Selendang Cinta dari Eropa

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Selendang Cinta dari Eropa
👤 Mochamad Badowi

Namaku Zulfa Mazida, sejak kecil hingga sekarang orang-orang memanggilku Zui. Aku adalah co-founder perusahaan start-up di Kota Malang. Andika, Rinda, dan Aku sudah empat tahun mendirikan marketplace yang menghubungkan para petani dengan konsumen langsung. Petani bisa post dan update hasil tanaman mereka sampai masa panen dan konsumen dapat melihat detail produk yang mereka butuhkan. Kami sudah bekerjasama dengan beberapa Restoran, Kafe, dan Hotel di seluruh Indonesia. Selama 4 tahun ini aku hampir tidak ada waktu selain bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan.

Sore ini, suasana kota Malang begitu sejuk setelah turun gerimis. Aku dan timku baru saja selesai meeting dengan calon mitra di Kafe Madame Wang Secret Garden. Setelah mereka pulang, aku memutuskan untuk santai sejenak menikmati hidangan Lasagna dan Jasmine Tea di bawah kebun anggur yang sedang berbuah. Kafe ini memiliki konsep perpaduan kebun dan vintage, alunan instrumen biola khas Eropa juga menambah suasana sangat homey sekali. Pandanganku tertuju pada sisi pojok kafe, ada sebuah instalasi rumah kaca di kelilingi pohon pakis yang lebat dengan beberapa tumbuhan gantung bernuansa hijau. Aku segera mengambil hand phone, lalu mengabadikannya dalam stories Instagram dan segera aku beralih ke laptop menuntaskan progress report hari ini. Tiba-tiba notifikasi Instagram berbunyi.

“Hai Zui! Apa kabar? Aku Re, temen kamu di camp Wirausaha Muda. Aku nggak sengaja lihat kamu di official account “GreenyHub”, dan ternyata kamu salah satu co-founder-nya.” Dari Muhammad Reza

“Hai Ree, iya aku sedang bangun start-up nih, kamu gimana? Apa kabar? Kok nggak pernah ada kabar”. segera kulihat beranda instagram-nya dan kami saling follow.

Re dulu mahasiswa Bandung, kami bertemu di Jakarta ketika ada kompetisi wirausaha. Dia pernah ke Surabaya untuk mengikuti konferensi dan memintaku menjadi guide-nya.

“Great! Aku masih ambil program PhD nih, di UK. Maaf aku sempat off dari social media hehe”.

“Waah, good luck yaa.” jawabku.

Ia tak membalas lagi, kemudian aku kembali berkoordinasi dengan Andika dan Rinda sebelum bersiap menuju Hotel Tugu selepas sholat maghrib untuk meeting dengan Manajer Pemasaran. Aku memang sedang antusias dengan semua pekerjaan ini, sampai aku lupa bahwa usiaku sudah 27 tahun. Usia yang menurut orang sudah tidak selayaknya menyendiri dan harus segera menikah. Sebenarnya, bukan berarti aku tidak menuruti keinginan mereka, aku hanya belum menemukan seseorang yang “klik” di hati. Aku percaya, jika Tuhan sudah menentukan segalanya termasuk perihal jodoh. Aku hanya diminta memantaskan diri dan menunggu dia datang di saat yang tepat.

—-

“Zui, ada petani potensial yang bisa supply kebutuhan hotel ini, barusan ada notif masuk, ketua petani sayur organik daerah Batu sudah siap panen.” Sapa Rinda di lobby hotel sambil sedikit mengejar langkahku.

“Wah, bagus deh Rin, kita follow up besok ya. Andika udah nyampe duluan ya?”. Tanyaku

“Iya, dia dari Surabaya tadi langsung kesini kok.”

Usia perusahaan yang baru 4 tahun memang belum bisa membuat kami santai-santai, kita harus ekstra kerja keras agar bisa mengejar pertumbuhan keuntungan. Bahkan, hari ini aku harus pulang pukul 21.00 setelah semua mitra deal dengan yang kami tawarkan.

Selepas sholat Isya, aku membalas beberapa direct message (DM) di Instagram, dan aku lihat Re membalas tiga jam yang lalu.

“Thanks Zui, aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi. Oh ya, maaf Zui, kamu sudah ada pacar?”

Seketika aku kaget dengan pertanyaan itu, Re memang cerdas di bidang akademis, badannya tinggi, kulitnya cerah, dan rambutnya selalu cepak, tidak pernah panjang. Dia satu tahun di atasku, dan aku sudah tidak berkomunikasi dengannya semenjak dia menghilang dari sosial media selama enam tahun terakhir. Balasan DM tadi membuatku tersenyum dan sejenak mengenang masa-masa pertemuan kami dulu.

“Weitss kenapa nih?”

“Haha tidak, aku cuma nanya aja. Anyway, aku pengen ngajak kamu diskusi tentang start-up di Indonesia, kira-kira kapan free?” Pungkasnya.

“Emm…boleh banget, aku juga perlu wawasan baru dari pakarnya nih, tapi sekarang aku mau baca buku bentar, lalu istirahat Re. Kamu save Whatsapp-ku ya 081234331717. Kita bahas di WA aja biar nggak kelewatan.”

“Baik Zui, selamat istirahat. Disini masih jam empat sore, aku berangkat kelas dulu ya.”

“Sip, semangat!”

Kemunculan Re kembali membuatku terjebak rasa penasaran. Kita kehilangan komunikasi setelah Ayahnya jatuh sakit dan dia menghilang begitu saja. Akupun harus sibuk bersama tim memulai berbagai bisnis sampai lahir “GreenyHub” sehingga aku lupa tidak mencoba menghubunginya kembali. Aku lanjut membaca buku yang sejak tadi ku taruh di samping lampu tidur. Aku baru membeli buku kuno berjudul “How Should a Person Be?”, isinya tentang seorang wanita yang harus mendapatkan diskriminasi gender di tengah kehidupan sosial yang beragam. Banyak teman yang mengabaikannya setelah ia bercerai. Dia telah menunjukkan bahwa wanita harus bisa mewujudkan impiannya. Jangan sampai kita mengikuti alur orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri kita. Feminisme bukan sesuatu yang buruk jika tidak berbenturan dengan aturan-aturan agama dan sosial yang ada. Aku menyukai buku-buku tentang gender, hanya untuk menambah wawasanku saja bahwa wanita layak memiliki prestasi dan berkarya seluas-luasnya.

—-

2 bulan kemudian

Sabtu pagi, aku sedang membersihkan mobil kesayanganku di halaman rumah sambil mendengarkan Album Ariana Grande, Raisa, dan lainnya di spotify. Mobil ini hadiah ulang tahunku 2 tahun yang lalu dari Ayah, merek Suzuki Ignis warna biru putih. Aku menyukainya karena bentuknya lucu dan mungil, mudah digunakan untuk mobilitasku yang padat selama bekerja. Ayah mengamatiku sambil minum kopi di teras rumah, beliau membahas bagaimana keadaan perusahaan sekarang. Aku bersyukur, perkembangan perusahaan semakin bagus. Senin besok, aku akan ke Jakarta untuk menemui investor bersama Andika, dan jika berhasil “GreenyHub” akan berada pada “Series B” berdasarkan tahap investasi. Kami akan memeroleh investasi dari Mayapada Group senilai 15 juta USD. Aku juga akan semakin sibuk untuk promosi di seluruh penjuru Indonesia. Ayah tentu bersyukur sekali, namun ia tetap mengkhawatirkan kesibukanku dan jangan lupa untuk memikirkan diri sendiri. Aku segera ceritakan kepada Ayah agar tak membuatnya khawatir, bahwa dua bulan ini ada lelaki yang mendekatiku. Dia mahasiswa S3 di UK dan hari ini pulang ke Bandung untuk menghabiskan liburan musim dingin. Kami akan bertemu di Jakarta besok senin setelah urusan bisnisku selesai. Aku merasa nyaman dengannya, sudah dua bulan ini kami ngobrol asyik tentang banyak hal. Ayah hanya tersenyum dan menitipkan salam jika nanti kita bertemu. Setelah Ayah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba datang seorang kurir dari kantor Pos mengirimkan paket. Aku sempat bingung karena aku tidak belanja apapun di minggu-minggu ini. Setelah kulihat, pengirimnya adalah Muhammad Reza; 46 Thurston Rd, London SE13 7SD, United Kingdom. Aku langsung penasaran dan membukanya di dalam kamar. Re mengirim paket tanpa memberitahuku, setelah aku buka ternyata berisi scarf berbahan premium silk dari Heal’s Department dan sepucuk surat.

Zui, kita menatap rembulan yang sama

Merasakan kehangatan sinar mentari yang sama
Namun berada di belahan bumi yang berbeda
7.280 mil jarak yang memisahkan kita
Zui, aku mencarimu bukan tak ada maksud

Aku membutuhkan seseorang yang mengisi hari-hariku
Saling menyemangati dikala penat
Saling menghibur dikala sedih
Sesederhana jawabanmu ketika di telfon

Senyaring tawamu ketika meledekku
Aku ingin kamu mengisi kekosongan hatiku
Menjadi bagian yang tak terpisahkan dariku
Mengerti segala tentangku
Dan menjadi cinta terakhirku

I miss you Zui, text me after receiving this mail. I hope you like this small gift.

Reza

Air mataku menetes membaca isi suratnya, jantungku berdegup lebih cepat dan tak menyangka akan secepat ini Re menyatakannya. Dia tidak pernah bilang akan mengirim paket ini, darimana dia tau alamatku? Dua bulan ini kami saling mengenal kembali dan hampir setiap weekend kami saling sharing di whatsapp, sesekali kami diskusi tentang bisnis melalui skype agar lebih jelas dan professional. Setengah tidak percaya, hampir setengah jam aku melamun dan mendekap scarf pemberiannya, entah kenapa aku tersentuh begitu dalam akan ini.

“Ree, I have received your gifts… suprisingly. Thank you so much for this beautiful scarf and the little poetry you have wrote for me. It touches me deeply and makes me crying.”

“Wah kamu sudah menerimanya? Jadi, sebulan lalu aku sudah mempersiapkannya Zui. Aku baru menyadari dulu pernah menyimpan alamatmu dari notes di laptopku. Terima kasih sudah menerima pemberianku. See you di Jakarta ya, aku sore ini pulang ke Indonesia dari International Heathrow Airport, dan senin kita akan bertemu di Jakarta.” Jawabnya.

Tujuh tahun Re menghilang dariku, ternyata dia harus fokus untuk kesembuhan Papa dan studinya. Namun Tuhan berkehendak lain, Papa Re harus pergi meninggalkannya dan Mamanya. Re bercerita bahwa ia sangat terpukul dan berjanji akan membahagiakan Mamanya karena ia adalah anak tunggal. Re terus fokus pada kuliahnya sampai saat ini ia mengejar agar segera lulus program Ph.D. Kurang satu tahun lagi program doktoralnya selesai. Dalam telfonnya, Re bercerita kalau Mamanya sering menyuruhnya untuk segera mencari pasangan. Namun, karena ia merasa kurang berpengalaman dalam percintaan, Re perlu berpikir panjang. Hingga ia secara tidak sengaja melihat foto-foto lama di laptopnya dan terhenti pada fotoku. Semenjak itu ia langsung mencariku, dan dia bilang tidak sulit untuk menemukan identitasku di pencarian Google. Iya, karena aku merupakan co-founder di sebuah start-up dan banyak artikel yang menyebut namaku.

18 September 2018

“Re, kamu sudah sampai rumah?”. chat-ku baru masuk setelah hand phone-nya mati selama di perjalanan.

Setelah dibaca, Re langsung menelfonku. Kami sama-sama diam dan canggung karena aku telah membaca puisi cintanya. Tetapi segera aku bahas bagaimana perjalanannya dari London. Kemudian obrolan semakin menarik hingga hampir satu jam kami membahas tentang perjalanan, tentang pitching dengan investor, dan tentang rencana kita di Jakarta esok. Re sudah mengantuk sekali, aku menyuruhnya agar lekas istirahat.

19 September 2018

Boarding Room Juanda Airport, Surabaya

06.30

Hari ini adalah langkah baru bagi “GreenyHub” sebagai perusahaan start-up yang tumbuh di kota kecil dan jauh dari ibukota. Kami akan melakukan pitching di Mayapada Tower, Andika memintaku untuk presentasi bagian keuangan dan aku sangat gugup. Aspek keuangan ialah paling krusial bagi investor dalam menentukan kelayakan investasi. Ini berat sekali, meski aku sudah berlatih dalam sebulan ini, memeriksa kinerja keuangan dan proyeksi kedepan bersama tim audit. Aku hampir menolak dan meminta Rinda saja yang melakukannya. Tetapi Re kembali menguatkanku, memberiku pandangan baru tentang amanah yang tidak semua orang bisa dan mampu.

Mayapada Tower lt. 9

Jl. Jendral Sudirman 28 Kuningan, Jakarta

10.00

Pada meeting yang sangat spesial ini, aku memakai kemeja berwarna putih tulang, blazer cream, hijab dan celana yang senada berwarna abu. Scarf pemberian Re, aku kenakan sebagai aksesoris di leher. Aku dan Andika melangkah dengan percaya diri untuk menunjukkan bahwa kami layak mendapat investasi dari Mayapada Group.

Meeting berlangsung selama empat jam, kami sudah memberikan yang terbaik, ini adalah presentasi paling spesial sepanjang hidupku. Kami keluar ruangan dengan nafas lega dan kabar gembira ini segera tersiar di media, bahwa Mayapada Group akan berinvestasi pada GreenyHub senilai 15 juta USD. Akupun telah memberitahu Andika bahwa sore ini akan bertemu Re, teman lamaku dan tidak bisa pulang dengan pesawat yang sama nanti malam. Andika semakin penasaran dengan Re, dan mereka saling berkenalan di lobby sebelum kami berpisah.

Kemudian, aku masuk ke mobil Re, kami menuju Hotel Le Meridien untuk makan. Re menatapku lama, dan sedikit gugup. Lalu aku segera mencairkan suasana dengan memberinya kabar bahwa kami berhasil dalam pitching hari ini. Dia memberiku selamat dan mengatakan bahwa hari ini akan memberi hadiah untuk keberhasilanku.

Kami grogi satu sama lain, Re selalu mencuri pandang dan tersenyum ketika aku membenarkan scarf pemberiannya. Kami banyak diam, tetapi sama-sama tidak bisa menyembunyikan senyum-senyum kasmaran. Sore ini kami makan di restoran hotel yang berkonsep timur tengah, desain ruangannya megah dari khas Lebanon. Ia memesankan makanan dan kami duduk berhadapan.

Re tak banyak berubah, wajahnya semakin bersih, hidungnya mancung, rambutnya tetap cepak, dan seperti biasanya ia selalu berpakaian formal khas akademisi. Kami saling memandangi dalam diam dan berusaha mencairkan suasana. Re memuji keberhasilanku, dan dia sangat kagum dengan kerja kerasku.

“Terimakasih Zui, sudah bersedia memakai scarf itu, aku anggap itu sebagai tanda bahwa kamu menerima aku untuk masuk lebih dalam di kehidupanmu.” Pungkasnya dengan nada rendah sambil tersenyum.

Aku membalasnya dengan senyum, hatiku berdebar menatap senyumnya yang begitu manis dan terlihat bahagia sekali. Selepas makan, Re mengeluarkan sebuah kotak dan berkata:

“Zui, aku membawa cincin ini untuk aku tunjukkan padamu, bahwa aku sudah memutuskan untuk serius denganmu. Aku tau, mungkin ini terlalu cepat, tapi tidak ada yang salah selama kita saling menerima.”

Hari ini begitu sempurna bagiku, aku mengangguk menjawab pertanyaannya dan kami ngobrol tentang rencana di masa depan. Selepas maghrib kami pulang ke Bandung untuk menemui Mamanya. Aku memesan tiket pesawat tengah malam secara mendadak untuk pulang ke Surabaya setelah mampir dari rumah Re.

Bukit Grand Panaromic Bandung No.27

20.15

Kami sudah sampai di rumah Re, Mama membuka gerbang dan mempersilahkan kami masuk. Re mencoba meraih tanganku untuk pertama kali, dan kami saling menatap.

Zui, duniaku berhenti sejenak jika kamu tersenyum

Kamu membuatku merasakan jatuh cinta

Beginikah rasanya?

Aku balas dengan cubitan ringan di pinggangnya, sambil menariknya untuk segera masuk ke dalam rumah. Kami bertiga ngobrol hampir satu jam, Mama Re terlihat sangat bahagia sekali karena aku datang. Beliau bilang kalau aku ialah wanita yang cerdas dan mampu mengimbangi pemikiran Re.

Ini sudah pukul 21.00 WIB namun kami masih ingin ngobrol sebelum aku kembali ke Malang tengah malam nanti. Re mengajakku ngobrol di gazebo depan, melanjutkan bahasan tentang rencana ke depan. Kami duduk lesehan di gazebo menghadap kolam ikan koi, gemercik airnya menambah suasana semakin romantis.

“Zui, bagaimana jika kita segera menikah saja?, kamu bisa menemaniku menuntaskan studiku di UK?. Aku tau ini berat, terlebih kamu memiliki tanggung jawab besar di perusahaan.” Tanya Re.

“Itulah yang kupikirkan selama di perjalanan tadi Re. Aku menyayangimu, sungguh aku mengharapkan kita bisa segera menikah. Tapi aku baru saja mendapat amanah besar, perusahaanku butuh aku. Aku benar-benar bingung.” Jawabku sambil tertunduk.

Aku sedih sekali ketika membayangkan harus meninggalkan “GreenyHub” hingga tidak dapat menahan tangisku. “GreenyHub” aku rintis sejak kuliah, tak mungkin begitu saja aku tinggalkan. Investasi yang baru kami peroleh pasti memiliki resiko tinggi dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lalu, Re meraih pundakku untuk menenangkan, aku menangis tersedu-sedu dibahunya. Kami belum menemukan jalan tengah tentang karir, Re sudah memiliki karir di Jakarta dan aku menjadi orang penting di perusahaanku.

Pukul 12.00 dini hari aku harus segera pulang, dan Re mengantarku ke Bandara. Kami saling diam di dalam mobil, Re menatap mataku yang sangat sembab.

“Zui, sayang… Kita coba cari solusinya ya… pasti ada jalan. Minggu depan aku susul kamu ke Malang, kita ngobrol sama Ayah dan Bunda.” Ungkapnya sambil memegang erat tanganku.

Mobil kami melesat menuju bandara Husein Sastranegara, Re membawakan koperku dan mengantarku ke tempat check-in. Dia membenarkan scarf-ku, lalu mengelus punggungku dan memintaku untuk tidak sedih. Hari ini aku membawa kabar gembira, tapi tiba-tiba kesedihan menghampiriku.

Selama di pesawat aku tidak bisa tidur, GreenyHub seperti separuh hidupku. Perusahaan yang sepenuhnya aku impikan dan kami sudah bekerja keras sampai mendapatkan investasi yang besar. Haruskah aku tinggalkan? Tidak mungkin, aku memikul amanah teman-temanku di perusahaan. Tapi aku mencintai Re, dia impianku, dan kita sama-sama ingin bersatu.

Seminggu kemudian.

Setelah kedatangan Re ke rumah, kami memiliki dua pilihan. Kita menikah segera, dan selanjutnya Long Distance Marriage (LDM) atau menikah setahun lagi setelah Re lulus.

Meski berat, kami sepakat untuk menikah segera, lalu harus LDM selama setahun. Pernikahan kami disiapkan hanya dalam 1 bulan, beruntung EO yang kami pilih mampu mengerjakan semuanya. Re yang tak begitu sibuk siap membantu segala persiapannya, sedangkan aku harus tetap bekerja untuk perusahaan karena fokus perusahaan saat ini ialah promosi. Re semakin sering ke Malang untuk mempersiapkannya, minggu depan Sabtu, 12 Desember 2018 adalah hari pernikahan kami.

12 Desember 2018

Hotel Tugu, Malang

09.00

Kedua keluarga sudah siap, dan kami melangsungkan akad nikah sekaligus resepsi. Seluruh undangan telah tersebar dan sepanjang lobby hotel penuh dengan kiriman ucapan selamat dari personal maupun mitra perusahaan.

Selepas resepsi, kami segera menuju Djoglo Luxury Bungalow untuk bulan madu. Kami hanya memiliki sisa waktu 2 minggu sebelum Re kembali ke London, dan bulan madu kami cukup di Kota Malang. Tapi kami juga berencana untuk liburan di UK, aku berjanji untuk meluangkan waktuku untuk menyusulnya. Kami sudah tak sabar membayangkan hari-hari penuh cinta.

“Zui istriku, kecerdasanmu terpancar dalam wajah manismu. Lihatlah, keceriaanmu dibalut gaun pengantin ini menambah aura bahagia bagi para tamu undangan tadi. Sayang, aku bangga memiliki istri yang periang seperti kamu. Izinkan aku menjadi suami terbaik yang selalu menaungimu, menjadi pelita bagi keluarga kita.” Re terus menggodaku di dalam mobil.

Hotel ini adalah yang termewah di Kota Malang, setiap kamar interiornya full dari kayu, kami disuguhi pemandangan taman dan rumput yang asri langsung di depan ranjang kami. Hotel ini sepi dan private sekali. Re menghampiriku yang sedari tadi sibuk membersihkan diri di meja rias dan memberiku sepucuk kertas.

“Dear Mrs. Reza, are you ready?”

Aku melihatnya dan mengangguk, dia membalas dengan kecupan di keningku lama sekali dan mengucapkan do’a. Hujan turun perlahan membasahi rumput dan ranting pohon menambah suasana penuh kehangatan.

Aku bersyukur sekali, memiliki suami cerdas, tampan, dan pengertian seperti dia. Aku usap wajahnya yang terlihat lelah, aku bayangkan hari-hari indah ke depan. Namun aku takut, aku tak sanggup melepasnya pergi. Satu tahun mungkin cepat, tapi akan terasa lama jika aku buat untuk merindukannya.

Selepas bulan madu selama 3 hari, kami tinggal dirumahku. Re yang sibuk dengan penelitiannya selalu memperhatikanku setiap jamnya. Aku berusaha untuk pulang cepat agar bisa bertemu dengan suamiku di rumah. Kami sedang memaksimalkan waktu yang tersisa beberapa hari saja.

Minggu, 29 Desember 2018

19.31

Waktu berjalan begitu cepat, malam ini aku membantu suamiku beres-beres barang untuk kembali ke London. Aku sudah tau ini akan terjadi, tetapi setelah hari itu tiba, dadaku sesak membayangkan hariku tanpanya. Aku berlari memeluknya yang sedang berdiri memegang buku-buku untuk dimasukkan koper. Kami tak sanggup menahan rasa sedih. Tangis kami pecah, namun Re mencoba menguatkanku dan memegang pipiku lalu berkata:

“Ini hanya sementara sayang, bantu aku menuntaskan tugasku ya”.

Aku semakin tak kuasa melepasnya. Lalu ia mengajakku ngobrol di sofa, dia menceritakan kisah-kisah pasangan LDM lain yang kuat dan bisa melalui semuanya.

Dan esoknya, aku mengantar Re kembali ke London dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

Kami sudah sepakat akan hal ini, maka aku harus menjalani hidupku kembali seperti biasa.

“Aku berangkat dulu ya Sayang. Tiga bulan lagi susul aku, aku tunggu di London. Jaga kesehatanmu, aku akan sangat merindukanmu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan studiku. I love you”

Kalimat terakhirnya yang menyesakkan sebelum mengecup keningku dan berpamit.

Beginilah cinta, harus merelakan dan berkorban

Menunda kesenangan yang sementara untuk menggapai asa bersama.


📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

使用了很多現代文,參雜許多外文,呈現出現代的印尼進文化。