Merajut Takdir

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Merajut Takdir
👤 ETIK PURWANI

Terjadi tengah malam ketika Ika mengguncang bahuku. Deru napasnya yang hangat dan berbau menempel di telinga, “Etik, bangun. Etik bangunlah. Bantu aku melarikan diri dari sini.”

“Ika, ini masih tengah malam. Kamu mengigau, ya? Tidurlah lagi, besok kita bangun jam empat pagi.” Aku menggumam tanpa membuka mata. Badanku masih terasa pegal seluruhnya.

“Etik, aku harus kabur dari sini sekarang. Harus sekarang. Kalau kamu tidak mau membantu, ya sudah, besok kamu lihat aku sudah mati.” bisik Ika lagi. Aku seperti mendengar rentetan peluru ditembakkan persis di telingaku. Aku terduduk seketika. Dalam remang-remang aku melihat mata bulat Ika berkilat-kilat. Ika tidak main-main dengan kata-katanya.

“Ika, tolong jangan seperti ini. Kita akan temukan caranya. Bukan sekarang, bersabarlah. Nyawa kita hanya satu, jangan terburu-buru.” dengan berbisik aku mencoba memadamkan kilat di mata Ika. Dia baru datang di penampungan ini dua minggu yang lalu, setelah aku hampir sebulan lamanya di sini. Ika dan aku begitu saja jadi seperti saudara. Ika empat tahun lebih tua dariku, dua puluh dua tahun umurnya. Sebelum sampai di penampungan para calon TKW ini, Ika adalah mahasiswa sebuah akademi bahasa asing di Jakarta. Kuliahnya terlunta-lunta karena selama menempuh pendidikan ia terlalu banyak turun ke jalan menuntut pelengseran pemimpin negara kami yang tidak mau turun meski telah memerintah selama berpuluh-puluh tahun. Ika berteriak-teriak menuntut reformasi di sepanjang jalanan Jakarta, marah kepada negara yang kata Ika sudah menyebabkan orang tuanya bangkrut dan tidak mampu membayar uang kuliahnya lagi. Ika dan kawan-kawannya berhasil mengganti pemimpin negara kami, tetapi semua orang masih harus terengah-engah menyambung napas untuk bertahan hidup karena uang yang susah payah dicari, tahu-tahu kehilangan nilainya. Ika lalu merasa bekerja ke luar negeri adalah cara paling cepat mengumpulkan uang agar ia bisa melanjutkan studi. Aku dan Ika sama-sama sampai di tempat ini karena tahun 2000 benar-benar tahun yang berat untuk semua orang.

“Tidak bisa Etik. Harus sekarang. Tempat ini adalah neraka. Masalah kita cuma menjadi orang miskin. Kita bukan pendosa. Neraka ini bukan tempat kita!”

“Aku tahu, Ika. Kita akan cari cara lebih tepat…”

“Tidak ada cara lebih tepat, Etik. Kemarin aku yang meracuni Katiya, Sumi, dan yang lain…”

“Ika, kamu gila! Bagaimana kalau mereka menjadi cacat atau mati?”

“Tidak, Etik. Mereka tidak akan mati hanya karena aku memasukkan beberapa jamur beracun di sup mereka kemarin. Kupikir dengan kejadian keracunan massal begitu, polisi akan datang menggerebek neraka ini dan kita semua dibebaskan. Ternyata tidak. Ternyata semua bangsat belaka!”

Kemarin pagi memang aku sempat melihat Ika memperhatikan jamur-jamur liar berwarna kekuningan di bawah jemuran baju di halaman belakang. Aku tidak mengira dialah dalang di balik kekacauan kemarin. Lima orang dalam penampungan ini berak-berak dan muntah-muntah, beberapa meracau seperti sedang sakau sehingga mereka harus diangkut ke rumah sakit. Salah satu dari mereka adalah Katiya yang baru masuk tiga hari yang lalu. Sejak datang, aku dan Ika bergantian mengawasi Katiya karena suhu tubuhnya yang tinggi menahan kesakitan, giginya gemeretak, payudaranya membengkak. Di kampung, Katiya masih menyusui bayinya yang baru berusia lima bulan. Penyapihan yang tiba-tiba membuat kondisi tubuh dan kejiwaan Katiya tumbang. Staf di penampungan ini mengatakan Katiya akan baik-baik saja setelah beberapa hari. Dan ternyata Ika malah meracuninya.

“Katiya, Ika? Kenapa tidak aku saja? Kamu benar-benar merepotkan!”

“Tidak, Etik. Katiya diurus dokter sekarang. Itu bagus. Tugasmu membantuku melarikan diri dari sini. Hanya ini caranya agar aku bisa membebaskan kalian semua.”

“Bagaimana caranya, Ika? Kamu pun tahu kita terkunci di sini, tidak ada jalan keluar.”

“Ada. Aku akan keluar melalui jendela di lantai dua. Kamu membantuku turun dengan selimut sebagai tali…”

“Tidak!” sahutku cepat.

“Harus, Etik. Kalau kamu tidak mau, aku akan terjun sendiri. Dan ya paling-paling aku akan mati”

“Oh, Ika. Mengapa kamu pilih aku sebagai temanmu? Ya, Tuhanku…” Aku sungguh-sungguh meratapi kemalanganku. Ika mengecup pipiku, berdiri dan menarik tanganku agar mengikutinya.

Dengan diam dan mengendap-endap Ika mengambil beberapa selimut yang ditinggalkan oleh teman-teman yang sekarang menginap di rumah sakit karena keracunan. Hanya aku dan Ika yang terbangun. Semua penghuni penampungan ini sedang terlelap berjejer-jejer seperti ikan sedang dikeringkan, semua kelelahan. Ika menyerahkan selimut-selimut itu padaku. Aku hampir memprotesnya, tetapi Ika lebih cepat membekap mulutku, “Jangan buang-buang waktu, kita hanya punya waktu dua jam sebelum semua orang terbangun.” serunya berbisik.

Setengah menyeretku, Ika berjalan tanpa suara. Ika menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ketika hendak menuruni tangga turun ke lantai dua. Dalam remang, kami berjalan pelan mengandalkan insting sebagai penerangan. Kami berjalan dengan teramat pelan. Aku bahkan jadi membenci suara napasku karena aku takut derunya akan membangunkan Ms. Agnes atau Ms. Merry, staf penampungan yang kamarnya berada di lantai ini.

Penampungan Tenaga Kerja Wanita (TKW) ini adalah dua buah rumah toko (ruko) yang digabung menjadi satu. Ruko pertama berfungsi sebagai kantor dan penampungan sementara sebelum hasil tes kesehatan dinyatakan sehat. Setelah dinyatakan sehat, kami ditempatkan di ruko kedua. Ruko kedua ini berfungsi sebagai penampungan. Ini adalah bangunan tiga lantai. Lantai dasar adalah dapur umum, meja makan untuk staf dan lantai sedikit luas untuk kami makan sembari duduk bersila. Di lantai dua adalah kamar staf dan dua ruang kelas belajar bahasa Mandarin, di antara keduanya dipisahkan oleh dinding dan pintu kaca. Lantai paling atas ada satu kamar mandi dan tempat kami tidur berbantal tas masing-masing dan tidur begitu saja tanpa alas.

Aku dan Ika terus mengendap. Aku sedikit lega ketika sampai di lantai dua kudengar bunyi dengkuran Ms. Agnes dan Ms. Merry terdengar jelas bersahut-sahutan. Ika menarik tanganku berjalan ke arah kelas di mana kami biasa belajar bahasa. Di masing-masing kelas ini hanya ada papan tulis dan satu set meja dan kursi guru, kami belajar dengan duduk di lantai. Ika terus menarikku menuju pintu pembatas kelas. Baru kemudian aku menyadari mengapa kemarin Ika sangat berinisiatif untuk meminta krim vaseline kepada Ms. Agnes dan lalu mengolesi semua engsel pintu dan jendela di ruangan ini sehingga suara deritnya yang berisik jadi hilang. Ika sudah mengatur langkah-langkah pelariannya dari sini, entah sejak kapan.

“Aku akan turun dari jendela ini, Etik. Kamu ikat selimut ini kuat-kuat di pinggangmu. Kamu berpegangan yang kuat, ya.” kata Ika menyodorkan selimut yang sudah diikat sambung menyambung menjadi sangat panjang.

“Ika, ini sangat berbahaya. Bagaimana kalau kamu sampai jatuh?” hatiku terasa getas membayangkan apa yang akan dilakukan Ika. Aku ingin dia mengurungkan niatnya.

“Tidak, Etik. Aku akan tetap hidup. Karena aku harus menyelamatkan kita semua dari sini. Kita tidak boleh membiarkan mereka memperlakukan kita seperti ini terus-terusan. Bila kita diisolasi dalam waktu yang lama dan diberi makanan ketakutan setiap hari, tubuhmu akan tetap hidup, tapi otakmu tidak akan berguna.” katanya. Dari cahaya remang yang dipancarkan lampu penerangan jalan yang menembus melalui kaca jendela, aku masih melihat mata Ika menyala-nyala.

“Sudahlah. Bismillah, ya!” selama bergaul dengannya, baru sekali itu saja Ika menyebut nama Tuhannya. Mungkin meskipun hanya sedikit, Ika gentar.

Ika mengikat pinggangnya dengan salah satu ujung selimut, di ujung yang lain Ika mengikat pinggangku kuat-kuat. “Etik, badanku lebih besar dari dirimu, kamu akan setengah mati menahanku. Kamu harus kuat, ya. Berpegangan di sini, di pinggir jendela ini. Oh, kawanku!” Ika memelukku, suaranya terdengar bergetar. Ika seperti menahan tangis.

Aku melepas pelukan Ika, tanganku merogoh saku celana. Di dalam saku, kuikat dengan peniti, ada beberapa lembar uang pemberian nenekku. Ini adalah uang yang selamat dari perampasan para staf di sini. Semua orang dilarang membawa uang, alat kosmetik, dan peralatan ibadah. Kata mereka hal ini untuk mencegah kami melakukan hal aneh-aneh. Aku berhasil menyembunyikan uangku di dalam lipatan saku dan menguncinya dengan peniti saat penggeledahan di hari pertama aku masuk ke penampungan. Aku selalu membawa uang itu ke manapun aku pergi. Uang itu semacam jimat bagiku; seperti doa kuat dari orang-orang yang sedang aku perjuangkan–orang tua dan adik-adikku.

“Ika, ambil uang ini. Kamu akan memerlukannya.” kataku pada Ika.

“Tidak, Tik. Kamu lebih membutuhkannya.”

“Ika, ambil saja. Uang ini tak ada gunanya di sini. Kamu tahu kita tidak bisa membeli apa-apa di sini”

“Tidak, Tik. Aku butuh bantuanmu, bukan uangmu. Sudah, jangan buang-buang waktu. Ayo, cepatlah!” berkata begitu, Ika sudah menaiki kursi guru yang sedari tadi sudah diangkatnya mendekati jendela, sebelah kakinya sudah berada di luar jendela.

“Etik, tahan kuat-kuat, ya!” kata Ika lagi, suaranya bergetar. Aku mengira Ika ketakutan.

Tubuh Ika sudah merambat turun, kedua tangannya berpegangan pada bibir jendela. Tubuh Ika terasa berat sekali, buru-buru kusumpalkan gulungan uangku pada mulut Ika. Tubuhku sudah susah sekali bergerak karena selimut panjang itu membebat tubuhku dari perut hingga ke lutut. Menurut Ika yang perlu kulakukan adalah memutar tubuhku, sehingga tubuh Ika yang bergelantungan akan turun perlahan-lahan. Aku berusaha menahan desis yang keluar dari mulutku, tubuhku seperti sedang diremas ular raksasa. Cahaya remang dari lampu penerangan jalan tidak mampu membuatku punya keberanian untuk melihat tubuh Ika yang bergelantungan. Perutku terasa meledak, tulang-tulangku terasa retak tapi aku jauh lebih cemas bila sampai simpul buatan Ika terlepas dan lalu membuat Ika terhempas dengan keras. Aku terus berusaha memutar tubuhku dengan seluruh tenaga, lututku yang bertumpu pada dinding seperti terkoyak, pandangan mataku berkunang-kunang, napasku seperti menyangkut di tenggorokan ketika tiba-tiba, “Braakkk!!!” beban tubuhku hilang seketika, aku terduduk lemas.

Aku mengira setelah ini tulang-tulangku sudah remuk berantakan. Aku bersandar di dinding, kusebut nama Tuhanku berulang-ulang. Butuh beberapa lama untukku merayap-rayap berdiri, mengumpulkan tenaga yang tersisa. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Ika. Selamatkah dia? Hancurkah tubuhnya? Aku melihat ke bawah jendela, remang belaka. Ika tidak ada.

Kuputuskan untuk segera menggulung selimut, perlahan mengembalikan kursi guru pada tempatnya. Saat kututup daun jendela, di ujung jalan yang sepi seperti kuburan, samar-samar aku melihat Ika berjalan terpincang-pincang. Aku bersyukur, setidaknya dia masih bernyawa.

Melangkah perlahan sambil membopong selimut, aku kembali ke lantai tiga. Semua orang masih dikuasai kantuk. Kulipat semua selimut satu per satu, lalu masing-masing kukembalikan ke atas tas baju yang berfungsi sebagai bantal. Aku tak ingat persis selimut yang mana milik siapa, aku hanya berusaha tidak meninggalkan kecurigaan apa pun mengenai pelarian Ika.

Kurebahkan tubuhku di lantai, masih terasa ngilu di semua sendi. Aku ingin terlelap meskipun hanya sekejap. Tetapi bayang-bayang Ika berjalan terpincang-pincang dalam remang menempel di kelopak mata. Bagaimana kalau dia dikeroyok preman-preman ganas di ujung jalan? Ms. Agnes sering bercerita di ujung jalan di kompleks ruko ini ada tempat mangkal para preman-preman jalanan. Ah, seharusnya aku membekali Ika dengan pisau dapur, bukan dengan menyumpalkan uang.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa keputusan yang kuambil untuk bekerja ke Taiwan akan menjadi serumit ini. Terlahir sebagai anak perempuan tertua, membuatku merasa harus ikut menanggung kesulitan keuangan keluarga. Situasi sekarang sedang buruk sekali. Di rumah sudah tidak ada lagi barang yang bisa dijual untuk menutupi kebutuhan. Bebek-bebek peliharaan bapak dan ibuku sebagai harapan yang tersisa tidak lagi mau bertelur; terlalu banyak memakan pelepah pisang karena kami tak cukup uang untuk membeli bahan pakan yang baik. Dengan putus asa, bapak terpaksa menjual semua, menyisakan beberapa ekor sebagai kenangan. Ketika bebek-bebek itu diangkut pembeli, aku hanya membayangkan ketiga adikku akan putus sekolahnya. Aku tidak bisa diam saja. Pagi itu, ketika aku sedang menjerang air di tungku untuk menanak nasi, kubakar juga surat pemberitahuan penerimaan beasiswa kuliahku. Untuk mendapatkan surat itu, aku sudah belajar sangat keras tidak peduli siang atau malam. Untuk keluargaku, untuk kelangsungan pendidikan adik-adikku, kubakar cita-citaku. Kusampaikan pada bapak dan ibuku bahwa aku ingin bekerja ke Taiwan. Bapakku terdiam, ibuku berkaca-kaca. “Aku akan pergi sebentar saja, Ibu. Aku akan segera pulang membawa uang. Jangan sedih, aku bisa melakukannya.” kataku. Tangis ibuku pecah seperti air bah.

Ijazah SMA masih satu minggu lagi dibagikan, tapi aku sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dengan iringan airmata bapak dan ibuku. Aku merasa biasa saja. Di kampungku, pergi ke luar negeri sebagai buruh sudah dilakukan banyak orang bahkan oleh tetangga-tetanggaku yang lebih muda dari usiaku dengan modal pendidikan hingga SD dan SMP saja. Seorang calo yang lazim juga disebut sponsor membawaku ke Jakarta. Kota yang rumit, panas, dan jauh sekali. Ini adalah kota paling asing yang pernah kukunjungi sepanjang hidupku; betapa berisik dan berdebu. Di kota ini aku mengerti mengapa banyak orang mengatakan ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Di kota ini, tidak ada satu pun PJTKI yang mau menerimaku sebagai calon TKI ke Taiwan. Kata mereka umurku belum cukup, wajahku terlihat masih kanak-kanak. Data-data palsu yang sudah disiapkan sponsorku tidak cukup meyakinkan mereka. Aku bersikeras harus tetap bisa bekerja ke luar negeri. Aku yakin tidak sesusah itu.

“Ada satu lagi PJTKI di Tangerang yang pasti menerimamu, Tik. Tapi aturannya sangat ketat. Niatmu harus benar-benar kuat. Bagaimana? Mau?” tanya sponsorku. Aku menyanggupi saja, karena pulang tanpa hasil sama sekali tidak ada dalam benakku.

Maka di sinilah aku sekarang. Sekali masuk ke dalamnya mustahil menemukan jalan untuk keluar. Kecuali jika keluargaku punya banyak uang untuk melakukan penebusan.

“Banguuuun!!!” suara lantang Ms. Agnes berteriak di tangga begitu saja membangunkan teman-teman yang masih tidur mendengkur. Mereka bergegas melipat selimut dan tergesa-gesa ke kamar mandi, masuk berjubel bergantian tiga orang tiga orang. Jam menunjukkan angka empat pagi, aku mengantuk sekali.

Semua orang lalu melakukan aktivitas kerja yang sudah dijadwalkan kemarin sore; mengepel, membersihkan kaca jendela, membersihkan tangga, mencuci baju staf dan memasak makanan untuk para staf dan untuk sarapan kami. Semua dikerjakan dengan cepat karena Ms. Agnes dan Ms. Merry bergantian terus-menerus berteriak dan membentak. Kata mereka mengepel dan mengelap kaca jendela harus kami lakukan tiga kali berturut-turut untuk melatih kami bekerja dengan giat dan jauh dari rasa malas. Di Taiwan, kata Ms. Agnes, para majikan tidak mau punya pembantu yang malas-malasan, kami bisa dipulangkan dan tidak membawa hasil apa-apa, kalau majikan tidak puas, kami mungkin malah disiksa. Aku bertugas membuat sarapan bersama ketiga teman yang lain. Kami masak gado-gado dan ayam goreng untuk makanan staf. Sarapan kami setiap hari adalah ubi jalar rebus dan segelas teh pahit. Kata Ms. Agnes kami harus membiasakan diri kekurangan makanan karena di Taiwan rata-rata semua majikan adalah orang-orang yang pelit, kami mungkin saja tidak akan mendapatkan jatah sarapan sama sekali.

“Salah satu dari kalian, bantu angkat pot pecah di halaman depan” Ms. Agnes tiba-tiba muncul di depan pintu dapur, mengagetkanku yang sedang menggoreng daging ayam. “Saya, Ms.!” kujawab cepat-cepat. Kutinggalkan wajan seketika lalu berjalan mendahului Ms. Agnes menuju pintu depan. Aku begitu bersemangat hingga lupa tindakanku itu bisa saja membuat Ms. Agnes curiga. Apa boleh buat, aku harus tahu apa yang menyebabkan suara keras ketika Ika melarikan diri tadi malam.

“Itu, pot-pot bunga yang pecah itu kalian pinggirkan ke sudut sana, di dekat jalan. Nanti biar diangkut oleh tukang sampah. Berantakan sekali, mungkin ditabrak preman mabuk tadi malam.” kata Ms. Agnes. Saat menggerutu pun suaranya terdengar jelek sekali. Aku dan beberapa teman yang mendapat tugas menyapu halaman segera mengangkat pecahan pot itu. Ada bercak darah di beberapa pecahannya yang lumayan tajam. Bagian tubuh Ika pasti ada yang robek semalam. Tiga pot tanah liat kosong yang ditumpuk itu mungkin tidak kuat menahan tubuh Ika lalu pecah berkeping-keping. Ketika Ms. Agnes berjalan ke pinggir jalan untuk memeriksa tumpukan pecahan pot, aku perhatikan dinding teras atas, persis di bawah jendela di mana Ika melarikan diri tadi malam; jejak-jejak tangan dan kaki Ika terlihat jelas sekali.

Kami segera masuk kembali ketika Ms. Agnes memberi perintah. Setelah mencuci tangan, kami semua berkumpul, duduk bersila membentuk lingkaran menunggu perintah untuk sarapan. Ms. Agnes dan Ms. Merry juga sudah duduk di kursi bersiap menyantap gado-gado, ayam goreng dan masing-masing segelas jus buah. Setelah serempak mengucapkan selamat makan kepada kedua guru kami, kami dibolehkan makan ubi jalar rebus dan segelas teh tawar. Kami makan dengan cepat dan tanpa bersuara.

“Ika, di mana?!” Ms. Agnes tiba-tiba berteriak tanpa aba-aba. Ubi jalar yang aku makan seketika seperti menyumbat di tenggorokan. Telingaku terasa panas. Dadaku berdetak lebih keras, aku berusaha tak memancing kecurigaan sekuatnya. Buru-buru kuminum teh di gelasku, terasa bertambah pahit. Semua orang saling pandang, rupanya tidak ada yang menyadari Ika tidak ada sejak tadi. “Cari!!!” Ms. Agnes berteriak lagi, suaranya mirip orang yang sedang dirasuki setan. Teman-teman seketika bubar, menyebar ke mana saja mencari Ika. Aku dan teman-teman yang bertugas piket masak segera meringkasi piring-piring dan gelas-gelas lalu membawanya ke dapur. Ms. Agnes dan Ms. Merry berteriak-teriak memerintah semua orang untuk mencari Ika di semua sudut penampungan. Ika tentu saja tidak akan ditemukan di sini.

***

“Ada apa ini? Setelah kemarin banyak yang keracunan, sekarang satu orang hilang. Kenapa kalian bikin susah saya? Saya bikin penampungan ini untuk bantu kalian. Saya orang kaya, uang saya banyak, mobil saya banyak. Bangunan macam penampungan ini saya pun ada banyak. Kalian tahu? Kalian kerja jadi pembantu sampai tua pun kalian tidak akan mampu beli satu saja gedung macam ini. Paham kalian?

Kalian semua miskin, mau makan saja kalian tak ada uang. Orang tua kalian miskin, hidup kalian susah punya. Saya ada kasih uang itu sponsor-sponsor kalian buat ambil kalian datang ke sini. Pergi ke kota pakai uang banyak, kalian paham tidak? Kita kasih ajar kalian macam mana kerja di Taiwan, kita kasih ajar kalian bahasa Mandarin. Saya tanggung semua biaya hidup kalian di sini, semua pakai uang saya. Jadi kalian tolong menurut saja, baik-baik saja. Biar kalian bisa kerja, dapat uang besar, bisa kasih makan kalian punya saudara. Ha, paham kalian?” Mr. Feri, pemilik penampungan ini terus saja berbicara. Setelah Ika tak ditemukan, kami semua dikumpulkan di kelas untuk dimarahi. Ini kali ke dua aku bertatap muka dengan tuan pemilik tempat ini. Aku pertama bertemu dengannya ketika sponsorku menemuinya untuk menerimaku masuk di penampungan ini. Waktu itu Mr. Feri mengiyakan saja tanpa banyak bicara.

“Ada apa-apa, kalian tinggal bilang saja sama Ms. Agnes, Ms. Merry atau pada saya. Ini kota besar, jauh dari kampung kalian. Kalau kalian lari dari sini, di luar kalian bisa mati. Tak akan ada orang yang menolong. Kalau kalian lari dari sini, kalian mau kerja apa? Mengemis?” ujar Mr. Feri lagi. Wajahnya yang putih berwarna kemerah-merahan, mungkin ia berkata-kata sambil menahan kemarahan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan rekan-rekanku, tapi mendengarkan ocehan Mr. Feri aku merasa kesal sekali dan membuatku merasa bahwa tindakanku membantu Ika melarikan diri sama sekali bukanlah satu kesalahan. Semua orang menunduk, mungkin mencoba menelan kata-kata Mr. Feri. Aku mendongak, merasa perlu untuk memperhatikan.

“Kamu! Apa kamu punya masalah yang ingin kamu katakan pada saya?” Mr. Feri bertanya tiba-tiba, mengarah lurus padaku. Aku terkesiap. Semua orang kini menatapku. Aku tahu, melalui tatapan mereka, teman-teman sedang memintaku untuk berbicara menyampaikan kondisi-kondisi di sini yang tidak mereka sukai. Ika sering mengajak mereka merumpikan banyak hal ketika Ms. Agnes dan Ms. Merry tidur siang. Ika sering bicara pada mereka bahwa mereka sedang diperlakukan tidak layak; makan dan tidur mereka seharusnya lebih baik dari yang mereka terima saat ini karena saat bekerja di Taiwan nanti, gaji mereka akan dipotong dalam jumlah besar untuk mengganti semua biaya hidup selama tinggal di penampungan. Dengan pandangan mata, mereka ingin aku yang bicara pada Mr. Feri soal rumpian-rumpian itu karena yang mereka tahu akulah yang paling dekat dengan Ika. Kepergian Ika serta-serta melemparkan tanggung jawab besar pada pundakku.

“Tidak banyak masalah, Mister. Ada beberapa yang saya tulis di buku pelajaran bahasa Mandarin. Apakah Mister mau melihatnya?” setengah mati aku menguasai kegugupan.

“Mana?” tanya Mr. Feri. Aku segera membuka catatan yang kutulis di buku Mandarin. Aku terbiasa menulis apa pun yang kualami setiap hari. Aku terbiasa mencoret-coret buku dengan tulisan dan lukisan-lukisan yang berantakan. Ketika aku kesal, aku juga menulis makian-makian. Menulisi buku sudah seperti kebutuhan bagiku, seperti bernapas. Kebiasaan ini sudah kulakukan sejak aku bisa menulis dan membaca, sejak aku bisa merangkai kalimat-kalimat dan membaca cerita-cerita panjang. Bila aku berada pada situasi yang paling payah, menulis seperti memberiku semacam energi yang melegakan. Selama di sini, buku bahasa Mandarin-ku penuh dengan coretan acak yang berantakan. Di beberapa bagian coretanku itu ditandai Ika dengan lingkaran-lingkaran dan ditulisi menggunakan huruf besar kata-kata seperti: teror mental, perbudakan, penyekapan, pelanggaran hak asasi manusia, human trafficking dan entah apa lagi. Pada lembar tentang makan dan tempat tidur layak, aku menyerahkan catatanku pada Mr. Feri.

“Boleh, boleh. Ini gampang.” katanya sambil mengangguk-angguk ketika membaca tulisanku. Aku lega tapi tidak lama. Dengan lancang, Mr. Feri membuka-buka halaman bukuku yang lain. Saat itulah wajahnya yang semula sudah kembali normal berubah merah dan mengeras. Mulutnya terkatup rapat, rahangnya kaku, matanya melotot menatapku dengan sangat tajam. Aku merasa terpanggang.

“Mulai sekarang tidak ada buku dan pena! Belajar bahasa dihapalkan saja. Saya tidak mau tahu!” seru Mr. Feri keras sekali sembari bersiap beranjak pergi, “Ambil semua buku dan pena mereka. Semua!” perintahnya pada Ms. Agnes. Mr. Feri pergi dengan amarahnya. Bukuku, tempat bernapasku, dibawanya pergi serta.

Sejak hari itu aku tidak lagi melihat kertas, pena dan buku. Katiya dan teman-teman yang lain juga sudah kembali dari rumah sakit. Payudara Katiya juga sudah sembuh, emosinya sudah mulai membaik meskipun kadang ia masih suka berdiam lama-lama dan meracau tiba-tiba. Ms. Agnes dan Ms. Merry berubah sedikit lebih sabar; kami boleh membuat nasi goreng dan teh dengan sedikit gula untuk sarapan. Mr. Feri sudah membelikan kami kasur busa berukuran kecil untuk kami tidur, masing masing mendapatkan satu kasur dan bantal. Kipas angin di tempat kami tidur juga sudah diperbaiki sehingga kami tidak kepanasan ketika terlelap di malam hari. Pagar tembok di halaman belakang dibuat lebih tinggi dan diberi kawat berduri, semua jendela sekarang dipasangi teralis besi.

Aku menjalani rutinitas di penampungan sehari-hari dengan perasaan biasa saja. Kadang terlintas kerinduan yang sangat kepada ibu, bapak dan adik-adikku sampai aku hampir menangis, tapi segera kutepiskan dengan membantu Katiya menghapal kosakata bahasa Mandarin. Ia yang paling kesulitan mengingat sehingga Ms. Agnes menyebutnya Si Pandir. Ika tidak pernah datang memenuhi janjinya untuk membebaskan kami dari sini.

Dua minggu setelah kepergian Ika, ketika aku sudah mulai membayangkan mencoret-coret dinding dan udara dengan jari telunjuk, aku diberitahu bahwa hari penerbanganku ke Taiwan telah tiba. Aku mengingat hari itu seumur hidupku; 27 Juli tahun 2000.

“Etik, ini paspormu. Hapalkan tanggal lahir dan tahunnya. Harus ingat di luar kepala, ya. Jangan sampai ketahuan kalau datamu palsu. Kamu bisa dipenjara atau dipulangkan.” kata Pak Hadi, staf yang bertugas mengantarku ke bandara.

“Dipenjara sungguhan ya, Pak.” celetukku begitu saja.

“Maksudmu bagaimana?”

“Ya dipenjara sungguh-sungguh penjara. Kalau di penampungan kan penjara latihan saja” aku mencoba berkelakar. Setelah dikurung sekian lama tanpa tahu-menahu dunia luar; kendaraan-kendaraan, jalanan berdebu, pengamen dan gelandangan di sisi-sisi jalan yang kami lewati menuju ke bandara seperti menyuntikkan harapan dan keberanian padaku, seperti gambar-gambar kebebasan.

“Kamu bisa saja. O, ya memang kamu ‘kan yang membantu kawanmu kabur tempo hari?” tanya Pak Hadi kemudian, menatapku mencari kebenaran.

“Iya, Pak. Ika bilang dia hanya miskin tapi bukan penjahat. Ia memilih bebas, saya membantunya mewujudkan kemerdekaannya…” kujawab begitu saja tanpa memperhatikan reaksi Pak Hadi. Ada rasa lega yang mendesak bertubi-tubi di dalam dadaku.

“Lalu kenapa kamu tidak kabur juga? Kamu tidak ingin memilih merdeka juga?” entah apa maksud pertanyaan Pak Hadi itu. Tetapi aku merasakan sesak yang luar biasa. Aku merasa sedang harus mengunyah dan menelan batu sekepalan tangan besarnya. Bagaimana mungkin seseorang memilih untuk tidak merdeka?

“Saya tidak tahu, Pak.” kataku. Yang sebenarnya, aku tak ingin bicara apa-apa, karena sekali itu, setelah sekian lama, rasa di dadaku sudah menggumpal di tenggorokan, hampir pecah menjadi air mata.

“Aku baca semua catatan di buku Mandarin-mu. Seharusnya pekerjaan ini tidak akan cocok untukmu. Tapi bagaimana ya, hidup bukan soal cocok dan tidak cocok… Aku hanya bisa bilang, kamu pasti berhasil. Hati-hati ya, Etik!”

“Terima kasih, Pak. Selamat tinggal.” air mataku meleleh. Di kota yang jahat ini masih ada orang baik rupanya.

Aku melangkah gamang, mungkin menuju harapan, mungkin menuju ranjau-ranjau kehidupan berikutnya. Yang aku tahu aku harus terus berjalan, sebaik-baiknya, setegak-tegaknya.

Nantou, 12 Mei 2020


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Cerita yang menggugah tentang kehidupan orang-orang di penampungan yang merefleksikan solidaritas dan perjuangan nilai kemanusiaan dan harapan mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini menjadi media untuk menyuarakan tempat penampungan yang menyerupai penjara dan neraka. Makan dan tidur yang tidak seharusnya dan staff yang terus berteriak dan membentak menjadi teror mental. Cerita ini menggugah dan berhasil menyentuh emosi sejak awal tulisan dengan—strategi pelarian diri Ika melalui jendela, dibantu Etik— setelah Ika dengan nekad meracuni teman-temannya dengan jamur agar polisi datang menggerebek PJTKI tersebut meskipun hasilnya nihil. Plot yang dibangun cukup ketat dengan merajut berbagai peristiwa yang berisi kepedihan dengan latar kehidupan kemiskinan. Karakter penokohan kuat. Bahasa lancar, dialog-dialog yang dilontarkan lugas dan berisi. Ending cerita diakhiri dialog yang menyentuh, mencoba dengan kontemplatif mempertanyakan apa arti kemerdekaan, kebebasan dan harapan menjadi pekerja migran dan menjadi manusia.

📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

如同一本小說或一齣戲,在協助別人逃跑時,作家也描述得很真實,讓讀者感覺看到那一場畫面。