Setangkup Asa di Langit Formosa

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Setangkup Asa di Langit Formosa
👤 Etik Nurhalimah

Malam semakin larut, hawa dingin membungkus daerah Tamsui. Jaket tebal yang kukenakan tak mampu melawan rasa gigil yang kian menggigit kulit. Aku menggelung diri ke dalam selimut tebal. Mengempaskan lelah setelah seharian bergelut dengan pekerjaan.

“Ais, aku mau ke toilet,” pinta nenek yang tidur di ranjang sebelahku.
Belumlah mata ini terpejam, nenek kembali terbangun meminta ingin buang air kecil. Setiap malam ia bisa terjaga dua hingga tiga kali. Membuat kepalaku pusing saat bangun di pagi hari. Sebenarnya nyonya menyarankan untuk memakai pampers, tetapi nenek merasa tidak nyaman. Akhirnya saran nyonya terbantahkan.
**
“Setelah sarapan, jangan lupa ajak nenek berjemur matahari dan jalan-jalan ke taman! Hari ini cuaca cukup hangat, temperature meninggi dan angin tidak kencang,” ucap nyonya setelah mencecap tandas quaker di mangkuknya.

Ini adalah Minggu ke dua, jatahku berada di rumah Nyonya Chan , menantu pertama nenek yang tinggal di daerah Tamsui. Wanita paruh baya dengan rambut sebahu inilah yang bertanda tangan di atas selembar kertas kontrak kerjaku. Namun, setiap dua minggu, kami berpindah tempat di rumah anak-anak nenek yang lain. Bergilir. Alasannya agar semua merasakan bagaimana mengurusi orang tua. Keadaan ini membuatku tidak nyaman. Harus selalu beradaptasi setiap datang ke tempat baru, serta kondisi rumah yang berantakan tak karuan. Di rumah Nyonya Chan kian membuatku ketakutan, karena diam-diam jika anak-anak dan istrinya tidak di rumah tuan Chan kerap menggodaku, bahkan berani bersikap kurang ajar.

“Nenek, setelah sarapan kita berjemur matahari ya,” ucapku seraya menyuguhkan semangkuk bubur gandum hangat kepadanya.
“Ais, Suasana rumah sepi sekali. Semua penghuni kemana?”
“Nyonya sudah berangkat ke kantor, sedangkan anak-anak sudah berangkat sekolah. Kalau tuan istirahat di kamarnya. Lima belas menit lalu dia baru pulang kerja. ”

Tuan Chan bekerja sebagai mandor sebuah perusahaan alat kendaraan. Pabriknya cukup besar dan memiliki karyawan banyak. Sehingga harus bertukar jadwal kerja. Kadangkala ia mendapat shift malam, dan kadang juga shift siang. Aku sendiri tidak terlalu hafal jadwal kerjanya.

Di meja makan nenek menyantap buburnya dengan lahap, sementara kunikmati jatah sarapan di dapur. Sebenarnya wanita dengan umur delapan puluh tahun itu masih sehat dan bisa melakukan semuanya sendiri. Namun, entah mengapa mereka mengambil pekerja? Lebih tepatnya mencari tenaga untuk membersihkan rumah anak-anaknya secara bergilir. Bahkan, sempat kudengar jika semua dokumen untuk mengambil tenaga kerja agensilah yang menguruskan semuanya. Memberi uang, dan semua beres.
**

Meski hari-hari kulalui dengan kesibukan, ada rasa bosan yang kerap menyeruak. Mereka melarangku bergaul dengan sesama pekerja Indonesia, Bahkan untuk bertegur sapa dengan tetangga pun tak diizinkan. Mereka juga menyita handponeku. Satu-satunya benda berharga yang kubawa dari Indonesia untuk berkomunikasi dengan suami dan Bude [1] di rumah. Jangankan hak untuk bergaul, perihal makanan pun dibatasi. Nenek selalu mengawasi acapkali aku mengambil makanan. Jika mengambil lebih banyak, matanya akan melirik sembari berucap, “Kamu tidak pernah makan seperti ini ya di Indonesia?”
**
Setelah nenek tidur siang aku mencuci kamar mandi majikan. Jika ia terjaga pasti memanggilku untuk minta ini dan itu. Meski hanya mengurus satu orang, benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra untuk merawatnya. Apa yang kukerjakan selalu salah dimatanya. Taiwan tak seindah yang kubayangkan. Banyak perjuangan yang harus kulalui di sini. Apalagi ini adalah kali pertama aku merantau ke negara lain yang dijuluki Naga Kecil Asia. Cuaca dingin dengan suhu rendah karena berdekatan dengan laut sering membuat tanganku sering keram, kadang sulit digerakan.

Prangg!!…

Sebuah tempat sabun yang berbentuk piring pipih jatuh ke lantai, membuyarkan lamunanku. Benda bening tersebut pecah berserakan. Belum sempat tanganku yang gemetaran membereskan pecahan tersebut, terdengar suara stereo nenek berteriak dari belakang.

“Apa yang kau lakukan? Lihatlah! Kamu memecahkan piring cantik kesayangan anakku. Ini sangat mahal harganya,” hardik nenek seketika.
“Ma … maaf, Nek. Aku tidak sengaja. Tanganku keram [2] karena hawa dingin. Saat kucuci, piringnya melesat terjatuh.”
“Maaf! Hah .., kamu pikir bisa mengembalikan piring cantik itu? Kamu harus mengganti dengan potongan gaji. Dasar bodoh, kerja gak becus!”

Makian seperti itu kerap kudapatkan meski hanya melakukan kesalahan kecil. Pernah suatu hari saat aku menggoreng telur tidak sesuai dengan keinginan mereka, aku tidak diberi jatah makan malam. Untungnya ada biscuit yang kutitip dari teman Indonesia. Bisa untuk mengganjal perutku yang keroncongan. Sebernarnya, berkali-kali kuutarakan ingin pindah majikan, tetapi justru amukan dan caci maki yang kuterima.

“Kamu boleh pindah. Tapi harus membayar ganti rugi uang yang kubayarkan pada agensi untuk mengambilmu!” hardik nyonya saat aku berkata ingin pindah majikan.
“Ganti rugi? Dari mana aku mendapatkan uang? Sedangkan potongan gajiku saja belum selesai,” gumamku dalam hati.

Sejak saat itu keinginan untuk pindah majikan menguap begitu saja. Kujalani semuanya penuh sabar dan keikhlasan. Akan ada pelangi setelah turun hujan, dan pasti indah pada waktunya. Itulah harapanku.
**

Datang ke Taiwan memang membutuhkan banyak persiapan, enam bulan mendapat tempaan di penampungan tidak menjadi jaminan seseorang sukses bekerja di perantauan. Banyak teman-teman yang satu angkatan berangkat denganku kalah sebelum berjuang. Ada yang ganti majikan berkali-kali, bahkan harus dipulangkan dengan alasan tidak bisa bekerja. Beratnya pekerjaan bagiku sudah biasa, saat di rumah mertua aku pun sering membantu saat musim panen tiba. Mulai mengarit padi, menggilingnya , hingga pengangkutan gabah [3] ke rumah.

Paska bapak dan emak meninggal, aku di urus bude. Kakak perempuan bapak. Kami hidup sederhana, lebih tepatnya pas-pasan. Wanita pengganti emak yang berumur 58 tahun tersebut bekerja keras agar aku dapat mengenyam pendidikan, seperti anak-anak yang lain. Sepulang sekolah, aku bekerja di penjual rempah-rempah di pasar , membantu mengupas bawang, memilah cabai busuk, hingga membersihkan toko. Sore hari saat pulang, mereka memberiku upah, beberapa sayuran bumbu untuk memasak. Sehingga dapat mengirit pengeluaran.

Lulus SMA aku bekerja di sebuah toko grosir sepatu. Lumayan, gajinya untuk biaya kebutuhan kami berdua. Hingga akhirnya aku bertemu Mas Andi. Kami pun akrab dan saling jatuh cinta. Hingga memutuskan untuk menikah. Perkawinan kami tidak disetujui oleh keluarga Mas Andi. Karena saat itu, ia dalam proses menungu panggilan bekerja ke Taiwan. Namun, ia tetap bersikeras melangsungkan pernikahan, karena ia tidak ingin aku di lamar pria lain saat ia tidak di rumah.

Setelah menikah sudah menjadi adat istiadat bagi orang Jawa, menantu perempuan harus tinggal di rumah suami. Meski berat hati, aku pun meninggalkan bude. Wanita yang merawatku seperti anaknya sendiri. Sejak ikut mertua, kehidupanku berubah 180 derajat. Meski hidup pas-pasan aku dan bude bahagia dan penuh cinta. Di keluarga Mas Andi aku tertekan, mertuaku selalu membanding-bandingkanku dengan kedua menantunya yang pulang merantau dari Hong Kong dan Taiwan. Mereka dapat membeli sawah, sehingga mertuaku bisa mengelola hasil panenan mereka.

“Mencari istri tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki modal dan punya uang. Agar bisa membantu keluarga.” Sindiran itu seolah menjadi lagu kebangsaan yang kudengarkan setiap hari.

Waktu berlalu begitu cepat, menggerus apa pun yang berada di lingkarannya. Seiring musim dingin yang terus bergulir, dihiasi indahnya bunga sakura yang bermekaran. Menjadi magnit tersendiri di Taiwan yang memiliki banyak tempat-tempat wisata indah, sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung. Berita ini kerap kubaca di media online, saat aku di penampungan. Taiwan negara yang banyak diminati pekerja Indonesia, setelah Malaysia.
**

“Ais ..tolong buatkan aku mie kuah! Tadi sarapan hanya sedikit, jadi sekarang lapar,” pinta Tuan Chan yang tengah duduk di depan komputer.

Aku yang sedang membersihkan ruang keluarga di lantai dua, segera turun menuju dapur. Kucari mie instan di dalam lemari makanan. Sambil menunggu air mendidih, aku membuka kulkas untuk mengambil sayuran untuk dicampur ke dalam mie tersebut. Namun, betapa aku terkejut, saat aku menunduk membuka laci sayuran kulkas, sebuah tangan meremas bokongku. Aku berjingkat, dan membalikan badan. Seorang lelaki tinggi mengenakan celana pendek boxer dengan kaus putih tanpa lengan tengah menatapku. Mengulum senyum, seolah tak terjadi apa-apa.

“Tuan, apa yang kau lakukan di sini? Tanyaku, nada tak senang.
“Hmmm …Aku hendak mengambil mie yang kau masak.”
“Mie? Bukankah biasanya Tuan minta diantar ke atas?”
“Ohh iya. Hmm.. kalau begitu aku tunggu di atas ya, meinya. ”

Dengan wajah tak bersalah Tuan Chan berlalu menaiki tangga yang tepat berada di sebelahku. Ini bukanlah kali pertama ia berlaku tidak menyenangkan. Pernah kukatakan pada agensi, tetapi mereka tidak percaya. Justru menuduhku, seolah akulah yang menggoda tuan Chan.

“Itukan hal sepele. Mungkin tuan tidak sengaja menyenggol bokongmu. Jangan terlalu didramatisir deh!” kata Agensi. Yang saat itu datang menjengukku untuk mengambil bayaran tiap bulan NTD 1800 untuk tahun pertama bekerja di Taiwan.
**
Malam ini aku tak dapat memicingkan mata, anganku menerawang. Mengingat kejadian tadi siang. Jelas-jelas tuan Chan berlaku kurang ajar padaku, mengapa agensi selalu membelanya. Mengatakan tidak sengaja. Banyak sekali pekerja wanita menjadi korban pelecehan seksual. Mereka tidak dapat membela diri, apalagi mendapat pertolongan. Sehingga depresi , kemudian dipulangkan ke tanah air. Musnah keinginan meraih sukses di perantauan, kembali ke kampung halaman dengan kondisi mengenaskan.

Aku terus berpikir bagaimana mencari jalan untuk dapat keluar dari rumah ini. Bicara baik-baik atas keluhan pekerjaan sudah tidak mungkin. Semua sia-sia. Sementara perasaan takut terus melingkupi jiwaku. Bagaiamana jika suatu saat hal serupa terjadi lagi? Atau lebih parah. Apalagi rumah ini kerap sepi. Kegelisahan mengantarkanku menjemput pagi, tanpa sempat berkunjung ke alam mimpi.
**

Dari sisa potongan gaji yang kukumpulkan, aku meminta teman sesama Indonesia membelikan handphone. Tidak perlu baru, yang penting memiliki kamera dan masih bisa digunakan. Benda ini akan kugunakan untuk merekam tindakan tuan saat berlaku kurang ajar padaku. Tak ada cara lain, hanya ini satu-satunya jalan yang memberikan celah keluar dari rumah ini.

Hari kelima di rumah Nyonya Chan. Siang itu saat aku tengah mencuci kamar mandi. Pintu ruangan senagaja kututup sedikit, agar dapat mendengar jika seseorang mendorong pintu dari luar. Kamera telah kusiapkan dibagian atas sudut ruangan, Tidak jauh dari bath tub yang akan kucuci. Beberapa menit berlalu, terdengar suara pintu berderit. Kucoba memanggil nenek berkali-kali. Namun, tak ada sautan. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh memeluk pinggangku dari belakang, mendorongku dengan penuh nafsu pada sudut kamar mandi. Tuan Chan, mata lelaki itu liar menatapku, dengan tangannya berusaha meraih bagian dada. Dengan sigap, aku yang tengah menggenggam spoon cucian segera beraksi. Secepat mungkin kulemparkan benda tersebut padanya, kuarahkan ke bagian mata. Sehingga busa sabun mengaburkan pandangannya. Aku mendorong tubuh tinggi besar itu sekuat tenaga, agar dapat lolos dari cengkramannya. Aku menghambur ke luar ruangan. Karena dalam suasana seperti ini, hal apapun saja bisa terjadi. Jangan sampai posisiku kian terjepit dan menambah masalah.
**
Jarum jam ke arah pukul tujuh malam, semua makanan telah kusajikan di atas meja. Ada sup, ikan, sayur, tumis tahu bumbu saus tiram. Setelah kupersilakan, semua penghuni rumah berkumpul di meja makan. Menikmati hidangan. Denting peralatan makan dengan obrolan mengiringi makan malam mereka. Sambil membereskan dapur, aku mengumpulkan keberanian, mengutarakan pindah majikan untuk yang terakhir kali. Sore tadi, setelah kejadian, kusempatkan menghubungi agensi dan mengirimkan rekaman video tersebut kepada mereka. Awalnya agensi mengabaikan pengaduanku, lagi, mereka menuduhku mengarang cerita. Namun,kali ini mengancam mereka, jika tidak mau menjemputku, akan kuadukan pada layanan tenaga kerja 1955.

Setelah selesai makan, nyonya ke dapur mencuci tangan. Saat yang tepat untuk mengutarakan tujuanku.

“Nyonya, Aku ingin pindah majikan” ucapku penuh kemantapan.
“Apa? Lagi. Kamu utarakan perihal bodoh ini,” jawabnya meradang.
“Aku sudah tidak betah lagi bekerja di sini. Sebentar lagi agensi akan datang menjemputku.”

Nyonya Chan nampak keheranan. Bagaimana aku berani berkata seperti ini? Mata sipitnya berkerut, dengan alis terangkat satu. Seolah menanyakan ketegasan ucapan yang baru kulontarkan.

Ketegangan ringan terjadi antara kami, hingga nyonya menelphone agensi.Setelah terjadi percakapan singkat, wanita tersebut meninggalkan dapur dengan wajah bersungut. Kali ini aku takkan menyerah. Karena kesempatan tidak akan datang kedua kali.
**
Tiga puluh menit berlalu, datang seorang wanita cantik dengan tubuh ramping dalam balutan rok pendek hitam dengan warna blazer senada, Kakinya yang jenjang terbalut stocking hitam. Kemeja putih dengan pita menjuntai menambah keanggunan wanita berumur tiga puluhan tersebut.

“Kamu sudah berani ya sekarang ?”tanyanya geram sembari menunjuk ke arahku.

Dialah Ms. Evi, penerjemah agensi yang membantu permasalahan tenaga kerja sekaligus memediasi permasalahan antara pekerja dan majikan. Banyak sekali pekerja yang meski telah lama di Taiwan, tetapi tidak pandai bahasa Mandarin. Mereka jarang bercakap-cakap, karena merawat pasien lumpuh dan tergolek di ranjang. Lain halnya dengan aku, pasienku masih sehat, tetapi kami jarang bicara, karena tugasku beres-beres dari satu rumah ke rumah lainnya.

“Maaf, Miss. Saya sudah tiak tahan bekerja di sini,-“
“Udah gak usah banyak bicara!”

Tenggorokanku tercekat.Belum selesai aku menjawab, wanita cantik tersebut berlalu menuju ruang tamu. Bagiku saat ini memang tidak perlu banyak bicara, karena mereka tidak akan mendengar perkataanku. Biarkan video tersebut menjadi bukti.
**
Aku tidak terlalu faham apa yang mereka bicarakan di ruang tamu, sayup-sayup kudengar mereka menyebut namaku. Sesaat kemudian suasana hening. Sepertiya Ms. Evi menunjukan pada mereka video yang kukirimkan ke padanya sore tadi. Video berdurasi 2 menit tersebut nampak jelas menampilkan, bagaimana keberutalan tuan padaku. Kulakukan tindakan nekat ini setelah aku mengadu dan meminta pendapat Mas Andi. Awalnya ia khawatir, takut rencana ini gagal dan berakibat fatal. Bisa saja tuan Chan murka dan memukuliku. Namun, tekatku sudah bulat. Pergi merantau bukan hanya sebuah niat dan bisa bekerja. Namun, harus memiliki keberanian untuk mengungkap kebenaran.

“Anisa …Kemarilah!”

Terdengar suara Ms. Evi memanggilku ke ruang tamu. Dua pasang mata menatapku tajam dan penuh kemarahan. Tuan dan Nyonya Chan, mereka menatapku secara bergantian Dengan sinis Nyonya bertanya, dari mana aku memiliki HP? Bukankah saat pertama datangan ia telah menyita benda tersebut.
“Dari mana kamu mendapatkan handpone? Bukankah aku telah menyitanya?” tanya nyonya menyelidik.
“Aku meminta teman untuk membelikan HP bekas dari sisa potongan gaji yang kukumpulkan,” jawabku mantap.
Tak ada lagi yang perlu kutakutkan. Terlalu jauh aku melangkah dan Semua harus berakhir. Setelah tandatangan pemutusan kontrak antara aku dan nyonya, aku pun harus keluar dari rumah ini. Mimpi buruk telah berlalu, babak baru memanti di kemudian hari. Meraih asa di langit Formosa.

Sebelum meninggalkan rumah tersesbut, kusempatkan berpamitan pada nenek. Meskipun selama ini ia memerlakukanku tidak baik, aku tetap berterima kasih kepadanya dan meminta maaf jika selama bekerja melakukan kesalahan.

“Nek, saya pamit, terima kasih sudah memerkerjakanku selama ini, dan maaf jika banyak melakukan kesalahan. Semoga nenek dan sekeluarga sehat selalu,” ucapku sebelum menggeret koper hitam dan melangkah untuk menyongsong masa depan.
**
Sepanjang jalan tak sepatah kata pun keluar di antara kami. Wanita cantik yang duduk di depan kemudi tersebut terlihat beberapa menerima telephone. Terdengar ia memarahi seorang pekerja Indonesia, setelah sesaat menerima pengaduan dari seseorang, yang kemungkinan besar adalah majikan.. Kebanyakan agensi bersikap sama, mereka hanya mendengar pengaduan sebelah dari pihak majikan yang mengatakan pekerjanya tidak baik, tidak bisa kerja, tanpa melakukan pengecekan situasi yang terjadi.

Keadaan inilah yang menyebabkan demontrasi dari tenaga kerja menuntut penghapusan agensi. Karena banyak dari mereka tidak peduli nasib pekerja setelah sampai ke negara tujuan. Padahal setiap bulan TKI harus membayar NTD 1800 untuk tahun pertama, sedangkan di tahun kedua dan ketiga membayar NTD 1500. Kasus jual beli job pun kerap sekali mereka lakukan. Bahkan, Mas Andi pernah bercerita, temannya harus menggelontorkan dana sebesar NTD 75.000 untuk mendapatkan pekerjaan. Yang akhirnya tertipu, karena mendapat job ilegal.

Pukul 22:00 malam kami tiba kami tiba di kantor agensi, terdapat ruangan atau shelter untuk menampung para pekerja yang baru datang dari Indonesia, ganti majikan dan proses lainnya.
**
Pukul 06:00 semua yang berada di penampungan harus bangun. Kami membersihkan ruangan kantor di lantai bawah. Lantai dua digunakan sebagai dapur dan penampungan. Kami semua bekerja bersama. Ada yang menyapu, menyepel, melap jendela, mencuci kamar amndi dan memasak di dapur untuk sarapan. Kami selesai bersamaan. Pukul 8:00, saat staf kantor datang, kami semua harus rapi.Sewaktu-waktu ada calon majikan datang, kami akan dipanggil untuk melakunan interview.

“Datang kapan Mba?Mau proses apa?” tanya seorang teman menyelidik.
“Saya datang tadi malam, Mba. Di antar Ms. Evi. Mau ganti majikan.”
“Nama saya Fitri, Mba. Asal Lampung ,” ucap si Mba, seraya mengulurkan tangan.
“Saya Anisa. Asal Ponorogo,” ujarku menimpali,”Mba Fitri sedang proses apa di sini?”tanyaku kembali.

“Aku juga ganti majikan. Kakek yang kurawat meninggal dunia, padahal tiga bulan lagi aku finish kontrak. Tapi saya tidak boleh pulang sebelum finish kontrak, atau harus membayar denda NTD 30.000. Dari mana aku mendapat uang sebanyak itu? Padahal, saat ini ayahku sedang masuk masuk rumah sakit dan butuh biaya” Ceritanya penuh kesedihan.

Setiap orang memiliki alasan tersendiri datang ke Taiwan. Ada yang desakan ekonomi, pelarian masalah, dan ragam kisah hidup lainnya. Kami meninggalkan kampung halaman, memeluk erat kerinduan pada keluarga, dan berjuang di perantaun. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan, serta harus beradaptasi di blingkungan baru. Baik budaya, bahasa, serta adat-istiadat.

Setengah bulan di sini, aku belum dapat majikan. Untungnya aku mendapat part time satu minggu menjaga seorang nenek yang sakit parah, sebelum akhirnya ia meninggal dunia. Sesekali mas Andi menghubungiku. Sebagai suami ia merasa iba, karena istrinya belum beruntung mengadu nasib di rantau. Pernah ia mengirimkan paketan yang berisi mie instan dan beberapa makanan ringan lainnya. Didalamnya ia selipi uang ribuan lima lembar. Paketan tersebut harus melalui pemeriksaan agensi. Jangan pernah berpikir kabur dari tempat ini, sungguh hal yang tidak mungkin. Rumah ini memiliki pintu keluar tersambung dengan alarm. Sirine akan berbunyi saat pintu dibuka di atas pukul delapan malam. Tepatnya, saat semua orang kantor telah pulang kerja.

“Bagaiamana kabarmu, Dik?”tanya Mas Andi di penghujung telephone.
“Aku sehat, Mas. Namun sampai sekarang belum dapat majikan.”
“Sabar ya, Dik. Maafkan saya yang tidak bisa membantu banyak. Ow iya, uangmu masih ada tidak? Apa mau aku kirimi lagi?”
“Tidak perlu, Mas. Yang kemarin itu belum terpakai, karena aku punya sedikit penghasilan dari upah part time.”

Aku menelan ludah. Mencoba menyembunyikan getaran kesedihan. Meski air mata ini berdesak-desak hendak tumpah dan membanjiri pipi. Perjuangan ini memang tidak mudah,, aku harus mampu melaluinya.
**
Jika tangan dan kaki sulit digerakan, masih ada doa yang bisa dipanjatkan. Sore itu, ketika semua pegawai kantor mulai berkemas-kemas hendak pulang, aku yang kebetulan piket harian turun ke bawah untuk membereskan gelas minuman. Saat di ruangan Miss Evi, wanita cantik berambut pirang tersebut berkata.

“Besok jam sepuluh pagi, ada majikan yang datang mau interview kamu. Siap-siap dan lakukan sebaik mungkin,” ucapnya datar.
“Apa Miss? Ada majikan yang mau sama saya?” tanyaku memastikan, jika tadi aku tidak salah dengar.

“Iya. Jaga nenek, dia masih sehat. Kalian tinggal berdua.Ini adalah kesempatanmu, harus bisa mengambil hati mereka dan nenek. Bekerja dengan baik di sana.”

Dengan penuh semangat aku segera menyelesaikan pekerjaan. Tidak sabar untuk memberi kabar pada teman-teman. Setidaknya, memberi semangat pada mereka agar tidak meyerah dalam perjuangan untuk mendaptkan majikan baru.
**
“Alhamdulilah, besok saya mau interview, Bu” ucapku pada teman yang juga menunggu proses.

“Syukurlah, Mba. Cepat kerja dan dapat penghasilan. Datang ke sini lagi saat mau pulang.Doakan aku juga ya, semoga lekas menyusul.”
“Pasti, Bu. Kita saling mendoakan untuk kesuksesan bersama.”
Kami berpelukan dan saling menguatkan. Kebersamaan di perantauan dalam berjuang, membuat kami menjadi keluarga meski tanpa ikatan darah.
Malam ini kegelisahan kembali mewarnai tidurku. Majikan seperti apa yang akan kutemui esok hari. Pasalnya, tiap kali wawancara, dan mengetahui pokok permasalahan, majikan perempuan banyak yang tidak setuju mempekerjakanku. Terlebih jika kami tinggal bersama. Mereka takut suaminya kukugoda, seperti yang dilakukan Mr. Chan terjadi lagi. Banyak orang beranggapan para pekerja tidak baik, dan selalu ditempatkan pada posisi bersalah. Padahal sebaliknya, banyak permasalahan yang menimpa pekerja menguap begitu saja. Tanpa mendapat penyelesaian

“ Kali ini aku harus bisa. Ini adalah majikan baru, sekaligus tempatku berjuang untuk masa depan,” gumamku lirih.
**
Sejak pagi aku sudah bersiap diri. Semua barang telah kukemas. Memastikan agar tidak ada yang tertinggal. Pukul 10.45 , suara Miss Evi terdengar dari telephone parallel ruangan. Aku bergegas turun. Kusiapkan senyum ramah untuk menyapa calon majikan baruku. Sepasang suami istri menungguku di ruang kerja Miss Evi. Boss laki-laki kurang lebih berumur tujuh puluh tahun, dengan perawakan besar dan gempal, dengan rambut sedikit botak. Sedangkan boss perempuan bertubuh kecil, berambut pendek dan mengenakan kacamata. Meski tak lagi muda, tetapi gurat kecantikann masih tersirat di sana. Mereka menyambut sapaku dengan senyuman.

“Jadi kamu memutuskan pindah tempat kerja karena majikan laki-laki berlaku tidak baik, dan kamu tidak mendapatkan hak sebagai pekerja dengan layak? ” tanya boss perempuan, sembari membenarkan letak kacamatanya.
“Benar, Nyonya,” jawabku dengan suara bergetar. Ketakutan, apakah dia bisa menerina jawabanku atau tidak.

Aku tidak mau pertemuan pertama ini memberikan kesan buruk bagi mereka, sehingga urung mengambilku. Selama dua puluh hari di sini, sudah beberapa kali interview kulakukan, hasilnya nihil. Setelah bicara dengan Miss Evi, kedua orang tersebut kembali menemuiku. Mereka datang dengan Ms. Evi, yang membawa map berisi berkas kontrak kerja.

“Di rumah kami tugasmu merawat nenek. Menjaga, dan membantu semua kegiatannya. Apakah kamu bersedia?” tanya nyonya.
“Saya bersedia, Nyonya.” Jawabku mantap.
“Tiga bulan pertama adalah masa percobaan. Kami akan menilai bagaimana kinerjamu merawat nenek. Setelah enam bulan, kamu baru boleh mendapat libur. Silakan menggunakan HP, tetapi seperlunya. Jika terjadi sesuatu dengan nenek, kamu harus segera menghubungi kami.”

Meski tidak banyak bicara, tetapi dari penjelasan Nyonya dapat kutangakap mereka menginginkanku bekerja secara professional, mandiri, dan bertanggungjawab. Apalagi tuan, dari awal datang hingga selesai tandatangan kontrak kerja tidak banyak bicara. Selain berkata agar aku merawat nenek dengan baik, dan menganggapnya seperti keluarga sendiri. Jangan sampai ia jatuh. Tugas pokokku menjaga nenek, untuk beres-beres aku bisa mengatur waktu saat nenek tidur siang.
**
Mobil yang kami tumpangi melaju mulus membelah hawa dingin menuju pinggiran kota Taipei. Di sepanjang jalan aku mengingat pesan Miss. Evi. Wanita cantik itu mewanti-wanti agar aku jangan kembali ke kantor tersebut sebelum finish kontrak. Apa pun yang terjadi harus sabar. Dan jika ada masalah tidak boleh kabur, karena ini hanya akan menambah rumit keadaan.

Tibalah kami di rumah nenek. Bangunan sederhana yang masuk masuk dari jalan raya. Seorang wanita tua tengah duduk di atas sofa menonton televisi. Di depannya terdapat meja yang dipenuhi barang dan makanan. Ada roti, pisang, permen, dan beberapa bungkus kerupuk Taiwan. Mulutnya tengah mengunyah sesuatu yang ia makan. Tepat di bawah tempat duduk, terdapat sapu kecil dan skop sampah, untuk membersihkan makanan yang tercecer akibat kunyahan gigi ompongnya.

“Ais, ini nenek. Dia masih sehat dan bisa melakukan semuanya sendri. Namun, kami khawatir jika ia tinggal sendirian.Jadi kami putuskan mengambil pekerja untuk menjaganya,” jelas Nyonya.
“Ma, ini Ais. Dia yang akan membantu keperluanmu dan membereskan rumah. Kalian juga bisa ngobrol bersama, agar kau tidak kesepian,” ujar nyonya kepada nenek, sembari menepuk-nepuk bahu wanita tua tersebut.

Nenek tak menjawab. Ia hanya manggut-manggut kecil, tanda mengerti. Tiba-tiba ia memberikan padaku sekeping biscuit yang ada di hadapannya. Aku mengartikan ini sebagai ucapan selamat datang di rumahnya. Kuterima biscuit itu, seraya membungkukan tubuh, berucap terima kasih.
**
Siang berganti malam, seperti pergantian musim yang diiringi mekarnya bunga, layu, gugur ke tanah dan tunas kembali. Tiga bulan masa percobaan telah terlewati. Nyonya dan Tuan sangat senang dengan pekerjaanku. Awalnya, dua minggu sekali saat ia datang ke rumah nenek, nyonya selalu berkeliling rumah. Mengecek di setiap sudut ruangan. Terutama toilet dan dapur. Memastikan, aku benar-benar menjaga kebersihan.

Nenek sosok orang tua yang menyenangkan. Beliau tidak cerewet, dan gemar bercanda. Dahulu nenek berprofesi sebagai guru Bahasa Jepang, sesekali ia mengajariku kata-kata ringan dan sapaan sederhana. Bahkan setiap pagi dan menjelang tidur, ia mewajibku menyapanya dengan kata konnichiwa [4] dan oyasumi nasai [5]. Nenek memiliki wawasan dan pengetahuan banyak. Aku belajar banyak hal darinya. Tentang kerja keras. disiplin, dan berbuat baik terhadap sesama. Bahkan, ia menasihatiku tentang hukum tabur-tuai.

“Ais. Apa yang kita tanam, suatu harinakan kita petik. Jika kita berbuat baik. Maka kebaikan pula yang kita dapatkan.” Nasihatnya kepadaku.
**

“Nek, kenapa tidak mau pindah ke rumah tuan? Bukankah di sana bangunan baru dan tempatnya lebih ramai. Sehingga nenek akan lebih mudah membeli sesuatu?” tanyaku di suatu sore saat memijat kakinya.

“Ais, Kamu percaya tentang cinta dan kesetiaan? Bahkan, kamu ke Taiwan untuk bertemu suami yang kau cintai bukan ? Begitu pun aku. Rumah ini adalah kenangan pertama kali aku dan suamiku saat hidup bersama dan belum memiliki apa-apa. Jadi, aku ingin menghabiskan sisa usiaku di sini. Bersamanya. Di setiap sudut rumah ini, ada langkah kami berdua,” tutur nenek dengan suara bergetar.

Aku tertegun, mencerna apa yang nenek ucapkan.Ia mengajariku banyak arti kehidupan. Baginya cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Seperti yang kualami. Meski sampai detik ini aku belum dapat bertemu Mas Andi, aku bahagia. Kami saling menguatkan perjuaangan di negeri orang.
**
Pagi ini cuaca begitu cerah. Titik-titik embun membasahi pucuk daun dan bunga. Musim panas, membuat hari terang lebih awal. Sejak pukul lima pagi aku sudah bangun. Menyiapkan semua kebutuhan nenek, mulai dari sarapan, dan baju yang akan dikenakan. Hari ini merupakan libur pertamaku setelah lima belas bulan menapakan kaki di Taiwan. Kukenakan baju yang kupakai saat terbang ke kemari, karena itu baju terbagus yang kumiliki. Selama di sini aku belum pernah belanja, karena semua kebutuhan dibelikan oleh nyonya. Mereka sangat baik padaku, dan menganggap keluarga.

Pukul tujuh Nyonya dan tuan datang. Hari ini mereka yang akan menggantikanku menjaga nenek. Kata nyonya ia akan mengajak mertuanya jalan-jalan dan makan siang di luar.

“Sudah dipersiapkan semua kebutuhan nenek untuk hari, Ais?” tanya nyoya, sembari meletakan tasnya di atas meja yang berada di pojok ruangan.
“Sudah, Nyonya.Tapi nenek belum bangun. Kemarin malam sebelum tidur saya sudah berpamitan,”jawabku,”nenek minta dibelikan biscuit. Ia ingin merasakan jajanan Indonesia.”
“Nenek memang suka makan biscuit, Ais. Tolong kamu belikan ya, tapi jangan yang keras. Nanti uangnya saya tukar setelah kamu pulang libur.”
**
Ini merupakan kali pertama aku naik MRT (Mass Rapid Transit) di Taiwan. Sekarang, Indonesia juga telah memiliki alat transportasi yang dimiliki oleh negara-negara maju di dunia, seperti London, Jepang, Korea. Namun, Indonesia dikenal dengan sebutan Moda Raya Terpadu (MRT). Alat transportasi ini diresmikan presiden Joko Widodo pada 24 Maret lalu dan saat ini baru ada di kota Jakarta. Semoga suatu saat daerahku juga memilikinya, sehingga memudahkan untuk bepergian. Masyarakat Indonesia harus belajar banyak tentang disiplin yang dimiliki penduduk Taiwan. Mereka menjaga kebersihan dan tertib mengantri untuk perihal apa pun. .

Arloji yang kukenakan menunjukan pukul 10.00. Kata Mba yang kutanyai tadi, jalan menuju aula Taipei Main Station menaiki sebuah tangga setelah exit sebelah kanan. Tibalah aku di aula, sebuah tempat yang memiliki aura kampung halaman. Banyak pekerja Indonesia tengah duduk dan bercengkrama dengan teman-temannya, sesekali terdengar gelak tawa mereka. Ternyata benar, Taipei Main Station merupakan rumah kedua pekerja Indonesia di Taiwan.

Bipp! Bippp! ..

Sebuah SMS masuk ke kotak masuk.
“Dik, sudah sampai belum? Kutunggu di patung besi” pesan yang dikirim dari Mas Andi.

Aku menyapukan pandangan, mencari di mana patung besi berada. Tepat di bawah jam dinding bertuliskan Taipei Main Station. Sosok lelaki yang selama ini kurindukan berada. Aku berlari mendekat, menghambur dalam pelukan Mas Andi. Hampir tiga tahun kami tidak bertemu. Dia tidak berubah, tetap memiliki senyum manis, seperti saat pertama kami bertemu. Sekarang penampilnya sedikit berbeda, dengan rambut klimis dan aroma parfum menggoda. Menambah kehangatan pertemuan kami.

Akhirnya, apa yang kuimpikan menjadi kenyataan, setelah melewati ujian panjang. Selalu ada hikmah yang diberikan Tuhan disetiap cobaan kepada umatnya. Aku dan Mas Andi bertemu, kami akan berus bersama mengarungi biduk perjuangan. Mengumpulkan setiap jerih payah yang dihasilkan untuk masa depan yang lebih baik. Setangkup Menggantung di Langit Formosa. Semoga kelak segala impian menjadi nyata. Memiliki keluarga kecil yang sejahtera dan membahagiakan bude. Agar Bapak dan Emak tersenyum di alam sana. Anisa, putri kecil mereka yang dahulu kerap menangis karena minta dibelikan jajan pada tukang sayuran yang lewat, kini telah menjadi sosok wanita tangguh mengarungi kehidupan. Di usinya yang menginjak tahun ke dua puluh tujuh. []

SELESAI.

Taipei, 29 April, 2019

Catatan kaki:
[1] Bude : Panggilan untuk bibi, kakak perempuan dari ayah.
[2] Keram : rasa kesemutan karena udara dingin.
[3] Gabah : Padi kering yang belum menjadi beras.
[4] Konnichiwa : Selamat pagi dalam bahasa Jepang.
[5] Oyasumi nasai : Selamat malam dalam bahasa Jepang.

📝 Komentar juri|Hanna Fransisca

Tema yang diangkat dalam kisah ini adalah ketidakberuntungan seorang pekerja migran, ketika ia mendapatkan majikan yang pelit, kasar dan kejam, serta ditambah bahaya kekerasan seksual yang mengancam.

Tema yang diangkat cukup istimewa, dengan gaya penulisan yang lumayan menghentak sehingga kekerasan dan bahaya yang dihadapi tokoh, bisa dirasakan oleh pembaca. Kelemahannya pada struktur penceritaan yang kurang padu, serta pilihan-pilihan kalimat langsung yang masih terkesan sangat verbal, sehingga pada beberapa bagian cukup mengganggu.