NENEK LEE

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 NENEK LEE
👤 Susiati

November 2017 adalah bulan di mana aku bertemu Nenek Lee. Wanita tua berusia 90 tahun ini terbaring tak berdaya di Taoyuan Veteran Hospital, atau tepatnya di No. 1492, Zhongshan Road, Taoyuan District, Taoyuan City, 330.

Nenek Lee adalah pasien yang harus kujaga selama di Taiwan untuk tiga tahun ke depan. Meskipun ini adalah kontrak kerjaku kedua kalinya di tempat yang berbeda, tetap ada rasa gugup ketika aku bertemu majikan baruku. Pertama kali melihat Nenek Lee aku merasa takut namun juga iba, aku seperti melihat ikatan batin yang sangat kuat antara aku dan Nenek Lee. Agencyku, Miss Wang menjelaskan tugasku selama menjadi perawat Nenek Lee. Nenek Lee masih bisa tersenyum dengan jari jemarinya dikaitkan di tanganku. Nenek Lee tinggal di Daerah Huaxun, Zhongli.
Di rumah Nenek Lee ini hanya ada dua orang, yaitu aku dan Nenek Lee sendiri. Suaminya meninggal 5 tahun lalu. Kedua anaknya semua lelaki, aku memanggilnya kakak pertama dan kakak kedua. Kakak pertama tinggal di nanpu atau wilayah Taiwan selatan. Tepatnya di Taitung. Kakak kedua lumayan dekat dari Zhongli, yaitu di Hsincu. Namun, entah mengapa mereka kurang peduli dengan Nenek Lee. Aku tahu Nenek Lee menderita penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer adalah penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap. Kakak pertama menjelaskan karena penyakit inilah yang dulu menyebabkan menantu pertama minta pisah rumah dan menaruh Nenek Lee di panti jompo. Namun, kakak kedua inisiatif mengontrakkan rumah di Zhongli untuk Nenek Lee dan mencari perawat orang Indonesia. Dan pencarian itu jatuh padaku, perawat Nenek Lee.

Hidup berdua dengan Nenek Lee benar-benar melelahkan. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan sama dalam 5 menit.

“Kamu orang Indonesia ya?” Tanyanya.

“Iya, Nek.

Setelah 5 menit kemudian pertanyaan sama muncul. Aku pun sempat emosi karena ini. Belum lagi, jika ia mengompol. Ia suka bilang mau buang air kecil, tapi belum sampai kamar mandi, ia pun kencing di celana. Dan aku marah. Di majikan pertama dulu aku jaga kakek yang lumpuh total tidak bisa bicara dan tidak bisa gerak, ia hanya terlentang berbaring di atas ranjang. Jadi ketika aku mendapat pekerjaan menjaga Nenek Lee, aku merasa emosiku tidak stabil. Pernah suatu ketika dia berak di dapur, alasannya tidak sadar. Aku yang kelelahan habis menyapu halaman pun segera marah, emosi.

“Kalau mau buang air besar ngomong dong Nek, jorok banget kamu. Kalau kamu gini terus siapa yang mau jaga kamu!” Kataku dengan kasar.

Namun, di luar dugaanku, Nenek Lee memelukku, ia menangis ….

“Maafkan aku, kamu jangan marah. Nanti aku hidup sendirian. Anakku tidak ada yang mau sama aku, jangan marah ya ….” katanya sambil memeluk erat tubuhku.

Tuhan … aku tak tahu kenapa hatiku bergetar pada waktu itu. Antara menyesal telah memarahi, dan aliran perasaan sayangku pada Nenek Lee mulai tumbuh. Sungguh dia adalah orang tua yang malang. Dan mulai detik ini aku berjanji, akan menyayangi dan menjaga Nenek Lee sepenuh hati.
Sudah genap 6 bulan aku merawatnya, dan sudah 5 bulan aku tak pernah marah padanya, aku menyayangi Nenek Lee, sangat sayang. Kakak kedua datang tiap bulan ketika tanggal gajiku tiba. Kakak pertama menelpon kadang 1-2 bulan satu kali. Mereka tetap tak perhatian. Aku pernah membaca sebuah media, jika Pasien Alzheimer akan mengalami penurunan kemampuan otak, daya ingat, dan semakin kehilangan kemampuan untuk mengontrol buang air. Dan ini juga alasan kedua menantunya tidak betah jika lama-lama ke sini. Terkadang ketika aku dan Nenek Lee sedang asik lihat TV, dia langsung kencing di tempat di mana ia duduk. Pernah aku menyuruhnya memakai pampers tapi dia tidak mau dan marah. Aku pun tak pernah memaksa, aku tetap merawat dan menjaganya sepenuh hati.

Satu tahun berlalu ….
Aku semakin sayang dengan Nenek Lee, kami selalu bercanda setiap hari. Walaupun kadang rasa bosan, lelah pun menghampiri. Tapi melihat Nenek Lee tertawa, rasa lelahku pun hilang. Jika pikunnya kambuh, Nenek Lee selalu memanggilku A Hong, padahal aku sudah berulang kali bilang, namaku Anna. Tapi aku tak peduli, mau A Hong atau Anna, yang penting aku dan Nenek Lee bahagia. Suatu ketika aku menelpon kakak kedua, aku bilang jika minggu depan ijin berlibur. Dan kakak kedua mengijinkan, sebagai gantinya, dia sendiri yang akan menjaga Nenek Lee. Pagi-pagi sekali kakak kedua datang, aku pun menyiapkan sarapan, dan menjelaskan bagaimana merawat ibunya, yaitu Nenek Lee. Kakak kedua pun cuma bilang OK. Dan aku pun berangkat berlibur. Berlibur bagi sebagian TKI di Taiwan adalah mimpi yang tak pernah usai. Jarang sekali majikan mengijinkan TKI berlibur, entahlah kenapa? Dan mengapa?

Pukul 2 sore, HP ku berdering ….

“Anna, maaf bisakah kamu pulang? Nenek Lee tadi jatuh dan sekarang aku bawa ke Taoyuan General Hospital. Dia selalu mencarimu. Bisakah kamu datang?”

Makan siangku terhenti. Antara kaget, dan tidak suka mendengar kabar ini. Kenapa bisa jatuh? Apakah kakak kedua tidak bisa menjaganya cuma 10 jam saja?
Aku pun bergegas pulang, menuju Neili, Taoyuan. Tempat di mana Taoyuan General Hospital berada. Setelah menelpon kakak kedua, aku pun berhasil menemukan ruang di mana Nenek Lee dirawat.

“Anna, aku takut. Tadi di rumah sendirian. Kamu ke mana? Jangan marah padaku, jangan tinggalkan aku.” Suara Nenek Lee bergetar ….

Kurengkuh tubuh renta itu, kupeluk dengan kasih sayang, air mataku tak mampu terbendung, mengalir pelan memanasi pipi. Sepanas hatiku melihat situasi ini. Aku bertanya pada kakak kedua bagaimana Nenek Lee bisa terjatuh. Ia mengatakan jika sewaktu ditinggal beli makan, Nenek Lee duduk lihat TV, 30 menit kakak kedua kembali, Nenek Lee sudah di lantai bermandikan air seni, dia ngompol. Aku pun membayangkan bagaimana waktu Nenek Lee terjatuh, ia pasti kesusahan memanggil namaku dan mencoba bangkit sendiri. Betapa malangnya dia …. Dokter mengatakan tidak apa hanya kaki dan punggung terkilir dan kaget, maka 2 hari dirawat, Nenek Lee pun dibolehkan pulang.
Dua tahun berlalu ….

Aku dan Nenek Lee tetap hidup bahagia seperti biasa, kami melihat TV bersama, jalan-jalan ke taman berdua, ke pasar belanja, masak, makan dengan gembira. Nenek Lee selalu nampak bahagia, walaupun kadang penyakit pikunnya kambuh dan tidak mengenaliku. Lalu aku pun dengan sabar menjelaskan lagi, lagi dan lagi. Hingga kabar buruk itu datang ….

“Kamu harus pulang, bapakmu sakit ginjal, ia selalu mencarimu.” Ini suara ibuku di telpon dua hari lalu.

Ya, bapakku sakit. Bapak adalah perokok berat, ia jarang minum air putih, hingga ginjalnya rusak. Ibuku sendirian merawat bapak. Kakak lelakiku sudah menikah dan punya rumah sangat jauh. Aku bingung antara bapak atau Nenek Lee. Jika aku tetap di sini, bagaimana dengan bapak? Dan jika aku pulang? Bagaimana Nenek Lee hidup. Walaupun aku tahu, nanti mereka bisa mencari perawat baru, tapi sungguh hatiku tak rela jika Nenek Lee dirawat orang lain. Nenek Lee bahagia ada aku. Tapi bapakku? Juga membutuhkanku.

“A Hong a, kenapa kamu melamun. Lihatlah ada berita bagus di TV.” Nenek Lee menegurku ketika pikiranku tak karuan.

“Nek, aku Anna bukan A Hong. Oh ya Nek, andai aku pulang dan tak kembali apa kamu mengijinkan?” Tanyaku penuh hati-hati.

Dia menoleh padaku dengan pandangan sayu, jarinya kembali dikaitkan di tanganku. Tuhan, aku tak suka situasi ini.

“Tenanglah. Aku tadi cuma bercanda.” Kataku.

Dia kembali manggut-manggut sambil melihat TV lagi. Entahlah keputusan apa yang harus aku ambil. Pulang merawat bapak, atau tetap diam di sini merawat Nenek Lee. Sungguh ini bukan perkara gaji dan uang, namun hatiku telah tulus menyayangi Nenek Lee. Nenek yang terabaikan keluarganya. Dan hanya aku yang peduli, jika aku pergi? Apakah Nenek Lee akan bertahan pada kesepian?
Dua minggu berlalu, pikiran dan kabar dari ibu menggantung dalam pikiranku. Ibuku memaksaku pulang, demi bapak. Sedang Nenek Lee? Ia membutuhkanku ….

“Bapak menghembuskan napas terakhir tadi malam pukul 9.” Suara kakakku menggema dalam telepon genggamku.

Duniaku gelap. Langit seakan runtuh ke bumi. Wajah Nenek Lee pun berubah menjadi wajah amarah ibuku yang kecewa karena menungguku tak kunjung pulang. Aku terduduk lemas di pojok dapur. Nenek Lee memandangku tanpa kedip, antara bingung atau ia tahu kabar ini. Kabar jika bapakku telah tiada ….
Tanpa berpikir dua kali. Aku menelpon Kakak kedua, aku bilang aku mau pulang, putus kontrak, aku tak peduli respon Nenek Lee, yang aku tahu hidup butuh kepastian. Nenek Lee atau keluargaku? Sementara aku telah kehilangan bapakku. Kakak kedua memarahiku habis-habisan. Aku tak peduli, bahkan tanpa sadar dan entah dapat kekuatan dari mana aku berani mengancam kakak kedua. Aku bilang padanya jika tidak diijinkan putus kontrak, aku akan kabur. Lima hari aku menunggu jawaban. Dan mereka pun menyetujui aku pulang. Sementara Nenek Lee? Entahlah, aku tak pernah punya pilihan. Aku sudah kehilangan bapak, aku tak mau lagi kehilangan ibu atau keluarga lain. Dan Nenek Lee adalah tugas sementara yang terikat kontrak, meskipun sayangku dan cintaku pada Nenek Lee adalah ketulusan. Agency memberi tahu jika bulan depan aku pulang, karena jika putus kontrak tidak boleh mendadak pulang. Aku pun meng iya kan. Satu bulan aku gunakan menata hati dan pikiran. Hati menerima jika bapakku telah meninggal. Pikiran berpikir bagaimana menjelaskan pada Nenek Lee ….

Hingga pagi itu ….
Nenek Lee mendadak sesak napas dan berkata sakit kepala, aku pun segera menelpon kakak kedua untuk datang. Aku membawa Nenek Lee ke Rumah Sakit Taoyuan General Hospital. Ketika selesai menjalankan berbagai test kesehatan, dokter menyarankan rawat inap. Hari-hariku di rumah sakit merawat Nenek Lee, tangan keriput itu selalu tak mau lepas dari genggamanku. Ia sangat rapuh, lemah, aku tak tega melihatnya. Sementara tanggal kepulanganku kurang 9 hari lagi.

“A Hong a, kamu jangan pernah tinggalkan aku ya.” Nenek Lee selalu mengucapkan kata-kata itu dengan parau.

Aku pun selalu menjawab ‘ya’ padahal hatiku dan pikiranku tak tahu ke mana. Hingga hari kepulanganku tiba ….
Nenek Lee dirawat oleh penduduk asli Taiwan. Kakak pertama selalu mengeluh biaya perawat mahal. Namun aku juga tak peduli. Yang ada dalam pikiranku adalah aku pulang, bapak telah tiada. Dan aku juga berpikir Nenek Lee, tentang hidupnya ….

Hari ini aku pulang … dengan berat kucium pipi keriput itu, rambut putih seperti kapas dan tangan renta itu kucium berulang kali. Dalam hati aku berharap Nenek Lee segera bangun dan pulang. Ia tertidur, karena efek obat di rumah sakit, aku berpamitan pada kakak pertama dan kakak kedua. Aku juga minta maaf karena tidak bisa finish kontrak.

Burung besi membawaku pulang ke Indonesia … meninggalkan sejuta kenanganku bersama Nenek Lee. Aku cuma bisa berdoa pada Tuhan semoga Nenek Lee berumur panjang. Dan aku pulang menyongsong kesedihan, tentang kehilangan seorang bapak ….

Taoyuan, 20 April 2019

📝 Komentar juri|Hanna Fransisca

Kisah yang ditulis penulis ini, temanya hampir sama dengan kisah Ikatan Hati, yang menggambarkan bagaimana eratnya hubungan antara majikan dan pekerjanya. Pada awalnya mereka adalah dua tokoh asing yang saling membutuhkan (yang satu membutuhkan uang, yang satu membutuhkan bantuan perawatan). Dari interaksi setiap hari inilah, pelan-pelan keduanya menjadi terikat, dan timbul jalinan kasih sayang.  Tidak semua pekerja memperoleh keberuntungan semacam ini (mendapat majikan yang baik), dan di antara yang tidak beruntung, yang kemudian mendapat majikan yang baik, biasanya akan menimbulkan kesan yang dalam.

Cerita ini cukup mengharukan. Hanya saja, secara teknik, bangunan kisah yang ditulis masih memiliki beberapa kelemahan, dan di antara kelemahan yang paling terasa adalah pada bangunan alur yang monoton, dengan pilihan-pilihan kalimat verbal yang langsung menuju inti, sehingga keindahan kisah yang dibangun menjadi kurang sempurna.

📝 Komentar juri|Raudal Tanjung Banua

Struktur cerita terbangun dengan baik. Kelancaran bercerita, dengan cara tidak berbelit, komunikatif, membuat pembaca larut. Meskipun apa yang diceritakan sebenarnya pengalaman umum seorang pekerja migran. Namun cara membangun detail tentang pekerjaannya, sosok nenek yang ia rawat, hubungannya dengan anak si nenek, relasi nenek dengan anak-anaknya, membuat suasana terbangun dengan dingin, dramatis, juga manis.

Karakter Nenek Lee dihadirkan secara kuat dan memikat. Motif tokoh aku atau Anna akhirnya meninggalkan Nenek Lee yang ia rawat dan cintai, sebenarnya juga tergolong umum, yakni panggilan keluarga di tanah air karena orang tua sakit, butuh perawatan dan dalam konteks ini, ayahnya meninggal. Tapi tetap memunculkan ketegangan karena diolah secara sabar dan intens. EYD baik.