編織宿命 Merajut Takdir

🥉 優選 Choice Award

📜 編織宿命 Merajut Takdir
👤 ETIK PURWANI

Terjadi tengah malam ketika Ika mengguncang bahuku. Deru napasnya yang hangat dan berbau menempel di telinga, “Etik, bangun. Etik bangunlah. Bantu aku melarikan diri dari sini.”

“Ika, ini masih tengah malam. Kamu mengigau, ya? Tidurlah lagi, besok kita bangun jam empat pagi.” Aku menggumam tanpa membuka mata. Badanku masih terasa pegal seluruhnya.

“Etik, aku harus kabur dari sini sekarang. Harus sekarang. Kalau kamu tidak mau membantu, ya sudah, besok kamu lihat aku sudah mati.” bisik Ika lagi. Aku seperti mendengar rentetan peluru ditembakkan persis di telingaku. Aku terduduk seketika. Dalam remang-remang aku melihat mata bulat Ika berkilat-kilat. Ika tidak main-main dengan kata-katanya.

“Ika, tolong jangan seperti ini. Kita akan temukan caranya. Bukan sekarang, bersabarlah. Nyawa kita hanya satu, jangan terburu-buru.” dengan berbisik aku mencoba memadamkan kilat di mata Ika. Dia baru datang di penampungan ini dua minggu yang lalu, setelah aku hampir sebulan lamanya di sini. Ika dan aku begitu saja jadi seperti saudara. Ika empat tahun lebih tua dariku, dua puluh dua tahun umurnya. Sebelum sampai di penampungan para calon TKW ini, Ika adalah mahasiswa sebuah akademi bahasa asing di Jakarta. Kuliahnya terlunta-lunta karena selama menempuh pendidikan ia terlalu banyak turun ke jalan menuntut pelengseran pemimpin negara kami yang tidak mau turun meski telah memerintah selama berpuluh-puluh tahun. Ika berteriak-teriak menuntut reformasi di sepanjang jalanan Jakarta, marah kepada negara yang kata Ika sudah menyebabkan orang tuanya bangkrut dan tidak mampu membayar uang kuliahnya lagi. Ika dan kawan-kawannya berhasil mengganti pemimpin negara kami, tetapi semua orang masih harus terengah-engah menyambung napas untuk bertahan hidup karena uang yang susah payah dicari, tahu-tahu kehilangan nilainya. Ika lalu merasa bekerja ke luar negeri adalah cara paling cepat mengumpulkan uang agar ia bisa melanjutkan studi. Aku dan Ika sama-sama sampai di tempat ini karena tahun 2000 benar-benar tahun yang berat untuk semua orang.

“Tidak bisa Etik. Harus sekarang. Tempat ini adalah neraka. Masalah kita cuma menjadi orang miskin. Kita bukan pendosa. Neraka ini bukan tempat kita!”

“Aku tahu, Ika. Kita akan cari cara lebih tepat…”

“Tidak ada cara lebih tepat, Etik. Kemarin aku yang meracuni Katiya, Sumi, dan yang lain…”

“Ika, kamu gila! Bagaimana kalau mereka menjadi cacat atau mati?”

“Tidak, Etik. Mereka tidak akan mati hanya karena aku memasukkan beberapa jamur beracun di sup mereka kemarin. Kupikir dengan kejadian keracunan massal begitu, polisi akan datang menggerebek neraka ini dan kita semua dibebaskan. Ternyata tidak. Ternyata semua bangsat belaka!”

Kemarin pagi memang aku sempat melihat Ika memperhatikan jamur-jamur liar berwarna kekuningan di bawah jemuran baju di halaman belakang. Aku tidak mengira dialah dalang di balik kekacauan kemarin. Lima orang dalam penampungan ini berak-berak dan muntah-muntah, beberapa meracau seperti sedang sakau sehingga mereka harus diangkut ke rumah sakit. Salah satu dari mereka adalah Katiya yang baru masuk tiga hari yang lalu. Sejak datang, aku dan Ika bergantian mengawasi Katiya karena suhu tubuhnya yang tinggi menahan kesakitan, giginya gemeretak, payudaranya membengkak. Di kampung, Katiya masih menyusui bayinya yang baru berusia lima bulan. Penyapihan yang tiba-tiba membuat kondisi tubuh dan kejiwaan Katiya tumbang. Staf di penampungan ini mengatakan Katiya akan baik-baik saja setelah beberapa hari. Dan ternyata Ika malah meracuninya.

“Katiya, Ika? Kenapa tidak aku saja? Kamu benar-benar merepotkan!”

“Tidak, Etik. Katiya diurus dokter sekarang. Itu bagus. Tugasmu membantuku melarikan diri dari sini. Hanya ini caranya agar aku bisa membebaskan kalian semua.”

“Bagaimana caranya, Ika? Kamu pun tahu kita terkunci di sini, tidak ada jalan keluar.”

“Ada. Aku akan keluar melalui jendela di lantai dua. Kamu membantuku turun dengan selimut sebagai tali…”

“Tidak!” sahutku cepat.

“Harus, Etik. Kalau kamu tidak mau, aku akan terjun sendiri. Dan ya paling-paling aku akan mati”

“Oh, Ika. Mengapa kamu pilih aku sebagai temanmu? Ya, Tuhanku…” Aku sungguh-sungguh meratapi kemalanganku. Ika mengecup pipiku, berdiri dan menarik tanganku agar mengikutinya.

Dengan diam dan mengendap-endap Ika mengambil beberapa selimut yang ditinggalkan oleh teman-teman yang sekarang menginap di rumah sakit karena keracunan. Hanya aku dan Ika yang terbangun. Semua penghuni penampungan ini sedang terlelap berjejer-jejer seperti ikan sedang dikeringkan, semua kelelahan. Ika menyerahkan selimut-selimut itu padaku. Aku hampir memprotesnya, tetapi Ika lebih cepat membekap mulutku, “Jangan buang-buang waktu, kita hanya punya waktu dua jam sebelum semua orang terbangun.” serunya berbisik.

Setengah menyeretku, Ika berjalan tanpa suara. Ika menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ketika hendak menuruni tangga turun ke lantai dua. Dalam remang, kami berjalan pelan mengandalkan insting sebagai penerangan. Kami berjalan dengan teramat pelan. Aku bahkan jadi membenci suara napasku karena aku takut derunya akan membangunkan Ms. Agnes atau Ms. Merry, staf penampungan yang kamarnya berada di lantai ini.

Penampungan Tenaga Kerja Wanita (TKW) ini adalah dua buah rumah toko (ruko) yang digabung menjadi satu. Ruko pertama berfungsi sebagai kantor dan penampungan sementara sebelum hasil tes kesehatan dinyatakan sehat. Setelah dinyatakan sehat, kami ditempatkan di ruko kedua. Ruko kedua ini berfungsi sebagai penampungan. Ini adalah bangunan tiga lantai. Lantai dasar adalah dapur umum, meja makan untuk staf dan lantai sedikit luas untuk kami makan sembari duduk bersila. Di lantai dua adalah kamar staf dan dua ruang kelas belajar bahasa Mandarin, di antara keduanya dipisahkan oleh dinding dan pintu kaca. Lantai paling atas ada satu kamar mandi dan tempat kami tidur berbantal tas masing-masing dan tidur begitu saja tanpa alas.

Aku dan Ika terus mengendap. Aku sedikit lega ketika sampai di lantai dua kudengar bunyi dengkuran Ms. Agnes dan Ms. Merry terdengar jelas bersahut-sahutan. Ika menarik tanganku berjalan ke arah kelas di mana kami biasa belajar bahasa. Di masing-masing kelas ini hanya ada papan tulis dan satu set meja dan kursi guru, kami belajar dengan duduk di lantai. Ika terus menarikku menuju pintu pembatas kelas. Baru kemudian aku menyadari mengapa kemarin Ika sangat berinisiatif untuk meminta krim vaseline kepada Ms. Agnes dan lalu mengolesi semua engsel pintu dan jendela di ruangan ini sehingga suara deritnya yang berisik jadi hilang. Ika sudah mengatur langkah-langkah pelariannya dari sini, entah sejak kapan.

“Aku akan turun dari jendela ini, Etik. Kamu ikat selimut ini kuat-kuat di pinggangmu. Kamu berpegangan yang kuat, ya.” kata Ika menyodorkan selimut yang sudah diikat sambung menyambung menjadi sangat panjang.

“Ika, ini sangat berbahaya. Bagaimana kalau kamu sampai jatuh?” hatiku terasa getas membayangkan apa yang akan dilakukan Ika. Aku ingin dia mengurungkan niatnya.

“Tidak, Etik. Aku akan tetap hidup. Karena aku harus menyelamatkan kita semua dari sini. Kita tidak boleh membiarkan mereka memperlakukan kita seperti ini terus-terusan. Bila kita diisolasi dalam waktu yang lama dan diberi makanan ketakutan setiap hari, tubuhmu akan tetap hidup, tapi otakmu tidak akan berguna.” katanya. Dari cahaya remang yang dipancarkan lampu penerangan jalan yang menembus melalui kaca jendela, aku masih melihat mata Ika menyala-nyala.

“Sudahlah. Bismillah, ya!” selama bergaul dengannya, baru sekali itu saja Ika menyebut nama Tuhannya. Mungkin meskipun hanya sedikit, Ika gentar.

Ika mengikat pinggangnya dengan salah satu ujung selimut, di ujung yang lain Ika mengikat pinggangku kuat-kuat. “Etik, badanku lebih besar dari dirimu, kamu akan setengah mati menahanku. Kamu harus kuat, ya. Berpegangan di sini, di pinggir jendela ini. Oh, kawanku!” Ika memelukku, suaranya terdengar bergetar. Ika seperti menahan tangis.

Aku melepas pelukan Ika, tanganku merogoh saku celana. Di dalam saku, kuikat dengan peniti, ada beberapa lembar uang pemberian nenekku. Ini adalah uang yang selamat dari perampasan para staf di sini. Semua orang dilarang membawa uang, alat kosmetik, dan peralatan ibadah. Kata mereka hal ini untuk mencegah kami melakukan hal aneh-aneh. Aku berhasil menyembunyikan uangku di dalam lipatan saku dan menguncinya dengan peniti saat penggeledahan di hari pertama aku masuk ke penampungan. Aku selalu membawa uang itu ke manapun aku pergi. Uang itu semacam jimat bagiku; seperti doa kuat dari orang-orang yang sedang aku perjuangkan–orang tua dan adik-adikku.

“Ika, ambil uang ini. Kamu akan memerlukannya.” kataku pada Ika.

“Tidak, Tik. Kamu lebih membutuhkannya.”

“Ika, ambil saja. Uang ini tak ada gunanya di sini. Kamu tahu kita tidak bisa membeli apa-apa di sini”

“Tidak, Tik. Aku butuh bantuanmu, bukan uangmu. Sudah, jangan buang-buang waktu. Ayo, cepatlah!” berkata begitu, Ika sudah menaiki kursi guru yang sedari tadi sudah diangkatnya mendekati jendela, sebelah kakinya sudah berada di luar jendela.

“Etik, tahan kuat-kuat, ya!” kata Ika lagi, suaranya bergetar. Aku mengira Ika ketakutan.

Tubuh Ika sudah merambat turun, kedua tangannya berpegangan pada bibir jendela. Tubuh Ika terasa berat sekali, buru-buru kusumpalkan gulungan uangku pada mulut Ika. Tubuhku sudah susah sekali bergerak karena selimut panjang itu membebat tubuhku dari perut hingga ke lutut. Menurut Ika yang perlu kulakukan adalah memutar tubuhku, sehingga tubuh Ika yang bergelantungan akan turun perlahan-lahan. Aku berusaha menahan desis yang keluar dari mulutku, tubuhku seperti sedang diremas ular raksasa. Cahaya remang dari lampu penerangan jalan tidak mampu membuatku punya keberanian untuk melihat tubuh Ika yang bergelantungan. Perutku terasa meledak, tulang-tulangku terasa retak tapi aku jauh lebih cemas bila sampai simpul buatan Ika terlepas dan lalu membuat Ika terhempas dengan keras. Aku terus berusaha memutar tubuhku dengan seluruh tenaga, lututku yang bertumpu pada dinding seperti terkoyak, pandangan mataku berkunang-kunang, napasku seperti menyangkut di tenggorokan ketika tiba-tiba, “Braakkk!!!” beban tubuhku hilang seketika, aku terduduk lemas.

Aku mengira setelah ini tulang-tulangku sudah remuk berantakan. Aku bersandar di dinding, kusebut nama Tuhanku berulang-ulang. Butuh beberapa lama untukku merayap-rayap berdiri, mengumpulkan tenaga yang tersisa. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Ika. Selamatkah dia? Hancurkah tubuhnya? Aku melihat ke bawah jendela, remang belaka. Ika tidak ada.

Kuputuskan untuk segera menggulung selimut, perlahan mengembalikan kursi guru pada tempatnya. Saat kututup daun jendela, di ujung jalan yang sepi seperti kuburan, samar-samar aku melihat Ika berjalan terpincang-pincang. Aku bersyukur, setidaknya dia masih bernyawa.

Melangkah perlahan sambil membopong selimut, aku kembali ke lantai tiga. Semua orang masih dikuasai kantuk. Kulipat semua selimut satu per satu, lalu masing-masing kukembalikan ke atas tas baju yang berfungsi sebagai bantal. Aku tak ingat persis selimut yang mana milik siapa, aku hanya berusaha tidak meninggalkan kecurigaan apa pun mengenai pelarian Ika.

Kurebahkan tubuhku di lantai, masih terasa ngilu di semua sendi. Aku ingin terlelap meskipun hanya sekejap. Tetapi bayang-bayang Ika berjalan terpincang-pincang dalam remang menempel di kelopak mata. Bagaimana kalau dia dikeroyok preman-preman ganas di ujung jalan? Ms. Agnes sering bercerita di ujung jalan di kompleks ruko ini ada tempat mangkal para preman-preman jalanan. Ah, seharusnya aku membekali Ika dengan pisau dapur, bukan dengan menyumpalkan uang.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa keputusan yang kuambil untuk bekerja ke Taiwan akan menjadi serumit ini. Terlahir sebagai anak perempuan tertua, membuatku merasa harus ikut menanggung kesulitan keuangan keluarga. Situasi sekarang sedang buruk sekali. Di rumah sudah tidak ada lagi barang yang bisa dijual untuk menutupi kebutuhan. Bebek-bebek peliharaan bapak dan ibuku sebagai harapan yang tersisa tidak lagi mau bertelur; terlalu banyak memakan pelepah pisang karena kami tak cukup uang untuk membeli bahan pakan yang baik. Dengan putus asa, bapak terpaksa menjual semua, menyisakan beberapa ekor sebagai kenangan. Ketika bebek-bebek itu diangkut pembeli, aku hanya membayangkan ketiga adikku akan putus sekolahnya. Aku tidak bisa diam saja. Pagi itu, ketika aku sedang menjerang air di tungku untuk menanak nasi, kubakar juga surat pemberitahuan penerimaan beasiswa kuliahku. Untuk mendapatkan surat itu, aku sudah belajar sangat keras tidak peduli siang atau malam. Untuk keluargaku, untuk kelangsungan pendidikan adik-adikku, kubakar cita-citaku. Kusampaikan pada bapak dan ibuku bahwa aku ingin bekerja ke Taiwan. Bapakku terdiam, ibuku berkaca-kaca. “Aku akan pergi sebentar saja, Ibu. Aku akan segera pulang membawa uang. Jangan sedih, aku bisa melakukannya.” kataku. Tangis ibuku pecah seperti air bah.

Ijazah SMA masih satu minggu lagi dibagikan, tapi aku sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dengan iringan airmata bapak dan ibuku. Aku merasa biasa saja. Di kampungku, pergi ke luar negeri sebagai buruh sudah dilakukan banyak orang bahkan oleh tetangga-tetanggaku yang lebih muda dari usiaku dengan modal pendidikan hingga SD dan SMP saja. Seorang calo yang lazim juga disebut sponsor membawaku ke Jakarta. Kota yang rumit, panas, dan jauh sekali. Ini adalah kota paling asing yang pernah kukunjungi sepanjang hidupku; betapa berisik dan berdebu. Di kota ini aku mengerti mengapa banyak orang mengatakan ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Di kota ini, tidak ada satu pun PJTKI yang mau menerimaku sebagai calon TKI ke Taiwan. Kata mereka umurku belum cukup, wajahku terlihat masih kanak-kanak. Data-data palsu yang sudah disiapkan sponsorku tidak cukup meyakinkan mereka. Aku bersikeras harus tetap bisa bekerja ke luar negeri. Aku yakin tidak sesusah itu.

“Ada satu lagi PJTKI di Tangerang yang pasti menerimamu, Tik. Tapi aturannya sangat ketat. Niatmu harus benar-benar kuat. Bagaimana? Mau?” tanya sponsorku. Aku menyanggupi saja, karena pulang tanpa hasil sama sekali tidak ada dalam benakku.

Maka di sinilah aku sekarang. Sekali masuk ke dalamnya mustahil menemukan jalan untuk keluar. Kecuali jika keluargaku punya banyak uang untuk melakukan penebusan.

“Banguuuun!!!” suara lantang Ms. Agnes berteriak di tangga begitu saja membangunkan teman-teman yang masih tidur mendengkur. Mereka bergegas melipat selimut dan tergesa-gesa ke kamar mandi, masuk berjubel bergantian tiga orang tiga orang. Jam menunjukkan angka empat pagi, aku mengantuk sekali.

Semua orang lalu melakukan aktivitas kerja yang sudah dijadwalkan kemarin sore; mengepel, membersihkan kaca jendela, membersihkan tangga, mencuci baju staf dan memasak makanan untuk para staf dan untuk sarapan kami. Semua dikerjakan dengan cepat karena Ms. Agnes dan Ms. Merry bergantian terus-menerus berteriak dan membentak. Kata mereka mengepel dan mengelap kaca jendela harus kami lakukan tiga kali berturut-turut untuk melatih kami bekerja dengan giat dan jauh dari rasa malas. Di Taiwan, kata Ms. Agnes, para majikan tidak mau punya pembantu yang malas-malasan, kami bisa dipulangkan dan tidak membawa hasil apa-apa, kalau majikan tidak puas, kami mungkin malah disiksa. Aku bertugas membuat sarapan bersama ketiga teman yang lain. Kami masak gado-gado dan ayam goreng untuk makanan staf. Sarapan kami setiap hari adalah ubi jalar rebus dan segelas teh pahit. Kata Ms. Agnes kami harus membiasakan diri kekurangan makanan karena di Taiwan rata-rata semua majikan adalah orang-orang yang pelit, kami mungkin saja tidak akan mendapatkan jatah sarapan sama sekali.

“Salah satu dari kalian, bantu angkat pot pecah di halaman depan” Ms. Agnes tiba-tiba muncul di depan pintu dapur, mengagetkanku yang sedang menggoreng daging ayam. “Saya, Ms.!” kujawab cepat-cepat. Kutinggalkan wajan seketika lalu berjalan mendahului Ms. Agnes menuju pintu depan. Aku begitu bersemangat hingga lupa tindakanku itu bisa saja membuat Ms. Agnes curiga. Apa boleh buat, aku harus tahu apa yang menyebabkan suara keras ketika Ika melarikan diri tadi malam.

“Itu, pot-pot bunga yang pecah itu kalian pinggirkan ke sudut sana, di dekat jalan. Nanti biar diangkut oleh tukang sampah. Berantakan sekali, mungkin ditabrak preman mabuk tadi malam.” kata Ms. Agnes. Saat menggerutu pun suaranya terdengar jelek sekali. Aku dan beberapa teman yang mendapat tugas menyapu halaman segera mengangkat pecahan pot itu. Ada bercak darah di beberapa pecahannya yang lumayan tajam. Bagian tubuh Ika pasti ada yang robek semalam. Tiga pot tanah liat kosong yang ditumpuk itu mungkin tidak kuat menahan tubuh Ika lalu pecah berkeping-keping. Ketika Ms. Agnes berjalan ke pinggir jalan untuk memeriksa tumpukan pecahan pot, aku perhatikan dinding teras atas, persis di bawah jendela di mana Ika melarikan diri tadi malam; jejak-jejak tangan dan kaki Ika terlihat jelas sekali.

Kami segera masuk kembali ketika Ms. Agnes memberi perintah. Setelah mencuci tangan, kami semua berkumpul, duduk bersila membentuk lingkaran menunggu perintah untuk sarapan. Ms. Agnes dan Ms. Merry juga sudah duduk di kursi bersiap menyantap gado-gado, ayam goreng dan masing-masing segelas jus buah. Setelah serempak mengucapkan selamat makan kepada kedua guru kami, kami dibolehkan makan ubi jalar rebus dan segelas teh tawar. Kami makan dengan cepat dan tanpa bersuara.

“Ika, di mana?!” Ms. Agnes tiba-tiba berteriak tanpa aba-aba. Ubi jalar yang aku makan seketika seperti menyumbat di tenggorokan. Telingaku terasa panas. Dadaku berdetak lebih keras, aku berusaha tak memancing kecurigaan sekuatnya. Buru-buru kuminum teh di gelasku, terasa bertambah pahit. Semua orang saling pandang, rupanya tidak ada yang menyadari Ika tidak ada sejak tadi. “Cari!!!” Ms. Agnes berteriak lagi, suaranya mirip orang yang sedang dirasuki setan. Teman-teman seketika bubar, menyebar ke mana saja mencari Ika. Aku dan teman-teman yang bertugas piket masak segera meringkasi piring-piring dan gelas-gelas lalu membawanya ke dapur. Ms. Agnes dan Ms. Merry berteriak-teriak memerintah semua orang untuk mencari Ika di semua sudut penampungan. Ika tentu saja tidak akan ditemukan di sini.

***

“Ada apa ini? Setelah kemarin banyak yang keracunan, sekarang satu orang hilang. Kenapa kalian bikin susah saya? Saya bikin penampungan ini untuk bantu kalian. Saya orang kaya, uang saya banyak, mobil saya banyak. Bangunan macam penampungan ini saya pun ada banyak. Kalian tahu? Kalian kerja jadi pembantu sampai tua pun kalian tidak akan mampu beli satu saja gedung macam ini. Paham kalian?

Kalian semua miskin, mau makan saja kalian tak ada uang. Orang tua kalian miskin, hidup kalian susah punya. Saya ada kasih uang itu sponsor-sponsor kalian buat ambil kalian datang ke sini. Pergi ke kota pakai uang banyak, kalian paham tidak? Kita kasih ajar kalian macam mana kerja di Taiwan, kita kasih ajar kalian bahasa Mandarin. Saya tanggung semua biaya hidup kalian di sini, semua pakai uang saya. Jadi kalian tolong menurut saja, baik-baik saja. Biar kalian bisa kerja, dapat uang besar, bisa kasih makan kalian punya saudara. Ha, paham kalian?” Mr. Feri, pemilik penampungan ini terus saja berbicara. Setelah Ika tak ditemukan, kami semua dikumpulkan di kelas untuk dimarahi. Ini kali ke dua aku bertatap muka dengan tuan pemilik tempat ini. Aku pertama bertemu dengannya ketika sponsorku menemuinya untuk menerimaku masuk di penampungan ini. Waktu itu Mr. Feri mengiyakan saja tanpa banyak bicara.

“Ada apa-apa, kalian tinggal bilang saja sama Ms. Agnes, Ms. Merry atau pada saya. Ini kota besar, jauh dari kampung kalian. Kalau kalian lari dari sini, di luar kalian bisa mati. Tak akan ada orang yang menolong. Kalau kalian lari dari sini, kalian mau kerja apa? Mengemis?” ujar Mr. Feri lagi. Wajahnya yang putih berwarna kemerah-merahan, mungkin ia berkata-kata sambil menahan kemarahan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan rekan-rekanku, tapi mendengarkan ocehan Mr. Feri aku merasa kesal sekali dan membuatku merasa bahwa tindakanku membantu Ika melarikan diri sama sekali bukanlah satu kesalahan. Semua orang menunduk, mungkin mencoba menelan kata-kata Mr. Feri. Aku mendongak, merasa perlu untuk memperhatikan.

“Kamu! Apa kamu punya masalah yang ingin kamu katakan pada saya?” Mr. Feri bertanya tiba-tiba, mengarah lurus padaku. Aku terkesiap. Semua orang kini menatapku. Aku tahu, melalui tatapan mereka, teman-teman sedang memintaku untuk berbicara menyampaikan kondisi-kondisi di sini yang tidak mereka sukai. Ika sering mengajak mereka merumpikan banyak hal ketika Ms. Agnes dan Ms. Merry tidur siang. Ika sering bicara pada mereka bahwa mereka sedang diperlakukan tidak layak; makan dan tidur mereka seharusnya lebih baik dari yang mereka terima saat ini karena saat bekerja di Taiwan nanti, gaji mereka akan dipotong dalam jumlah besar untuk mengganti semua biaya hidup selama tinggal di penampungan. Dengan pandangan mata, mereka ingin aku yang bicara pada Mr. Feri soal rumpian-rumpian itu karena yang mereka tahu akulah yang paling dekat dengan Ika. Kepergian Ika serta-serta melemparkan tanggung jawab besar pada pundakku.

“Tidak banyak masalah, Mister. Ada beberapa yang saya tulis di buku pelajaran bahasa Mandarin. Apakah Mister mau melihatnya?” setengah mati aku menguasai kegugupan.

“Mana?” tanya Mr. Feri. Aku segera membuka catatan yang kutulis di buku Mandarin. Aku terbiasa menulis apa pun yang kualami setiap hari. Aku terbiasa mencoret-coret buku dengan tulisan dan lukisan-lukisan yang berantakan. Ketika aku kesal, aku juga menulis makian-makian. Menulisi buku sudah seperti kebutuhan bagiku, seperti bernapas. Kebiasaan ini sudah kulakukan sejak aku bisa menulis dan membaca, sejak aku bisa merangkai kalimat-kalimat dan membaca cerita-cerita panjang. Bila aku berada pada situasi yang paling payah, menulis seperti memberiku semacam energi yang melegakan. Selama di sini, buku bahasa Mandarin-ku penuh dengan coretan acak yang berantakan. Di beberapa bagian coretanku itu ditandai Ika dengan lingkaran-lingkaran dan ditulisi menggunakan huruf besar kata-kata seperti: teror mental, perbudakan, penyekapan, pelanggaran hak asasi manusia, human trafficking dan entah apa lagi. Pada lembar tentang makan dan tempat tidur layak, aku menyerahkan catatanku pada Mr. Feri.

“Boleh, boleh. Ini gampang.” katanya sambil mengangguk-angguk ketika membaca tulisanku. Aku lega tapi tidak lama. Dengan lancang, Mr. Feri membuka-buka halaman bukuku yang lain. Saat itulah wajahnya yang semula sudah kembali normal berubah merah dan mengeras. Mulutnya terkatup rapat, rahangnya kaku, matanya melotot menatapku dengan sangat tajam. Aku merasa terpanggang.

“Mulai sekarang tidak ada buku dan pena! Belajar bahasa dihapalkan saja. Saya tidak mau tahu!” seru Mr. Feri keras sekali sembari bersiap beranjak pergi, “Ambil semua buku dan pena mereka. Semua!” perintahnya pada Ms. Agnes. Mr. Feri pergi dengan amarahnya. Bukuku, tempat bernapasku, dibawanya pergi serta.

Sejak hari itu aku tidak lagi melihat kertas, pena dan buku. Katiya dan teman-teman yang lain juga sudah kembali dari rumah sakit. Payudara Katiya juga sudah sembuh, emosinya sudah mulai membaik meskipun kadang ia masih suka berdiam lama-lama dan meracau tiba-tiba. Ms. Agnes dan Ms. Merry berubah sedikit lebih sabar; kami boleh membuat nasi goreng dan teh dengan sedikit gula untuk sarapan. Mr. Feri sudah membelikan kami kasur busa berukuran kecil untuk kami tidur, masing masing mendapatkan satu kasur dan bantal. Kipas angin di tempat kami tidur juga sudah diperbaiki sehingga kami tidak kepanasan ketika terlelap di malam hari. Pagar tembok di halaman belakang dibuat lebih tinggi dan diberi kawat berduri, semua jendela sekarang dipasangi teralis besi.

Aku menjalani rutinitas di penampungan sehari-hari dengan perasaan biasa saja. Kadang terlintas kerinduan yang sangat kepada ibu, bapak dan adik-adikku sampai aku hampir menangis, tapi segera kutepiskan dengan membantu Katiya menghapal kosakata bahasa Mandarin. Ia yang paling kesulitan mengingat sehingga Ms. Agnes menyebutnya Si Pandir. Ika tidak pernah datang memenuhi janjinya untuk membebaskan kami dari sini.

Dua minggu setelah kepergian Ika, ketika aku sudah mulai membayangkan mencoret-coret dinding dan udara dengan jari telunjuk, aku diberitahu bahwa hari penerbanganku ke Taiwan telah tiba. Aku mengingat hari itu seumur hidupku; 27 Juli tahun 2000.

“Etik, ini paspormu. Hapalkan tanggal lahir dan tahunnya. Harus ingat di luar kepala, ya. Jangan sampai ketahuan kalau datamu palsu. Kamu bisa dipenjara atau dipulangkan.” kata Pak Hadi, staf yang bertugas mengantarku ke bandara.

“Dipenjara sungguhan ya, Pak.” celetukku begitu saja.

“Maksudmu bagaimana?”

“Ya dipenjara sungguh-sungguh penjara. Kalau di penampungan kan penjara latihan saja” aku mencoba berkelakar. Setelah dikurung sekian lama tanpa tahu-menahu dunia luar; kendaraan-kendaraan, jalanan berdebu, pengamen dan gelandangan di sisi-sisi jalan yang kami lewati menuju ke bandara seperti menyuntikkan harapan dan keberanian padaku, seperti gambar-gambar kebebasan.

“Kamu bisa saja. O, ya memang kamu ‘kan yang membantu kawanmu kabur tempo hari?” tanya Pak Hadi kemudian, menatapku mencari kebenaran.

“Iya, Pak. Ika bilang dia hanya miskin tapi bukan penjahat. Ia memilih bebas, saya membantunya mewujudkan kemerdekaannya…” kujawab begitu saja tanpa memperhatikan reaksi Pak Hadi. Ada rasa lega yang mendesak bertubi-tubi di dalam dadaku.

“Lalu kenapa kamu tidak kabur juga? Kamu tidak ingin memilih merdeka juga?” entah apa maksud pertanyaan Pak Hadi itu. Tetapi aku merasakan sesak yang luar biasa. Aku merasa sedang harus mengunyah dan menelan batu sekepalan tangan besarnya. Bagaimana mungkin seseorang memilih untuk tidak merdeka?

“Saya tidak tahu, Pak.” kataku. Yang sebenarnya, aku tak ingin bicara apa-apa, karena sekali itu, setelah sekian lama, rasa di dadaku sudah menggumpal di tenggorokan, hampir pecah menjadi air mata.

“Aku baca semua catatan di buku Mandarin-mu. Seharusnya pekerjaan ini tidak akan cocok untukmu. Tapi bagaimana ya, hidup bukan soal cocok dan tidak cocok… Aku hanya bisa bilang, kamu pasti berhasil. Hati-hati ya, Etik!”

“Terima kasih, Pak. Selamat tinggal.” air mataku meleleh. Di kota yang jahat ini masih ada orang baik rupanya.

Aku melangkah gamang, mungkin menuju harapan, mungkin menuju ranjau-ranjau kehidupan berikutnya. Yang aku tahu aku harus terus berjalan, sebaik-baiknya, setegak-tegaknya.

Nantou, 12 Mei 2020


📜 編織宿命 Merajut Takdir
👤 ETIK PURWANI

事情發生在半夜,伊卡搖了搖我的肩膀,她那帶著氣味和溫熱的氣息貼在我耳邊,「艾蒂,醒來。艾蒂,醒來吧。幫我逃離這裡。」

「伊卡,現在是半夜,妳在說夢話嗎?回去睡吧,我們明早四點起床。」我閉著眼睛喃喃自語。我全身還很疲倦。

「艾蒂,我現在就必須逃離這裡。必須是現在。如果妳不幫忙,那就算了,明天妳就幫我收屍吧。」伊卡再次低聲地說。我猶如聽到一串子彈打進耳朵裡,瞬間坐起來。在昏暗的燈光下,我看到伊卡圓滾滾的眼睛閃閃發光。伊卡沒在開玩笑。

「伊卡,拜託妳別這樣。我們會找到辦法的,不是現在,妳再耐心一點。我們的命只有一條,不要著急。」我低語的在伊卡耳邊說,想辦法將她眼裡的烈火澆熄。我在這裡待一個月後,她才在兩個星期前來到這個職訓中心。伊卡和我就這樣成了姐妹,她比我大四歲,她二十二歲。

來到這個準移工職訓中心之前,伊卡是雅加達一所外語學院的學生。她的學業走得跌跌撞撞,因為在讀書期間太常上街抗議,要求推翻統治幾十年也不願意下台的國家領導人。伊卡在雅加達街頭大聲嚷叫要求改革,對國家感到憤怒,據伊卡說,國家造成她父母破產,無法再支付她的學費。伊卡和她的朋友們成功換掉了我們的國家領導人,但每個人還是都得氣喘吁吁的維持生活,因為辛苦賺來的錢突然失去價值。然後,伊卡認為到國外工作是賺錢繼續讀書的最快方式。

我和伊卡會到這裡,是因為2000年對每個人來說都是艱難的一年。

「不行艾蒂,一定要現在。這個地方是地獄。我們的問題只是貧窮。我們不是罪人。地獄不是我們的地方!」

「我知道,伊卡。我們可以找到更適合的方法……」

「沒有其他合適的方法了,艾蒂。昨天我已經對卡迪雅、舒米和其他人下毒了……」

「伊卡,妳瘋了!如果她們殘疾或死亡怎麼辦?」

「不會的艾蒂,她們不會,因為我昨天在她們的湯裡放一些毒菇而死。我以為警察會因為昨天的集體中毒來突襲這個地獄,釋放我們所有人。結果沒有,原來全部都是王八蛋!」

昨天早上,我確實看到伊卡在觀察後院晾衣竿下的野生淡黃色蘑菇。我萬萬沒想到她是造成昨天混亂的幕後黑手。職訓中心裡有五個人腹瀉和嘔吐、幾個人出現胡言亂語,像毒癮發作的樣子,所以他們都被送進醫院。

其中一位是剛來三天的卡迪雅。她來之後,我和伊卡輪流照顧她,因為她的體溫很高、乳房腫脹、牙齒嘎嘎作響的忍著疼痛。在鄉下,她還在為五個月的嬰兒餵母乳。突然斷奶使卡迪雅的身心崩潰。職訓中心的工作人員說,過幾天卡迪雅就會沒事的。而伊卡竟然對她下毒。

「卡迪雅耶,伊卡?為什麼不是我?妳真的很會造成別人的困擾!」

「不,艾蒂。卡迪雅現在就必須接受醫生治療。那樣很好。妳的工作是幫助我從這裡逃脫。我只能用這個方法讓所有人自由。」

「伊卡,妳要怎麼做?妳也知道我們被鎖在這裡,沒有出路。」

「有。我會從二樓的窗戶出去。妳幫我用棉被當繩子下去……」

「不!」我很快說。

「妳必須要,艾蒂。如果妳不要幫忙,我就自己跳下去。頂多我會死掉而已。」

「哦,伊卡。妳為什麼選擇我作為妳的朋友?真是的,我的主……」我真的為我的不幸感到憂傷。伊卡吻了我的臉頰之後站起來,然後拉著我的手跟著她走。

伊卡偷偷拿了幾件中毒住院朋友所留下的棉被。只有我和伊卡是醒的,其他的職訓中心住戶都像曬鹹魚那樣排排睡,全部人都累翻了。伊卡把棉被遞給我,我原本想要抗議,但她已經先摀住了我的嘴巴小聲的說:「不要浪費時間,距離大家醒來的時間,我們只剩兩個小時。」

伊卡拉著我,靜靜地走向二樓,她深深的吸一口氣然後再緩緩的吐氣。黑暗中,我們憑直覺當照明燈,緩慢地行走。我甚至開始討厭自己的呼吸聲,因為我擔心它的噪音會吵醒這個樓層職訓中心管理員,艾格尼絲或美麗小姐。

這一間印尼女性移工(TKW)職訓中心是由兩間商住合一的透天厝合併而成。第一間透天厝充當辦公室,以及準移工健檢結果出來之前的住所。健檢通過之後才會住在第二間透天厝。

作為職訓中心的第二間透天厝是一棟三層樓的建築物,最底層是公用廚房、工作人員的餐桌,以及有一處稍微寬敞的地板,讓我們席地而坐用餐。二樓是管理員的房間和兩間隔著玻璃門的教室,我們在這裡學習中文。最頂樓有一間浴室和我們用自己的包包當枕頭的地方,我們就這樣睡在沒墊任何東西的地板上。

我和伊卡繼續悄悄地走,到了二樓聽見艾格尼絲和美麗小姐互相交錯的打呼聲,讓我鬆了一口氣。伊卡拉著我的手前往我們平時上課的教室。每個教室都只有一塊黑板和一組老師的桌椅,我們都坐在地板上課。伊卡一直拉著教室的隔離門。這時我才暸解到伊卡為什麼主動向艾格尼絲小姐要一些凡士林乳液,塗抹在這個房間的所有門窗鉸鏈,讓嘈雜的吱吱聲消失。伊卡到底從什麼時候開始就為她逃離這裡做好安排?

「艾蒂。我會從這個窗戶下去。你把棉被牢牢的綁在妳的腰上,妳要緊緊抓住,好嗎?」伊卡說著,一邊將已經綁成長長的棉被交給我。

「伊卡,這非常危險。萬一妳摔倒了怎麼辦?」想像伊卡要做的事,我的心變得很膽怯。我想要她打消念頭。

她說:「不,艾蒂。我會活著,因為我必須救出這裡所有的人。我們不能讓她們一直這樣對待我們。如果長期處於封鎖的情況下,每天被恐懼餵食,妳的身體還活著,但是妳的大腦會變得沒有用。」從路燈透過玻璃窗照進來的昏暗光線中,我仍然看到伊卡那雙閃閃發光的眼睛。

「好了啦,誦真主之名,好嗎!」在和她一起這段期間,這還是第一次她說出她的上帝。雖然可能只有一點點,但伊卡害怕了。

伊卡將棉被的一端綁在她的腰上,另一端則緊緊的綁在我的腰上。「艾蒂,我的身型比妳大,妳要拼命的拉住我喔。妳要堅持住。妳抓住這裡,窗戶的邊緣。哦,我的朋友!」伊卡抱著我,她的聲音在顫抖。伊卡好像忍住不哭。

我放開了伊卡的擁抱,我的手伸進褲子的口袋。我將幾張奶奶給我的錢用別針別在口袋裡。這筆錢安全躲過管理員的剝奪。這裡所有人禁止攜帶金錢、化妝品和宗教物品。他們說是為了防止我們做奇怪的事。我第一天進職訓中心時,就成功的用別針將錢別在口袋的折疊處,躲過搜身。不管到哪我都會帶著那筆錢,它就好像我的護身符,就像我為之奮鬥的人們的強烈祈禱一樣——我的父母和年幼的兄弟姐妹。

「伊卡,拿走這些錢吧。妳會需要它的。」我對伊卡說。

「不,蒂。妳會比較需要它。」

「伊卡,拿著吧。這錢在這裡沒有用。妳知道我們在這裡什麼也沒得買。」

「不,蒂。我需要的是妳的幫助,不是妳的錢。好了啦,不要浪費時間。快一點!」說著,伊卡已經爬上先前搬到靠近窗戶的教師椅,她另一隻腳已經懸在窗戶外了。

「艾蒂,要緊緊抓住,喔!」伊卡再次提醒,她的聲音在顫抖。我以為伊卡很害怕。

伊卡的身體緩緩下去,雙手緊貼著窗框。她的身體很重,我趕緊把錢塞進伊卡的嘴裡。我的身體很難移動,因為長長的棉被纏著我的肚子到膝蓋。伊卡認爲我只需要旋轉我的身體,懸掛中的她就可以緩緩下降。我盡力忍著不發出嘴裡的嘶嘶聲,我的身體就像被一條巨蛇擠壓一樣。路燈的昏暗光線無法令我有勇氣看懸掛的伊卡。我的胃感覺快炸開了、骨頭感覺裂了,但我更擔心伊卡所綁的結,如果鬆掉就會讓她重重摔傷。我繼續用全身的力量旋轉我的身體,擱在牆上的膝蓋似乎快裂了,眼前頭暈目眩,我的呼吸好像卡在喉嚨,突然間,「碰!!!」我身上的負擔瞬間消失,癱軟坐下。

我以爲接下來是我的骨頭散落一地,我靠在牆上,反復念著上帝的名字。我花了一點時間才慢慢地爬起來,聚集剩餘的力量。我必須知道伊卡發生了什麼事。她安全嗎?身體有碎掉嗎?我低頭看著窗戶,只有昏暗的燈光,伊卡不在。

我決定立即捲起棉被,慢慢將老師的椅子放回原處。當我關窗時,在一條像墳墓一樣安靜的道路盡頭,我隱約看到伊卡一拐一拐的走著。我感到欣慰,至少她還活著。

我背著棉被慢慢走回三樓。大家還在睡。我將所有棉被一張一張地折好,然後放回被當作枕頭裝衣服的包包上。我不是很記得哪條棉被是誰的,我只盡量不讓人懷疑伊卡逃跑的事。

我躺在地板上,所有關節還是很痛。即使只是片刻,我也想再睡一下。但是,伊卡在昏暗燈光下跛腳走路的影子還黏在眼皮上。如果她被路口的惡棍毆打怎麼辦?艾格尼絲經常告訴我,這一帶是街頭惡棍聚集的地方。唉,我應該為伊卡配備一把菜刀,而不是塞錢。

我從來沒想過到臺灣工作的決定會如此複雜。生為大女兒,我必須承擔家裡的經濟壓力。目前情況非常糟糕,家裡已經沒有東西可販賣以滿足生活開銷。連最後的希望,父母養的鴨群,也因為吃太多香蕉葉,全都無法下蛋。我們沒有多餘的錢買好的飼料。我爸絕望萬分地將所有的鴨子賣掉,留下幾隻當紀念。當鴨子被買家運走時,我只想到我三個弟弟妹妹會因此輟學。我不能這樣保持沈默。

當天早上正在燒水準備煮飯時,我將大學獎學金通知單燒掉。為了得到那張單子,我曾不眠不休地學習。為了家人,為了弟弟妹妹能繼續讀書,我燒了我的夢想。我跟爸媽說想去臺灣工作。我爸沉默了,我媽媽眼裡都是淚水。我說:「媽,我只去一下下。我很快就會帶錢回來。別難過,我可以做到的。」我媽媽潰堤的淚水像洪水一樣爆發。

高中文憑還需一個禮拜才會發,但我已決定帶著父母的眼淚離開家鄉。我感覺很平靜,在我們鄉下,已經有很多人出國工作,有的年紀比我還小,他們只有小學和國中的學歷。一位被稱為贊助商的仲介帶我來到雅加達,一個複雜、炎熱又很遠的地方。這是我一生中去過最陌生的城市,多麼嘈雜和塵土飛揚。

在這座城市,我終於理解到很多人所說的「首都比繼母更殘酷」。在這座城市,沒有一家招聘機構願意接受我成為準臺灣移工。他們說我的年齡不夠,我的臉看起來還很個孩子。我的仲介為我準備的假資料不足以說服他們。我堅持必須到國外工作。我相信這並不困難。

「還有一間招聘公司在坦格朗,他們肯定會收妳,蒂。但是他們的規定非常嚴格。妳的企圖心一定要很堅定。怎麼樣?要嗎?」我的仲介問我。我同意了,因為空手而歸根本不是我心中的選項。

所以我現在在這裡。一旦進入就不可能找到出去的路。除非我的家人有很多錢把我贖回去。

「起床!」艾格尼絲小姐在樓梯上大聲地喊,將還在打呼的朋友叫醒。她們趕緊折好棉被衝進浴室,三個三個輪流進去。時鐘顯示早上四點,我超睏的。

然後每個人開始進行昨天下午安排的工作:拖地、擦窗戶、打掃樓梯、洗職員衣服、為職員和大家準備早餐。一切迅速完成,因為艾格尼絲和美麗小姐會不斷輪流大聲的催促和暍斥。她們說我們必須連續三次拖地和擦拭窗戶,以訓練我們工作勤勞並擺脫懶惰。

艾格尼絲小姐說,臺灣的雇主不希望有懶惰的幫傭,我們可能兩手空空的被遣返回來,如果雇主不滿意,我們還可能會被虐待。我跟另外三位朋友負責做早餐。我們準備涼拌沙拉(gado-gado)和炸雞作為員工的飯菜,但我們每天的早餐都是水煮地瓜配一杯苦茶。艾格尼絲小姐說我們必須適應糧食短缺的情況,因為多數臺灣的雇主都很小氣,我們可能根本就沒有早餐。

「你們其中一個,幫忙搬走前院破爛的花盆」艾格尼絲小姐突然出現在廚房門口,嚇到正在炸雞肉的我。「我,小姐!」我立刻回答。我立即離開鍋子,走到艾格尼絲小姐前面到前門。我實在太激動了,以至於忘記了我的舉動可能會引起她的懷疑。

沒辦法啊,我必須知道昨晚伊卡逃跑時所發生的巨響是什麼。

「那邊,破掉的花瓶妳們放在路邊。等等會有收垃圾的人來收。真是一團糟,可能是昨晚被醉漢撞到了。」艾格尼絲小姐抱怨的說。她抱怨的聲音真的很難聽。我和幾位被安排掃庭院的朋友立刻處理破碎的花瓶,幾塊比較尖銳的碎片沾有一些血跡。昨晚伊卡的身體應該有撕裂傷。三個疊起來的陶瓷花瓶可能無法承受伊卡身體的重量,所以破成碎片。

當艾格尼絲小姐走來檢查堆放在路邊的碎片時,我注意到昨晚伊卡逃跑的窗戶下方、露台上方的牆面上,有很明顯的手印和腳印。

當艾格尼絲小姐下達指令,我們立即走進來。洗完手後,我們大家聚集在一起,盤腿坐成一圈,等待吃早餐的命令。艾格尼絲和美麗也坐在椅子上,準備享用她們各自的涼拌沙拉、炸雞和一杯果汁,當我們向老師們祝福用餐愉快之後,就可以享用水煮地瓜和一杯無糖的茶。我們吃得很快,沒發出任何聲音。

「伊卡呢?」艾格尼絲小姐突然無預警的大聲喊叫。我正在吃的地瓜瞬間卡在喉嚨裡,我的耳朵發燙、胸口跳得很厲害,我盡可能不引起懷疑。我趕緊喝杯茶,茶的味道似乎更苦了。

每個人面面相覷,原來沒有人發現伊卡從剛剛就已經不在了。「快找!」艾格尼絲小姐再次吼道,她的聲音好像中邪一樣。全部人立刻散開,四處尋找伊卡。我和負責烹飪的朋友們立刻整理盤子和杯子後拿回廚房。艾格尼絲和美麗小姐大聲吼叫,命令所有人去職訓中心的各個角落找伊卡,但她們肯定不會在這裡找到她。

***

「這是怎樣?昨天才很多人中毒,今天又有人失蹤了。為什麼妳們這樣作弄我?我弄這個職訓中心是為了幫助妳們。我是有錢人,我很有錢,我有很多車。像這樣的職訓中心我也很多。妳們懂嗎?就算當傭人當到老,妳們一樣無法買像這樣的建築物。妳們理解嗎?」

「妳們都是窮人,連吃飯也沒有錢。妳們的父母很窮,生活困苦。我花錢找仲介帶妳們來這裡。來都市要很多錢的,妳們懂嗎?我們教妳們如何在臺灣工作,我們還教妳們中文。我承擔妳們在這裡的所有生活開銷,全部用我的錢。所以拜託你們聽話,乖乖的。這樣妳們就可以工作賺大錢,可以養活妳們的兄弟姐妹。嗄,明白嗎?」菲力先生,這所職訓中心的老闆繼續訓話。

找不到伊卡之後,我們被聚集在教室裡責罵。這是我第二次跟這地方的主人面對面。第一次是在我的贊助商帶我過來,要求他接受我的時候。當時,菲力先生不多說的答應了。

「有什麼事,妳們只需要跟艾格尼絲和美麗小姐或跟我說。這是大城市,離妳們家鄉很遠。如果妳們從這裡逃出去,在外面妳們會死的,不會有人幫助妳。如果妳們逃離這裡,妳們能做什麼?去乞討嗎?」菲力先生接著說。

他白色的臉脹得紅紅的,他邊說邊抑制他的憤怒。我不知道其他朋友們怎麼想,但是聽他的話讓我很生氣,也讓我相信幫助伊卡逃跑完全是正確的。每個人都低下頭,可能是正在努力消化菲力先生的話。我抬起頭,覺得自己需要被注意到。

「妳!妳有什麼問題要對我說嗎?」菲力先生突然指著我詢問。我愣住了,全部人盯著我看。我從她們眼神中看到,她們要求我表達住在這裡讓她們不喜歡的一些情況。伊卡常常在艾格尼絲和美麗小姐睡午覺時,帶著大家討論很多事情。伊卡說她們沒有得到適當的對待,她們的飲食和睡覺條件應該得到更好的待遇,因為到臺灣之後,大部分的薪資會被扣除來支付在職訓中心的一切開銷。透過眼神,她們要我跟菲力先生說出這些聊天時討論到的話題,因為大家知道我跟伊卡最要好。伊卡離開後,這些責任就落在我肩上。

「沒什麼大不了的問題,先生。有幾項我寫在中文課本上。先生你要看嗎?」我緊張得半死。

「哪裡?」菲力先生問。我立刻打開我寫在中文課本的筆記。我平時喜歡在課本上塗鴉。當我不高興時,我也會寫咒罵文。塗寫書本已經像呼吸一樣是必需品。這個習慣是從學習讀寫就開始,從我會造句和讀長篇故事開始。當我處在糟糕的情況下,寫作可以成為紓解的某種力量。

在這裡的這段時間,我的中文課本滿滿都是凌亂的塗鴉。伊卡在我塗鴉的某些地方圈起來並用大寫寫下:精神霸凌、奴隸制、禁閉、侵犯人權、人口販運等等。我打開寫著「適當的飲食與適當的床」那一頁後將筆記交給菲力先生。

「好啊,好啊。這很簡單。 」他邊看書邊點頭說。我鬆了一口氣,但過沒多久,他擅自翻閱了我寫的另一頁。當時已經恢復正常的臉色又變紅和僵硬。他緊閉著嘴巴,下巴僵硬,眼睛瞪著我,我感覺好像在烤肉架上。

「從現在開始不提供筆和紙!學習中文用背的,我不想管了!」菲力先生大聲喊道並準備轉身離去,「拿走她們全部的書和筆。全部!」她向艾格尼絲小姐發話。菲力先生很生氣地走了。我的書,我呼吸的地方也一同被帶走。

從那天起,我再也看不到紙、筆和書了。卡迪雅和其他朋友也已經從醫院回來。卡迪雅的胸部也已經好了,她的情緒開始好轉,只是她還是喜歡一個人待著,然後突然自言自語。艾格尼絲和美麗小姐變得更有耐心了,我們可以吃炒飯和喝加一點糖的茶當早餐。菲力先生已經幫我們購買小型床墊給我們睡,每個人都有各自的床墊和枕頭。睡覺用的電風扇也已經修好,所以晚上睡覺不會太熱了。後院的圍牆蓋得更高,並裝上鐵絲網,所有窗戶現在都裝有鐵窗。

我每天以平常心度過職訓中心的日常工作。偶爾,當腦海中閃過對母親、父親和年幼弟弟妹妹的極度思念時,我都差點哭出來,但我立刻透過幫卡迪雅背中文詞彙來轉移注意力。因為她經常背不起來,所以被艾格尼絲稱為「蠢妹」。伊卡從來沒回來實現她解救我們的諾言。

伊卡走後的兩週,當我開始想像用食指在牆壁和空中塗鴉時,我被告知飛往臺灣的時間已經到了。我一輩子都記得那一天是2000年7月27日。

「艾蒂,這是妳的護照。記住妳的生日和年份,一定要記住喔!如果妳的假資料被發現,妳可能會被抓去關或被送回來。」負責送我去機場的哈迪先生告訴我。

「是真的坐牢嗎,先生?」我直接說。

「妳是什麼意思?」

「就是真的坐牢啊,如果職訓中心是練習坐牢的地方。」我試著開玩笑。被關了這麼久的我,對外界一無所知;汽車、塵土飛揚的道路、街頭藝人和我們路過機場的街頭無家者,好像向我注入希望和勇氣,像自由的形象。

「真有妳的。喔,對了。上次是妳幫朋友逃跑的嗎?」哈迪先生後來問我,凝視著我找尋真相。

「是的先生。伊卡說她很窮,但不是犯人。她選擇了自由,我幫助她實現了她的自由……」我毫不考慮哈迪的反應就直接回答。心中卻鬆了一大口氣。

「那妳為什麼不跟著逃跑呢?妳不想選擇自由嗎?」我不知道哈迪先生這樣問是什麼意思。我只是感到快窒息,感覺好像在咀嚼吞下一個拳頭大的石頭。哪有人會選擇不自由?

「我不知道,先生。」我說。事實是,我什麼也不想說,因為那一次,就算過了一段時間,我心中的情感凝結在我的喉嚨裡,欲流淌成淚水。

「我讀了妳寫在中文課本上的所有筆記。這項工作應該不適合妳。但怎麼說呢,生活不只是適合或不適合……,我只能說,妳一定會成功。艾蒂,要保重喔!」

「謝謝妳,先生。再見。」我的眼淚流出來了。原來在這個邪惡的城市中,仍然還有好人。

我迷惘地踏上步伐,也許是走向希望,也許是走向下一個地雷區。我所知道的是,我必須盡可能地堅持下去。

南投 2020年5月12日


📝 初選評審評語 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Cerita yang menggugah tentang kehidupan orang-orang di penampungan yang merefleksikan solidaritas dan perjuangan nilai kemanusiaan dan harapan mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini menjadi media untuk menyuarakan tempat penampungan yang menyerupai penjara dan neraka. Makan dan tidur yang tidak seharusnya dan staff yang terus berteriak dan membentak menjadi teror mental. Cerita ini menggugah dan berhasil menyentuh emosi sejak awal tulisan dengan—strategi pelarian diri Ika melalui jendela, dibantu Etik— setelah Ika dengan nekad meracuni teman-temannya dengan jamur agar polisi datang menggerebek PJTKI tersebut meskipun hasilnya nihil. Plot yang dibangun cukup ketat dengan merajut berbagai peristiwa yang berisi kepedihan dengan latar kehidupan kemiskinan. Karakter penokohan kuat. Bahasa lancar, dialog-dialog yang dilontarkan lugas dan berisi. Ending cerita diakhiri dialog yang menyentuh, mencoba dengan kontemplatif mempertanyakan apa arti kemerdekaan, kebebasan dan harapan menjadi pekerja migran dan menjadi manusia.

一個描述職訓中心生活的感人故事,反映了團結和為了得到人權和自由所做的努力。這個故事成了表達如監獄和地獄般的職訓中心、不適當的飲食和睡覺場所,另外還有管理員對員工的精神霸凌。這個故事的表達一開始就很動人:伊卡從窗戶的逃跑策略,透過艾蒂的協助,伊卡竟然用毒菇毒害同儕,讓警察進來搜查準印尼移工職訓中心,但失敗了。透過編織各種在貧困背景下的痛苦,建造的情節非常緊密。強大的角色特徵、流利的語言、對話簡單明瞭。故事以動人的對話做結尾,試圖讓人內心省思獨立、自由,以及希望成為移工和成為人類的含義是什麼。

📝 初選評審評語 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

如同一本小說或一齣戲,在協助別人逃跑時,作家也描述得很真實,讓讀者感覺看到那一場畫面。