Maafkan Anakmu Ayah

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Maafkan Anakmu Ayah
👤 Didit

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Naskah ini penting karena merupakan suara migran yang terjerat di balik jeruji penjara Taipei. Menariknya, naskah ini tidak berlarut-larut dalam kesedihan atau penyesalan. Penulis justru menceritakan kisah persahabatan antar narapidana, tentang kebersamaan dan belas kasih yang dimiliki mereka yang terus berusaha mempertahankan kemanusiaannya dari balik jeruji penjara. Tata bahasanya baik, alur gagasannya jelas dan runut. Naskah ini menunjukkan bagaimana menulis dapat menjadi media reflektif yang membebaskan jiwa.

📝 Komentar juri|Raudal Tanjung Banua

Cerpen yang dibuat secara tulis tangan ini berhasil membangun suasana kehidupan orang di penjara. Pembukaan cerpen langsung menyedot perhatian, dengan gambaran suasana yang kuat, membuat citraan alam sebagai citraan batin pelaku. Kehidupan yang penuh keterhimpitan, rindu kebebasan, terutama setelah mendengar ayahndanya meninggal dunia. Ia yang semula sangat ingin membahagiakan ayahnya (juga ibunya) yang hidup melarat, ternyata tak berdaya sebab di Taiwan ia mengalami sebuah kasus yang mengantarnya ke penjara.

Tidak disebutkan secara tegas kasus yang melilitnya, namun samar-samar dapat diketahui bahwa kemungkinan ia berkelahi atau membunuh rekan atau kapten kapal tempatnya bekerja. Sebab tak menjalani apa yang dinasehati ayahndanya untuk bersabar menghadapi cobaan dan jangan penuh murka dan amarah.

Keterhimputan penjara dihadirkan dengan baik, detail dan fokus. Ia juga berhubungan dengan sesama napi Tuan Chang yang sangat baik dan bahkan membantunya mengirim uang untuk biaya tahlilan ayahnya di kampung—yang sempat menjadi beban Adi (“aku”).

Meski tulis tangan, EYD dan bahasanya bagus, tertata. Kerinduannya pada sang ayah mengingatkan kita pada kehalusan gaya bahasa Hamka, namun suasana dingin dan penuh keterhimpitan yang dibangunnya mengingatkan pada novel Keluarga Pascal Duarte. Plotnya padat, dan cerita berjalan di antara tuturan dan dunia  batin tokoh yang kuat, mencekam, marah, menyesal, tapi sekaligus pasrah dan nerimo.