紅龜粿阿嬤 ANG KU KUE AMA

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 紅龜粿阿嬤 ANG KU KUE AMA

👤 Irnelya Sari

 

Aku sampai pada sebuah rumah sederhana terpencil dari rumah lain, yang diapit pohon kelengkeng kanan-kirinya. Tanaman umbi-umbian sejenis talas merata hampir menutup seluruh halaman yang lumayan luas.

Aku menarik napas lega. Meski lelah akibat berlari menghindari kejaran seseorang, membuat kepalaku berkunang-kunang. Dan …

Bruuuk!

***

“”Meimei, bangun! Jangan membuatku khawatir, ya.””

Suara seseorang yang mengguncang bahuku semakin jelas terdengar.

“”Di mana aku?”” tanyaku sambil mengamati sekeliling.

“”Di rumahku,”” jawab seorang nenek tua yang kuterka berusia 70 tahunan.

Aku mencoba bangkit, tapi perutku terasa melilit.

“”Aduh! Sakit,”” erangku. Dengan sisa tenaga yang kupunya, kutekan segera menggunakan pangkal lengan.

“”Meimei, mukamu pucat sekali. Ayo, aku papah kamu masuk. Istirahatlah di dalam,”” ajak nenek yang tak kukenal itu, cemas.

Meski perut masih terasa seperti diaduk-aduk, aku mencoba bangkit mengikuti langkah nenek yang sesekali terbatuk-batuk. Masuk ke rumah sederhana miliknya.

“”Tidurlah,”” ucap nenek itu mempersilakan ranjangnya untuk aku tempati.

“”Terima kasih, Nek,”” jawabku.

Kuedarkan pandangan mengamati sekeliling. Berharap ada anak atau suami nenek ini yang keluar dari dalam. Tapi ternyata, selain satu set kursi tua usang, meja makan, dua lemari besar dan kecil, serta ranjang tidur yang semuanya serba usang, tak ada tanda-tanda anggota keluarga lainnya.

“”Nenek tinggal sendiri?”” Aku memberanikan diri bertanya.

“”Iya, Mei. Kecuali kalau kamu mau menemaniku di sini,”” candanya dengan diiringi tawanya yang renyah.

“”Nenek bisa saja,”” pungkasku.

“”Aku tidak bercanda, Mei. Aku hidup sebatang kara. Suamiku meninggal, saat terjadi perampokan di rumah kami, lima belas tahun lalu. Aku juga tak memiliki anak,”” tuturnya dengan wajah sedih. “”Kulihat kamu sedang dalam kesusahan. Kalau kamu mau, tinggallah untuk beberapa hari di sini,”” ucap nenek itu sambil menyodorkan piring yang dibawanya dari pojok ruangan.

“”Kamu pernah mencoba makanan ini?”” tanya nenek yang mengenalkan diri dengan sebutan Nenek Tsai.

Aku menggelengkan kepala.

“”Ini kue buatanku. Kue yang selalu mengingatkanku pada sosok lelaki pemberani. Dia adalah suamiku. Orang pribumi menyebutnya ang ku kue. Cobalah!”” ucapnya. Lima bungkus kue berbentuk kura-kura yang tersaji manis di atas piring panjang, membuat air liurku hampir menetes.

“”Makanlah. Jangan malu. Membuat kue-kue ini adalah rutinitasku tiap hari. Kamu boleh membantuku besok, kalau kamu mau,”” ujarnya.

“”Benarkah? Terima kasih, Nek. Aku pasti akan membalas kebaikanmu,”” jawabku. Aku perlahan bangkit dari ranjang milik nenek baik hati itu.

Ketulusan ucapan Nenek Tsai memberi harapan baru padaku. Antusiasnya dalam menyambutku, penerimaannya tanpa memandang siapa aku, membuatku tak kuasa menahan haru.

“”Sudah, sudah, makanlah dulu! Aku rasa sakitmu itu karena perutmu kosong,”” imbuhnya ketika melihat air mataku hampir meluruh jatuh.

Segera kulahap makanan itu dengan berurai air mata. Kusadari, cinta dunia maya telah membutakan hatiku hingga sengsara. Lupa akan tujuan awal, mencari uang untuk anak dan keluarga. Nenek Tsai lah malaikat yang telah menyelamatku dari kelaparan di perantauan. Kebaikannya, akan selamanya terpatri di hati sanubari. Dia benar, semenjak aku melarikan diri dari lelaki pengidap satyriasis beberapa hari lalu, tak ada makanan yang masuk ke perutku.

“”Asal nenek mau memberiku makan dan tempat tinggal, aku mau bekerja apa saja, Nek,”” janjiku dengan mulut masih dipenuhi makanan. Mengundang tawa nenek itu berderai-derai.

“”Pelan-pelan saja makannya, Mei,”” ucapnya sambil mengelus pundakku sepenuh kasih.

“”Aku bisa memasak, menyapu, beres-beres rumah, dan bercocok-tanam,”” imbuhku meyakinkan.

Nenek itu hanya manggut-manggut mengiyakan. Entah setuju atau ragu?

Maka tanpa diminta, cerita tentang pertemuanku dengan lelaki yang kukenal di jejaring sosial, yang membuatku mempercayai kata-kata manisnya agar kabur dari majikan, meluncur bak air yang menemukan salurannya. Melepaskan beban yang menyumbat dada.

Nenek Tsai menepuk-nepuk pundakku simpati.

***

Seminggu sudah aku tinggal bersama Nenek Tsai yang baik. Beliau berjanji akan menutup rahasiaku, asal aku segera mengumpulkan uang untuk bekal pulang. Ya, dengan membantunya mencetak ang ku kue setiap harinya. Beliau berjanji akan menggajiku dengan layak.

***

Jam 04.00 dini hari aku terbangun. Suara thok thok dari belakang membuatku penasaran untuk bangkit dari ranjang, tempat aku merebahkan diri sore tadi.

“”Maaf mengganggu tidurmu,”” ujar Nenek Tsai begitu menyadari kehadiranku.

“”Nggak apa-apa, Nek. Mulai sekarang aku harus membiasakan bangun pagi,”” ucapku tersipu.

Dua jam telah berlalu, adonan ketan dan bola-bola kacang merah, disulap menjadi kue matang yang masih mengepulkan asapnya. Siap disantap.

“”Disinilah seni membuat kue ini, Mei,”” tuturnya mulai  memperkenalkan proses pembuatan kue unik itu.

“”Kamu belum dinyatakan lulus membuat ang ku kue, apabila saat memukulkan alat ini, kuenya tidak menggelembung dan tidak terdengar bunyi thok,”” katanya lagi. “”Perlu diingat juga! Tidak boleh sampai pecah,”” jelasnya semakin bersemangat. Ditunjukannya sebuah alat mirip stempel besar bermotif kura-kura di tangannya.

“”Tidak mudah ya, Nek,”” ucapku mengakui kelihaian nenek tua itu.

“”Ya, makanya rajin-rajinlah mempraktekannya,”” katanya.

Tawa kami pun berderai.

***

Brem! Brem!

Suara mobil berhenti di pekarangan rumah, mengalihkan perhatian Nenek Tsai dari kue-kue kesayangannya. Bergegas ia menuju pintu, membukanya.

Kulihat seorang lelaki  berperawakan tegap, masuk dengan keranjang kayu di pundaknya. Aku terka umurnya terpaut satu dua tahun saja di atasku.

“”Ini Abun. Dia yang akan menjualkan kue-kue ini ke pasar-pasar di sekitar daerah Pegunungan Tatu ini,”” jelas Nenek Tsai memperkenalkan.

“”Hai, Abun ini Meimei. Eh, siapa namamu? Bolehkah aku memanggil dengan sebutan Amei saja?”” tanya nenek tua itu, baru tersadar belum menanyaiku nama.

Aku mengangguk sopan.

“”Asal kamu mana?”” tanya lelaki itu dengan tatapan menyelidik.

“”Indonesia,”” jawabku. Sengaja kutundukkan muka agar tidak tampak grogi.

“”Oh,”” jawabnya tetap dengan ekspresinya yang meremehkan.

Dihampirinya Nenek Tsai yang sudah kembali bergelut dengan kue-kue olahannya. Perdebatan kecil pun kudengar samar, karena mereka seperti sengaja mengecilkan suaranya.

Aku hanya bisa memasrahkan semuanya pada skenario Tuhan. Waktu memang tak bisa lagi kuputar mundur untuk menyesali apa yang telah terjadi.

Ah, andai masih ada kesempatanku sedikit saja untuk membalas kebaikan nenek itu. Tuhan! Aku ingin berbuat kebaikan, Jerit batinku.

“”Kamu beruntung bertemu dengannya. Baik-baik kerja.””

Tepukan seseorang di pundakku, membuatku tersadar dari lamunan. Kulihat sesungging senyum yang tadi tak kutemui dari lelaki itu.

“”Terima kasih, Xian Sheng. Telah memberiku kesempatan,”” ucapku penuh haru. Kubungkukkan badan 90°, lama. Ucapan terima kasih tak terhinggaku telah memberi kesempatan kedua untuk menghirup udara kebebasan. Entah apa pun hubungan ia dengan nenek penolongku. Aku tetap akan menghormatinya.

Semenjak hari itu, kami bertiga bahu-membahu mencetak kue dimulai dari dini hari.

***

Pada suatu malam di musim dingin.

Nenek yang tidur di sebelahku, terbatuk-batuk hebat. Segala cara telah aku usahakan agar membuatnya nyaman. Tetap tidak berhasil. Imbasnya, darah segar menyembur dari mulutnya.

Aku kalap. Entah pada siapa dan kemana aku meminta pertolongan. Hanya nenek dan lelaki itu yang kukenal. Ya, Abun Xian Sheng. Segera kutelepon nomor yang tertulis pada papan tulis usang, tempat biasa nenek menuliskan catatan kuenya yang laku terjual.

“”Kamu tetap kerjakan tugas seperti biasa. Aku akan secepatnya kembali setelah nenek mendapat pertolongan. Kita tidak boleh berhenti membuat ang ku kue. Nenek pasti akan marah sekali,”” perintah lelaki yang belakangan kuketahui juga sebatang kara itu.

“”Hao,”” jawabku singkat.

Raungan ambulans membawa tubuh lemah nenek menjauh, seiring kurasakan ada sesuatu yang terlepas di kakiku. Aku seperti kehilangan pegangan, badanku terkulai lemas di pelataran rumah sederhana yang sudah lima bulan kutempati. Memikirkan hidupku akan terlunta-lunta kembali tanpa nenek berhati malaikat itu, hatiku teriris pilu.

“”Ya, Tuhan. Selamatkan Nenek Tsai,”” doaku.

***

Tiga minggu sudah nenek dirawat di ruang MICU. Kami hanya diperbolehkan menjenguk jam 2.00 – 2.30 sore dan jam 7.00 – 7.30 malam setiap harinya. Sesekali, Abun Xian Sheng mengajakku menjenguk nenek, meskipun harus sembunyi-sembunyi.

Belum diketahui jelas apa penyakit nenek. Tetapi, dari gejala yang terlihat. Kemungkinan nenek terkena Tuberculosis. Begitu yang diceritakan Abun Xian Sheng padaku.

Di hari ke 26, nenek sudah diizinkan pulang.

“”Setiap pagi, akan ada suster yang mengantarkan obat untuk nenek. Kamu cukup memberikan ini padanya, sebagai bukti bahwa nenek meminum obatnya setiap hari. Ingat ya, Mei. Harus dipastikan obatnya benar-benar diminum. Karena kalau tidak, penyakit nenek tidak akan bisa disembuhkan,”” pesan Abun sambil memberikan in cang bertuliskan nama nenek padaku.

“”Meminum obat ini akan menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Jadi, kamu bantu nenek mengoleskan Vaseline untuk meredakannya. Jangan biarkan nenek menggaruknya. Karena gatalnya akan semakin menjadi dan parah. Dikhawatirkan akan infeksi,”” terang suster panjang lebar sebelum pamit pergi.

“”Baik, Suster.”” Aku mengangguk-angguk mengerti.

Semenjak didiagnosis TBC oleh dokter, nenek memintaku untuk mengolah ang ku kue sendiri. Dia juga membelikanku masker wajah untuk digunakan setiap hari, dan kamar khusus untuk aku tempati.

“”Kamu masih muda, Mei. Tidak boleh tertular penyakitku. Masa depanmu masih panjang,”” katanya bijak. Ah, nenek ini selalu saja membuat terharu.

Aku seringkali melihatnya merekatkan geraham, menahan gatal. Tapi, nenek benar-benar mengikuti anjuran dokter, meminum secara rutin selama 6 – 9 bulan obat yang diantarkan suster setiap harinya. Meski semakin hari, kulitnya semakin terlihat menjijikan.

Puncak musim dingin mengirimkan gigilnya yang menusuk sampai ke tulang. Di jejaring sosial milikku, bertebaran informasi tentang rajia besar-besaran yang digelar kepolisian Taiwan dalam rangka pemutihan. Kesehatan Nenek Tsai tak juga membaik meski obatnya sudah dikonsumsi separuh dari waktu yang ditentukan.

“”Ada infeksi jaringan yang serius atau Necrotizing Fasciitis. Kemungkinan nenek terkena penyakit tidak menular berbahaya. Selulitis,”” ucap Abun pelan supaya tidak didengar nenek, saat mengambil kue pesanannya.

“”Oh iya, ini untukmu barangkali diperlukan,”” katanya sambil menyerahkan tas ransel  berukuran sedang. “”Berhati-hatilah, setiap mendekati pergantian tahun. Polisi menggelar rajia untuk menjaring TKA Ilegal,”” beritahunya. “”Polisi sektor Qhingzhui pun rutin mengunjungi nenek setiap tahun, terkait perampokan yang terjadi puluhan tahun silam di rumah ini,”” ucapnya, membuat peluh membanjiri tubuhku seketika. Meskipun aku sedikit tersinggung dengan caranya yang seolah mengusirku. Tapi, Abun memang benar. Aku tidak boleh egois dengan tetap tinggal di sini. Nenek sudah semakin renta.

Tapi bagaimana dengan kondisi Nenek?

Abun pergi setelah pesanannya selesai dikemas. Hari sudah menjelang pagi. Bulan separuh malam tadi, berganti dengan matahari yang mulai menyembul malu-malu.

Aku baru menyelesaikan mencuci kain lap saat Nenek Tsai menghampiriku.

“”Amei, ini uang hasil jerih payahmu,”” ucapnya sambil memberikan sebuah bungkusan.

Aku menerimanya dengan tangan gemetar.

“”Apa ini, Nek?”” tanyaku takut-takut.

“”Ada seratus ribu dollar hasil kerjamu selama setahun. Pulanglah ke keluargamu, ke negaramu. Menyerahlah, agar polisi meringankan proses kepulanganmu,”” ucapnya. Ada yang menghangat di mataku, saat kulihat segepok uang ribuan di genggamanku. Di depanku, wajah tua nenek semakin keriput saat memperlihatkan kecemasannya.

“”Aku mendengar pembicaraanmu dengan Abun,”” sambungnya.

“”Ya, Nek. Aku tidak boleh egois. Terjaring di rumah ini sama dengan menambah masalah bagimu. Aku tidak mau itu terjadi, Nek. Aku sayang Nenek.””

Kudekap wanita yang kudisannya mulai mengelupas, tanpa rasa jijik.

“”Pergilah! Jangan tunda-tunda lagi, karena sebentar lagi polisi akan datang,”” perintahnya sambil merenggangkan dekapanku.

Aku tak sanggup menatap mata teduhnya yang nampak semakin cekung. Tapi, pilihanku cuma satu. Pergi!

Segera kukemasi beberapa helai pakaian pada sebuah tas ransel yang dibelikan Abun. Dengan menyelinap dari pintu belakang, aku berjalan menyusuri kebun talas yang mengantarku ke jalan besar.

Aku berbalik menatap jalan setapak penghubung rumah Ang Ku Kue Ama, dengan jalan besar yang akan membawaku pulang ke pertiwi, ketika sebuah suara mengagetkanku.

“”Ikut kami ke Kantor.””

Shalu, 23-04-2015
– Meimei: Adik perempuan.
– Satyriasis: Sebutan Hiperseks yang diderita kaum lelaki.
– Selulitis: Suatu kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, nyeri tekan, dan sakit pada kulit dikarenakan peradangan pada jaringan ikut kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
– Netrotizing Fasciitis (infeksi jaringan yang serius)


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 紅龜粿阿嬤 ANG KU KUE AMA

👤 Irnelya Sari

 

我到了一間很簡陋又偏僻的院落,左右兩旁都種著龍眼樹。類似芋頭的根莖類植物均勻地覆蓋整個相當大的院子。

我如釋重負地緩緩吐了一口氣。為躲避某人而感到疲累,讓我的頭昏昏。然後……

碰!

*****

「妹妹,起來!不要讓我擔心,好嗎?」
一個越來越清晰可聞的聲音,有人正在搖晃我的肩膀。

「我在那裡?」我環顧四周地問。
「在我家。」一位老奶奶回答。我猜她年紀差不多七十幾歲。
我試著起來,但感覺肚子打結,動彈不得。

「唉唷!痛!」我呻吟著,用手臂剩餘的力氣按住。
「妹妹,妳的臉色鐵青,我扶妳進去裡面休息。」我不認識的老奶奶邀請我,面露擔心。

雖然肚子感覺像被攪拌,我試著努力站起來,跟在偶而會咳嗽的阿嬤腳步後,進到她簡陋的家。

「睡吧。」老奶奶把她床讓給我。
「謝謝妳,阿嬤。」我回答。

我觀察了周圍,希望能看到她的小孩或老公從裡面走出來。但除了一套舊椅子、飯桌、一大一小兩個衣櫥和睡覺的床,全部都很舊的傢俱以外,沒有其他成員的跡象。

「阿嬤,妳一個人住這裡嗎?」我鼓起勇氣問。
「對啊,妹妹。除非妳想要陪我住在這裡。」她開玩笑地說。
「阿嬤真是的。」我回答她。
「我沒有開玩笑,妹妹。我一個人獨自生活。十五年前我們家被搶劫時發生意外,我老公去世了,我也沒有孩子。」她帶著悲傷的臉說:「我看到妳遇到困難,如果妳願意,可以在這裡住幾天。」老奶奶從屋子角落拿盤子給我ㄧ邊說。

「妳有吃過這個食物嗎?」老奶奶自稱是蔡阿嬤,然後問我。我搖搖頭。
「這是我做的粿,這個粿讓我想起我勇敢的老公。在地人把它取名紅龜粿,吃看看吧!」她說。五個烏龜外型的粿裝在盤子上,讓我口水快要流出來。

「吃吧,不要客氣,做這個粿是我每日的活動。如果妳願意,明天可以幫我。」她說。

「真的嗎?謝謝阿嬤,我一定會報答妳的好意。」我回答。慢慢地從好心阿嬤的床上下來。
阿嬤的誠意帶給我新希望。她不管我是誰就熱情地接待我,讓我好感動。

「好了,好了,先吃飯!我覺得妳肚子痛是因為肚子餓。」當她看到我眼淚快流下,她補充說。

我淚流滿面地吃下那個食物。我知道,是虛擬世界的愛情蒙蔽了我的心,造成我如今的痛苦,忘記來台灣的初衷,是為了賺錢給我的家人與小孩。蔡阿嬤是我在異鄉的天使,救我遠離饑餓,她的善良會永遠銘刻在我心裡。阿嬤說的沒錯,自從前幾天離開了色男,完全沒有食物進我肚子裡。

「只要阿嬤給我飯吃與住所,我做什麼都可以,阿嬤。」嘴裡塞滿著食物,我對她承諾地說,引起老奶奶的笑聲。

「慢慢吃吧,妹妹。」她ㄧ邊說,ㄧ邊充滿慈愛地拍我肩膀。
「我可以煮飯、掃地、整理房子以及耕作。」我加強說服。

老奶奶愉快地點點頭,不知道是代表同意或遲疑?

即便沒有被要求告知整個來龍去脈,我還是跟阿嬤說起我跟社群網站上認識的陌生男人見面的事情。他騙我相信他的話,要我從雇主家逃跑。我就像桶子裡的水找到了水管,卸下了心裡的包袱,滔滔說著我的故事。蔡阿嬤拍拍我的肩膀表示同情。

*****

我與好心的蔡阿嬤住一起已經一個星期了。她答應會幫我保密,只要我能盡快賺到回鄉的錢。是的,於是我就每天幫她印紅龜粿,她也答應付給我合理的薪資。

*****

凌晨四點我驚醒,後面的腳步聲讓我好奇地從我下午躺的床下來。

「對不起,吵到妳睡覺了。」蔡奶奶說著,當她發現我出現的時候。
「沒關係,阿嬤。從今天起我必須習慣早起。」我紅著臉害羞地說。

兩個鐘頭過後,糯米團以及紅豆球,變成冒著煙,香噴噴的粿,可立刻享用。

「這就是做這個粿的技術,妹妹。」她開始介紹做粿的過程。
「妳做粿還不及格,當妳敲這個模子,粿不能有泡,也不能有聲音。」她接著說。「尤其要記得!不能破掉。」她越說越興奮,指著手上像烏龜圖案的大模子。

「不容易呀,阿嬤。」我稱讚老奶奶的手藝。
「沒錯,所以要勤練」她說。
我們兩個燦爛地笑了。

*****

噗嚕嚕,噗嚕嚕。
汽車聲音停在院子,讓蔡阿嬤從她的粿上頭轉移了注意力,她立刻走到門口,打開門。

我看見一個壯碩的男子,背著木頭做的籃子走進來,我猜他比我大一兩歲。

「這位是阿文,他會在大肚山地區的市場幫我販賣這些粿。」蔡阿嬤介紹。
「嗨,阿文,這是妹妹,欸,妳叫什麼名字?我可以叫你阿妹嗎?」老奶奶突然想到她還沒有問過我的名字。

我禮貌地點頭。

「妳從哪裡來?」那個男生露出試探的神情問。
「印尼。」我回他。故意把頭低下,以免被看得出緊張的臉。
「喔。」他輕描淡寫地回答。

接著,他走近火爐旁的蔡阿嬤。隱約中我聽見小爭吵,因為他們故意放輕他們的音量。

我只能把一切交給老天爺安排。時間無法轉回,我無法去後悔已經發生的事情。唉,天神,如果我還有機會報答阿嬤,我會好好地做,我在心裡吶喊。

「妳很幸運碰到她,妳要好好做事。」有人拍拍我肩膀,讓出神的我嚇了一跳。我看見那男生臉上的笑容。

「謝謝你,先生。謝謝給我這個機會。」我感動地說。彎了九十度的腰,很久很久,表達我的感謝,給我第二次呼吸自由空氣的機會。無論他與我的救命恩人是什麼關係。我依然尊重。

從那天起,我們三個人肩並肩,從凌晨開始一起做紅龜粿。

*****

冬天的某個晚上。

睡在我旁邊的阿嬤,咳得很嚴重。我使用任何方法盡量讓她覺得舒服,但都沒有效。結果,鮮血從她嘴裡湧出來。 

我緊張得快瘋了,不知要跟誰求救。我也只認識阿嬤與那個男生。對,阿文先生。我照黑板上寫的電話號碼,立刻打電話給他,那黑板通常是阿嬤用來記錄賣掉的粿。

「妳還是照常做妳的工作。阿嬤送醫後,我很快就會回來。我們不能停止做紅龜粿,不然阿嬤一定會很生氣。」他命令我。後來我才知道那個男生也是孤獨的一個人。
「好。」我簡單的回他。

救護車的鳴笛載走阿嬤虛弱的身體,在那一剎那我感覺有東西讓我的雙腿軟掉。我失去方向了,我的身體無力地癱坐在我住了五個月的房子裡,想想我的命運將再度擱淺,沒有了像天使的阿嬤,我心如刀割,感到惆悵。

「老天爺啊,請你救救蔡阿嬤。」我禱告著。

*****

阿嬤住進加護病房已經三個星期了。每天的探訪時間只有下午兩點到兩點半,以及晚上的七點到七點半。偶而阿文先生會帶我去探視阿嬤,雖然要偷偷摸摸的。

還沒查出阿嬤生了什麼病,但從症狀來看,阿嬤可能得了肺結核,阿文先生對我說阿嬤的情況。

第二十六天,阿嬤被允許回家。

「每天早上,會有護士送藥過來。妳只要給她這個,證明阿嬤每天都有吃藥。記得喔!妹,一定要確認阿嬤都有吃下這些藥。如果沒有,阿嬤的病會再犯的。」阿文ㄧ邊交代,ㄧ邊給我一個刻上阿嬤名字的印章。

「吃這個藥會引起皮膚癢,所以妳要幫阿嬤擦凡士林來止癢。然後不要讓阿嬤去抓,因為癢的程度會越來越嚴重,怕會感染、發炎。」護士臨走之前說。
「好的,姊姊。」我點頭表示明白了。

自從被醫生診斷肺結核後,阿嬤讓我自己做紅龜粿。她還買了口罩,讓我每天都戴,以及給我一個單獨的房間。

「你還年輕,妹。不能被我傳染了,妳未來的路還很長。」她明智地說。啊,阿嬤總是讓我好感動。

我時常看到她咬緊牙齒,忍住癢。但阿嬤真的有聽進醫生的囑咐,需要定期吃長達六至九個月的藥,她每天都有按時服用,護士也每天都會送藥到家裡來。雖然她的皮膚看起來越來越噁心。

嚴冬時期寒風刺骨。在我的社群帳號,到處看得到警察正在加強臨檢的訊息。阿嬤的病況也沒有比較好,雖然藥已經吃了過半的時間。

「肌肉裡面嚴重發炎,阿嬤可能得到危險的非傳染性疾病—蜂窩性組織炎。」阿文到家裡拿粿時小聲地對我說,不讓阿嬤聽到。

「對了,這個給妳,可能妳會用到。」他拿了中型的包包給我說。
「要小心,年關快到了,每到這時節警察都會臨檢非法外勞。」他說。

「清水區的警察這時也都會定期探訪阿嬤,這涉及到十幾年前這家發生的搶劫案。」他的話瞬間讓我全身冒汗。雖然他的方式讓我有點不太高興,感覺好像在趕我走。但阿文說得沒錯,我不能自私地繼續待在這裡,阿嬤已經越來越衰弱了。

但阿嬤的情況怎麼辦?

阿文整理完他的訂單後離開。天快要亮了,晚間的半個月亮已經輪替成太陽羞澀地偷看。

蔡阿嬤靠近我時,我剛洗完抹布。

「阿妹,這是你的辛苦錢。」她遞給我一包東西。
我顫抖著手,收了下來。

「阿嬤,這是什麼?」我怯怯地問她。
「這裡面有妳一年的工資十萬塊錢台幣。妳回你的國家跟妳家人重聚。自首吧,警察會從寬處理的。」阿嬤說。我的眼睛感覺熱熱的,當我看著手上的一疊千元鈔。在我前面,擔心的阿嬤,她的臉看起來更皺了。

「我聽見你與阿文的對話。」她接著說。
「對,阿嬤,我不能那麼自私。在這個家裡被抓的話,會增加阿嬤的困擾。我不希望發生這樣的事情發生。我愛阿嬤。」
我抱著皮膚已經潰爛的這位女性的身體,一點都不感覺噁心。

「走吧!不要再拖延了,不久警察就要來了。」她鬆開我的懷抱,命令我。
我無法直視她越來越凹陷的眼睛,我的選擇只有一個。離開!

我立刻整理幾件衣服裝進阿文買給我的包包裡。從後門偷偷地走,我穿過芋頭園,轉到大馬路上。我回頭,看著通往紅龜粿阿嬤家的路,與另一條將帶我回祖國的大馬路,一個聲音突然把我嚇了一跳。

「跟我們一起去警察局。」

台中沙鹿,2015/4/23