Dua Malaikat Tak Bersayap

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Dua Malaikat Tak Bersayap
👤 Susanawati

Aku acapkali membayangkan jika hidup adalah sebuah sungai dengan aliran airnya yang jernih. Terdapat banyak ikan kecil, bebatuan dan beragam tumbuhan air yang tumbuh subur di sekelilingnya. Juga pohon-pohon rindang yang memberikan rasa nyaman dan tenang ketika berteduh di bawahnya. Aku seringkali lupa, jika terkadang hujan deras turun dan menyebabkan air sungai meluap. Menggenangi area di sepanjang alirannya bahkan menyebabkan banjir yang meninggalkan derita berkepanjangan. Namun, analogi hidup bak sungai dengan aliran air yang jernih dan mampu menjadi sumber kehidupan bagi siapa saja, menguatkanku untuk bertahan dalam kondisi seburuk apapun. Menghadapi rasa sakit yang kerap datang tanpa diundang. Menangkal rasa perih dan pedih karena kerinduan pada emak tercinta. Sosok penuh kasih yang telah mengabdikan seluruh hidup demi kebahagiaan ke-empat anaknya.
Awal kepergianku ke negeri Beton pada Mei 2005 silam, karena paksaan nasib dan kondisi perekonomian keluarga yang carut marut. Aku yang sejak kecil hidup bergelimang kasih sayang dan materi dari orang tua, tak pernah membayangkan jika hidup akan berkelok-kelok, menanjak bahkan adakalanya terjun bebas. Perpisahan kedua orang tua ketika aku masih SD, seolah menjadi godam yang meluluhlantakkan duniaku. Kedua orang tuaku berpisah bukan karena perceraian. Melainkan demi kesembuhan bapak yang menderita sakit komplikasi. Saat itulah tabir rahasia tentang pernikahan kedua orang tuaku terungkap. Ibuku ternyata istri kedua bapak. Mereka menikah karena bapak ingin mendapatkan keturunan sebagai penerus marga keluarganya. Istri pertamanya, seorang perempuan parahyangan, tak mampu memberinya keturunan. Namun, pernikahan bapak dan ibu tak mendapatkan restu dari pihak keluarga bapak. Itu berarti nama marga Ong, tak bisa diberikan kepada kami, anak-anaknya. Perbedaan keyakinan, bapak penganut Kong Hu Cu sedangkan ibu adalah seorang muslim taat serta latar belakang budaya dan status bapak yang membuat keluarga besarnya menentang pernikahan itu. Meski pada akhirnya mereka menikah, bapak harus rela memberikan tali kendali perusahaan keluarga kepada adik lelakinya. Ia masih dianggap bagian dari keluarganya dan diperbolehkan pulang, asal tanpa ibu dan kami, anak-anaknya.
Masih tersimpan jelas dalam lipatan memoriku. Kala itu aku masih kelas 6 SD. Kondisi kesehatan bapak yang usianya terpaut jauh dengan ibu, hampir 30 tahun, semakin memburuk. Berulang kali ke dokter dan masuk rumah sakit, namun tak ada peningkatan. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, keputusan diambil. Bapak pulang ke keluarga besarnya tanpa kami, ibu dan putra-putrinya. Demi kesembuhan bapak, ibu sepenuhnya mendukung dan mengikhlaskan lelaki yang telah hidup bersama dengannya selama 16 tahun untuk kembali ke istri pertamanya. Meski itu berarti, ia yang harus menanggung semua beban hidup bersama ke-4 anaknya. Pada awalnya, kehidupan kami sepeninggal bapak bisa dikatakan cukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun, seiring waktu berlalu, tanpa ada pemasukan, sedikit demi sedikit harta hasil kerja keras ibu dan bapak selama mereka menikah habis terjual untuk memenuhi biaya hidup sehari hari dan biaya sekolah kami. Ibu yang sebelumnya menyandang status nyonya dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk merawat ke empat buah hatinya, kakak, aku dan kedua adik lelakiku, harus mencari pekerjaan demi menopang kehidupan kami. Mencari pekerjaan dengan bekal keterampilan minim membuat ibu harus rela menjadi pembantu di rumah gedongan, kawasan perumnas Puri Cempaka Putih. Salah satu perumnas elit di daerahku. Meski gaji tak seberapa, ibu begitu bersyukur karena majikan dan keluarganya begitu baik dan ia tidak perlu menginap di rumah mereka. Pagi hari ibu berangkat dan sore sekira pukul lima ia telah berada di rumah bersama kami.
Setiap malam menjelang tidur, aku selalu melihat dan mengamati wajah ibu yang tertidur disampingku. Gurat kecantikan itu masih ada meski keriput mulai menutupinya. Aku seringkali mengusap telapak tangannya yang terasa semakin kasap dan kasar. Saat seperti itu, aku hanya mampu menahan isak. Karena aku tahu, ia sendirian harus menopang bahtera rumah tangganya. Menjadi orang tua tunggal bagi keempat buah hatinya. Ibu harus menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai ibu sekaligus bapak bagi kami. Mencari nafkah demi kelangsungan hidup dan pendidikan kami. Juga sebagai pelindung yang harus nampak gagah meski sebetulnya ia sangat rapuh. Namun dengan semangat baja, perempuan pemilik senyum yang mendamaikan hati itu tak pernah menyerah pada nasib. Baginya, kebahagiaan dan masa depan ke empat buah hatinya adalah hal terpenting dalam hidupnya. Meski cobaan datang silih berganti, ia tetap tegar bak karang di lautan. Selalu bangkit dari keterpurukan.
Keteguhan hati dan semangat ibu yang membuatku berusaha untuk menjadi seorang perempuan tangguh sepertinya. Tekadku untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga tertanam dalam sanubari. Sekolah sembari membantu ibu menjual kue buatannya, ikut berjualan bunga di dekat pemakaman, aku lakukan. Aku selalu belajar sekuat tenaga untuk bisa masuk dalam peringkat tiga besar di kelas. Alhamdulillah, kerja kerasku membuahkan hasil. Lulus SD aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke SLTP favorit. Begitupun ketika aku lulus SLTP, beasiswa kembali kudapatkan untuk melanjutkan ke jenjang SLTA. Aku memilih melanjutkan ke SMKN Negeri Turen, Malang. Sebuah sekolah kejuruan dengan maksud agar setelah lulus aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Meski mendapatkan beasiswa, untuk transportasi dan biaya lainnya, ibulah yang memberikannya. Kakak sulungku berhenti sekolah di jenjang SLTP dan bekerja untuk membantu meringankan beban ibu. Hal itu semakin mengobarkan semangatku untuk belajar giat agar tidak mengecewakan mereka. Dan setelah lulus SMK, kubulatkan niat untuk merantau mendulang dolar demi membantu dan memperbaiki perekonomian keluarga.
Dari tahun 2005 sampai 2011 aku telah bekerja dengan tiga majikan yang berbeda. Majikan pertama begitu baik dan memanusiakan aku. Bersama mereka aku pernah diajak berkunjung ke Shanghai, Beijing, Zuhai dan beberapa tempat wisata di Cina. Sayangnya, di tahun ke-4 kontrak kerjaku, mereka tidak memperpanjang lagi karena pindah ke Kanada. Setelahnya aku bekerja pada majikan yang tinggal di distrik Taipo. Sebuah daerah pedesaan yang jauh dari pusat keramaian. Majikanku seorang kepala desa dan anggota dewan legislatif daerah. Rumah mereka megah bertingkat tiga dengan halaman luas. Tugas utamaku yang tertulis di kontrak kerja pada majikan kedua itu adalah bersih-bersih, menyetrika, memasak, mencuci mobil dan berkebun. Di majikan ini ritme kerja tak kenal waktu. Dari pukul enam pagi hingga pukul dua belas malam, pekerjaan seolah tanpa henti. Karena nyonya sangat cerewet. Ia menuntut kesempurnaan untuk semua kerja yang dibebankan kepadaku. Sedangkan aku tidak diberi jatah makan yang memadai. Di sini aku bertahan hanya satu setengah tahun.
Saat berada di kantor agen untuk mencari majikan baru, sempat terlintas keinginan untuk pulang kampung dan mencari pekerjaan di tanah air. Apapun itu, asal halal. Namun, segera kutepis angan-angan itu. Masih banyak tanggung jawab yang harus kupikul. Aku harus membiayai sekolah kedua adikku dan merawat ibu. Juga menyiapkan bekal masa depanku. Sehingga kumantapkan hati untuk menerima tawaran dari seorang staf agen untuk bekerja dengan majikan di daerah Choi Hung. Masih kuingat jelas hari itu, tepatnya 10 Februari 2012. Kulangkahkan kaki menembus dinginnya negeri beton. Musim dingin benar-benar menunjukkan taringnya. Aku bergegas memasuki sebuah bangunan apartemen mewah dengan pagar besi hitam mengelilinginya. Di depan pintu lobi utama, kulihat dua orang perempuan berdiri berdampingan. Seorang nenek dan perempuan muda. Begitu melihatku, perempuan muda itu tersenyum. Ia pasti sudah melihat fotoku di lembar biodata di kantor agen. Aku membalas senyumnya dan kami bersalaman.
Ia mengajakku ke apartemen mereka. Nenek itu nampak kikuk dengan kehadiranku. Tangannya erat menggenggam jemari perempuan muda di sampingnya. Ia tak banyak cakap. Hanya tersenyum tipis saat aku memperkenalkan diri. Perempuan tua itu bermarga Yuk. Tubuhnya mungil. Mata sipitnya dibingkai kacamata bundar kecil. Wajahnya bulat jenaka. Rambutnya hitam. Tak ada satu uban pun terlihat. “Susan, perkenalkan, ini ibuku. Panggil saja nenek Yuk atau Ama, yang berarti nenek dalam bahasa Kantonis. Sedangkan kepadaku kau boleh memanggilku Sammy. Tak harus nona atau nyonya. Seperti yang tertulis di kontrak kerjamu, ia berumur tujuh puluh sembilan tahun. Dan tugasmu adalah menjaganya,” ucap perempuan itu. Aku mengganguk seraya tersenyum. Kulirik perempuan tua di sampingnya. Ia menatapku lekat. Lalu samar kulihat lengkungan garis bibirnya. Kuberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya. Namun, ia hanya membalas ucapanku lagi-lagi dengan senyuman tipis.
Perempuan muda di sampingnya yang menjawabku. “Ibuku memang pendiam. Tapi kau tidak usah khawatir. Ia baik dan tidak cerewet.” Kali ini nenek Yuk memandang putrinya dengan senyum terkembang. Ibu beranak itu nampak begitu akrab. “Kau beristirahatlah dulu. Besok saja mulai kerja. Untuk makan malam, aku telah memesannya dari restoran. Mungkin sebentar lagi datang. Kita makan bersama sekaligus merayakan kedatanganmu.” Perempuan itu berkata seraya menyerahkan sebuah buku bersampul hitam kepadaku. “Buku itu adalah catatan tentang semua hal yang berhubungan dengan kondisi kesehatan ibuku. Aku sengaja menuliskannya, karena aku jarang berada di rumah.”
Lebih lanjut, perempuan itu menjelaskan jika pekerjaannya mengharuskan ia untuk selalu berada di Cina. Sebulan dua kali saja ia berada di Hong Kong untuk menemani ibunya. Waktu yang singkat itu masih sering terganggu dengan urusan pekerjaan yang terkadang membuatnya harus membagi perhatian untuk sang ibu. Aku menerima buku tersebut. Membuka dan membaca lembar demi lembarnya. Ada catatan tentang obat-obatan yang harus dikonsumsi Ama. Jadwal untuk check-up ke dokter. Makanan yang boleh dan tidak untuk ia makan. Juga beberapa nomer kontak yang bisa aku hubungi jika ada suatu hal yang mendesak. Percakapan kami berakhir bersamaan dengan bunyi bel pintu rumah. Nona yang membuka pintu. Seorang lelaki bermata sipit berpakaian stelan hitam menyerahkan dua bungkusan kepadanya. Malam itu untuk pertama kalinya aku makan malam dengan majikan baruku.
Seiring berjalannya waktu, aku dan nenek Yuk semakin akrab. Hampir tiap hari hanya kami berdua di rumah. Aku menemaninya ke taman, ke pasar, bertemu teman-temannya dan semua kegiatan yang ia lakukan. Sedangkan putrinya sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sendiri. Hari berganti minggu, bulan dan tahun. Di tahun ke-4 kontrak kerjaku, nenek Yuk divonis mengidap penyakit dementia. Penyakit pikun yang umum menyerang manula. Pada awalnya tak ada perubahan berarti dari perilakunya. Memang, tak jarang ia lupa menaruh barang-barang miliknya. Seperti kaca mata, buku catatan dan sebagainya. Namun, lambat laun, daya ingatnya semakin menurun. Ia tak lagi mampu mengingat nama teman-temannya, nama kerabat bahkan nama putrinya. Yang ia ingat hanya namanya dan namaku. Bahkan semua orang dipanggilnya Susan. Jika tahun-tahun awal aku bekerja, Ama masih mampu untuk minum obat, mandi, ganti baju dan mengurus keperluanya sendiri, kini aku harus menyiapkan segalanya.
Kami tidur satu ranjang. Di kamar miliknya. Berbagi selimut bahkan tak jarang berbagi bantal, karena tengah malam biasanya bantalku sudah tergeletak di lantai. Aku memang tak bisa diam jika tidur. Jika saat berangkat tidur posisi kepalaku sejajar dengan kepala Ama, maka ketika tengah malam saat ia membangunkanku, kepalaku sudah berada di dekat kakinya. Aku bersyukur, karena majikanku itu tak pernah mengeluh sama sekali. Dan seringkali bantalnya berada di kepalaku. Ranjang di kamar Ama tidak begitu besar, tapi cukup untuk menampung tubuh kurus kami berdua. Ia begitu sabar dan pengertian. Hampir delapan tahun aku merawatnya, tak sekalipun ucapan atau kata-kata kasar terucap. Tak pernah ia mengadu tentang pekerjaanku ataupun hal lain kepada anaknya.
Diusianya yang menginjak 85 tahun ini, ia sepenuhnya bergantung kepadaku. Kemanapun aku pergi, aku harus mengajaknya serta. Tak jarang aku membawa Ama ketika waktu libur. Karena terkadang, putrinya kerja lembur di hari Minggu. Ama tak boleh ditinggal sendirian. Harus ada orang yang menjaganya. Sehingga aku harus mengajaknya berlibur. Untungnya, nenek Yuk tergolong majikan yang spesial. Ia selalu menganggap semua orang sama. Ia tak segan duduk di taman beralaskan plastik atau koran dan makan makanan Indonesia bersama teman-temanku. Ia selalu tertawa riang. Layaknya anak kecil yang berada di dunia baru. Apapun yang diberikan, dengan wajah sumringah ia memakannya. Hampir semua teman-temanku mengenalnya. Dan selalu menanyakan, jika saat aku libur , Ama tidak ikut.
Aku sangat menyayanginya. Bagiku, ia adalah nenek sekaligus ibu ke dua. Apalagi, setelah setahun lalu, ibu kandungku berpulang untuk selama-lamanya. Kepedihan mendalam karena tak bisa berada di samping ibu untuk yang terakhir kalinya, membuatku seringkali menangis saat berdua dengan Ama. Aku selalu mengatakan jika penyesalan ini, tak dapat melihat ibu untuk terakhir kalinya, akan aku bawa sepanjang hidup. Ia memandang lekat-lekat wajahku. Mengusap bulir airmata yang deras mengalir. Ia tahu aku bersedih. Saat seperti itu, ia akan merengkuhku ke dalam pelukannya dan berkata, “mosi kah a loi. Mo ham a. Lei yau ngo. Emsai tam sam, ngo hai lei keh Ama, ci em ci a?”. Dadaku bergemuruh disertai deraian air mata. Kuraih punggung tangan perempuan yang telah memberiku semangat di saat aku benar-benar terpuruk dan jauh dari keluarga. Kuciumi. Dan ia tersenyum. Namun, selang beberapa saat kemudian, ia kembali ke dunia kecilnya. Dunia dimana hanya ada kebahagiaan, masa lalu dan ia sebagai pusatnya.
Hong Kong, 12 Mei 2019

Catatan kaki :
Mosi kah a loi : Semua baik-baik saja
Mo ham a : jangan menangis
Lei yau ngo : Kau masih memilikiku
Emsai tam sam : Jangan kuatir
Ngo hai lei keh Ama : Aku adalah ibumu,
Ci em ci a ? : Mengerti ?

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Sedikit terlalu sendu dan berlarut-larut dari segi estetika bahasanya, namun cerita ini menggugah karena berhasil mengeksplorasi kompleksitas sosok “ibu”, peran perempuan yang pernah merawat dan akhirnya ketika tua perlu dirawat. Naskah ini mampu menggambarkan ironi tugasnya merawat ibu majikan nyaris tanpa hari libur,dan pada saat yang sama harus rela berada jauh saat ibu kandungnya meninggal di tanah air.