Ada Cinta Dari Tongkat Lalin

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Ada Cinta Dari Tongkat Lalin
👤 Triana

Kuceritakan kisah ini, agar aku, kamu dan kita mengingat lagi bahwa hidup bukan hanya tentang berjuang tetapi terkadang hidup adalah bagaimana caranya kita bisa bertahan.

***

Aku, Nenek dan Parkiran

Siang ini, panas sekali. Suatu siang di awal bulan Mei. Di tengah pandemi Covid-19, matahari mulai memancarkan sinarnya yang membakar, membuat orang-orang semakin enggan keluar. Old Street (Jalan Tua) di daerah Taoyuan yang tepat berada tidak jauh dari rumah majikanku pun kena imbas pandemi Covid-19 ini karena biasanya hari Sabtu dan Minggu akan rame pengunjung kini hanya beberapa orang saja yang datang.

Beberapa bulan telah berlalu semenjak aku mulai membenci hari libur Taiwan, terkhusus hari Sabtu dan Minggu hingga akhirnya aku terbiasa juga. Terbiasa berdiri di pinggir jalan ini, terbiasa berteriak pada mobil-mobil yang lewat, terbiasa melempar senyum paksaan, terbiasa membungkukkan badan sebagai rasa terima kasih pada pemilik mobil-mobil yang telah mau memarkirkan mobilnya. Aku mulai terbiasa dari hujan gerimis, dari dingin dan sekarang dari terik matahari dan aku mulai terbiasa memainkan tongkat lalin (tongkat lampu parkir).

Kutatap jalanan sepi. Matahari yang semakin tinggi tak dihiraukan lagi, demi senyum nenek, demi 100 NT, aku tetap berdiri di pinggir jalan ini. Hingga kini sembilan bulan sudah pekerjaanku bukan hanya menjaga dan merawat kakek tetapi juga menjaga parkiran. Sembilan bulan sudah aku melakukan pekerjaan yang tidak mudah ini di hari Sabtu dan Minggu. Tidak mudah sampai di sembilan bulan ini, tidak mudah untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan di atas tadi, kalau harus jujur ini seperti pekerjaan batin, karena melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan bukanlah hal mudah apalagi sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Kalian tahu pekerjaan batin itu seperti apa? Seperti melepaskan seseorang yang tidak ingin kita lepaskan, seperti merindukan seseorang yang kita tahu tidak akan pernah lagi bisa bertemu. Namun dari sembilan bulan inilah aku semakin tahu dan paham bahwa untuk bertahan hidup butuh usaha dan kesabaran.

Kubilang tidak mudah memang hidup di atas secarik kertas meski dengan deretan nomor-nomor yang sudah jelas bunyinya, karena pada kenyataan tetap saja orang yang membayarlah yang berkuasa dan perkataan merekalah yang harus sering didengarkan bahkan ketika itu salah. Terkadang terasa sakit, hidup semakin terasa tidak adil dan kubilang semua ini dari hati hanya ke hati karena banyak yang ingin kulawan, banyak yang ingin kutolak, namun selalu berakhir pada kesadaran diri bahwa duniaku dengan dunia majikan tidak akan bisa disetarakan dan selalu berakhir padaku yang hanya bisa terdiam.

“Anna kamu benar-benar tidak bisa melakukannya. Lihatlah mobil-mobil itu tidak mau parkir di sini. Seharusnya kamu berteriak dan tanya setiap mobil yang lewat apakah mau parkir atau tidak. Bukan hanya memainkan tongkat lalin, itu tidak berguna.”

“Tapi Nek, mereka pasti membaca tulisan di plang yang sudah sangat jelas itu jika mau parkir di sini. Dan orang yang mau parkir tidak mungkin melajukan mobilnya dengan cepat, jadi percuma juga saya berteriak bertanya sedangkan laju mobilnya saja cepat seperti itu.”

“Tapi mereka ada yang tidak tahu kalau Cuma berjalan 5 menit saja untuk sampai ke Jalan Tua, pasar dan taman itu. Parkiran ini paling dekat jadi kamu harus berteriak katakan pada mereka.”

“Di plang juga sudah tertulis Nek,” belum selesai kalimatku nenek sudah berkata lagi.

“Sudahlah kamu tidak bisa melakukannya, jangan banyak bicara. Lihat parkiran di depan sudah banyak yang parkir, kita satu pun juga belum. Sudah kamu pulang saja lihat Kakek biar aku di sini, dan tidak usah ke sini lagi.”

“Karena tempat parkir mereka sebelum tempat parkir kita Nek, otomatis mobil yang datang dari arah sana kalau mau parkir ya ke mereka dulu, apalagi tempat parkir mereka luas dengan marka parkir (garis parkir) yang lengkap. Sedangkan tempat parkir kita hanya pekarangan rumah yang muat 10 mobil kecil juga berada tepat di tikungan jalan tanpa ada marka, jelas saja banyak yang tidak mau parkir di sini karena terlihat sedikit bahaya kecuali sudah tidak muat lagi di sana. Bukankah kalau kita keluar juga Nenek menyuruh Tuan untuk mencari tempat yang aman bahkan mencari dulu yang gratis, mereka juga sama Nek.”

“Sudah-sudah, kepalaku tambah sakit mendengar omonganmu. Sana pergi tidur siang.”

Perdebatan sama seperti itu sering kali terjadi antara aku dan nenek ketika tidak banyak mobil yang parkir seperti sekarang ini. Pandemi Covid-19 juga telah membuat orang-orang enggan keluar rumah sehingga otomatis tidak banyak orang yang datang ke tempat wisata dekat parkiran kami dan ini akan sangat berpengaruh pada hari-hariku. Suasana hati nenek akan sangat buruk, segala barang atau makanan yang dibeli akan didetail harga-harganya termasuk gaji dan uang bulanan asuransi kesehatanku akan dibahasnya setiap waktu, sehingga aku benar-benar membenci hari Sabtu dan Minggu dari awal menjaga parkiran.

Rasa khawatir ketika akan datang kedua hari itu mulai menjadi kebiasaanku di Jumat malam, takut kalau besok akan sepi sampai aku berpikir kenapa orang Taiwan sangat bekerja keras padahal kehidupan ekonominya jauh di atas kehidupan ekonomi orang-orang Indonesia yang malas, melihat nenek yang begitu bersemangat padahal nenek adalah orang yang berkecukupan. Pernah suatu hari ada mobil yang terlewat belum bayar, hingga sampai jam 10 malam aku dan nenek bergiliran menunggu si pemilik pulang, jika saja aku pasti akan diikhlaskan saja 100 NT itu apalagi hari itu mobil yang parkir juga lumayan banyak jadi tidak akan rugi, tapi lain lagi dengan nenek, bisnis adalah bisnis entah itu 100 atau 10 NT dan amal adalah amal.

Kini hari-hari berat saat pertama kali menjaga parkiran kurasakan lagi, kondisi dampak dari virus corona membuatku semakin sulit. Namun nenek seakan berpura-pura tidak paham dengan situasi sekarang padahal sebenarnya dia juga tahu bahkan tidak membolehkan aku libur dari awal virus menyebar dengan alasan bahaya dan tidak boleh keluar, tetapi dia mengharapkan banyak pengunjung ke Jalan Tua ini agar parkirannya juga penuh dan aku tidak bisa untuk diam ketika nenek terus mengomel karena parkiran sepi.

“Aku heran sama kamu Nek, bukankah kamu sendiri mengatakan sekarang di luar sangat bahaya bahkan aku saja tidak boleh libur. Tapi kamu tidak senang dan mengatakan hal macam-macam gara-gara tidak banyak orang datang bermain. Mereka juga sama sepertimu Nek, merasa di luar itu tidak aman,” ujarku setiap kali nenek marah-marah karena belum juga ada yang memarkirkan mobil.

Nenek pun diam namun tidak jarang justru mengatakan kalau aku yang tidak bisa bekerja sampai aku merasa sedih dan bingung setiap kali nenek mengambil paksa tongkat lalin yang sedang kupegang. Ya, aku justru bukan senang disuruh pergi oleh nenek karena tahu ini akan membuat suasana hati nenek tidak senang sampai beberapa hari ke depan dan itu akan menjadi hari yang sulit untukku.

Namun seperti waktu, hari, bulan dan tahun yang berganti, sikap nenek pun begitu. Tidak jarang dia memujiku pada orang-orang ketika banyak yang parkir sampai semua pekerjaanku dipujinya, kadang aku justru khawatir dan merassa ketakutan akan melakukan kesalahan.

“Begitulah Nenek, tidak ada yang sebaik dia jika kita sudah memahaminya. Hanya telinga kita perlu sabar saat suasana hatinya tidak baik,” suatu hari anak lelaki nenek berkata padaku, saat melihat suasana hati nenek sedang baik.

“Tapi Tuan, aku selalu khawatir mendapat pujian Nenek. Aku tahu Nenek orangnya baik, hanya jika kita melakukan sedikit kesalahan atau sesuatu yang tidak dia sukai kata-kata Nenek akan sangat menakutkan, seperti waktu mesin cuci yang tidak jalan itu, seperti ketika aku antri masker terlambat sedikit, bukankah Tuan juga tahu reaksi nenek saat itu?”

“Ya, kita cukup diam saja karena sudah tahu sifat dia, nanti juga akan sembuh sendiri, tidak perlu dipikirkan,” balasnya.

Masih ingat waktu nenek mengunci semua pintu dan jendela hingga aku tidak bisa masuk gara-gara aku libur dan telat 30 menit karena ketinggalan bis, padahal aku sudah meneleponnya, memberi tahu anaknya bahwa mungkin aku telat. Begitu juga saat mengantri masker Nenek marah habis-habisan, menelepon semua anak perempuannya mengatakan aku main keluar lama, membiarkan kakek tidur siang sendirian, padahal mengantri masker saat awal-awal itu butuh berjam-jam. Sampai aku berpikir bekerja di sini sangat memakan perasaan meskipun tidak lelah dalam hal pekerjaan.

Bagaimana mungkin dia bisa marah aku mengantri masker dengan uang sendiri untuk dipakai bersama kakek karena nenek mengatakan tidak butuh dan tidak memberikan kartu sehatnya sedangkan setiap hari aku membawa kakek ke taman, sehingga aku akan pergi diam-diam di saat kakek tidur siang hanya untuk 3 lembar masker yang salah satunya kupakaikan pada kakek jika kami keluar.

Tapi kini setelah aku menjelaskan dan meminta bantuan pada anaknya untuk membuat nenek paham bahwa masker sangat penting, sampai akhirnya anak nenek berhasil meyakinkan dan mengizinkanku mengantri masker di jam tidur siang kakek bahkan sekarang aku bisa meminjam identitas kakek nenek untuk membeli masker yang kuniatkan akan dikirim ke kampung halaman setelah akhirnya Indonesia juga kena Covid-19. Sudah 50 lembar berhasil kukumpulkan dari tiga identitas (Aku, Nenek, Kakek) tentu dengan uang milikku dan setiap antri kusimpan satu untuk nenek dan satu untuk kakek. Ya, beginilah sebuah kata saling, meski cukup mengherankan bagi beberapa temanku karena justru pembantunya memberi majikan masker dari uang sendiri. Tapi kupikir merawat kebersamaan adalah salah satu cara menjaga sebuah hubungan, seperti sekarang hubungan antara aku dan nenek sebagai pembantu dan majikan.

Tidak mudah bisa bertahan 4 tahun bekerja di sini, ada banyak ketidakcocokan, ada banyak rasa kurang memuaskan bagiku juga pastinya bagi pihak nenek. Tapi kita berhasil melewati 4 tahun ini hingga masing-masing sudah saling mengenal sifat dari kekurangan dan kelebihan sendiri, inilah alasannya kenapa aku masih tetap kerasan bekerja di sini begitu juga nenek karena tidak mudah untuk bisa menerima dan mengerti orang yang baru kita kenal. Aku yakin ada banyak majikan yang lebih baik dari nenek dan nenek pasti juga tahu ada banyak pembantu yang lebih baik dari aku, tetapi kita harus lagi dari awal memahami orang baru yang tidak tahu apakah bisa menerima atau tidak kekurangan kita.

Beberapa temanku pernah mengatakan mengapa mau-maunya jaga parkiran, bilang ejen saja karena tidak sesuai job dan lain-lain. Kadang aku pun berpikir sama dengan mereka ketika suasana hati nenek sedang tidak baik, namun kembali lagi kupikir jika terus mencari pekerjaan yang sempurna yang selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan itu mustahil jika kita sendiri tidak berusaha untuk menjaga pekerjaan dan hubungan kita dengan baik.

Tidak kupungkiri awal menjaga parkiran aku merasa malu, sedih dan mengeluh apalagi ketika parkiran sepi. Ketakutan akan ocehan-ocehan nenek yang pastinya akan membuat hari menjadi sulit. Tetapi ada hari dimana aku merasa senang dan bersemangat sampai terik matahari yang menyengat tidak terasa ketika banyak yang parkir, ketika beberapa mobil bahkan menjadi langganan, ketika orang-orang baik berkata,

“Aku parkir di sini karena melihatmu seorang pekerja yang baik, mau membantu Nenek.”

Mendengar itu aku bahagia apalagi bisa membuat nenek senang, meskipun sebenarnya nenek tidak memaksaku untuk jaga parkiran tapi aku sendiri yang mencoba mengerti dan membeli hati nenek demi pekerjaanku di sini lancar. Karena tanpa menjaga parkiran pun ada saat aku dan nenek bertengkar, baikan, berdiam-diam situasi yang tidak jauh berbeda dengan kebersamaan bersama keluarga.

Ya, aku mulai mencoba mengatakan pada diri sendiri bahwa merawat kebersamaan dengan majikan adalah salah satu cara untuk kita bisa kerasan bekerja dengan mereka. Ada banyak pelajaran dari sifat dan kebiasaan nenek yang bisa kuambil, terutama kerja kerasnya dan ada banyak kebaikan di balik sifatnya yang susah menerima kesalahan orang. Bahkan di parkiran ini aku mengenal seseorang yang tidak sengaja ingin mengenalku lebih dekat itu pun karena nenek yang punya hati, tidak memandangku sebagai pembantunya, dia memberi izin dan kesempatan yang jarang majikan lain berikan.

“Aku ingin memberikan pernikahan besar pada Anna agar aku bisa menghadiahkan pada ibunya sebagai terima kasihku telah menjaga Kakek dengan baik. Anna sudah seperti cucu perempuan jadi aku akan bertanggung jawab selagi dia mau mendengarkanku dan aku tidak akan sembarangan menerima laki-laki yang dengan mudah meminta menikahinya,” kata-kata Nenek sangat jelas pada laki-laki yang hari itu datang bersama bapaknya.

Sang ayah beberapa kali memarkirkan mobilnya di parkiran nenek dan dia bilang sering melihatku, sampai suatu hari dia mengajak anaknya dan memperkenalkan padaku. Nenek mengatakan pada mereka jangan segan untuk datang jika mau bertemu Anna.

“Anna, kenapa tidak kamu pikir-pikir. Mau sampai umur berapa kamu bekerja? Jika kamu menyukainya aku akan rela melepasmu dan mencari yang lain untuk menjaga kakek. Aku sudah mengganggap kamu seperti cucuku, aku melihat sudah cukup kamu menjadi tulang punggung keluarga saatnya mencari kehidupan dan kebahagiaan sendiri dan lebih baik kamu menikah dengan orang Taiwan hidupmu pasti bahagia.”

“Iya, kenapa kamu tidak mencoba menjadi temannya terlebih dahulu. Kamu harus banyak bergaul biar bahasamu lancar,” Tuan Tang yang sering tidak mengerti dengan perkataanku mengikuti ucapan nenek. Dia kebetulan sedang berada di situ.

Aku hanya tersenyum, ada banyak alasan untuk menjawab perkataan mereka tapi saat itu aku hanya merasa terharu mendengar ucapan nenek, ribuan terima kasih tidak mampu kuucapkan, mulutku tidak semanis hatiku. Ya, kata terima kasih itu tak mampu kuucapkan padahal jauh di lubuk hati aku ingin mengucapkannya pada Nenek.

Seminggu kemudian mereka datang lagi sampai berkali-kali setiap Sabtu dan Minggu, hingga akhirnya nenek kembali bertanya, “Apakah aku mau menikah dengannya jika tidak harus memberi kejelasan, jangan biarkan mereka salah paham.”

“Aku harus memikirkannya Nek, ada banyak yang harus kupertimbangkan untuk melangkah jauh ke sana. Ada banyak perbedaan yang sangat besar dalam langkah itu,” Ya meski hati kecilku berkata bahwa aku menyukainya, namun batu besar di depan membuatku kembali harus mempertimbangkannya. Aku punya keluarga yang harus kuperjuangkan kehidupannya.

Tapi dari situ aku merasakan ada cinta nenek, dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu dia lontarkan pada laki-laki itu aku tahu kepedulian nenek padaku. Ini salah satu hasil dari pekerjaanku menjaga parkiran, dari tongkat lalin yang baru pertama kali kupegang, dari pekerjaan yang sama sekali tidak pernah terlintas akan kulakukan di Taiwan ini.

“Anna, nanti kamu pulang ke Indonesia terbiasa dan bisa melakukannya.”

“Kalau aku mau melakukan pekerjaan seperti ini di Indonesia tentu aku tidak harus jauh-jauh pergi ke Taiwan,” setiap kali kujawab dengan jawaban sama ketika Tuan Tang dan beberapa orang yang kenal nenek berkata seperti itu padaku. Aku tidak mengatakan kalau sebenarnya ini demi membeli hati dan senyum nenek bukan demi 100 NT yang terkadang nenek berikan jika yang parkir membludak.

Dan itu benar jika saja aku begitu rajin seperti di sini, bekerja apa saja tanpa ada rasa lelah dan rasa malu mungkin aku tidak akan berada di Taiwan. Pertama membantu nenek saja aku memaksakan diri hingga akhirnya terbiasa, karena tiada yang salah dengan pekerjaan apa pun meski terlihat rendah selama itu baik, hidup perlu usaha dan kerja keras. Dan pikiran ini kudapatkan dari diri nenek yang penuh semangat mencari uang di usianya yang tidak lagi muda, dengan kondisi ekonomi yang bisa dibilang serba ada.

Terima kasih Nek, untuk pelajaran ini. Sikapmu yang keras dan pekerja keras akan saya jadikan pelajaran untuk terus tumbuh demi bertahan hidup di zaman yang keras.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Cerita tentang relasi pembantu dan majikan yang berubah menjadi keluarga. Plot cerita mengalir dengan konflik-konflik kecil antara Anna dan Nenek yang cerewet memiliki sifat pekerja keras dengan meminta Anna membantu menjaga parkiran mobil dengan tongkat lalin (tongkat lalu lintas) setiap hari libur. Dengan pekerjaan itu, akhirnya Anna menjadikan nenek cerminan sebagai pembelajaran hidup. Dialog-dialog dalam naskah ini terasa mewakili peristiwa kegelisahan batin Anna dan nenek. Penokohan kuat dan EYD baik. Simbol tongkat lalin menjadi esensial untuk mewakili simbol cinta, kerja keras dan rasa sayang nenek pada Anna, selain dengan tongkat lalin, Anna juga menemukan cintanya.

📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

述說出一場以工作要求嚴厲的方法表達出愛與關懷,文章呈現了台灣另一個對移工的態度。