LIYAN

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 LIYAN
👤 Yuli Riswati

Tidak mudah menjadi perempuan. Apalagi menjadi perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga migran. Perempuan yang harus hidup sebagai “liyan”. Sudah tersisih dan tertindih oleh beban kehidupan tapi masih harus digiring takdir untuk menghadapi realita keterbelengguan: bahwa dirinya bukan miliknya: bahwa dia ada tapi keberadaannya tak dianggap ada.

Begitulah nasib yang harus kuterima sebagai suratan. Di rumah majikan, meski aku orang baru, aku dituntut untuk menjadi yang paling tahu letak semua barang sekaligus kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Bahkan mesti memahami karakter juga perasaan masing-masing dari mereka. Sebaliknya, berapa lama pun aku tinggal dan berada di antara mereka, aku tetap bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

“Rubi! Di mana kaos kakiku yang berwarna hitam?” Seperti biasa suara nonaku yang usianya sudah 23 tahun terdengar berteriak menanyakan ini dan itu sebelum berangkat ke kantor.

“Di laci lemari bagian bawah! Di tempat biasanya.” Aku menjawab tanpa beranjak dari dapur. Tanganku masih penuh busa sabun, kegiatanku mencuci peralatan sarapan belum selesai.

“Rubi, nanti anakku dan cucuku makan malam di sini, kamu belanja untuk mereka. Jangan lupa beli daging babi untuk sup, telur dimasak bumbu tomat, ikan tenggiri dan kentang untuk digoreng. Cucuku suka kentang goreng!” Nenek memulai rutinitas hariannya, mengulang instruksi belanja berkali-kali sambil memikirkan menu masakan kami. Dia selalu khawatir makanan yang kami sediakan tidak cukup porsinya atau malah tidak enak rasanya dan membuat anak cucunya kecewa. Nenek selalu bilang kalau dirinya boleh saja makan sembarangan, tapi tidak dengan anak cucunya, harus selalu kusediakan makanan yang enak dan sehat serta mengenyangkan untuk mereka.

“Iya, iya, Nek.” Aku menjawab dengan anggukan kepala juga untuk menegaskan bahwa aku paham apa maunya perempuan tua berusia 84 tahun yang pendengaran serta ingatannya sudah mulai berkurang.

“Rubi, besok kamu jadi tukar hari liburmu?” Nyonya yang sudah siap berangkat kerja, menanyakan kepastian liburku.

“Iya, Nyonya. Tapi selesai urusanku, aku bisa lekas kembali ke rumah jika dibutuhkan.”

“Aku rasa tidak perlu. Kakakku akan mengajak mama makan bersama di luar. Penting kamu beres-beres rumah dulu sebelum berangkat dan sepulang libur ya,” suara Nyonya yang sebenarnya diucapkan dengan nada lembut, tetap saja tidak enak kudengar. Bahkan disebut libur pun pekerja rumah tangga sepertiku tidak benar-benar bisa bebas dari tugas dan rutinitas harian sebagai pelayan.

Aku sengaja menukar hari libur mingguan di hari kerja untuk memenuhi panggilan dari pengadilan. Aku diminta memberi kesaksian atas kasus pembunuhan mantan keluarga majikanku di persidangan.

Sebelum bekerja di rumah majikanku saat ini, aku pernah bekerja pada beberapa majikan lainnya. Termasuk keluarga mantan majikanku yang mengalami tragedi dan sempat menggemparkan Hong Kong serta menjadi tajuk utama berita media selama berminggu-minggu.

Pada awalnya, tidak ada yang menduga bola yoga kempes dalam bagasi Mini Cooper ada hubungannya dengan kematian Nyonyaku dan putrinya yang masih berusia 16 tahun. Keduanya ditemukan terpuruk di dalam mobil yang diparkir sembarangan di halte, diduga pingsan akibat keracunan karbon monoksida. Namun karena terlambat mendapatkan pertolongan, meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan.

Selama berbulan-bulan polisi yang melakukan penyelidikan nyaris buntu tanpa petunjuk. Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan masalah dengan mobil berwarna kuning yang biasanya kucuci seminggu sekali. Tak ada kerusakan pada sistem ventilasi kendaraan, bahkan ketika polisi meminta bantuan Interpol dan menghubungi langsung pihak BMW di Jerman untuk melakukan tes lebih lanjut terhadap mobil, hasilnya tetap nihil. Mobil pribadi Nyonya baik-baik saja.

Hingga para detektif melihat dan menemukan petunjuk penting yang diabaikan oleh semua orang, yaitu bola yoga berwarna abu-abu yang telah kempes dan tersimpan di bagasi mobil. Bola yoga yang sumbatnya hilang dan tidak bisa ditemukan di mana pun itu ternyata adalah alat pembunuhan yang langka.

Padahal aku ingat beberapa hari setelah kejadian, polisi datang ke rumah untuk menggeledah dan mengambil semua yang mereka bisa temukan di kamar tidur dan dapur. Bahkan tepung terigu yang sengaja kubeli untuk membuat dadar jagung juga turut mereka bawa untuk diperiksa. Namun tak ditemukan tanda apa-apa. Tidak ada racun atau obat apapun yang bisa membuat pusing orang dan terbunuh secara perlahan seperti dugaan awal.

Polisi akhirnya bisa mengungkap plot pembunuhan aneh yang diduga telah dilakukan majikan laki-lakiku yang seorang profesor. Tuanku yang ahli anastesi dicurigai telah dengan sengaja meletakkan bola yoga berisi gas beracun yang bocor di bagasi mobil istrinya.

Menurut polisi, dugaan dan dakwaan jatuh pada Tuanku setelah melalui wawancara dengan lebih dari 50 saksi mulai dari dokter, pemasok bahan kimia hingga psikolog dan keluarga, termasuk aku sebagai pembantu di rumahnya. Hingga terungkaplah fakta bahwa pernikahan Tuan dan Nyonya sebenarnya sudah hancur sejak lama.

Sebagaimana anak-anak majikanku, saat itu aku juga merasakan kesedihan yang luar biasa ketika menyaksikan kesedihan yang meliputi semua anggota keluarga juga kerabat majikan. Tapi siapalah aku, hanya liyan, tak ada yang peduli soal apa yang kurasakan, kupikirkan dan kuketahui secara diam-diam.

Alibi Tuanku yang kuat berhasil membuktikan bahwa ia tidak melakukan pembunuhan apapun. Saat kejadian, Tuan sedang bekerja di laboratorium rumah sakit bersama rekan-rekannya. Tapi motif pembunuhan oleh Tuanku sangat kuat juga kata polisi. Sebab Tuanku berselingkuh dengan seorang mahasiswi sekaligus asistennya di Universitas. Dan perselingkuhan itulah yang menyebabkan hubungan Tuan dengan istrinya lebih seperti kemitraan bisnis; mereka bersama hanya untuk kepentingan membesarkan anak-anak mereka.

Aku sebenarnya tahu soal perselingkuhan Tuan, dan pertengkaran-pertengkaran panjang pasangan yang menjadi majikanku, sejak pertama mulai bekerja di rumah mewah mereka. Meski terlihat baik-baik saja dari luar, meski hubungan Tuan dan Nyonya serta anak-anaknya juga cukup dekat dan akrab, tapi di antara kedua majikanku ada bara dan jurang yang menganga.

Tuanku sebagaimana kesaksian teman-temannya adalah tipe orang “yang tahu banyak” dan “tahu cara mengurus sesuatu”. Sikapnya tenang dan cenderung pendiam. Sementara Nyonya kebalikannya, emosinya tidak stabil, labil dan mudah meledak hingga sehari-hari ia harus mengkonsumsi obat penenang. Aku sudah terbiasa terkena amukan Nyonya tanpa sebab, dan sesudahnya ia akan mengaku khilaf dan meminta maaf serta memberiku sedikit uang jajan sebagai kompensasi sakit hati yang kualami.

Hari itu tanggal 22 Mei 2015, aku sedang sibuk membereskan rumah yang dihuni 7 orang; tiga anak perempuan, satu putra, Nyonya dan Tuan serta aku sebagai pekerja rumah tangganya. Kepadaku Nyonya berpesan agar aku tidak lupa belanja dan masak menu makanan Malaysia, dia sedang kangen rasa masakan kampung halamannya katanya.

Nyonya kemudian meninggalkan rumah bersama Lily sekitar jam 2 siang dengan menggunakan Mini Cooper kuning untuk menjemput anak-anak di sekolah. Namun, siapa sangka, tiga jam kemudian keduanya dikabarkan meninggal di rumah sakit setelah ditemukan pingsan di dalam mobil yang terparkir sembarangan di Sai Sha Road.

Dengan meninggalnya Nyonya sebagai orang yang menandatangani kontrak kerjaku, otomatis aku juga kehilangan pekerjaanku. Aku sempat ragu kesedihanku sebenarnya disebabkan karena kematian majikan dan anaknya atau karena nasibku sendiri yang kurang beruntung. Namun sebagai liyan, yang kehadirannya tidak dibutuhkan lagi di rumah duka yang sudah ditinggalkan para penghuninya itu, aku harus memikirkan dan menentukan kelanjutan hidupku sendiri, yaitu mencari majikan dan pekerjaan baru.

“Kamu harus terus berhubungan dengan kami karena sewaktu-waktu kesaksianmu dibutuhkan di pengadilan nanti. Kamu adalah salah satu saksi kunci dalam kasus pembunuhan bola yoga ini.” Polisi memberikan instruksi tanpa peduli aku bersedia atau tidak untuk bersaksi. Seumur-umur aku belum pernah memasuki ruang persidangan di pengadilan, membayangkannya saja aku sudah ngeri sendiri, apalagi harus membuat kesaksian?

Aku bertemu Tuanku terakhir kali ketika dia membayar gaji terakhir serta bonus karena aku sudah bekerja 5 tahun untuk mereka di kantor agen. Tak ada percakapan panjang, Tuan hanya mengucapkan terima kasih padaku yang sudah membantu membesarkan anak-anaknya kemudian menyerahkan uang dan tandatangan release letter sambil mengatakan aku boleh tinggal sementara di rumahnya sampai kudapatkan visa kerja yang baru.

Kata polisi dan jaksa, kesaksianku adalah kunci karena akulah yang berkomunikasi dan melihat Nyonya dan Lily terakhir kali sebelum keduanya pergi dengan mobilnya hari itu. Sementara kamera keamanan yang dipasang di rumah ditemukan tidak dinyalakan pada hari terjadinya pembunuhan. Sehingga tak pernah ada bukti rekaman siapa yang membawa bola yoga; Nyonya, Lily atau Tuan?

Kesaksianku tentang aku yang tidak melihat Nyonya atau Lily membawa bola yoga ketika pergi meninggalkan rumah adalah bukti sanggahan atas kecurigaan bahwa keduanya atau salah satu dari keduanya telah merencanakan kematiannya sendiri. Sebab sebelumnya beredar dugaan bahwa Nyonya yang menderita depresi sengaja bunuh diri karena tak mau bercerai, ada juga yang menduga Lily yang phobia serangga sengaja menyemprotkan obat untuk membunuh serangga di dalam mobil dan tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya bisa berakibat fatal dan membahayakan dirinya sendiri.

Menurut jaksa, aku juga harus mengatakan apa yang kuketahui bahwa hari itu aku melihat Tuan meninggalkan rumah untuk pergi bekerja denganl menggunakan pintu yang jarang digunakan sekitar jam 11 pagi. Beberapa jam lebih awal dari Nyonya. Selebihnya apa yang aku ingat, atau pertengkaran-pertengkaran yang pernah aku dengar, masih kata Jaksa, aku tidak perlu mengatakan atau menceritakannya.

Aku benar-benar diliputi kebimbangan atas apa yang terjadi. Aku yang liyan kenapa harus dipaksa menjadi saksi? Sementara aku tak boleh menceritakan banyak hal tentang keraguan dan pendapatku sendiri atas kasus pembunuhan di mana aku dipaksa terlibat di dalamnya.

Jujur saja aku ragu kalau Tuanku yang merencanakan pembunuhan dan lebih cenderung curiga kepada Nyonya sebagai orang yang merencanakan semuanya. Kecurigaan itu bukan tanpa sebab. Aku sempat mencuri dengar pertengkaran keduanya beberapa malam sebelum hari kejadian, Nyonya mengancam Tuan.

“Aku tidak akan membiarkanmu menceraikanku hanya agar kamu bebas bersenang-senang dengan perempuan simpananmu! Kau dan perempuanmu itu sudah menghancurkan hidupku, aku akan membalasnya, apapun caranya. Aku akan menghancurkan hidupmu! Aku tidak peduli meski untuk membalaskan dendamku padamu aku harus mati!”

Berdasarkan kalimat ancaman dan ekspresi wajah Nyonya malam itu, aku percaya perempuan yang masih sangat mencintai suaminya meski telah lama diduakan itu tidak sekadar berkata-kata tanpa makna. Sebagai perempuan aku tahu pasti kalau kombinasi antara perempuan, luka dan dendam bisa sangat mengerikan. Tapi aku masih tidak menyangka kalau Nyonya benar-benar bisa melakukan hal yang semengerikan itu, yang bukan hanya menghancurkan dirinya dan suaminya tapi juga keluarga serta anak-anaknya.

Meski banyak pemberitaan media pun apa yang dikatakan jaksa padaku bahwa masih misteri untuk menentukan kapan tepatnya bola yoga diletakkan di dalam mobil, dan sangat sulit untuk membuktikan bahwa Tuanku adalah yang meletakkan bola yoga tersebut. Tapi cukup dengan analisa motif dan kesaksianku, meski Tuan memiliki alibi yang kuat dan tidak punya motif untuk membunuh putri kesayangannya, ia sudah pasti akan dipenjara.

“Rubi! Apa kamu tuli? Aku memanggilmu! Apa yang kamu lakukan? Jangan melamun terus! Segera pergi belanja!”

Aku tidak menjawab omelan nenek. Setelah memakai sepatu, mengambil tas dan uang belanja yang diletakkan di atas meja, aku langsung pergi ke pasar tanpa pamit. Sengaja. Begitulah caraku sesekali protes kepada majikanku. Agar mereka tahu aku itu bukan robot dan sebagai manusia ada kalanya aku memikirkan atau terpikirkan sesuatu atau merasakan sesuatu di luar urusan pekerjaanku.

Ketika berjalan ke pasar yang berjarak cukup jauh dari apartemen majikan, aku berpapasan dengan beberapa orang Indonesia yang sedang berjalan bersama majikannya. Kami hanya saling bertatap mata dan tersenyum tanpa kata saling sapa. Aku mendadak teringat mengenai konsep liyan atau the other dalam Karl Marx. Bagaimana menjadi liyan membuat manusia-manusia sepertiku, yang hidup dalam kendali dan aturan para majikan, sehingga kehilangan esensi partisipasinya sebagai manusia baik sebagai pribadi pun sebagai mahluk sosial.

Bagi para PRT Migran seperti kaumku yang diharuskan tinggal dan bekerja di rumah majikan, tidak ada istilah insan merdeka atau menjadi mahluk rumpun sebagai species being atau kalau meminjam istilah sokrates adalah “jiwa bebas”. Kata Marx kami sebagai kaum liyan terjebak dalam keterasingan, dipinggirkan oleh orang lain dan lingkungan sekaligus asing terhadap kedirian.

Aku kerap merasa kami ini yang sering disebut babu atau pembantu oleh masyarakat Indonesia, serupa alien, hidup di antara ada dan tiada. Kerja kami ada dan nyata. Rumah majikan dan isinya bersih serta rapi karena tangan kami, bahkan pengeluaran uang belanja mereka juga tanggung jawab kami yang memikirkan bagaimana agar bisa berhemat tapi masih bisa menyuguhkan masakan sehat dan nikmat.

Tuan suka makan apa, nyonya suka pakai baju yang mana, nona kapan datang bulan, apa warna dan mainan kesukaan anak-anak, nenek sering mengeluh sakit apa dan cerita apa soal masing-masing anggota keluarganya, dan seabrek hal paling privasi serta rahasia pun kami tahu semuanya. Intinya kami sebagai orang asing di rumah majikan justru menjadi orang yang tahu segalanya bahkan yang paling rahasia. Tapi sebaliknya, keberadaan kami tak pernah benar-benar dilibatkan dan dianggap ada. Jangankan persoalan pribadi kami, hal sepele bahwa untuk bekerja dengan baik kami butuh cukup makanan dan istirahat, bahwa sebagai manusia kami punya persoalan manusiawi lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dan mereka, para majikan tidak mau tahu.

* “Jon sei yan! Coye emyung lo! Mat tu emsek! Lei co kungyan canhai moyung! Mokwaiyung a lei!”

Suara yang terdengar cukup keras menarik perhatianku. Seorang perempuan paruh baya terlihat sedang mengomeli PRT-nya yang tertunduk malu dengan wajah pucat karena menjadi tontonan lalu lalang orang di pasar. Dari penjual babi langganan, kuketahui rupanya secara tidak sengaja PRT yang terlihat masih polos itu telah menjatuhkan satu dolar uang kembalian belanja yang entah menggelinding kemana.

** “Moisia Dhaidhai, yugo lei canhai emsiong yung kungyan wace lei kungyan moyung, pat yu lei jau yau yi goi. Mo ceng goi mo min kamyong. Goi tu hai yan huji lei! Ngo pei fan lei ko jin!”

Aku mengulurkan uang satu dolar sambil melengos dan berlalu meninggalkan Nyonya galak yang mungkin saking terkejutnya, dia hanya menatapku terpaku.

Sudah sering aku diskusikan hal yang kerap mengusik pikiranku dengan teman-temanku. Sebenarnya kenapa para majikan selalu bilang tidak butuh pembantu tapi masih mengambil PRT dengan upah murah yang sesampainya di rumahnya diperlakukan sebagai liyan. Tak jarang sebagaian kami ada yang disiksa, dimarahi, dimaki-maki, dijadikan pelampiasan emosi dan hal-hal yang tidak manusiawi lainnya. Apakah memang sebegitu sulitnya antara majikan dan pekerja rumah tangganya untuk hidup berdampingan? Saling memahami? Toh sebenarnya sama-sama saling membutuhkan.

Mewakili teman-temanku, betapa aku sebagai liyan sangat ingin berbicara dan menyampaikan kepada para majikan, kepada dunia, kepada manusia lainnya; tidak bisakah kita merasakan senang dan takjub pada misteri yang mengelilingi hidup kita; pada rasa belas kasihan, keindahan, dan rasa sakit; pada rasa persahabatan yang terpendam di dada semua orang, dan pada keyakinan sederhana namun tak tampak atas cinta dan solidaritas yang merajut setiap hati agar saling berbagi. Apapun status kedudukan kita, Kita sama-sama manusia, tidakkah kita bersedia untuk saling memanusiakan?

Hong Kong, Mei 2019

Saat menulis cerpen ini, penulis sedang galau sekaligus terinspirasi teori Karl Marx tentang keterasingan buruh sebagai liyan atau ‘the other’ dan kasus pembunuhan bola yoga ‘yoga ball murder’ yang salah satu saksi kuncinya adalah seorang PRT Migran asal Indonesia.

Catatan kaki;

* “BODOH! Kerja nggak pakai otak! Apa-apa nggak becus! Kamu itu jadi pembantu nggak ada gunanya! Dasar pembantu tidak berguna!”

**”Maaf Nyonya, kalau benar kamu memang tidak butuh pembantu dan pembantumu ini tidak berguna untukmu, pecat saja dia. Tapi jangan permalukan dia di depan umum seperti ini! Dia ini juga manusia sepertimu! Ini uangmu aku ganti!”

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Kekuatan utama karya ini terletak pada kemampuan penulis menyusun cerita dalam persinggungan antara fakta dan fiksi, serta perspektif “sang liyan” yang dengan cerdas mengubah orientasi suatu kasus pembunuhan dalam keluarga di Hong Kong menjadi persoalan kerja perempuan buruh migran. Penulis menempatkan buruh domestik sebagai saksi kunci yang sentral dalam cerita, sebagai sosok yang kerap diperlakukan tidak manusiawi, meski pada saat yang sama sesungguhnya memiliki peran penting dan pengetahuan intim dalam jantung hati suatu kehidupan rumah tangga. Logika cerita disusun rapih, ketekunan penulis pada detail atas skenario pembunuhan dan pengetahuan tentang proses hukum peradilan berdasar riset teliti juga mampu meyakinkan pembaca untuk melihat kasus ini dari dekat dan dari perspektif yang berbeda.