Kisah Para Pengantin

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Kisah Para Pengantin
👤 Loso Abdi

Musim dingin 2016, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di大雪山 di District Dongshi. Bus kecil yang kunaiki dari Stasiun Dongshi penuh sesak. Beberapa orang, termasuk aku tak mendapat tempat duduk. Sebenarnya aku datang paling awal, mendapat antrian paling depan, tapi ternyata hampir seluruh penumpang bus hari itu adalah para lansia, maka aku harus memberikan tempat duduk bagi mereka.
Aku memakan nasi kepal berisi sayur kering dan telur dadar serta abon ikan yang kubeli di depan Stasiun, ketika bus mulai berjalan meninggalkan kota Dongshi. Teh panas yang kubawa dari asrama, cukup bisa mengusir hawa dingin yang memenuhi bus.

Meninggalkan kota, jalur bus semakin menanjak. Kanan kiri jalan seluruhnya berupa lembah-lembah dengan tanaman buah jeruk, kiwi dan anggur. Pemandangan yang tak pernah kutemui di kampungku. Mataku enggan berkedip, takut terlewatkan pemandangan indah itu.
Perempuan tua yang kuberi tempat duduk, yang kutaksir usianya sekitar 65 tahunan, menyentuh bahuku, menawariku kembang gula.
“Ambillah! Kamu mau kemana? Mau naik gunung juga?” suaranya renyah.
“Terima kasih, Bibi,” aku tersenyum lebar. “Iya, saya akan naik gunung, apakah Bibi juga akan naik gunung?” lanjutku balas bertanya.
“Iya, kami juga akan naik gunung, kalau begitu nanti kamu ikut dengan kami saja, biar tidak tersesat.” Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

***
Kami segera menyusuri jalur pendakian begitu bus sampai di pemberhentian terakhir. Aku mengikuti rombongan perempuan yang memberiku kembang gula, mereka bertujuh.
“Panggil aku Bibi Lin. Kami hampir setiap bulan mendaki di sini.” Perempuan yang masih sehat dan kuat di usianya yang tak lagi muda itu memperkenalkan diri.
“Kamu orang Filipina, ya?” Bibi Lin mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Saya orang Indonesia, Bibi. Nama saya Adi.” Aku tertawa kecil, orang Taiwan memang susah membedakan kami, apakah berasal dari Indonesia, Thailand atau Filipina.

Aku terus berjalan mengikuti rombongan kecil itu, mendaki jalan menanjak yang licin, sisa hujan semalam membuat akar-akar pohon yang menjadi lintasan mendaki menjadi basah.
Bibi Lin dan rombongan benar-benar lansia yang tangguh, bagaimana tidak, sudah satu jam lebih mendaki mereka tidak berhenti untuk istirahat. Sedangkan aku sudah hampir tak sanggup berjalan. Tapi demi gengsiku, aku terus mengimbangi mereka. Aku tak mau mereka mengataiku sebagai anak muda yang tidak bertenaga. Aku bisa malu!

Akhirnya rombongan kecil kami berhenti, di tempat yang lumayan lapang. Rupanya tempat ini merupakan titik istirahat bagi para pendaki.
Mereka duduk melingkar di atas batu yang telah disusun sebegitu rupa. Satu persatu dari mereka mengeluarkan bekal. Seorang laki-laki yang usianya tak terpaut jauh dari Bibi Lin mengeluarkan peralatan memasak. Tungku dan panci kecil. Bibi Lin mengeluarkan sawi yang sudah dia potong dan cuci dari dalam ranselnya, seorang lagi mengeluarkan bungkusan mie instan. Perempuan yang agak sedikit muda dari Bibi Lin mengeluar air mineral untuk memasak mie.
Gerimis turun, tepat ketika rombongan selesai memasak mie, buru-buru kami semua mengenakan jas hujan.
Bibi Lin memanggilku mendekat, memberikan semangkuk kecil mie, yang dengan rasa tidak enak hati kuterima. Aku merasa merepotkan Bibi Lin dan teman-temannya.

“Aku juga bukan orang Taiwan. Aku datang dari Vietnam.” Ujar Bibi Lin sembari menyumpit mie. Aku menatapnya, mengamati wajah keriputnya.
Asap dan aroma dari kuah mie memenuhi tanah lapang tempat kami beristirahat. Kicau burung tiba-tiba terdengar bersahutan, sepertinya mereka terbangun dari tidur karena aroma mie kami.

“Aku datang ke Taiwan lebih dari 30 tahun yang lalu. Aku datang menikah, suamiku seorang duda dengan satu anak, umurnya hampir 50 tahun.”
Aku mencuri pandang, melirik bola mata Bibi Lin yang tak jernih lagi. Bola mata yang sepertinya menyimpan banyak kisah.
“Awalnya, tak mudah bagiku untuk hidup di sini. Banyak kejadian yang menimpaku.” Perempuan itu terus bercerita. Suaranya terdengar begitu tegar dan kuat, tapi tatapan matanya tidak. Mata tua itu begitu sayu setiap kali ia berbicara. Mata tua itu begitu rapuh.

“Anak Bibi ada berapa?” tanyaku sambil membersihkan mangkuk bekas tempat mie.
“Hanya 1, anak dari suamiku. Aku sendiri tidak punya anak. Karena hal itu jugalah kehidupanku waktu itu semakin susah.” Kali ini suara Bibi Lin terdengar agak serak.

“Ayo jalan lagi, sudah cukup istirahatnya!” Paman Hong, lelaki yang tadi bertugas memasak mie memberikan aba-aba agar kami segera melanjutkan perjalanan.
Gerimis belum reda. Suara burung yang sebentar tadi riuh sudah tak terdengar lagi. kami mulai bergerak, menembus belukar yang basah.
“Maafkan saya, Bibi, saya tak bermaksud membuat Bibi sedih.” Aku merasa tidak enak karena pertanyaanku sepertinya membuat Bibi Lin tidak nyaman.
“Tidak apa. Aku senang jika ada yang mendengarkanku. Rasanya, beban yang kubawa bisa sedikit berkurang.” Aku memerhatikan kaki Bibi Lin yang mantap saat melangkah.
“Waktu itu, memberikan pewaris keluarga atau anak laki-laki, adalah kewajiban bagi kami, para istri. Banyak tekanan bagiku, termasuk dari suamiku sendiri. Apalagi setelah bertahun-tahun menikah tapi tak ada tanda-tanda aku akan punya anak. Pada saat itu, aku tak ada artinya sama sekali di mata keluarga.” Perempuan itu berhenti sejenak, mengambil napas panjang kemudian menghembuskan pelan-pelan.
“Tapi, semua sudah berlalu. Aku telah keluar sebagai pemenang. Aku mampu melewati semuanya, meskipun dengan perjuangan yang berdarah-darah. Lihat, wanita tua ini sekarang selalu tersenyum, menikmati kebahagian yang ia perjuangkan selama puluhan tahun.” Perempuan itu menoleh ke belakang, tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya. Setelahnya, aku merasa menjadi sangat kecil dan bukan siapa-siapa. Membandingkan diriku dengan Bibi Lin, sungguh aku bagai butiran pasir di tengah tengah gurun.

Selanjutnya, Bibi Lin tak lagi banyak berbicara. Berganti dengan bersenandung merdu dalam bahasa ibu. Senandung yang tak kupaham artinya, namun aku merasakan jiwa dan kesedihannya.
Kami berjalan menyusuri jalur 大雪山 dalam gerimis.
Di sisa pendakian yang hening aku terus berbicara dengan Si Musim Semi, diiringi kidung dari Bibi Lin sepanjang sisa pendakian. Hanya aku dan Si musim Semi.

***

”Adi, kita sudah sampai. Kamu bisa berkeliling, masih banyak tempat yang kamu bisa lihat. Tapi ingat, pukul dua kamu sudah harus kembali di sini, jangan terlambat!” Seru Bibi Lin begitu kami sampai di meeting point. Aku mengangguk sebelum kemudian memisahkan diri dengan rombongannya.

Ada beberapa tempat menarik di atas gunung ini, tapi aku memutuskan untuk berjalan mengikuti orang-orang saja, karena aku tak tahu harus menuju tempat yang mana.
Dari jauh kulihat Bibi Lin melambaikan tangannya, aku membalasnya dengan semangat. Perempuan itu sungguh seorang yang kuat. Melihat dan berbicara dengannya, aku seperti tengah berbicara dengan Si Musim Semi. Alin Si Musim Semi, salah satu sahabat baikku, seperti halnya Bibi Lin, dia juga pengantin asing.

Si Musim Semi juga mempunyai cerita yang luar biasa, kisah yang membuatku kagum. Seorang perempuan yang datang dari tanah jauh, tanah Borneo. Datang dibawa oleh lelaki yang belum dikenalnya. Memulai kehidupan di Taiwan dari mimpi dan harapan.
Seorang perempuan yang mengajariku, bahwa dimana dan kapan pun kita bisa menuntut ilmu. Perempuan yang mengajariku, bahwa perjalanan hidup ini akan semakin sempurna ketika kita bisa saling berbagi.
Seorang perempuan yang mengatakan kepadaku, bahwa kesempatan itu hanya datang sekali namun kesempatan baik itu akan datang berkali-kali. Maka ketika kamu terlewat satu kesempatan yakinlah akan ada kesempatan lain yang datang.

Alin Si Musim Semi, perempuan yang pertama kali kujumpai di sebuah acara diskusi tentang sastra migrant. Yang cerita hidupnya masih kuingat dan kujadikan pelajaran. Yang setiap kali aku berbicara dengan pengantin asing, maka kisah dan ceritanya yang kemudian akan memenuhi kepalaku.
Seperti sepanjang perjalananku tadi, dalam senandung Bibi Lin, kisah hidup Si Musim Semi otomatis terputar ulang di memoriku. Kisah yang membuka mataku, bahwa ternyata kisah para pengantin asing di Taiwan itu tidak mudah. Ada banyak perjuangan untuk mencapai kebahagiaan.

***
Musim Semi

Aku dibawa pulang ke Taiwan di hari kedua imlek, tahun 2001. Suami yang kunikahi tanpa aku mengenal sebelumnya. Laki-laki yang umurnya 2 kali dari umurku, datang dibawa oleh perantara jodoh di kampungku.
Hingga 2 hari setelah lelaki itu melamarku, aku masih belum mengenalnya. Kami tak berbicara apapun, semua diurus oleh perantara. Lagi pula aku tak bisa bahasa mandarin sama sekali, sehari-hari aku dan keluargaku berbicara menggunakan bahasa hakka.
Aku hanya gadis kampung lulusan SMP, baru berumur 18 tahun. Belum banyak yang kutahu mengenai dunia dan kehidupan ini. Sebelumnya, yang kutahu hanya sekolah dan membantu papa di ladang. Papa dan mamak menanam lada dan juga cabai untuk menghidupi kami, 6 bersaudara.
Oya, namaku Alin. Tapi aku lebih suka memanggil diriku sendiri sebagai Si Musim Semi. Alin Si Musim Semi. Entah mengapa, aku suka sekali dengan musim semi, bagiku musim semi adalah musim yang paling indah. Udara yang hangat dan bunga-bunga yang bermekaran. Musim semi itu cantik dan lembut, namun ia begitu kuat dan tegar menghadapi musim dingin dan musim panas.
Aku adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Aku datang dari keluarga yang hanya mengandalkan musim untuk bercocok tanam. Tak ada mainan atau piknik pada masa kecilku. Bisa bersekolah hingga SMP saja sudah merupakan kebanggaan bagiku. Diajak makan bubur oleh papa di Singkawang adalah satu-satunya kesenangan yang kuingat ketika aku kecil.
Aku berasal dari Sambas, Kalimantan Barat, dari sebuah kampung yang begitu damai dan tentram. Kampung yang bau anginnya tak bisa kulupa hingga hari ini. Kampung dengan sungai-sungainya yang jernih yang selalu hadir dalam mimpiku.

Semenjak kelas 3 SMP, aku sudah berpikir, alangkah senangnya jika aku bisa menikah dengan orang Taiwan, seperti kebanyakan gadis di kampungku. Dengan menikah dan pergi ke Taiwan pasti aku akan bisa membantu keluarga.
Aku membicarakan tentang perjodohan itu dengan Mamak, begitu aku selesai mengikuti ujian kelulusan sekolah. Meskipun itu sebenarnya jodoh yang aneh bagiku, karena perjodohan kami seperti bermain lotre. Perantara akan membawa para lelaki untuk memilih gadis yang cocok dengannya.
Sedangkan aku dan gadis-gadis yang lain hanya berhak menunggu, dan berharap-harap cemas. Menunggu sampai ada seorang lelaki yang akhirnya memilih kami.

Aku ingin seperti perempuan-perempuan di kampungku, yang menikah dan pergi ke Taiwan. Saat pulang, beberapa tahun sekali, keadaan mereka menjadi jauh lebih baik dan bahagia.
Aku berpikir, tak mungkin selamanya aku pergi ke ladang menanam cabai dan lada. Tak mungkin selamanya aku berteman dengan ulat dan cacing tanah. Aku harus bisa seperti yang lain. Mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Semenjak aku lulus sekolah, sudah 3 kali perantara datang ke rumahku, membawa lelaki yang ingin melihatku. Namun ketiga-tiganya bilang tidak cocok denganku. Aku memang tidak terlalu cantik, tubuhku juga tidak tinggi, aku juga belum pandai berdandan, wajar jika calon-calon pengantin itu tak memilihku.
Namun aku tetap percaya dan yakin jika jodoh itu telah disiapkan bagi masing-masing orang. Yang cantik mempunyai jodoh, yang hitam mempunyai jodoh, yang cerewet mempunyai jodoh, yang gemuk mempunyai jodoh. Karena itu, aku juga yakin bahwa suatu hari perantara itu akan datang membawa lelaki yang memang telah ditakdirkan untukku. Jodohku.

Sebulan tinggal bersama keluarga suamiku di Taiwan, aku masih menjadi orang asing. Aku sama sekali tak paham bahasa mereka.
Sesekali, ada tetangga jauh yang datang ke rumah. Tetangga yang berasal satu kampung denganku di Sambas, membantu kami untuk berbicara. Namun itu sangat tidak cukup.
Keadaan itu membuatku merasa sangat tertekan, aku mulai merindukan papa dan mamak, merindukan aroma daun-daun cabai dan lada. Merindukan aroma masakan mamak. Merindukan canda tawa dari adik-adikku. Merindukan bahu dan punggung papa yang bau keringat. Merindukan rumah kami yang nyaman dan damai.
Selain menangis, tak ada yang bisa kulakukan. Aku tak bisa pulang. Namun begitu, aku tak pernah menyesali keputusanku untuk datang ke Taiwan. Aku selalu menanamkan dalam diri, bahwa aku harus berjuang dan tidak boleh menjadi wanita yang lemah.

Semakin bulan, keadaanku bukannya membaik, tetapi malah semakin membuatku hampir putus asa. Menjadi semakin berat ketika aku hamil. Hampir 3 bulan lamanya aku tidak selera makan, muntah begitu perut diisi. Waktu itu berat badanku turun drastis.
Hanya papa dan mamak yang kuinginkan saat itu. Setiap hari rasanya ingin sekali makan masakan mamak. Ingin sekali makan bubur kesukaan kami di Singkawang.
Pernah aku mencoba mengatakan kepada suami, kalau aku sangat ingin makan bubur seperti yang biasa dibelikan oleh papa. Keesokan harinya, sepulang dari kerja suamiku membawakan aku bubur, namun bubur yang sama-sekali berbeda dari bubur yang biasa kumakan. Aku hanya menatap bubur itu, tak menyentuhnya sama-sekali. Yang ada, senyum dan tawa papa yang membayang di atas bubur, merayuku untuk memakan bubur itu. Senyum dan tawa papa yang kemudian hilang terkena tetesan air mataku.

Menjadi perempuan memang tidak mudah, apalagi jika tengah hamil. Sebagai seorang istri aku harus menyiapkan kebutuhan suami, juga mengurus rumah. Apalagi kami tinggal bersama dengan orangtua. Aku juga harus membantu keperluan papa dan mama mertua.
Saat itu aku benar-benar belum bisa mengurus rumah. Memasak aku belum pandai, membersihkan rumah aku belum pintar. Aku juga sering kebingungan dengan peralatan elektronik yang tak pernah kutemui sebelumnya di kampung.
Pernah aku dimarahi mama mertua karena dikira tidak mau membantunya mencuci baju, padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku tidak bisa menggunakan mesin pencuci baju.
Mama mertua memarahiku berhari-hari, melaporkan kepada anak-anaknya yang lain, yang kemudian datang ke rumah dan ikut memarahiku.
Aku hanya bisa diam, karena tidak tahu bagaimana caranya untuk mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham saja.
Hari demi hari aku lalui dengan air mata. Menahan perut yang semakin membesar, juga harus berusaha melakukan kewajiban sebagai istri dan anak menantu.
Kebahagian suami dan keluarga ketika mengetahui bahwa aku hamil hilang saat aku melahirkan. Aku melahirkan anak perempuan, keluarga tak begitu mengharapkan, mereka berharap aku melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Bayi laki-laki yang akan menjadi penerus keluarga.
Aku merasakan perlakuan tidak adil yang diberikan oleh keluarga suamiku. Mereka tidak suka aku melahirkan anak perempuan. Aku sangat sedih, rasanya ingin marah namun aku tak kuasa. Bagaimanapun juga aku tak bisa melahirkan anak seperti keinginan mereka begitu saja. aku tak bisa mengatur anak yang kukandung harus lahir sebagai bayi laki-laki atau perempuan.

Namun, dari kejadian itu aku akhirnya menemukan titik cerah untuk kehidupanku selanjutnya. Aku tak ingin kehidupanku, juga bayi perempuanku dianggap tak berguna. Aku sebagai perempuan tak ingin hanya dipandang sebelah mata. Hanya dilihat sebagai pihak yang tidak penting.
Dari semua kejadian dan tekanan yang kualami selama itu, penyebab utama adalah kesalah-pahaman. Karena pengetahuanku mengenai bahasa yang sangat kurang.
Setelah memikirkan beberapa hal, juga meminta ijin kepada suami, akhirnya aku mengikuti kelas bahasa yang khusus diadakan untuk pengantin asing.
Tiga kali seminggu, pada malam hari, aku mengikuti sekolah bahasa bersama-sama dengan pengantin asing dari berbagai tempat.

Satu tahun ikut sekolah bahasa, aku sudah tak ada kesulitan lagi dalam berkomunikasi dengan keluarga. Namun aku ingin lebih dari itu, aku terus melanjutkan sekolahku. Aku ingin bisa menguasai bahasa mandarin dengan baik.
Aku kembali melahirkan anak perempuan ketika usia anak pertamaku menginjak 3 tahun. Keluarga kembali kecewa dengan lahirnya bayi keduaku. Namun aku tak ingin bayiku merasakannya. Sebisa mungkin aku menciptakan suasana yang gembira untuk bayiku.
Sambil terus melakukan pekerjaan rumah, ditambah lagi menjaga papa dan mama mertua yang usianya semakin tua, aku masih terus ikut sekolah bahasa.
Aku kembali hamil ketika anak keduaku berumur 2 tahun. Kali ini, aku lebih sering berdoa, meminta kepada dewa agar anak yang kulahirkan nanti adalah bayi laki-laki. Setidaknya aku ingin melihat keluarga berbahagia, meskipun aku akan tetap menerima dengan senang hati apapun jenis kelamin bayi yang akan kulahirkan nanti.

Harapan dan keinginan keluarga terkabul, ketika sembilan bulan kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Begitu lahir, ia langsung menjadi kesayangan seluruh keluarga, namun aku tetap memperlakukan ketiga anakku dengan sama, tidak ada yang kubeda-bedakan.
Semenjak kelahiran anak laki-lakiku, aku merasakan perlakuan berbeda dari keluarga. Mereka menjadi lebih sabar terhadapku. Kehidupanku selanjutnya semakin baik, banyak hal baru kualami setelah itu.
Usaha yang kulakukan membuahkan hasil, aku lulus sekolah bahasa dengan hasil yang sangat baik, aku juga mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Sesuatu yang hanya akan tetap menjadi impian jika aku masih tetap di kampung. Aku mendapat kesempatan bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan bidang tata boga. Meskipun teman-teman sekolahku berumur jauh lebih muda dariku, aku tak pernah malu atau berkecil hati.

Lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, hatiku terketuk melihat keadaan para ABK Indonesia yang banyak mengalami masalah. Banyak dari ABK itu yang tidak berdokumen, kebanyakan dari mereka sama-sekali tidak mengerti bahasa.
Bersama dengan saudara yang terlebih dahulu bekerja di agensi untuk pekerja asing, aku ikut membantu menjadi penterjemah. Bukan sekedar uang yang menjadi tujuanku, melainkan aku ingin membantu saudara-saudaraku dalam menghadapi masalah.
Menghadapi mereka, aku seperti berkaca, melihat diriku sendiri saat baru menginjakkan kaki di Taiwan. Betapa sulitnya hidup di negri orang, negri asing yang tak kita kenal sebelumnya.
Banyak sekali kasus yang dialami oleh para ABK. Mulai dari dokumen palsu hingga kasus yang menyebabkan kematian.
Butuh banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk membantu mereka. Setidaknya membantu mereka untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada dunia luar, mengatakan hal yang seharusnya dikatakan, mengatakan kejujuran
Hidup di laut memang banyak tekanan, kita yang tak pernah menjalani pasti akan kesulitan untuk memahami.
Pekerjaan dengan resiko tinggi, kerinduan terhadap keluarga, terputusnya komunikasi dengan dunia luar, dan banyak hal lagi yang akhirnya membuat seorang ABK tidak bisa mengendalikan emosi.

Bergelut dengan dunia ABK, aku merasa hidupku semakin berarti. Banyak hal yang telah kulewati bersama mereka. Tentu saja tanpa aku mengabaikan keluargaku. Kini anak-anakku beranjak besar, tugasku sudah sedikit berkurang untuk mengurus keperluan mereka, namun papa dan mama mertua semakin tua, harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mereka berdua.

Sampai di titik ini, tugasku belum usai, masih banyak hal yang harus kulakukan. Membimbing dan menyaksikan anak-anakku tumbuh menjadi orang yang sukses. Menjadi anak-anak dari perkawinan campur yang tidak dipandang dengan sebelah mata. Membuat mereka bangga menjadi bagian dari dua kebudayaan yang berbeda.
Aku juga masih punya tugas untuk membantu para pekerja kapal yang berasal dari Indonesia, membantu mereka bersuara, membantu mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan.

Jika orang berpikir bahwa menjadi pengantin asing di Taiwan itu enak, itu karena mereka tidak tahu yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya melihat penampilan luar sebagian dari kami. Mereka tidak tahu sesungguhnya ada banyak di antara kami yang hidup dalam kubangan air mata. Yang mati-matian mempertahankan perkawinan hanya karena tak ingin anak-anak yang telah lahir terpisah dengan orangtuanya.

Banyak di antara kami yang mengalami nasib tidak baik. Banyak di antara kami yang tertekan selama hidupnya. Banyak di antara kami yang hidup hanya demi anak-anak, tak peduli lagi dengan kebahagiaan diri sendiri.
Tapi kami terus berjuang demi kebahagian hidup. Berjuang dalam diam, berjuang sendiri.

Karena kami sadar bahwa kehidupan ini tidak boleh berhenti di tengah jalan. Bahwa setiap orang telah mempunyai garis takdir. Begitu juga diriku. Aku telah ditakdirnya menjadi pengantin pada suatu sore di musim semi yang berbunga. Aku telah ditakdirkan menjadi Alin Si Musim Semi yang hangat.
Maka, selamanya aku ingin berbagi kehangatan ini dengan orang-orang yang kukasihi, dengan orang-orang di sekelilingku.
—-000—

📝 Komentar juri|Hanna Fransisca

Tema yang diangkat penulis ini, memang cukup populer dan telah lama menjadi bahan perbincangan berbagai kalangan, yakni tentang nasib para perempuan keturunan Tionghoa (terutama di Singkawang) yang diantaranya banyak memilih jodoh laki-laki dari Taiwan. Biasanya, motif paling umum adalah pertimbangan ekonomi.

Tapi penulis ini, sanggup mengolah tema yang unik ini dari perspektif yang berbeda, dengan tenik bercerita menggunakan dua tokoh utama (tokoh aku sebagai pencerita, dan tokoh dia yang menjadi pusat penceritaan). Tehnik penokohan semacam ini, hampir mirip cerita berbingkai, –dengan dua tokoh utama yang mewarnai seluruh kisah.

Pada bingkai pertama, ia mengawali kisah dengan cara pandang bercerita sebagai orang ke tiga, dan memotret tokoh serupa, dengan identifikasi tokoh lain di masa lalu. Pada bingkai ke dua, tokoh masa lalu yang dibayangkan pada bingkai pertama, dibiarkan tampil sendiri menjadi tokoh utama yang mengisahkan ceritanya.

Dengan menggunakan dua tokoh utama yang saling berjalin melalui dua bingkai  inilah, penulis berhasil memasuki psikologi para tokohnya dengan sangat intim, dan cukup mengesankan. Tema yang sepertinya rumit dan mengandung banyak persoalan, berhasil ia dedah dengan indah dan penuh empati.