老太太無限的愛 Lǎo Tàitài – Cinta Tidak Terbatas

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 老太太無限的愛 Lǎo Tàitài – Cinta Tidak Terbatas

👤 Disyak Ayummy

 

Dua bulan sudah aku bekerja merawat Xiao Kang, bocah laki-laki berusia 6 tahun yang lumpuh dan gagar otak karena kecelakaan. Di rumah ini aku tinggal bersama Nyonya Ming Qiu dan Lǎo Tàitài, mama dan nenek Xiao Kang.

Meskipun Lǎo Tàitài tubuhnya kurus dan usianya sudah 70 tahun lebih, tetapi dia masih sehat. Dia masih bisa pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli keperluan kami sehari-hari. Ayah Xiao Kang sudah meninggal. Aku hanya bisa melihat fotonya yang berada di tengah altar sembahyangan. Seorang laki-laki berkacamata, berusia kira-kira 40 tahunan.

Awal aku bekerja di rumah ini, semua berjalan lancar. Nyonya Ming dan Lǎo Tàitài sangat baik padaku. Mereka mengajariku banyak hal tentang kehidupan dan tradisi masyarakat Taiwan.

Namun, memasuki bulan ke tiga, sikap Nyonya Ming mulai berubah. Dia yang biasanya suka membantuku memasak atau menjaga Xiao Kang, kini lebih suka mengurung diri dalam kamarnya, melamun, menangis, dan mudah marah tanpa alasan jelas. Sering kali nyonya memarahiku sambil mendorong kepalaku, melempar sumpit atau gantungan baju. Jika sudah begitu, aku hanya bisa diam dan menahan tangis tanpa berani melawan.

Seperti malam ini, saat kami sedang makan malam. Awalnya nyonya makan dengan tenang, ditemani oleh Lǎo Tàitài. Sementara aku menggendong Xiao Kang untuk menidurkannya. Saat aku berjalan di dekatnya, tiba-tiba nyonya berhenti makan. Kemudian dia meletakkan sumpit dengan keras di atas meja dan memandangiku dengan tajam.

“”Hey, untuk apa kamu di rumahku? Pergi kamu! Pergiii …!”” teriak Nyonya Ming sambil menunjuk padaku.

“”A-apa maksud, Nyonya …?”” tanyaku agak kaget, karena nyonya tiba-tiba mengusirku.

“”Jangan pura-pura tidak tahu, Kau perempuan bodoh! Kamu ke sini mau merebut suamiku, kan?”” Kembali nyonya berteriak. Saat dia hendak meraih mangkuk di hadapannya, Lǎo Tàitài segera menahannya.

“”Sudah … sudah A-Qiu, dia itu Yumi, yang merawat anakmu, Xiao Kang,”” ucap Lǎo Tàitài sambil membelai tangan nyonya.

“”Merawat Xiao Kang? Memangnya Xiao Kang kenapa, Ma?”” tanya nyonya seperti orang kebingungan. Ternyata nyonya juga lupa pada keadaan Xiao Kang. Raut wajah nyonya langsung berubah sedih, matanya berkaca-kaca, dan sesaat kemudian dia mulai terisak.

“”Xiao Kang tidak apa-apa, A-Qiu. Dia hanya sedikit demam. Besok juga sudah sembuh dan bisa bermain lagi. Sebaiknya sekarang kamu istirahat.”” Lǎo Tàitài mengajak nyonya berdiri dan mengantarnya ke kamar. Samar-samar kudengar nyonya kembali menangis dalam kamarnya, lalu berteriak keras.

“”Tidaaakk …! Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapaaa …!?””

Melihat perubahan sikap Nyonya Ming yang seperti orang hilang ingatan, membuatku ketakutan bekerja di rumah ini. Aku pun lapor pada agency, tentang perilaku majikanku yang tidak wajar itu. Namun, agency menyuruh aku untuk sabar.

“”Tidak mungkin majikanmu itu gila. Kalau dia gila, pasti sudah dikirim ke rumah sakit jiwa oleh ibunya. Mungkin dia sedang ada masalah, makanya seperti itu. Kamu bersabar saja. Jangan buat masalah dan jangan kabur. Ingat, kamu masih punya potongan bank sampai 7 bulan ke depan,”” kata agency setelah aku selesai menceritakan masalahku.

“”Apa saya tidak bisa pindah majikan yang lain saja, Mbak? Lama-lama kelakuan majikanku sungguh menakutkan,”” pintaku penuh harap.

“”Proses pindah majikan itu tidak gampang, Yumi. Apalagi kalau majikanmu tidak mau melepasmu. Jika kamu keluar dari rumah majikanmu, sementara kamu belum dapat majikan baru, dengan apa kamu harus membayar hutang bank? Kamu tenang saja, saya akan mencoba bicarakan hal ini dengan Lǎo Tàitài,”” kata agency memberi harapan dan menenangkanku.

Aku pun hanya bisa menurut perintah agency untuk bersabar, karena aku masih harus membayar hutang bank untuk biaya penempatanku di Taiwan ini. Aku juga tidak ingin dipulangkan ke Indonesia, karena aku sangat butuh pekerjaan untuk biaya sekolah anak-anakku. Demi keluargaku di Indonesia, aku harus sabar dan bertahan bekerja di rumah ini. Setidaknya sampai potongan bank, selesai.

Tidak lama setelah pembicaraanku dengan agency, Lǎo Tàitài memanggilku untuk bicara berdua. Ternyata yang aku pikirkan selama ini benar adanya. Pikiran Nyonya Ming sedang terganggu. Namun, Lǎo Tàitài tidak bilang kalau Nyonya Ming gila, tapi hanya mengalami depresi yang berat, sehingga tidak bisa mengontrol emosinya. Lǎo Tàitài sudah membawa nyonya berobat dan disarankan untuk dibawa ke rumah sakit jiwa. Namun, Lǎo Tàitài tidak ingin membawa nyonya ke rumah sakit jiwa. Dia tidak tega jika harus melihat putri kesayangannya sendirian di rumah sakit jiwa, dengan tangan dan kaki diikat. Lǎo Tàitài ingin merawat nyonya sendiri, supaya nyonya tetap merasa kalau masih ada orang yang mencintainya.

“”A-Qiu sedang mengalami cobaan yang sangat berat dalam hidupnya. Suaminya punya simpanan wanita lain. Saat mereka bertengkar dalam mobil, mobil mereka mengalami kecelakaan. Suaminya meninggal, Xiao Kang lumpuh, dan A-Qiu sendiri mengalami keguguran anak keduanya. Apalagi sekarang, dia dikeluarkan dari pekerjaannya. Sebagai sesama wanita, apakah kamu tidak kasihan sama A-Qiu, Yumi?”” tanya Lǎo Tàitài sambil menggenggam tanganku erat.

Cukup lama aku terdiam mendengar pertanyaan Lǎo Tàitài. Pikiranku campur aduk antara takut kalau nyonya mencelakaiku, dan kasihan dengan masalah yang dihadapinya.

“”Saya bisa memahami keadaan nyonya, Lǎo Tàitài. Tapi saya takut, bagaimana kalau nanti nyonya mengamuk dan ….””

“”A-Qiu tidak gila, Yumi. Jadi dia tidak akan mengamuk. Dia hanya depresi dan merasa seorang diri menghadapi cobaan ini. Aku mohon padamu, tetaplah di rumah ini. Bantu aku untuk menjaga A-Qiu dan Xiao Kang. A-Qiu butuh orang untuk berbagi beban.””

Kupandangi wajah tua Lǎo Tàitài yang mulai keriput. Wajah seorang ibu yang sangat mencintai anaknya, bagaimanapun keadaannya. Di usianya yang sudah tua, seharusnya dialah yang dirawat oleh anak-anaknya, bukan malah dia yang merawat anaknya. Tanpa sadar aku mengangguk meski hatiku masih khawatir.

“”Baiklah, Lǎo Tàitài, saya akan mencoba membantu semampu saya,”” jawabku pelan. Lǎo Tàitài langsung memelukku dan berulang kali mengucapkan terima kasih.

Setelah mendengar penjelasan Lǎo Tàitài, aku kembali bekerja seperti biasa. Jika Lǎo Tàitài bisa bertahan dengan sikap nyonya, seharusnya aku juga bisa.

Sejak kejadian di ruang makan beberapa hari yang lalu, Lǎo Tàitài tidak mengizinkan nyonya keluar rumah. Lǎo Tàitài sendiri juga tidak keluar rumah. Dia selalu berada di samping nyonya, untuk memberi semangat atau nasehat. Meskipun sering kali nyonya tidak menghiraukan atau malah membentaknya, tapi Lǎo Tàitài tetap mendampingi nyonya.

Untuk keperluan belanja Lǎo Tàitài meminta tolong ke anak pertamanya atau kakak Nyonya Ming, yang bernama Tuan Wang. Kebetulan rumah Tuan Wang tidak jauh dari sini. Kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki. Jika nyonya sedang mengamuk, kami juga akan memanggil Tuan Wang untuk membantu mengikat nyonya di ranjangnya.

Cinta dan kasih sayang Lǎo Tàitài kepada Nyonya Ming sungguh luar biasa. Dengan tangannya sendiri, Lǎo Tàitài merawat nyonya yang sedang depresi, tanpa rasa takut ataupun jijik. Setiap hari Lǎo Tàitài mengelap tubuh nyonya dengan handuk hangat, mengganti baju, menyisir rambut, menyuapi makan, sampai membersihkan kotorannya. Tidak pernah sekalipun Lǎo Tàitài mengeluh meski nyonya sering membentaknya, bahkan mendorong tubuh rentanya. Cinta seorang ibu memang tak terbatas.

****

Pagi ini cuaca sangat cerah. Sudah beberapa hari ini Nyonya Ming terlihat tenang dan normal. Dia bisa melakukan segala keperluannya sendiri, dan tidak lagi marah-marah meski masih sering melamun.

“”Yumiii …!”” teriak nyonya, saat aku sedang mencuci gelas.

“”Iya, Nyonya. Saya datang,”” jawabku segera. Setelah mengelap tangan, aku langsung berlari menuju ruang tamu di mana nyonya berada.

“”Yumi, kenapa kau tinggalkan Xiao Kang sendirian di sini?”” tanya nyonya sambil menunjuk Xiao Kang yang berada di atas kursi roda.

“”Maaf, Nyonya, barusan saya di dapur untuk mencuci gelas tempat susunya Xiao Kang,”” jawabku pelan.

“”Aku tidak mau dengar alasan apapun. Pokoknya kamu tidak boleh meninggalkan anakku sendirian, kecuali dia sedang tidur. Mengerti?!”” bentak nyonya dengan suara tinggi.

“”Me-mengerti, Nyonya …,”” jawabku gugup melihat perubahan sikap nyonya yang kembali mudah marah.

“”Sekarang kamu temani Xiao Kang. Aku mau siap-siap berangkat kerja,”” kata nyonya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku hanya memandang nyonya dengan rasa kasihan. Sepertinya nyonya masih lupa, kalau dia sudah lama dikeluarkan dari pekerjaannya.

Braakk!!

“”Hah!”” Aku kaget mendengar suara pintu kamar nyonya yang ditutup dengan keras.

Segera kuambil kursi kecil yang biasa aku pakai duduk saat memijat kaki Xiao Kang. Namun, belum lagi aku mulai memijat, tiba-tiba bell rumah berbunyi. Aku segera beranjak membuka pintu, ternyata Tuan Wang yang datang dengan membawa banyak barang belanjaan.

“”Kok sepi, mama dan A-Qiu kemana?”” tanya Tuan Wang sambil menyerahkan dua plastik belanjaan, padaku.

“”Nyonya di kamarnya, kalau Lǎo Tàitài sedang mandi. Silakan masuk, Tuan.”” Kupersilahkan Tuan Wang untuk masuk ke dalam, sementara aku membawa barang-barang belanjaan ke dapur. Saat aku sedang memasukkan beberapa sayuran ke dalam kulkas, tiba-tiba nyonya memanggilku.

“”Yumi! Cepat kemari!”” panggil nyonya dari dalam kamarnya.

“”Iya, Nyonya, saya datang.””

Aku langsung berlari menuju kamar nyonya, karena aku tidak mau dianggap terlalu lamban. Hampir saja aku menabrak kipas angin karena terlalu gugup. Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, aku langsung masuk.

“”Iya, Nyonya. Ada apa?”” tanyaku dengan sopan.

Plaakk!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Rasanya sakit dan perih. Aku mundur beberapa langkah. Aku tidak menyangka kalau nyonya akan menamparku seperti ini.

“”Kamu mencuri cincin pernikahanku,ya? Ayo, ngaku!”” tuduh nyonya tanpa basa-basi.

“”Ti-tidak, Nyonya. Sa-saya tidak mencuri, sungguh,”” jawabku sambil menunduk, ketakutan. Sebisa mungkin kutahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.

“”Bohong kamu! Buktinya, cincin pernikahan yang aku taruh di laci meja rias, hilang. Pasti kamu, kan, yang mengambilnya?”” Nyonya mendekatiku dan mendorong kepalaku, hingga aku terhuyung-huyung ke belakang.

“”Sung-sungguh, Nyonya, saya tidak bohong. Sa-saya berani bersumpah, Nyonya.””

“”Dasar perempuan kurang ajar! Pasti kamu juga yang merebut suamiku!”” Nyonya berjalan cepat ke arahku lalu menjambak rambutku dengan membabi-buta.

“”Aooww … sakit! Ampun, Nyonya. Ampun …!”” Aku berteriak memohon ampun sambil berusaha melepaskan tangan nyonya dari kepalaku. Air mataku mengalir deras dan aku menangis sejadi-jadinya. “”Tuan Wang, tolooongg …!””

“”A-Qiu! Lepaskan Yumi!”” teriak Tuan Wang sambil mencoba memisahkan nyonya dariku, kemudian memeluknya erat dari belakang. Sementara aku hanya bisa bersimpuh di lantai sambil menangis dan memegangi kepalaku yang sakit.

“”Lepaskan aku, Kak! Lepaskaan …!”” Nyonya terus berteriak dan meronta.

“”Tidak! Kau sedang tidak sadar dengan apa yang kau lakukan!”” Tuan Wang masih berusaha memeluk nyonya yang terus meronta.

“”A-Wang, A-Qiu, ada apa ini? Apa yang telah terjadi?”” tanya Lǎo Tàitài yang ternyata sudah berdiri di pintu kamar. Wajah keriputnya terlihat kebingungan.

“”A-Qiu mengamuk dan memukuli Yumi, Ma. Aku sudah bilang, bawa saja A-Qiu ke rumah sakit supaya tidak membahayakan orang lain,”” jelas Tuan Wang.

“”Maafkan mama, A-Wang. Mama tidak menyangka kalau A-Qiu akan mengamuk separah ini.”” Lǎo Tàitài berjalan mendekati kedua anaknya, tapi Tuan Wang segara melarangnya.

“”Jangan mendekat, Ma! A-Qiu bisa mencelakaimu juga. Sebaiknya cepat panggil 119, Ma!”” perintah Tuan Wang.

“”Iya … iya,”” kata Lǎo Tàitài sambil keluar kamar. Sekilas aku melihat Lǎo Tàitài mengusap air matanya

Melihat Tuan Wang yang kewalahan menenangkan nyonya, aku segera bangkit untuk membantunya. Kuambil tali yang biasa untuk mengikat nyonya. Saat kupasang tali pengikat ke kakinya nyonya, beberapa kali aku terkena tendangan kaki nyonya yang terus meronta dengan kuat.

Sepuluh menit kemudian suara sirine mobil 119 terdengar mendekat. Lǎo Tàitài langsung membukakan pintu untuk mereka. Sedangkan aku membawa Xiao Kang ke kamarku. Dari dalam kamar, aku masih mendengar suara nyonya yang berteriak-teriak, tapi aku tidak berani kembali ke kamarnya. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di kamar nyonya. Yang aku tahu, 15 menit kemudian nyonya dibawa pergi petugas 119 dan aku hanya bisa memandangi kepergian mobil 119 itu dari jendela kamarku.

*****

Sebulan sudah Nyonya Ming berada di Rumah Sakit Jiwa. Selama itu pula Lǎo Tàitài selalu setia mengunjungi nyonya, seminggu tiga kali. Tidak sekalipun Lǎo tàitài melewatkan waktu besuk, meski dia sendiri sedang sakit. Beberapa hari ini Lǎo Tàitài memang sedang demam. Namun, dia lebih memilih menjenguk nyonya daripada beristirahat atau pergi ke dokter untuk memulihkan kesehatan.

“”Sebaiknya Lǎo Tàitài istirahat dulu, nanti kalau sudah sembuh, baru menjenguk nyonya lagi.””

“”Aku tidak apa-apa, Yumi. Kamu jangan khawatir. Aku justru tidak bisa tenang kalau belum menjenguk A-Qiu. Kasihan A-Qiu. Dia sudah kehilangan segalanya. Dan aku tidak ingin dia juga merasa kehilanganku. Aku ingin selalu ada di sampingnya,”” kata Lǎo Tàitài sambil memakai jaketnya.

“”Baiklah kalau itu yang Lǎo Tàitài inginkan. Hati-hati di jalan Lǎo Tàitài.”” Kuantar Lǎo tàitài sampai pintu rumah dan kupandangi tubuh renta itu sampai naik ke dalam taxi.

Lǎo Tàitài, satu dari sekian banyak ibu yang rela berkorban apapun demi kebahagian anak-anaknya. Dia rela menderita asal bisa membuat anaknya tersenyum. Aku pun ingin seperti  Lǎo Tàitài, terus berusaha berjuang di sini, demi kebahagian keluargaku di Indonesia.

Chiayi, 22 April 2015


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 老太太無限的愛 Lǎo Tàitài – Cinta Tidak Terbatas

👤 Disyak Ayummy

 

我照顧小康已經兩個月了,這個六歲男孩,因為車禍造成癱瘓和腦震盪。在這個家裡,住著我和太太秋敏與阿嬤,也就是小康的媽媽與奶奶。 

雖然老太太身材瘦小,年紀也已經七十多歲了,但她仍很健康。還能去菜市場或大賣場買我們需用的日常用品。小康的父親已經過世了,我只看見放在靈堂桌子中央的遺照,大概四十多歲戴著眼鏡的男性。

剛到這個家上班時,一切都很順利。敏太太與老太太對我很好。他們教我很多關於在台灣傳統生活與社會現況等事務。

但進入第三個月,敏太太的態度開始轉變。以前她喜歡幫我做飯,或幫忙照顧小康,現在反而喜歡把自己關在房間裡,發呆或哭泣,也很容易莫名地煩躁生氣。太太經常邊罵邊推我的頭,扔筷子或衣架。受到這樣的待遇,我只能保持沉默,忍著淚水。

像今晚,我們正在吃晚餐。起初敏太太跟老太太一起安靜地吃,而我抱著小康準備照料他睡覺。突然,太太停下來放下筷子,餐桌上砰地一聲巨響。

「喂,妳在我家幹嘛?妳給我滾!妳走!妳走!」敏太太用手指著我尖銳地大叫。
「呃,太太妳的意思是……?」我有點嚇到地問她,因為太太突然趕我走。
「不要假裝不知道,妳這笨女人!妳來這裡要搶我老公,對不對?」太太再度尖叫。當她伸手想要拿前面的碗砸我時,老太太立刻阻止她。

「好了,好了,阿秋,她是瑜米,來照顧妳的兒子小康的。」老太太溫柔地撫摸太太的手。
「照顧小康?難道小康怎麼了嗎?媽。」太太混亂的表情問著,原來太太也忘記小康的狀況。太太的臉立刻變憂傷,眼淚在眼眶打轉,不久後她啜泣起來。

「小康沒怎麼樣,阿秋。他只是一點點發燒。明天就會恢復,可以再玩耍。妳現在先休息好了。」老太太扶太太站起來,然後帶她進房間。我隱約聽到太太在房內再度哭泣,然後大喊。

「不要…!為什麼這一切都發生在我身上?為什麼…?!」

看見敏太太像似失憶般的大轉變,讓我對在這房子裡工作感到害怕。我告訴仲介關於雇主異常的變化,但仲介叫我要忍耐。

「妳的雇主不可能瘋掉吧,如果她瘋了,她媽媽一定會送她去精神病院的。可能她遇到問題才會變成這樣。妳先忍耐吧,不要製造問題,也不要逃跑。記住,妳還有七個月的銀行貸款。」我跟仲介說完我遇到的問題,仲介提醒我。

「我不能轉換其他雇主嗎?姊姊,這樣下來覺得雇主很嚇人。」我一直要求她。

「轉換雇主的流程不容易,瑜米。更何況妳的雇主不願意放妳走。如果妳要離開妳雇主家,而妳也還沒找到新雇主,那妳要拿什麼來還妳的銀行貸款?放心吧,我會試圖跟老太太討論這件事情。」仲介給我希望並安撫我。

我只能聽從仲介的指令先忍耐,因為我還要繳交我來台灣時的銀行貸款。我也不想被遣返回印尼,為了小孩的學費我很需要這份工作。我必須忍受繼續在這個家做事,至少直到還清銀行貸款為止。

與仲介談過不久後,老太太叫我去私下說話。原來我一直認為的並沒有錯,敏太太的頭腦已經不太正常。但老太太沒有說敏太太瘋掉,只是得到重度憂鬱症,因此無法控制情緒。老太太已經帶太太去看過醫生,醫生也建議帶去精神病院,但她不忍心看心愛的女兒被孤伶伶地丟在醫院,手腳都被綑綁。老太太想要自己照顧太太,讓太太覺得,還有人愛著她。

「阿秋正在經歷她人生中最嚴峻的考驗。她老公在外面有別的女人。他們在車上吵起來,結果就發生車禍了。老公過世,小康癱瘓,而阿秋自己也失去肚子裡的第二個小孩。更何況現在她被公司開除。同樣作為一個女人,妳不絕的阿秋很可憐嗎?瑜米。」老太太邊說邊握著緊我的手不放。

聽到老太太的話,我沉默了很長一段時間。我腦海裡很混亂,深怕太太會傷害我,但又同情她的遭遇。

「我能理解太太的狀況,老太太。但我害怕,如果太太發狂怎麼辦?還有……」

「阿秋沒有瘋掉,瑜米。所以她不會發狂,她只是得了憂鬱症,覺得一個人面對這些考驗很沮喪孤單。我求妳留下來,幫我照顧阿秋與小康,阿秋需要人來分擔。」

我看著那蒼老開始長皺紋的臉,一個在任何情況下都疼愛孩子的母親的臉。那麼大的年紀,應該是孩子來照顧她,而不是反過來。不知不覺我點了點頭,即便我還是很擔心。

「好吧,老太太,我會盡力而為。」我輕聲地說。老太太立刻抱住我,連聲道謝。

聽老太太解釋後,我照往常一樣繼續工作。如果老太太能容忍太太的態度,我應該也可以。

從前幾天飯廳的事故後,老太太不允許太太外出,老太太也沒有出門。她始終在太太身邊,給予鼓勵與勸告。雖然太太時常不理會甚至辱罵,但老太太不離不棄。

對於購物來說,老太太要求大兒子幫忙,王先生也就是敏太太的哥哥。剛好王先生的家離這裡不遠。走路大概十分鐘路程,如果太太發狂,我們也呼叫王先生來幫忙將太太綁在床上。

老太太對敏太太的愛與疼惜真的令人難以置信。她親手照顧罹患憂鬱症的太太,沒有恐懼或厭煩。老太太每天用熱毛巾幫太太擦身體、換衣服、梳頭髮、餵飯、處理她的大小便,從沒有一句怨言,雖然太太時常辱罵她,甚至推她。母愛真是無限。

*****

今天早上天氣晴朗。一連幾天太太看起來都很平靜正常。她可以打理自己,雖然還是時常發呆,但她不再生氣了。

「瑜米!」我正在洗杯子時太太大喊。
「好,太太。我來了。」我立刻回她。擦完手後,我馬上跑去客廳。
「瑜米,妳為什麼讓小康一個人在這裡?」太太指著在輪椅上的小康質問我。
「對不起,太太,我在廚房洗小康剛剛喝過牛奶的杯子。」我小小聲地說。
「我不想聽任何理由。總之,妳不能讓我的小孩獨自一個人,除非他睡著,懂嗎?!」太太大聲的罵。
「我懂,太太……」我緊張地回答,看著暴怒的太太態度的變化。
「現在妳陪著小康。我要準備上班。」太太邊說邊走進她房間。我同情地看著太太,她好像不記得自己已經被開除很久了。

碰!!

「嚇!」我聽到太太用力甩上的房門大吃一驚。

我拿起小板凳準備按摩小康的腳,但還沒開始按,門鈴突然響了。我立刻站起來開門,原來王先生帶了很多生活必需品來。

「怎麼那麼安靜?媽媽與阿秋去哪?」王先生邊問邊拿兩袋購買的東西給我。
「太太在房間,而老太太在洗澡。請進,先生。」我請王先生進門,然後把東西拿到廚房。我正將青菜放到冰箱時,突然太太叫我。
「瑜米!快過來!」太太從房間裡叫我。
「好的,太太,我來了。」

我立刻跑去太太房間,因為我不想被說動作太慢。因為太緊張了,差點撞倒電風扇。敲完門後,我馬上走了進去。

「是的,太太,有什麼事?」我禮貌地問。
啪!!

一個巴掌落在左臉頰,我感覺到熱辣的刺痛。我往後退了好幾步,沒想到太太會這樣打我巴掌。

「妳是不是偷我結婚戒指?趕快承認!」太太不客氣的指責我。
「沒…沒有,太太。我…我沒有偷,真的!」我低著頭回答,非常害怕。我儘量忍住湧上眼眶的淚水。

「妳騙人!我剛放在梳妝台抽屜裡的戒指不見了,一定是妳拿的對不對?」太太靠近我,還推我的頭,害我往後踉蹌。
「真…真的太太,我沒騙妳!我…我敢發誓,太太!」
「妳這不要臉的女人!一定也是妳搶走我老公!」太太快步走向我,然後狂抓我的頭髮。
「啊!好痛!饒了我啊太太,饒了我…!」我尖叫求饒,試圖把太太的手從我頭上拉開。眼淚直流,我痛哭失聲。
「王先生,救命啊……!」
「阿秋!放開瑜米!」王先生喊道。試圖把太太從我身邊拉開,然後從後面抱住她。而我只能跪在地上,哭著抱住我疼痛的頭。
「放開我,哥!放開…!」太太不斷尖叫掙扎。
「不!妳不知道妳做了什麼!」王先生還是努力地抱住正在掙扎的太太。
「啊!阿秋,怎麼了?發生什麼事?」老太太問的同時已經站在門口。乾癟的面容看起來一臉疑惑。
「阿秋發狂攻擊瑜米,媽!我告訴過妳了,帶阿秋去住院,以免傷害別人。」王先生說。
「原諒媽媽,媽媽沒想到阿秋會這樣發狂。」老太太迎向她的兩個孩子,但王先生立刻阻止她。
「不要過來,媽!阿秋可能也會傷害你。趕快撥打119,媽!」王先生下令。
「好…好……。」老太太走出房間。我瞥見老太太在拭淚。

看到王先生幾乎無法安撫太太,我立刻起身幫他。我拿出平時用來綑綁太太的繩子。當我要綁住太太的腳時,好幾次被拼命掙扎的腳用力踹開。

十分鐘過後,聽見119的鳴笛聲靠近。老太太立即過去幫他們開門。而我帶小康進我房間。在房間內,我仍能聽見太太尖叫的聲音,但我不敢回到她的房間。我再也不知道太太房間裡發生什麼事。我只知道十五分鐘後,太太被119的救護人員帶走了,而我只能從我房間的窗戶看著救護車開走。

*****

敏太太住在精神病院已經一個月了。在此期間,老太太去探視太太,一星期三次,從未間斷。雖然她自己也病了,這幾天來老太太正在發燒。但比起休息或就醫,她寧願選擇探視太太。

「老太太還是先休息,等妳好了,再去探訪太太。」
「我沒關係,瑜米,妳不用擔心。沒有去探望阿秋,我反而無法安心。阿秋很可憐,她已經失去一切,我不想讓她覺得也失去我。我要一直在她身邊。」老太太邊說邊穿起她的外套。
「好吧,如果這是老太太想要的。路上請小心。」我送老太太到門口,看著衰老的身體爬上計程車。

老太太,在眾多母親當中,她是願意為孩子的幸福犧牲一切的母親之一,為了孩子的笑容她情願受苦。我也想像老太太一樣,在這裡繼續奮鬥,為了在印尼的家人幸福。

嘉義,2015/4/22