Pada Rindu di Bulan Desember

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Pada Rindu di Bulan Desember
👤 Amini

Akhir tahun aku akan pulang Mak! Sesuai janjiku dulu yang disaksikan pohon jati tua kita yang tegap dan teduh di awal kemarau tiga tahun lalu. Pohon jati yang dulu kita tanam berdua ketika aku masih bocahmu yang ingusan, saat itu punggung-punggung kita bersandar di pohon jati itu. Sembari kau usap punggung-punggung jari tanganku, katamu hidup kita seperti pohon jati itu yang akan meranggas di musim kemarau dan kembali bersemi di musim laboh. Sesekali habis daunnya dimakan ungker sebelum gugur, tetapi tetap tegak berdiri meskipun panas di daratan kapur yang kita tinggali kesulitan air setiap tahun. Dan apapun yang terucap darimu seperti mantra ajaib yang membuat pohon jati itu tetap kokoh hingga sekarang, begitupun kepadaku.
Sewaktu Desember itu rumah kita sudah seperti bangunan tua yang siap binasa, hujan mengguyurnya tiap hari. Dan kenangan kau yang mengajariku abc terngiang hingga kini. Kau yang kutahu belakangan tak pernah mendapat pendidikan formal namun entah dari mana kepintaranmu itu berasal. Pohon jati itu juga menjadi saksi bagaimana bapak yang bangga terhadap aku anak perempuan satu-satunya dibanding kedua adik laki-lakiku, juga saksi riwayat hidup simbah sebagai penjual kayu bakar sampai titik terakhir kehidupannya. Simbahku yang perkasa yang selalu mengatakan bahwa kita harus tetap bekerja untuk hidup. Bayangkan betapa lelahnya wanita tuaku yang hebat itu, menggendong kayu dari belia hingga renta bahkan di jaman orang mendapat subsisi kompor dan tabung gas. Siapa lagi yang akan membeli kayu bakar.
Kau tahu Mak? Taiwan itu luar biasa. Ada kereta dibawah tanah yang menjangkau sebagian isi kota Taipei. Ada pula salah satu gedung tertinggi di dunia yang luar biasa megahnya meskipun hanya bisa kulihat dari kejauhan. Taiwan juga mampu mengubah Lek Suti yang gendut sebesar gentong menjadi secantik artis ibukota, juga Mak Rum yang sudah janda bercucu lima tapi membawa pulang suami sipit yang katanya dari Thailand. Aku juga sedikit lebih cantik Mak, kulitku tak lagi hitam legam. Tetapi aku tak akan membawa pulang perubahan wajah dan tubuhku. Aku akan membawa pulang ilmu.
“Orang pintar itu orang yang bisa bahasa Inggris.” Walaupun kata-katamu itu benar tetapi Nyonya Chen menambahkan kalau aku pun harus bisa mandarin karena tanah yang kupijak sekarang semua orang tidak berbahasa Inggris tapi berbahasa mandarin. Kau benar Mak, Nyonya Chen juga benar. Dimintanya aku belajar mandarin agar aku tidak salah membeli makanan atau tersasar di jalan. Setiap malam, tidak peduli betapa lelahnya dan sambil menahan kantuk aku dimintanya mengeja huruf-huruf di halaman depan koran pagi yang dibacanya sambil mengesap kopi sebelum berangkat mengurus perusahaannya.
”Jangan menyerah. Jangan hidup terlalu lelah. Belajar lebih banyak dan berkembang selangkah-selangkah!” Nyonya Chen akan mengulang kata-kata itu jika terlihat olehnya aku menahan tangis karena pelajaran darinya terasa sangat sulit untuk diingat.
Akhir tahun seperti merambat demikian lambat seperti Kyai Ahmad tua, guru ngajiku yang berjalan tertatih dengan punggung terbungkuk menuju langgar untuk mengumandangkan azan. Benar-benar kusalahkan lajunya waktu karena rinduku pada mamak sudah tumpah meruah tak tertahan. Setiap titik hujan turun yang kupandangi dari balik jendela kaca yang bening seakan kulihat tubuhmu yang masih berdiri di bawah pohon jati tua yang daunnya jarang dengan punggung yang bergetar. Rasanya masih terasa juga basah air matamu di pundakku yang membekas sampai kini dan aroma kepiluan mamak pada kemarau yang abadi.
Kuingat kata-katamu saat terakhir kali aku meneleponmu, kau bilang rumah tua kita seperti akan menyusul simbah. Rumah itu sudah miring dengan pondasi kayu yang hampir habis dimakan rayap. Keadaan di kampung juga tak berubah, hanya hujan sepanjang musim penghujan beberapa bulan saja. Lalu mengering lagi, tak setetes pun hujan turun. Panen gagal. Hanya kering dan nyanyian kepiluan yang terdengar dari batin-batin keluarga sederhana yang harus mengencangkan ikat pinggang kesabaran. Sabar ya Mak.
Kapan Desember datang? Masih beberapa bulan lagi sepertinya. Hawa dingin mulai menyusup tulang dan ingatanku kembali kepada rumah tua kita. Bocorkah genting rumah kita? Banjirkah lantai tanah kita? Atau lapukkah dinding-dinding kayu kita setelah ditempa hujan sedemikian derasnya. Aku ingin mengganti kayu tua itu dengan batu bata, mengganti tanah itu dengan keramik. Sesederhana itu saja mimpiku dan yang paling aku inginkan adalah menghabiskan waktu dalam pelukanmu saat hujan-hujan mengguyur kampung tua kita.
Malam ini hujan turun sangat lebat Mak. Dulu di rumah tua kita kau akan membuat kudapan agar anak-anakmu ini tidak kedinginan. Walaupun cuma kopi kothok dan gandos rasanya itu adalah panganan terenak di dunia yang melebihi rasa pizza atau paha ayam bermerk dengan foto seorang jendral dibungkusnya. Rasa kangenku kian memuncak saat ini Mak. Ingat aroma wangi hujan pertama, ingat pelukanmu, ingat wejanganmu, ingin kopi kothok buatanmu, rindu kasih sayangmu. Dan kukutuk Desember yang rasanya terlalu pelan datangnya. Aku tahu ada sebongkah pilu yang meraksasa dan itu kunamai rindu.
“Kau akan jadi apa sepulangmu nanti?” Pertanyaan Nyonya Chen membentur bunyi guyuran hujan yang mendentang-dentang di daun jendela. Aku ingin jadi apa nanti? Sama seperti Bu Yeti guru SD-ku yang pernah bertanya apa cita-citaku. Aku diam tak menjawab waktu itu. Ketika beberapa teman-temanku menjawab akan menjadi polisi, dokter, presiden, guru bahkan ada yang ingin menjadi tukang batu. Apa cita-citaku? Meskipun sekarang harus bekerja begini, menjadi TKI. Suatu saat nanti aku ingin menjadi sesuatu tentunya. Kebanyakan para TKI yang sudah purna rata-rata hanya akan ‘leha-leha’ menghabiskan umur menjelang tua. Sebagian lagi terjebak menjadi TKI abadi. Sekarang pulang, ketika uang habis akan kembali ke luar negeri. “Tentu aku tak ingin begitu Mak. Aku ingin pulang dan membahagiakanmu,” kataku lirih sekali dan Nyonya Chen berlalu dari dapur, ruang kantorku sehari-hari.
Akhir tahun dulu aku pergi dan pada akhir tahun nanti pula aku akan kembali. Ke Taiwan kini aku setelah gagal mengabulkan keinginanmu menjadi pegawai negeri. Ya tentunya menjadi pegawai adalah satu-satunya harapan untuk meninggikan derajat keluarga. Mamak ingin sekali itu terwujud namun apa dayaku? Apa mungkin lulusan SMK sepertiku menjadi seorang pegawai negeri? Rasanya aku masih beruntung bisa bekerja di Taiwan. Ketimbang mengurus ladang-ladang kering di pinggiran desa.
Mak … sekarang aku tidak hanya bisa berbahasa Inggris tetapi aku bisa bahasa mandarin, aku juga bisa sedikit membaca dan mengetik mandarin. walaupun terus terang aku belum bisa membedakan kata 死 (mati) dan 四 (empat). Lidahku terlalu banyak makan nasi sepertinya Mak, jadi tetap tidak bisa lancar berbicara mandarin seperti orang Taiwan. Laoshi Hsieh bilang sebuah pengalaman berharga akan datang pada orang-orang yang menyiapkan diri. Ya sama seperti dahulu sewaktu kau mengajariku membaca, mengucapkan huruf-huruf abc dan merangkainya dalam kata-kata. Kau seperti menyiapkan diriku untuk menghadapi nasib yang menjadi hak kita. Aku akan terus belajar dan tidak akan menyerah Mak.
Lagi-lagi aku menangis Mak. Menangisimu dan semua keinginan-keinginanmu yang tak kesampaian. Sudah hampir tengah malam dan hujan kian deras. Sepertinya akan lama hujan ini selama kegelisahanku mengingatmu mamak. Andai saja waktu bisa kuputar ulang tak ingin aku pergi dari pelukanmu dulu. Tak ingin aku menyeret kaki meninggalkanmu sendiri di bawah pohon jati yang mulai bergugur daunnya di tanah kampung kita yang kering. Tangismu masih kurasakan, bahkan pohon jati itu juga merasakan kepedihan kita.
Mak … aku akan pulang dengan ijazah mandarin. Aku tahu ijazah itu mungkin tak banyak mengubah takdir kita. Aku tak bisa menjanjikan Mak, tapi aku hanya berusaha keras memasukkan semua huruf-huruf mandarin itu ke otakku. Jika aku tidak mampu menjadi pegawai negeri minimal aku bisa mengangkat derajat keluargaku tercinta dengan ilmu yang kupunya. Bahasa Inggris dan mandarin akan sangat berguna di masa depanku, Nyonya Chen dulu pernah mengatakan itu. Kuyakini ketika pulang nanti aku akan mengharumkan nama kalian, agar kau tenang di surga sana.

Taipei, 12 Mei 2019

Catatan;
Laboh: sebutan untuk masa pergantian musim kemarau ke musim penghujan
Ungker: ulat jati
Kopi kothok: kopi yang direbus bersama air dalam panci hingga mendidih khas Blora dan sekitarnya
Gandos: gorengan dari tepung ketan dan parutan kelapa, rasanya sedikit asin gurih
Leha-leha: bersantai

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Bahan cerita naskah ini unik karena menawarkan perspektif lain mengenai “hasil” yang diperoleh oleh buruh migran saat merantau untuk bekerja, serta refleksi yang serius tentang keberdayaan dan kemandirian di masa depan. Kemampuan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Mandarin, dilihat penulis sebagai modal baru yang dapat diperoleh buruh migran selama bekerja di luar negri. Akan lebih menarik jika penulis dapat mengeksplorasi prosesnya mempelajari bahasa baru, misalnya persoalan kesalahpahaman yang diakibatkan perbedaan bahasa, hambatan atau kesempatan yang ada, kata-kata atau istilah baru yang unik dan memberi pengalaman/pengetahuan baru, serta bentuk-bentuk latihan mandiri yang dapat dilakukan.

📝 Komentar juri|Raudal Tanjung Banua

Cerita kerinduan kepada ibu dan kampung halaman, menjadi liris  karena dibuat dengan mendekati pola bahasa surat. Tekniknya mengambil kerinduan “menunggu bulan Desember” berakhir, cukup jitu karena dengan begitu cerita menjadi fokus dan intens pada “suatu waktu tertentu”—namun toh merepresentasikan waktu-waktu lain yang lebih panjang.

Bahasa lancar, kalimat-kalimatnya menyentuh. Ada orisinalitas dalam bahasa ungkap, kepolosan dan keluguan, sesuai dengan latar cerita. Lokalitas kehidupan kampung di pedalaman Jawa, Blora, terhadirkan dengan detail—dengan pohon-pohon jati, rumah-rumah dan kebun—bersanding dengan kehidupan urban Taiwan.

Penggunaan EYD benar. Nilai perjuangan untuk menguasai bahasa—Inggris dan Mandarin—sebagai modal kelak untuk pulang ke tanah air, menjadi spirit dalam cerita, melebihi hasrat memiliki harta benda. Plot sangat padat, nuansa dan aksentuasi masuk sebagai latar dan alur-alur kecil yang memperkaya cerita secara keseluruhan. Perumpamaan sesuatu, seperti waktu, dibangun dengan menghadirkan karakter tokoh sehingga menciptakan intensitas cerita, seperti: Akhir tahun seperti merambat demikian lambat seperti Kyai Ahmad tua, guru ngajiku yang berjalan tertatih dengan punggung terbungkuk menuju langgar untuk mengumandangkan azan. Endingnya cukup mengejutkan. Ternyata Mak, orang yang ia rindui, sebenarnya sudah meninggal. Jadi ia pulang dalam arti akan berziarah.