歌聲與敲響的鼓聲、銅鑼、木琴踏上大地,所有樂器聲迴盪在潛意識中。橙色太陽是我們明亮的聚光燈,在大自然的舞台上,我們表演完美的舞步。在逝去的世界,我們的傳統舞成了靈魂。

「火、風、水、大地……」父親解釋著傳統舞的概念。
「父親,什麼是grama(爪哇語)?」
「你靈魂的火,孩子。舞動我身體與靈魂的火,跟舞蹈結合的火。你甚至沒發現其實你就是那舞蹈。」

到現在我還是不明白父親的話。但那時候,他只是讓我疑惑地笑了笑。直到我現在站在這裡,在公寓的透明窗前,面對這台中市。我還在問,什麼是grama?火靈?什麼靈?我已經不是扭動身軀,或披著長圍巾揮來揮去的舞者。我現在是僕人,天真的小老百姓因為相信了風的傳說,風吹來也會吹走,沒經過邀請,暴風不會到來。這是我所了解的風的哲學,善有善報,不可能會得到惡報。

在這裡燃燒我的精神之火,當聽話的僕人,被困在厚厚的玻璃裡,我的汗水滴下來,沒有任何抱怨。我靠近躺在床上孱弱的阿嬤,與她意義不明的喃喃自語,不知她的感受如何,無奈地躺著二十多年。當我碰她皺皺的皮膚,只有她的眼睛說話。無論是關於她害怕死後的路,或活著像死人一樣。

一封簡訊寄到我老舊的手機,是我的父親。

「女兒,母親狀況好多了,你好好照顧自己。風把帶你走,是我願意放掉的清風。沒有烈性,只有好脾氣以及充滿愛心。這就是人類活著的意義。無論你腳踏在地球哪個角落,你必須以此行事。」父親簡訊內容寫著。

母親狀況變好的消息讓我嘴角泛起微笑,就像水一樣澆灌在我乾涸的身上。謝謝老天爺給了母親繼續活下去的機會。

我如往常日復一日照顧體弱無力的阿嬤一樣過著今日的生活,我想像我正在照顧的是自己的母親,用滿滿的愛奉獻自己。為了母親,我忘掉我的大夢。只有偶而會出現成為舞者的夢境,聽見樂器加麥蘭的聲音。我將會存錢給母親,為了她的康復。

當月亮莊嚴地掛在天上的寶座,我試著閉上眼睛,阿嬤已經進入夢鄉。我也想跟她一樣,懷著夢想入睡,把一切塵世疲累都忘掉。如果傳統舞蹈的音樂響起,我會揮動我的披肩,溫柔擺動手足地起舞。

「太陽……太陽……」沙啞的聲音明顯地在叫我。我微微睜開雙眼,試圖尋找聲音來源。但我突然睜大眼睛。阿嬤正站在我的床前,我看看她的床,她不在那裡,我沒有看錯。她臉色陰沉,剛剛是她叫我的名字嗎?

「阿嬤……」我喚她。坦白說,這情況讓我害怕。我只聽見拖著的腳步聲靠近我,癱瘓的雙腿一步一步靠近。我轉頭,被子掉在地上。

「太陽。」他又再次招喚。

阿嬤消瘦的臉龐低下來,直到我感覺到她的呼吸。我想再次閉上眼睛,但無法,反而我的身體僵硬不聽使喚。

「不要離開我……不要離開我……」皺紋的手摸著我的肩膀。
「阿嬤,放開我。」
「我求你留在這裡。」
「放開我!」
「留下來。」她的手越抓越緊,我感覺我的肩膀被搖晃。
「阿嬤,放開!」
「她已經走了,她已經走了,回去也沒有用了。」她在左耳大喊。
「阿嬤!」

響亮的敲門聲,後來門被一腳踹開。我認識那個高大的身影,林義廷。他打開了燈,並斥喝我。

「太陽,妳怎麼了?」

他匆匆走近阿嬤的床查看,阿嬤還在床上熟睡。

「對不起。」
「你又做夢?」他厲聲問道。
「怎?」我不明白他想說什麼。
「已經一連幾天我聽到你在說夢話,剛剛是最大聲的。到底發生了什麼事?難道你不知道我還要上班嗎?」

我瞄了下時鐘,顯示著剛好凌晨三點鐘。

「對不起,我去洗手間。」

我從床上爬起來,看見我的雇主還愣在他打呼的媽媽旁邊。雖然穿著衣服,我用水淋了全身。這水讓我感覺舒緩,像我父母親天生的愛。那從來不會辱罵、吆喝或對我粗暴的雙親,就像沉靜的水,他們教導我「踏在土地上茁壯成長,並不斷地挑戰太陽;真正的愛,是良知的愛。」

黎明掛起烏雲,空氣冷如雲裡霧裡。雨滴輕輕打在地上,細微的振動,把我從發呆中叫醒。是父親打電話來。

「女兒。」
「是,父親。」
「你母親……女兒啊……」
「怎麼了?父親?」
「你母親已經去真主身邊了,女兒。」

我聽到他難過的聲音與強忍住的痛苦,為了通知我那已經熄滅了的生命。我的身體跌坐在地板上,膝蓋癱軟。我的靈魂躍起,和著淚水,繼續在清晨的雨中跳舞。當母親離開的那一刻,我在一個最寂寞的的地方吶喊,那一處叫做心的地方。

台灣,2015/4/15