Untuk Sebuah Keajaiban

🇮🇩 2019 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Untuk Sebuah Keajaiban
👤 Diana Prabandari

Langit terlihat abu-abu, saat aku memasuki halaman rumah keluarga Tang di daerah Taipo. Sebuah bangunan besar bertingkat tiga berdiri di atas pekarangan yang tak terawat dengan baik. Sebagian catnya telah kusam dan mengelupas. Bunga dalam pot-pot itu telah banyak yang layu. Dedaunannya yang mengering, jatuh berserak dihempas angin. Semua nampak gersang. Sepertinya, sang pemilik tak memberinya cukup air. Hingga membuat mereka mati dan tak bersemi lagi. Sejenak, Aku melirik ke sekeliling. Sungguh, seperti tak ada kehidupan yang baik di tempat ini.

“Inah, cepat ke sini!” seru Wina dari kejauhan.

Aku terhenyak dari lamunanku. Mengangguk dan bergegas, mempercepat langkahku menghampiri Wina yang saat ini tengah berbicara dengan perempuan berwajah oriental dengan balutan cardigan di teras rumah. Ya, dialah Nyonya Tang. Seorang single parent1 yang akan menjadi majikan pertamaku di negeri Bahuinia, Hong Kong. Sebelum sampai ke rumah ini, Wina telah memperlihatkan fotonya padaku dan tugas apa saja yang harus kulakukan. Semua telah kucatat dengan baik diingatan. Aku tak ingin mengecewakan karib yang telah memperkenalkanku padanya.

“Kau harus merawat anaknya dengan baik. Dia adalah putra tunggal di keluarga mereka. Nanti akan ada banyak bonus yang bisa kau terima jika mereka puas dengan hasil kerjamu. Lumayankan, bisa buat bayar hutang mantan suamimu dan biaya sekolah Razka,” kata Wina saat tengah di perjalanan menuju rumah keluarga Tang.

Mendengar nama Razka, hatiku seperti tercabik-cabik. Seoalah baru kemarin aku tidur bersamanya. Menyuapi malaikat kecilku itu dalam pangkuan. Membacakan kisah orang-orang besar. Serta menceritakan banyak hal tentang dunia ini. Ya, rasanya memang baru kemarin saja semua itu terjadi. Kini, jaraklah yang harus memisahkan kami.

Aku tak tahu, jika tak ada Wina. Karib yang selama ini selalu setia mendengar keluh kesahku. Yang selalu menopangku saat terjatuh. Berkat dia pulalah aku bisa sampai di negeri ini. Entah apa jadinya jika aku tetap bertahan di kampung. Hidup dibayang-bayangi hutang yang kian hari kian menumpuk. Jika bukan karena ulahnya, mungkin aku tak akan meninggalkan Razka bersama orangtuaku sekarang.

Lelaki yang pernah menjadi imamku itu, hanya mau enaknya saja. Aku yang seharusnya menjadi tulang rusuk, harus rela menggantikan posisinya sebagai bapak sekaligus ibu bagi Razka. Ingin rasanya untuk mengakhiri semua dan pergi dari kehidupan ini. Jika bukan karena Razka, mungkin aku sudah melakukan hal bodoh itu.

Sungguh, berat rasanya jika memikirkan semua itu sendiri. Menanggung beban yang seharusnya ditopang berdua. Tapi apalah daya, ragaku tak kuat menjalani semua itu. Ya, menghapus segala tentangnya adalah cara terbaik untuk memulai kembali kehidupan ini. Sekalipun, pilihan tersulit itu datang. Ya, Aku harus meninggalkan apa yang ku punya saat itu, untuk mendapatkan kebahagiaan yang lain.

Buru-buru kututup segala kenangan pahit itu setelah sampai di teras rumah keluarga Tang. Sejenak, perempuan yang saat ini berada di hadapanku menatapku tajam. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia tersenyum dan mengagguk, seoalah menyetujui kehadiranku.

Aku pun tersenyum. Kecemasan yang sesaat lalu datang, seketika sirna oleh senyumannya.

“Cou san, Dhai Dhai2, sapaku padanya.

Perempuan yang masih nampak terlihat muda ini hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali bercengkrama dengan Wina dalam bahasa Kantonis yang memang tak kesemuannya bisa kupahami. Maklum, ini adalah kali pertamanya aku pergi ke Hong Kong. Terdengar dari tutur katanya, beliau adalah orang yang ramah dan baik. Wajahnya begitu meneduhkan. Setiap orang yang memandangnya pasti akan langsung menyukainya.

“Ingat, kau harus bekerja dengan baik di rumah ini. Jangan pernah mengecewakannya,” bisik Wina sesaat sebelum dia pergi.

Entah sudah berapa kali, aku mendengar kalimat itu terucap darinya. Ada kecemasan yang seketika terpancar dari raut wajah karibku setelah berbicara dengan Nyonya Tang. Seolah ada rahasia yang tengah disembunyikan olehnya. Wina pun meminta ijin pamit setelah perbincangan itu berakhir. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang berlalu pergi. Tanpa sempat berucap terima kasih.

“Masuklah,” kata Nyonya Tang sambil membukakan pintu.

Aku mengangguk. Mengikuti langkahnya dengan mantap. Bersiap, untuk memulai kehidupan baruku sebagai pekerja migrant di Hong Kong.

***

Malam kian merangkak larut. Kumatikan lampu kamar dan bersiap untuk merebahkan diri. Tubuhku lelah sekali. Seharian ini, aku sibuk. Pekerjaan rumah serasa tak ada habisnya. Afei berulah sejak matanya terbuka. Jika membayangkan kejadian tadi pagi, rasanya aku ingin sekali menjerit sekerasnya. Meluapkan beban yang membekap dadaku.

Ku lirik jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 23.00. Tiba-tiba gerimis turun bersamaan dengan kilat yang menyemburat di langit. Kuamati setiap rintiknya dari balik kaca jendela kamarku. Sesaat kemudian, hujan turun dengan derasnya. Aku hanya bisa membayangkan, saat ini duduk bersama Razka. Mendekapnya dalam pelukanku. Malaikat kecilku itu, memang sangat menyukai hujan. Bahkan, dia tak akan berpindah dari tempatnya sebelum hujan reda. Membayangkan wajah malaikat kecilku di kampung, menjadi obat mujarab pelepas lelah ini.

“Ibu rindu padamu, Nak,”gumamku dalam hati. Kupejamkan mata, berharap waktu cepat berlalu.

Pranggg…

Bunyi itu terdengar berulang kali. Aku terhenyak. Kaget. Seketika itu langsung bergegegas menuju sumber suara. Debar jantungku mulai bereaksi sangat cepat. Kudapati bocah lelaki yang saat ini tengah duduk di kursi roda itu sedang marah-marah dalam bahasa ibunya. Makanan yang kusajikan beberapa saat lalu, dibuangnya begitu saja. Membuat lantai yang telah selesai ku sapu, kembali kotor.

Mata bocah itu menatapku sinis. Dia lalu memutar kursi rodanya menjauh pergi, tanpa kata. Ini bukanlah kali pertama dia melakukan hal itu sejak kedatanganku, sebulan lalu. Entah karena dia tak menyukaiku atau karena hal lain. Aku pun juga tak mengerti akan sifatnya yang mudah marah dan meledak-ledak itu.

Pernah suatu ketika, seorang tetangga menyapaku. Memberitahuku rahasia yang selama ini, disembunyikan Wina. Ternyata, aku bukanlah, satu-satunya pembantu yang bekerja di rumah ini. Tiga orang sebelumku, merasakan apa yang kurasa. Dan kesemuannya, memutuskan kontrak dalam waktu yang singkat.

Tini, tetangga sebelah rumah justru kaget ketika mengetahui, bahwa aku telah bekerja selama lebih dari 2 minggu. Karena pembantu yang sebelumnya hanya bertahan, kurang dari satu minggu saja.

Terkadang, aku juga punya perasaan takut pada Afei. Bahkan, aku takut untuk sekedar menyapanya. Pun hanya bisa memilih untuk tetap diam agar tak membuatnya semakin emosi. Dan menunggunya berlalu dari pandanganku adalah caraku untuk tak mendengar kata-kata yang paling menyakitkan itu.

Aku yang masih terkesimak, hanya bisa menatapnya nanar. Afei, begitulah panggilannya. Umurnya baru lima belas, selisih 5 tahun dari Razka. Dua tahun lalu, mobil yang ditumpangi bersama teman-temannya mengalami kecelakaan. Semua yang ada di dalam kendaraan itu dinyatakan meninggal di tempat, kecuali Afei. Ya, hanya Afeilah yang selamat dari kecelakaan maut itu. Namun, dia harus menerima kenyataan pahit saat dokter memfonis kedua kakinya lumpuh. Dan kemungkinan besar, tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Setidaknya, begitulah cerita yang kudengar dari Nyonya Tang.

“Dia memang seperti itu. Aku hanya bisa berharap ada sebuah keajaiban datang yang bisa merubah kehidupannya.” Sebuah tepukan ringan menyadarkanku. “Lambat laun kau juga akan terbiasa. Jangan terlalu diambil hati,” lanjut Nyonya Tang sembari menyodorkan sapu dan tempat sampah.

Aku buru-buru meraihnya dan langsung membersihkan bekas makanan yang tercecer di lantai. Hatiku masih mengkal dengan kelakuan bocah itu. Ditambah Nyonya Tang yang selalu membela anaknya.

“Apa tadi Nyonya bilang? Terbiasa? Sampai kapan bocah itu akan terus seperti ini?” batinku dalam hati.

Kusapukan kain pel dan menggosoknya kuat-kuat sebagai pelampisan sesaat.Ingin rasanya aku berteriak saat itu juga. Frustrasi rasanya setiap hari harus mendapat perlakuan semacam ini. Jika bukan karena kebaikan Nyonya Tang, mungkin aku sudah kabur dari rumah ini. Bayangkan saja, sudah dua bulan ini aku mencoba mengambil hati bocah itu, namun apa yang selalu aku dapat. Semakin aku mendekatinya, semakin buruk perlakuannya padaku. Pernah kala itu, Afei melempar sup yang masih panas ke arahku. Beruntung, aku langsung menghindar. Kalau tidak, entah apa jadinya aku saat itu. Bahkan, jika diingat tak hanya itu saja. Dia pun sempat mengusirku tanpa alasan saat Nyonya Tang tak ada di rumah. Entah sampai kapan aku bisa bertahan di tempat ini. Rasanya ingin sekali menyerah dan mengacungkan bendera putih, sebagai tanda kekalahan.

“Inah…”

“Inah…”

Panggilan itu akhirnya menyadarkanku dari awang-awang. Kudongakan wajah. Menatap Nyonya Tang yang saat ini tengah berdiri di hadapanku. Seolah, dia tahu rasa hatiku yang mengkal saat ini. Dia mengusap punggungku, meredakan emosiku yang sedetik lalu membuncah.

Tak berapa lama, Dia masuk ke kamarnya dan beberapa menit kemudian keluar lalu menyodorkan sebuah bungkusan padaku. Awalnya, aku tak mengerti kenapa Nyonya Tang berbuat demikian. Namun lambat laun, aku mulai terbiasa. Ya, setiap Afei berbuat seperti itu, Nyonya Tang selalu memberiku sogokan atau penyuapan. Aku lebih menyebutnya seperti itu. Pekerja mana yang setiap kali diberi hadiah seperti itu akan menolaknya. Dan hadiah kali ini adalah sebuah ponsel android dari brand ternama yang masih tersegel rapi.

“Aku tahu kamu tertekan di sini. Pun aku tak bisa memaksamu untuk tetap tinggal, Inah. Terimalah, setidaknya ini yang bisa aku berikan agar kamu tetap betah bekerja di rumahku,” kata Nyonya Tang panjang lebar.

Ingin sekali aku menolak pemberiannya. Tapi, jawabannya pasti akan sama. Rejeki tak boleh ditolak. Kalimat inilah yang menjadi andalan dan sering diucapkannya saat aku berusaha menolak barang pemberiannya. Sungguh, jika diijinkan, Aku ingin menangis dalam pelukanya. Entah bagaimana aku bisa membalas segala kebaikan yang telah diberikannya padaku.

“Siapapun yang bekerja di sini, sudah kuanggap seperti keluarga. Begitu juga denganmu, Inah. Jadi, kau tak perlu sungkan. Jika kau butuh apa-apa, bilang saja padaku, Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikannya padamu.”

Begitulah kalimat yang terucap darinya saat pertama kali aku memasuki rumah ini. Kalimat yang terus terngiang dibenakku hingga saat ini.

“Terima kasih, Nyonya,” kataku sambil meletakan hadiah itu di meja dekat tempatku berdiri. “Tapi sepertinya, Afei tak suka dengan kehadiranku. Sudah sebulan ini, dia bersikap seperti itu. Sebaiknya, Nyonya mencari pengganti yang baru saja,” ujarku.
Perempuan itu menatapku sekilas. Ada kesedihan yang terpancar dari wajahnya.

“Kau tau rasanya kehilangan?” Tubuhnya berbalik. Menatap hujan dari balik tirai jendela yang setengahnya masih terbuka. “Semua itu sungguh tak mudah baginya, Inah. Apalagi dia masih muda. Masa depannya yang panjang harus terputus dalam waktu singkat,” lanjutnya.

Aku dapat merasakan kesedihan yang amat mendalam di hatinya. Sekilas, ada bening air mata yang siap menyembul dari kelopak matanya yang sipit. Dan beberapa saat kemudian, perempuan itu menangis, tergugu dalam pilu. Ini adalah kali pertama aku melihatnya menangis. Sungguh, aku tak menyangka. Perempuan yang Ku kira tegar itu, nyatanya rapuh juga.
Aku menghampirinya. Memeluknya untuk waktu yang sangat lama. Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan Nyonya Tang menangis dalam pelukanku. Rasanya, seperti tak ada jarak antara kami berdua. Kini aku tahu, kami berada di posisi yang sama, walau dengan nasib yang berbeda. Setidaknya, dari kejadian ini membuatku semakin yakin, bahwa aku harus bisa melewati ujian kesabaran ini, serta mengabdi sepenuh hati padanya.
***
Sejak malam itu, aku bersumpah pada diriku untuk bisa membuat Afei bangkit dari keterpurukan dan tak akan membiarkannya larut terlalu lama dalam kesedihan. Sudah cukup baginya bergelut dalam sunyi. Sendiri tanpa membuka hati pada dunia luar.
Berbekal ponsel pintar pemberian dari Nyonya, Aku mulai menuliskan kisah-kisah yang kualami di sebuah jejaring sosial. Beberapa dari mereka merespon positif dengan memberikan solusi tentang cara menangani pasien seperti Afei. Bahkan, mereka menyarankan agar aku melakukan hal-hal yang tak biasanya kulakukan padanya.
Pun tak lupa mencatat segala aktifitas yang pernah dilakukannya dahulu. Segala hal mulai kupelajari secara otodidak. Termasuk belajar memainkan piano lewat aplikasi gratisan. Salah satu alat musik yang paling digemari Afei. Aku percaya pelangi yang indah itu akan datang walau tanpa harus menunggu hujan reda. Setidaknya, aku butuh sedikit waktu untuk menunggu keajaiban itu tiba. Ya, hanya keajaibanlah yang dapat mencairkan hati yang telah lama membeku.
“Dan seemoga kali ini berhasil,” gumamku.
Aku memperlihatkan hasil masakanku pada Nyonya Tang, sebelum memberikannya pada Afei. Dia mengangguk. Lalu mengepalkan tangannya, seperti tanda semangat. Nyonya Tang menyetujui ide masakan yang kubuat kali ini. Dengan langkah mantap, aku menuju ruang makan.
“Man man sik a,” pelan-pelan makannya,” kataku sambil menyodorkan nampan berisi Bento3 saat Afei tiba di meja makan.
Dia mengeryitkan dahi saat melihat nasi berbentuk panda dengan tulisan ‘You Are Not Alone’4 yang sengaja kutambahkan di sana. Suasana hening untuk beberapa saat menghampiri seisi ruangan. Jantungku berdegub kencang. Takut jika emosinya akan kembali meledak. Dan membuang nampan itu lagi.
Sejenak, dia memandangi nampan itu. Kecemasanku mulai menjadi. Namun apa yang kuperkirakan saat ini, sungguh di luar dugaan. Perlahan tangan itu mulai menyumpit satu per satu Bento yang kuhidangkan. Nyonya yang saat itu mengawasi kami dari dapur pun tersenyum puas. Aku sangat bersyukur, kali ini tak ada acara lempar nampan lagi. Bahkan, dengan sekejap nampan yang tadinya penuh makanan, dilahapnya tanpa sisa.
Sekilas, Nyonya mengacungkan jempolnya. Aku mengangguk penuh syukur. Ada kepuasan tersendiri ketika target pertama telah kuselesaikan dengan baik. Tanpa sadar, kakiku mulai melangkah mendekati Afei yang bersiap masuk ke kamarnya.
“Terima kasih, Afei,” kataku sambil berjongkok dihadapannya. Menahannya agar tak segera pergi.
Dia sama sekali tak merespon. Hanya menatapku dengan tatapan sayu. Seakan ada sesuatu yang ingin diucapkannya padaku.
Sesaat, ada dorongan kuat untuk memeluk bocah lelaki ini. Entah darimana keberanian itu muncul. Semuanya mengalir begitu saja. Bocah lelaki ini pun membiarkanku menangis dipelukannya cukup lama. Hingga akhirnya, dia menepuk-nepuk punggungku. Aku pun merasakan ketulusan yang sebenarnya ingin diungkapkan padaku. Namun, aku memilih untuk tetap diam di tempatku berpijak.
“Kenapa kau baik padaku? Bukankah selama ini aku jahat padamu?”
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya sejak aku datang ke rumah ini. Aku melepas pelukanku. Menatapnya sejenak. Lalu meraih tangannya.
“Tak ada alasan untuk tidak berbuat baik pada siapapun. Sekalipun, orang itu begitu membencimu. ” Aku diam sejenak. Mengamati raut mukanya yang tiba-tiba berubah. Mata sendunya berkaca-kaca.“Karena sungguh, seburuk apapun perlakuan mereka padamu, pastinya ada alasan di balik semua itu.”
Tiba-tiba Afei memelukku dan menangis tersedu.
“Maafkan aku, Bibi,” ujar Afei. “Aku janji tak akan melakukannya lagi,” lanjutnya dengan derai air mata.

Aku mengangguk. Nyonya Tang yang menyaksikan semua itu, berjalan ke arah kami. “Terima kasih, Inah,”bisik Nyonya Tang.

Kami bertiga pun akhirnya menangis bersama. Bukan tangis kesedihan seperti dahulu, melainkan tangis kebahagiaan. Karena akhirnya, batu yang keras itu akhirnya terkikis jua. Sungguh, Aku tak akan pernah melupakan moment ini dalam hidupku. Ya, tak akan.
***
Delapan musim berganti begitu cepat, layaknya anak panah yang melesat dan tak bisa ditarik mundur. Terkadang, aku masih mengingat kejadian itu. Karena sejak saat itulah, Afei telah banyak mengalami perubahan. Dia sudah mampu mengontrol emosinya. Bahkan, kami juga sering melakukan aktifitas berdua. Memasak, bermain piano dan pekerjaan rumah lainnya. Dimana ada aku, di situ pula ada Afei. Kami seperti dua orang yang tak bisa dipisahkan sekarang.
Nyonya Tang juga memberiku ijin untuk berlibur bersama Afei di kampung halaman untuk menemui Razka. Afei telah menganggap Razka sebagai adiknya sendiri. Mereka begitu akrab. Aku tak bisa melukiskan kebahagiaan saat melihat mereka bersama. Sungguh, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ketika Tuhan menyatukan perbedaan itu.
Empat bulan terakhir, Afei mulai mengajariku menggunakan komputer. Berkat dia pulalah, Aku bisa membuat blog pribadi yang kesemua tulisannya menceritakan tentang keseharian kami berdua. Hari demi hari, ada saja pembaca yang menghubungiku melalui e-mail. Berkeluh kesah tentang hal yang sama dan berterima kasih setelah menerapkan apa yang ku tulis.
Tinggg…
Sebuah e-mail baru, masuk di akunku.
“Apakah aku bisa bertemu denganmu? Aku seorang jurnalis lokal yang ingin mengangkat kisah hidupmu bersama keluarga majikanmu. Jika kamu bersedia, tolong balas pesan ini,”
Aku mengernyitkan dahi. Bingung.
“Ada apa, Inah?” Kenapa Kau nampak bingung?”
Aku memperlihatkan pesan itu pada Nyonya Tang. Dia tersenyum.

“Undang saja mereka ke mari. Rumah ini terbuka lebar untuk siapapun.”

“Terima Kasih, Nyonya. Aku akan segera memberi tahu mereka,”ujarku sembari membalas pesan darinya.
Pertemuan itupun berlangsung satu minggu kemudian. Sebuah pertemuan yang mengubah jalan hidupku bersama keluarga Tang, beberapa minggu kemudian. Ya, sejak cerita itu masuk situs website media lokal di Hongkong, Aku jadi punya banyak teman. Bahkan, beberapa di antaranya menyarankan agar semua tulisanku dibukukan.
“Kenapa kau tak coba ikut lomba ini saja,” kata Wina yang sesaat lalu datang menemuiku. Dia menyodorkan ponselnya.
Sejenak, aku membaca informasi lomba itu. “Tapi aku tak nyakin bisa melakukannya dengan baik.”
“Menulis saja dari hati, Bibi. Pasti semua akan lancar,” kata Afei saat mengetahui kebingunganku.
Aku masih menatap layar monitorku yang masih bersih dari tulisan. Tak ada satu kalimat pun yang bisa kutulis saat ini.
“Coba saja, Inah. Aku yakin kamu pasti bisa.” Nyonya Tang pun tak mau ketinggalan untuk menyemangatiku.
Aku menghela nafas panjang. Melihat sekeliling sesaat. Begitu banyak orang yang peduli dan mencintaku dengan ketulusan hati mereka. “Terima kasih, telah membersamaiku,” gumamku dalam hati.
Dengan mantap, Aku pun mulai menulisnya. Sebuah kisah yang kelak akan mengispirasi setiap orang untuk melakukan hal yang sama. Tentang sebuah catatan kehidupan untuk saling merangkul dan mengasihi sesama. Tentang keajaiban yang mendatangkan kebahagiaan bagi para pembacanya.
***
Bintang-gemintang menyambut kedatanganku di kota Jakarta. Ditemani Nyonya Tang dan Afei, aku memasuki sebuah gedung, tempat acara besar itu dilangsungkan. Ratusan tamu undangan dari berbagai penjuru kota berbaur menjadi satu. Rasa canggung dan gugup seketika menyeruak dalam hati. Aku tak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya.
Ini kali pertama, aku berada dalam event besar seperti ini. Seminggu yang lalu, e-mail itu aku terima. Sebuah pemberitahuan tentang kemenangan atas karyaku berjudul ‘You are Not Alone’ menjadi karya terbaik dari sekian ratus peserta.
“Inilah pemenang lomba karya sastra berjudul ‘You are Not Alone’ yang akan memberikan sambutanya pada hadirin semua.”

Aku bangkit dari kursiku. Dan berjalan menuju podium dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia dan jua tak percaya. Kutatap wajah penuh kebahagiaan itu dari tempatku berdiri.
“Terima kasih untuk orang-orang yang selalu membersamaiku sampai detik ini. Untuk majikanku, Nyonya Tang, yang hingga detik ini tak pernah berhenti untuk selalu mendukungku. Sekali lagi terima kasih.” Aku mengusap airmataku yang keluar begitu saja. “Ingatlah, Jangan pernah menjadikan orang yang membencimu sebagai musuh. Seburuk apapun perlakuan mereka terhadapmu.”
Tepuk tangan para undangan pun menggema di seluruh ruangan ini. Nyonya Tang menghampiriku. Memelukku serta berucap syukur atas apa yang telah kucapai hingga detik ini. Afei pun memberiku karangan bunga yang ternyata menjadi hadiah kejutan yang tak pernah kuduga.
“Bibi.”
Aku berjongkok di samping kursi rodanya. Lalu, Afei memelukku sesaat dan berbisik. “Terima kasih telah menjagaku sampai aku bisa sembuh seperti sekarang ini.”
Afei melepas pelukanku. Lalu bangkit dari kursi rodanya. Berjalan selangkah, dua langkah. Aku terkesimak menyaksikan semua itu. Air mataku langsung meleleh. Tak menyangka bahwa bocah lelaki yang aku rawat selama ini bisa sembuh dan bangkit dari kelumpuhannya. Ini adalah keajaiban dari Tuhan yang kesekian kalinya yang singgah di kehidupanku.

Sungguh, sebuah keajaiban yang tak datang hanya sekali pada setiap insan manusia. Dia akan terus datang, lagi dan lagi. Tanpa bosan.

📝 Komentar juri|Brigitta Isabella

Cara tutur dalam cerita ini cukup lugas. Yang menarik ditekankan ialah kecermatan penulis dalam menunjukkan bahwa kerja buruh migran di ranah domestik bukan hanya membutuhkan keahlian (memasak, mencuci, mengepel, dsb) tapi juga pengetahuan dan perasaan. Karena observasinya yang mendalam, penulis dapat dengan apik memotret bagaimana buruh domestik berusaha merekatkan hubungan keluarga di tempatnya bekerja, suatu wujud kemanusiaan yang menuntut keterlibatan emosi dalam melaksanakan pekerjaan.