Dugaan Seorang Kakek Berhati Emas

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Dugaan Seorang Kakek Berhati Emas
👤 Diani Anggarawati

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali ke sini.”
Pesan singkat dari Atin, perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.
Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku. Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Satu botol kecil terjatuh oleh karena terkena tangannya, dan aku segera memungut. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian, tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.
“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” ama membuka pembicaraan.
Aku diam.
“Kau tahu, kari buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”
Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.
“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam” ama menilik pandangku.
“Aku tidak apa-apa, Ama.”
“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.
Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Apa aku harus mengakhiri pekerjaanku di sini, demi kungkung? Sejatinya, aku bekerja di sinipun merasa tidak nyaman. Malam-malam yang mencekam, hingga insomnia berkepanjangan.
Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik kakek.
Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Ini adalah awal kegagalan sepanjang tiga tahun aku bekerja di Hongkong, setelah aku cukup lama di Indonesia.
Tiga bulan adalah waktu yang singkat, namun bagiku, itu adalah waktu penantian yang amat panjang. Karena intimidasi dan sikap tidak adil yang kerap kuterima dari dua pembantu lainnya, membuatku memutuskan untuk segera melunasi potonganku sebanyak enam bulan, kupersingkat menjadi tiga bulan.
Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2).Aku berpikir, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang. Padahal, sebelum memutuskan memberinya surat one month notice, aku telah membicarakan perihal ketidaknyamananku. Akan tetapi, majikanku tak acuh.
Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku dilanda kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.
“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Semula kuberpikir, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.
Matahari mulai menguning, bersinar amat lemahnya. Sedikit demi sedikit langit berubah menjadi muram. Malam pelan-pelan menutupi dunia dari warna, dan senja sudah benar-benar menghilang. Aku dilanda kebingungan, kemana aku harus pergi, hingga gemerucuk suara perutku tidak kuhiraukan. Aku baru tersadar jika sejak pagi aku belum makan.
Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku. Karena dahulu, aku pernah menjadi bagiannya dan kutahu Dompet Dhuafa memiliki shelter untuk menampung BMI(6) yang bermasalah.
Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Coesway Bay. Tubuhku kembali di telan badan kereta yang mengantarkanku menuju Coesway Bay.
Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan, dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus ke sheter dengan segera.
Ada enam gedung di hadapanku. Aku sedikit bingung dan lupa gedung yang mana harus kumasuki. Jika tidak salah, gedung yang paling ujung atau gedung yang kedua dari ujung. Aku memutuskan memilih gedung yang ujung. Aku menunggu orang memasuki gedung itu terlebih dahulu, karena aku lupa kode pintu gedung. Aku segera menahan daun pintu, begitu ada wanita membuka pintu. Aku kembali lupa, lantai berapa Shelter Dompet Dhuafa. Sialnya baterai ponselku drop dan aku tidak mengerti harus bertanya pada siapa. Aku hanya memakai ilmu mengira. Sayangnya, cara ini tidak berhasil. Aku naik turun gedung berulang kali. Mengetuk satu pintu ke pintu lainnya. Yang membuka jika tidak warga lokal, juga anak-anak stay out(7) yang memandangku tak acuh. Lalu aku ke gedung sebelahnya. Aku menaruh harapan besar di gedung itu. Ternyata aku kembali naik turun tangga dan mengetuk pintu yang satu ke pintu yang lainnya. Aku benar-benar kelelahan, hingga kaki dan tanganku gemetar. Sementara keringat yang mengguyubkan bajuku semakin menyengat baunya.
Ketika kepalaku terbersit kantor KJRI(8), ternyata kantor itu sudah tutup. Mungkin malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghujam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.
Aku menuju stasiun, setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(9). Aku duduk di sebuah tangga di stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya. Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Kakek dan perawatnya menanyaiku, aku menceritakan. Hingga akhirnya, kakek itu memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya makan ke restaurant. Kurasa dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.
“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.
Mobil Kakek yang dikemudikan sopir berkewarganegaraan Filipina membelah malam yang menyisakan basah di jalanan oleh karena hujan.
Kakiku mengikuti langkah pelan kakek menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya. Kemudian, senyumnya merekah dan aku baru menydari jika ia memiliki lesung pipit di kedua pipinya.
Kakek membaca buku menu dan menannyakan aku ingin memesan apa. Aku mempersilahkan kakek memilihkan menu untukku. Kemudian, ia menuliskan menu-menu tersebut di atas kertas kecil yang telah disediakan restaurant, lalu sopir kakek membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang.
Pelayan datang dengan beberapa makanan di tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(10), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(11).
***
Pagi itu saat matahari mulai merayapi gedung-gedung, Atin, perawat kakek meninggalkan rumah untuk extend visa(12) di Makau. Sebelum pergi, dia memberitahu beberapa tugas kecil dan kebiasaan kakek sehari-hari. Seperti pagi ini misalnya, kakek mencukur bulu misainya dan itu dilakukan setiap pagi. Aku harus memastikan baterai di alat cukur miliknya cukup.
Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek seperti aku menjaga ayahku sendiri. Selain dalam diri kakek aku menemukan kepribadian seorang ayah yang sesungguhnya, dia juga telah menolongku. Maka aku harus bersungguh-sungguh menjaganya.
Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.
“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.
“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.
“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku,” tanganku mengambil remot dan kutekan tombol off.
“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu. Jika kau pergi, aku sungguh kesepian. Apalagi Atin minggu depan baru tiba,”kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan. Tiba-tiba aku teringat teman kakek yang dijumpainya di taman, dia bertanya, ‘siapakah dia?’ kakek menjawab, ‘dia anakku.’
“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga.
“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yin Heung” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, ‘kan?” kedua matanya menatapku.
“Namaku Yani Anggraini, Kek.”
Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “sudah tidak usah dipikirkan!”
Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.
“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.
“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”
***
Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Mulanya ketika aku berkemas, kakek berdiam diri di kamar. Entah apa yang berkecamuk di dalam kepalanya. Hanya nenek yang menemaniku mengemasi segala sesuatu yang akan kubawa. Tidak lupa seloyang bolu pemberian nenek. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.
Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.
“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.
Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “ambilah Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.
Ketika aku sampai di Indonesia, ternyata aku mendapati anakku sedang sakit cukup parah.Sebulan cukup membuat tubuhnya terlihat sangat kurus. Saat aku memeluknya, dia tidak membalas. matanya kosong entah sedang memikirkan apa. Terjawab sudah mengapa suamiku bersikeras menuntutku pulang. Aku menangis tanpa suara, ketika kedua tanganku memeluk tubuh kecil yang lemah itu.
Aku sempat menceritakan kondisi anakku kepada Atin ketika dia menelponku pada suatu siang yang sedang hujan. Beberapa hari kemudian, tanpa aku kira, kakek menelpon dan meminta nomor rekeningku. Kakek mengatakan, akan mengirimi uang untuk biaya pengobatan anakku. Aku menolak. Aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan seseorang. Namun kakek justru meledakkan amarahnya. Dan ini adalah pertama kalinya kakek memarahiku. Hingga akhirnya aku menyerah dan mengirimkan nomor rekeningku. Aku sungguh menyesal telah memberitahu tentang anakku kepada Atin.
Setelah anakku sembuh, aku memutuskan untuk kembali bekerja ke Hong Kong. Ini adalah suatu keterpaksaan meninggalkannya kembali, karena usaha yang kulakukan bangkrut dan dana dari koperasi harus segera kukembalikan. Mendengar kabar aku akan ke Hongkong, tentu membuat kakek sangat gembira. Ia menyusun daftar rencana. Sayangnya, aku membuat kakek kecewa. Visa kerjaku tidak turun, begitu ungkap agency baru. Agency lamaku mengatakan, potonganku belum lunas. Kendati aku telah mengirimkan bukti potonganku telah lunas kepada agency baru, namun agency baruku menyerah begitu saja. Hingga akhirnya, aku mendapatkan satu pesan dari agency lama, aku akan bisa ke Hong Kong apabila menggunakan jasanya dan aku harus kembali menunggu di PJTKI dengan potongan seperti biasanya, enam bulan. Aku memutuskan untuk tidak ke Hongkong untuk sementara waktu. Aku memilih ke Singapore.
Majikanku adalah seorang nenek yang mahir memasak. Dia keturunan China peranakan dan suaminya satu negeri dengan Sahrul Khan. Dia memiliki dua anak dan keduanya belum menikah, kupikir anak-anaknya masih menempuh pendidikan di suatu universitas. Ternyata dugaanku salah. Ketika itu, dihari ketiga aku bekerja, aku mendapati seorang wanita memakai seragam salah satu maskapai penerbangan Singapore. Wajahnya kulihat tidak lagi segar, namun hidungnya sangat elok dan proporsional, bibirnya sensual, dan matanya menatapku sendu dengan seutas senyum yang ia layangkan kepadaku. Kutaksir usianya sudah kepala empat. Perempuan itu, kata nenek, adalah anak bungsunya, sementara anaknya yang pertama di China.
Awal bekerja di sini, semua dipenuhi kenyamanan.Namun, ada dua keanehan. nenek mewanti-wanti untuk tidak memasuki ke satu ruangan. Ruangan itu memiliki pintu yang bertempelkan potret angsa putih. Aku penasaran, namun aku takut untuk memasukinya, apalagi nenek selalu berada di rumah. Nenek juga mewanti-wanti untuk tidak menyalakan lampu pada pukul 10 keatas di waktu malam. Seluruh ruangan harus dipadamkan. Dan keanehan-keanehan lainnya mulai tampak di bulan ke tiga.
Memasuki bulan ke tujuh, keanehan semakin merajalela. Suara-suara aneh di tengah malam mengusik tidurku. Suara tutup gelas yang dibanting di meja, suara hentakan kaki yang kuat di dinding kamarku, suara cepit rambut yang dibanting nyaris mengenaiku.Hingga kuputuskan untuk keluar kamar dan mataku menyapu keseluruh ruangan yang gelap. Aku sulit mendapati sesuatu yang menimbulkan kegaduhan dan mengganggu tidurku. Suara kegaduhan nyaris terjadi setiap malam, sampai menuju puncaknya, pada bulan ke delapan. Sampai akhirnya aku diserang insomnia karena rasa takut yang berlebihan.
Selama aku bekerja di Singapore, kakek sering menelponku. Dia sudah pulih dari sakitnya tersebab terjatuh di toilet beberapa minggu yang lalu. Setiap menelpon, kakek selalu memintaku untuk menyambanginya, dan ia berjanji akan mengganti ongkos. Tentu aku bingung, karena aku terikat kontrak. Sampai akhirnya aku mendapatkan kembali kabar buruk dari Atin. Dia mengatakan, kakek terjatuh di dapur dan dia terserang stroke. Hingga akhirnya kakek lumpuh total. Hanya mulutnya saja yang bisa digerakkan. Bahkan, setiap kali Atin memberi kabar, dia selalu mengatakan, ‘kakek selalu mengigau dalam tidurnya dan namamu yang selalu dia sebut.’
Pada saat aku dilanda kebingungan memikirkan kakek, entah angin dari mana, tiba-tiba nenek berikut anak dan suaminya akan holiday ke China. Aku sendiri di rumah, padahal yang kutahu, nenek selalu bilang, ‘dia tidak akan mempercayai pembantu untuk tinggal seorang diri di rumah.’ Sampai akhirnya, pada pukul 9, ketika semua telah pergi, dan aku dalan sujudNya, aku mendengar suara kegaduhan di kamar bergambar angsa. Ini pasti halusinasiku, aku menghibur diri. Aku merapalkan doa sebisaku. Bajuku kuyub oleh keringat. Jantungku serupa genderang detakannya. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku gemetar. Kulirik dari sudut mataku. Sepasang kaki unggas yang ukurannya seperti kaki manusia. Aku memejamkan mata. Aku amat takut untuk menoleh serupa apa wajahnya. Aku hanya pasrah mungkin di sini maut memanggilku. Hingga akhirnya, aku mendengar langkah kakinya seperti mendekatiku. Aku terus merapalkan doa tiada henti. Volume suaraku semakin meninggi, tersebab takutku yang berlebih. Namun entah apa yang terjadi sebenarnya, tiba-tiba terdengar ledakan cukup kuat di dekatku. Aku terkejut hingga mataku terpaksa terbuka. Tidak kudapati apapun di kamarku. Malam itu, aku memutuskan, bahwa ketika majikan pulang, aku akan break contrak. Karena segala sesuatu ada saatnya.
“Kau tidak bisa berpikir dengan waras. Ama kecelakaan dalam perjalanan ke China. Dia masih kritis. Dan kau memaksa mengakhiri kontrak kerjamu?” Grace, anak bungsu nenek membuang pasporku ke lantai dan mengusirku setelah memberi gaji.
***
Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi kakek, tidak untuk bekerja. Keinginanku untuk menjenguk kakek dipenuhi perdebatan panjang dengan suamiku, hingga akhirnya suamiku mengalah.
Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.
Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga, ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(13) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimka pesan ke Atin untuk menjemputku.
Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat hingga akhirnya, pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.
“Yani,” Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.
“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.
“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.”kakek menyunggingkan senyum.
Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.
“Kamu sebenarnya siapa?” kedua bola mata nenek menganak sungai.
Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal. Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.
Keterangan:
1. Kungkung: kakek
2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.
3.interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan.
4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.
5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.
6. BMI: Buruh Migrant Indonesia.
7. Stay out: Beberapa majikan memberikan fasilitas ke pembantunya untuk ngekos di luar. Ini sebenarnya tidak diperbolehkan pemerintah Hong Kong.
8.KJRI: Kedutaan Jenderal Republik Indonesia
9.Patadong: Kartu untuk naik MTR, bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.
10.Xiaolongbao: Pangsit isi
11. Dong Yhun: semacam wedang ronde
12. extend visa: memperpanjang visa. Jika visa habis, pekerja diharuskan keluar dari Hong Kong.
13. ID Card: Kartu Identitas
Cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata.

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Sebuah cerita tentang kejadian yang tidak biasa, sulit dipercaya namun konon berasal dari kisah nyata. Seperti judulnya, pembaca pun dibiarkan menduga-duga akhir cerita dan justru ini yang membuat naskah ini unik. Meski bahan ceritanya cenderung tidak biasa, penulis mampu menghubungkannya dengan masalah-masalah yang umum dihadapi buruh migran, misalnya soal ancaman terminit dan agensi yang tidak bertanggung jawab. Struktur dan alur cerita cukup mudah diikuti. Beberapa pemilihan diksi juga sangat menarik sehingga naskah ini enak dibaca.

📝 Komentar juri|Raudal Tanjung Banua

Bahasanya lancar, dalam EYD yang baik dan benar. Memunculkan rasa penasaran, sebab ada misteri dalam kata awal pada judul “dugaan”. Selain itu, baik tersirat maupun samar-samar, misteri itu dinyatakan dengan perhatian kakek yang menemukan kemiripan dengan anaknya yang hilang. Meskipun misteri ketertarikan kakek yang menjumpai Yani (aku) di stasiun kadang berbanding terbalik dengan kebetulan yang terjadi. Ada dimensi cerita yang mengarahkan kita ikut menduga-duga apakah benar Yani anak kakek dengan seorang BMI?

Karakter Kakek dihadirkan dengan utuh, mulai sifat hingga kegemaran dan tampilan fisiknya. Kebaikan Kakek yang polos (benar-benar “berhati emas”), kadang berbenturan dengan kecurigaan Nenek yang awas, sehingga memunculkan adegan jenaka. Saling curiga, tapi selalu berhasil dipecahkan.

Plotnya tertata, meski sempat berpanjang ketika Yani pulang ke Indonesia dan ke Singapura. Tapi itu semacam plot yang membungkus jalannya kisah. Dari sana kita melihat wajah dan karakter orang Asia dengan segala dinamika hidupnya. Cerita detail mengulik hal-ihwal aturan pekerja, keadaan sebuah negeri dan membangun beberapa bagian misteri.