Perempuan Pengikat Kenangan

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Perempuan Pengikat Kenangan
👤 Loso Abdi

Musim semi 2004,

Musim semi kali ini, bunga-bunga mekar lebih banyak. Menyembul dari sela-sela rekahan tanah, di bawah pokok-pokok perdu, di dinding-dinding samping rumah. Semuanya berwarna meriah, merah-putih-kuning-ungu.

Pohon-pohon randu juga telah menjatuhkan habis daun-daun, mengisi seluruh dahan dengan bunga-bunga kuning cerah.

Musim semi ini juga, Kartini harus pulang. Ia harus meninggalkan Xiao Mei, bocah yang telah diasuhnya selama tiga tahun.

Ada sedih yang menusuk-nusuk jantung Kartini, kesedihan yang sama seperti yang ia rasakan tiga tahun lalu saat akan berangkat ke Taiwan.

Sementara bagi Xiao Mei, ia belum benar-benar mengerti apa yang terjadi. Bagi bocah enam tahun itu, Kartini hanya akan pergi sebentar ke pasar, lalu akan segera kembali pulang padanya.

Pagi itu, di pertengahan musim semi yang penuh warna, Kartini pergi dengan hati yang hancur. Sementara Xiao Mei melepas Kartini dengan sebuah harapan, bahwa Kartini akan pulang dengan membawa satu kotak es krim untuknya, seperti biasanya.

***

Mei 2015,

Gadis tujuh belas tahun itu duduk menghadap rumpun Petunia ungu. Matanya menerawang jauh ke angkasa, mencoba mencari sesuatu di gumpalan-gumpalan awan.

Namun, hingga gumpalan-gumpalan awan itu menghilang, berganti dengan mendung yang hitam, gadis itu tak menemukan apa yang ia cari.

Gerimis turun, memaksa Xiao Mei bangkit dari duduknya. Enggan ia melangkah pulang, meninggalkan kelopak-kelopak Petunia yang cantik namun rapuh itu.

Sudah bertahun-tahun, Xiao Mei selalu duduk di bangku taman itu. Memandangi aneka bunga yang mekar silih berganti.

Entah kenapa, ada perasaan memiliki saat ia memandangi bunga-bunga itu. Lebih tepatnya, perasaan bahwa ia pernah memiliki sesuatu.

Namun, Xiao Mei sendiri hingga kini belum mengerti, apa yang pernah dimilikinya itu.

Dari bunga-bunga, juga awan-awan di langit, Xiao Mei mencoba menggali ingatannya. Mencoba meyelam jauh ke dasar ingatannya. Namun nihil, ia hanya bisa merasakan tanpa bisa menggambarkan.

Ia merasa nyaman saat duduk di kursi taman itu. Seperti ada tangan yang mengelus rambutnya. Seperti ada suara yang selalu mengajaknya tertawa. Seperti ada hati yang tulus mencintainya.

Tapi, Xiao Mei masih belum tahu, apa atau siapa yang membuat perasaannya menjadi senyaman itu.

Setiap kali pulang ke rumah, perasaan nyaman yang ia peroleh di taman mendadak hilang. Berganti dengan rasa kesepian dan seorang diri.

Papa dan mama seperti layaknya orang asing baginya. Mereka berangkat kerja pagi-pagi dan pulang menjelang tengah malam setiap harinya.

Xiao Mei hanya berkomunikasi dengan mereka melalu hape. Jarang sekali mereka bertemu meski tinggal serumah.

Di rumah itu, Xiao Mei tak punya apa-apa, selain rasa kesepian yang melukai hatinya.

Dengan orangtuanya, Xiao Mei lupa kapan terakhir kali mereka jalan keluar rumah bertiga. Xiao Mei lupa kapan terakhir kali mereka duduk sarapan bertiga. Bahkan Xiao Mei telah lupa bau punggung tangan mereka berdua.

Satu-satunya hal yang Xiao Mei ingat dari papa dan mamanya adalah: bahwa mereka telah menciptakan kesepian yang begitu lama baginya.

Kesepian yang ia rasakan semejak bertahun-tahun lampau. Kesepian yang menjadi kerak-kerak, melapisi dinding hatinya.

Dari kesepian yang ia rasakan, juga kursi dan bunga-bunga di taman itu, Xiao Mei seperti terhubung dengan kenangan. Kenangan yang berusaha untuk ia hadirkan, namun selalu gagal.

Xiao Mei tahu dan ingat betul, bahwa ia pernah mempunyai seseorang. Seseorang yang pernah hadir mengusir kesepiannya waktu itu. Seseorang yang selalu mengajaknya duduk menikmati bunga-bunga di taman.

Namun Xiao Mei tak mampu menampilkan sosok itu dalam ingatannya. Tak mampu menggambarkan senyuman orang itu, meskipun setiap hari ia berusaha menemukan wajah dan senyuman itu di setiap sudut taman, juga pada kelopak-kelopak bunga, serta pada awan-awan di langit.

Orang itu datang saat Xiao Mei masih terlalu kecil, berusia tiga tahun, membuatnya kesulitan membangun kembali kenangan itu.

Pernah Xiao Mei bertanya pada mamanya, perihal sosok itu. Mamanya menjawab dengan tawa keras, lalu mengolok-oloknya.

“Dulu ada seseorang yang datang dari jauh, untuk merawatmu. Hanya tiga tahun. Kamu masih terlalu kecil waktu itu, bagaimana mungkin kamu akan bisa mengingatnya!”

“Orang asing,” Xiao Mei kembali bertanya pada mamanya.

Mamanya bangkit dari sofa, “Orang Indonesia.” Jawabnya, sambil berjalan menuju ke kamar.

Sudah belasan kali, saat di rumah, Xiao Mei membongkar gudang dan membuka dokumen-dokumen lama milik orangtuanya, berharap bisa menemukan sesuatu. Sesuatu yang bisa ia jadikan sebagai kunci pembuka bagi kenangannya.

Tapi Xiao Mei tak pernah menemukan satu petunjuk pun.

Ia hampir gila. Hati dan perasaannya selalu penuh oleh ‘orang’ itu, namun ingatannya tak pernah mampu menampilkan sosok ‘orang’ itu.

Hingga pada satu malam yang basah, Xiao Mei menemukan sebuah catatan kecil bertanggal 17 April 2001.

Xiao Mei yakin itu adalah catatan dari mamanya, menulis bahwa telah datang di hari itu, seorang pengasuh asing asal Indonesia, yang akan merawat bayinya: Xiao mei. Wanita pengasuh itu bernama Kartini, berumur dua puluh dua tahun.

Membaca catatan itu, hati Xiao Mei berdebar. Hatinya seperti Alamanda di sudut taman, ceria.

Berhari-hari setelah membaca catatan kecil itu, Xiao Mei tak dapat tidur dengan nyenyak. Ia terus berpikir. Ia tahu telah menemukan titik terang tentang kenangan itu. Namun ia juga tahu, bahwa yang ia temukan itu belum cukup untuk bisa membawanya menemui kenangan tersebut.

Xiao Mei terus berpikir, bagaimana caranya agar dengan catatan kecil itu ia bisa menembus waktu, bertemu dengan kenangannya.

Berkali-kali Xiao Mei menunggu mamanya pulang, lalu bertanya perihal Kartini. Tapi, berkali-kali pula mamanya mengatakan bahwa tak ada satu pun tentang Kartini yang tertinggal di rumah mereka. Mamanya bilang, Kartini hanya seorang asing yang hadir terlalu singkat di rumah mereka, hanya tiga tahun. Kartini terlupakan oleh mereka saat perempuan itu menggeret koper besarnya dari rumah ini, saat dia hendak pulang.

“Tak ada lagi kenangan tentang Kartini di rumah ini, sudah terhapus oleh musim-musim yang terus datang dan pergi,” ucap mamanya.

Kartini memang telah pergi, orangtuanya juga telah kehilangan kenangan dengannya. Semua itu hanya karena Kartini orang asing.

Namun tidak bagi Xiao Mei, Kartini telah menjelma menjadi kenangan abadi di hatinya. Kartini bukan sekedar orang asing, tapi lebih sebagai seseorang yang lekat di hatinya.

Kartini terus ada di dalam hati, sebagai kenangan yang selalu mengisi kekosongan hatinya.

Tapi sayang, nama dan semua hal yang Xiao Mei rasakan tentang Kartini, belum mampu membuatnya menghadirkan wajah itu dalam ingatannya. Xiao Mei belum juga bisa mengingat wajah seperti apa yang dimiliki oleh perempuan pengikat kenangan di dalam hatinya itu.

Setelah musim semi berakhir, Xiao Mei semakin sering pergi ke taman. Gadis itu akan menghentikan semua perempuan berwajah asia tenggara yang ia jumpai, lalu bertanya apa mereka kenal dengan Kartini.

Semua perempuan ia menggeleng, ada yang menertawakannya, ada yang menyentuh pundaknya. Semua tidak tahu dan tak mengenal Kartini.

Xiao Mei tak putus asa, ia semakin sering datang ke taman untuk meghentikan orang, dan menanyai tentang Kartini. Hingga seorang perempuan paruh baya yang mendorong kursi roda ganti menanyai Xiao Mei, “Seperti apa wajahnya? Dari mana asalnya? Indonesia itu sangat luas, bagaimana bisa kamu mencari orang tanpa tahu wajah dan asal-usulnya.” Lalu perempuan itu berlalu pergi meninggalkan Xiao Mei.

Malam harinya, Xiao Mei kembali menunggu mamanya pulang kerja. Ada kertas dan pensil di tangannya.

“Ma, seperti apa wajah Kartini?” Xiao Mei menjajari langkah mamanya menuju kamar.

“Aduh, Xiao Mei, Mama sudah lupa. Sudah lama sekali. Mama capek, mau istirahat!

“Ma, masa sedikit saja Mama tak ingat? Hidungnya? Matanya? Kulitnya?”

“Pergilah ke taman, di sana kamu akan bisa membayangkan, seperti apa wajah Kartini!” Langkah Xiao Mei terhenti, mamanya telah masuk dan menutup pintu kamar, membiarkan dirinya dengan kertas yang masih kosong di depan pintu.

Esok harinya, Xiao Mei sudah berada di taman pagi-pagi sekali. Saat bangun tidur ia teringat ucapan mamanya, yang menyuruhnya ke taman agar bisa menemukan wajah Kartini. Maka ia bergegas pergi ke taman.

Ya, selama ini Xiao Mei lupa, bukankah di taman banyak sekali perempuan-perempun pengasuh lansia yang telah ia temui. Perempuan-perempuan dengan kulit dan wajah yang semuanya hampir mirip. Perempuan-perempuan Indonesia: kulit coklat, rambut hitam panjang bergelombang, mata besar dengan bola mata yang hitam.

Maka, pagi itu Xiao Mei memenuhi kertas kosongnya dengan sketsa-sketsa wajah.

Menjelang tengah hari, Xiao Mei sudah duduk di hadapan seorang pelukis wajah, dengan membawa kertas penuh sketsanya.

“Paman, saya mau minta tolong untuk dilukiskan wajah orang,” Xiao Mei memberikan kertasnya. Pelukis wajah itu segera menerimanya, namun sesaat kemudian wajahnya mengerut.

Sambil tertawa, pelukis itu berkata, “Apa yang bisa saya lukis dari coretan-coretan seperti ini, Nak?”

Xiao Mei tak menyerah, ia berusaha menjelaskan pada pelukis wajah itu,”Tingginya segini,” kata Xiao Mei sambil mengangkat naik tangannya di atas kepalanya. “Kulitnya seperti warna kulit kayu, atau buah. Matanya besar, rambutnya hitam panjang, bibirnya seperti Petonia atau Adenium atau Alamanda. Cantik.”

Pelukis wajah itu mendengarkan semua perkataan Xiao Mei dengan sungguh-sungguh, ia tahu anak perempuan itu datang dengan membawa harapan yang besar.

Satu jam kemudian, Xiao Mei pulang dengan membawa lukisan hitam-putih, wajah seorang perempuan yang manis, dengan Adenium terselip di kuping kirinya.

Malamnya, Xiao Mei tak perlu menunggu hingga larut untuk bisa bertemu dengan mamanya, mamanya selalu libur pada hari Minggu seperti ini. Tapi, meskipun libur kerja, mamanya itu juga tidak berada di rumah, selalu keluar bersama teman-temannya.

“Apakah Kartini itu seperti ini, Ma?” Xiao Mei bertanya pada mamanya, yang kemudian dijawab dengan gelak tawa oleh mamanya itu.

“Kamu ini kenapa, Xiao Mei? Ada apa denganmu? Mama pun sudah tak ingat seperti apa wajah Kartini itu. Mungkin ya seperti itu, tapi bisa saja tak seperti itu. Kenapa kamu selalu bertanya tentang dia?” kata mamanya setelah reda tawanya.

“Aku harus mencarinya, Ma….”

“Untuk apa?”

“Tidak tahu,”

“Sepertinya kamu terlalu keras belajar, Xiao Mei, bulan depan tidak usah lagi pergi les bahasa inggris!” Wanita empat puluh tahun itu mulai khawatir dengan anaknya. Mungkin saja anaknya mengalami sesuatu yang buruk dengan mentalnya, karena terlalu banyak pelajaran yang harus dia kerjakan.

“Aku baik-baik saja, Ma, tak perlu khawatir. Aku hanya perlu menemukan Kartini.”

“Iya, tapi untuk apa?”

“Entah.” Xiao Mei mengakhiri pembicaraan mereka. Xiao Mei tahu, sebentar lagi mamanya akan berteriak, mengancam supaya dirinya mengikuti apa yang dia katakan.

Gadis remaja itu tergesa masuk ke dalam kamarnya.

Hari-hari selanjutnya Xiao Mei benar-benar dihantui oleh lukisan wajah Kartini. Ia berada di taman jauh lebih lama dari biasanya. Menanyai orang jauh lebih banyak dari biasanya. Tapi Xiao Mei belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tak ada satu pun dari orang-orang yang dia sodori lukisan wajah Kartini mengenalinya. Orang-orang itu malah ramai mengomentari bunga-bunga cantik-latar lukisan Kartini; wah cantik sekali bunganya, wah indahnya, wah warnanya cerah sekali.

Sejak itu, Xiao Mei merasa kalau ia hanya mencari wajah Kartini di taman, itu akan sia-sia. Xiao Mei berpikir untuk mendatangi tempat yang lebih ramai, tempat yang lebih banyak didatangi oleh para pekerja dari Indonesia.

Maka, petang itu saat berpapasan dengan seorang perawat lansia dan pasiennya, Xiao Mei tak lagi bertanya perihal Kartini, melainkan menanyakan tempat mana yang paling banyak didatangi oleh para pekerja asal Indonesia.

“Datanglah ke Taipei Main Station saat hari libur, maka kamu akan lupa kalau sedang berada di Taipei. Kamu pasti akan merasa seperti berada di satu tempat yang asing, satu tempat yang belum pernah kamu datangi, kamu akan merasa sedang berada di Indonesia.”

Perempuan perawat lansia itu menjelaskan pada Xiao Mei.

Hari Minggu berikutnya, Xiao Mei menumpang bus untuk pergi ke Taipei Main Station. Baru pukul sembilan pagi saat Xiao Mei tiba di sana, belum cukup banyak orang di tempat itu.

Semakin siang, Xiao Mei semakin takjub, banyak sekali pekerja-pekerja asal Indonesia yang berdatangan ke tempat itu. Duduk melingkar-lingkar, saling bercanda, meriah sekali.

Xiao Mei bingung, terlalu banyak wajah yang sekarang ia temui, lukisan wajah Kartini masih dalam dekapannya, tak ada satu pun wajah-wajah di tempat itu yang mirip dengan lukisan yang dibawanya.

Puluhan orang, ratusan orang ia sodorkan lukisan wajah Kartini, bertanya apakah ada yang mengenali.

Tapi semua orang yang ditanya oleh Xiao Mei kepalanya menggeleng, mereka tidak kenal.

Hampir putus asa Xiao Mei mengelilingi aula Taipei Main Station yang luas, kakinya sudah terasa kesemutan, Xiao Mei berpikir mungkin ia butuh sedikit istirahat.

Di sebelah beberapa perempuan yang seumuran mamanya, Xiao Mei duduk menekuk kaki. Ia kelurkan botol minum yang telah disiapkannya dari rumah.

“Mei-mei, mari sini, bergabung dengan kami!”

Xiao Mei awalnya tak menghiraukan suara panggilan itu, ia sama-sekali tak punya kenalan di tempat itu, jadi ia merasa panggilan itu bukan untuknya.

Xiao Mei baru menoleh saat panggilan itu diulangi, disertai sebuah sentuhan di bahunya.

“Mari sini,” perempuan dengan kepala dibungkus kain itu tersenyum padanya. Senyuman yang amat manis.

“Saya….” Xiao Mei menunjuk hidungnya, belum percaya sepenuhnya, di tempat seasing itu ada orang yang tak dikenalnya memanggil dan meminta duduk bersama.

“Iya. Sini, kita makan dan minum bersama, tak perlu sungkan.” Perempuan itu menggeser duduknya, memberikan ruang yang lebih bagi Xiao Mei yang mendekat perlahan-lahan.

Xiao Mei kikuk, merasa aneh dan asing berada di antara mereka.

Tujuh perempuan yang duduk melingkar itu bergantian menawarkan minuman dan makanan untuk Xiao Mei, membuat gadis remaja itu bingung dan merasa tak enak hati.

“Cukup, Bibi, saya tadi sudah sarapan.” Xiao Mei membungkuk hormat, mencoba menolak tangan salah satu dari perempuan itu yang terus menyendokkan makanan ke piringnya.

Sambil menikmati makanan, mata Xiao Mei beredar, menatap tajam wajah-wajah di sekelilingnya. Wajah-wajah yang terus tersenyum. Wajah-wajah yang -seperti dirinya- juga menyimpan kenangan dan kerinduan.

Kurang dari satu jam duduk berkumpul bersama mereka, Xiao Mei sudah bisa tertawa lepas. Perempuan-perempuan itu entah bagaimana caranya, telah mengisi satu ruang dalam hatinya yang selama ini kosong dan suram.

Xiao Mei merasa hatinya begitu hangat dan riuh.

“Bibi, bolehkan saya bertanya sesuatu?” ucap Xiao Mei memotong tawa perempuan-perempuan itu, yang lantas semua menganggukan kepala ke arah Xiao Mei.

“Saya mencari orang ini,” Xiao Mei menunjukkan lukisan wajah Xiao Mei.

“Siapa orang itu?” sambut salah satu dari perempuan-perempuan itu.

“Namanya Kartini.”

“Asalnya dari mana?”

“Entah. Saya sendiri tak tahu. Mama saya juga sudah lupa, semua dokumen sudah hilang.”

Lukisan wajah Kartini itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain dari peremouan-perempuan itu, lalu kembali ke dekapan Xiao Mei.

“Perempuan itu datang ke rumah saat umur saya baru tiga tahun. Pada tahun 2001. Dia datang untuk bekerja menjaga saya. Papa dan mama terlalu sibuk bekerja.

Tahun 2004 perempuan itu pulang. Saya ingat waktu itu, ada seseorang yang sangat saya sayangi berpamitan. Perempuan itu menciumi pipi saya sehingga muka saya menjadi basah. Saya pikir, perempuan itu hanya pergi untuk membelikan saya es krim seperti biasanya.

Ternyata, perempuan itu tak pernah kembali sehingga saat ini.

Tak banyak yang berhasil kurekam dalam ingatanku tentang perempuan itu, kecuali hanya bangku taman dan bunga-bunga. Aku tak bisa mengingat wajahnya.

Lama setelah perempuan itu hilang dari hari-hari saya, barulah saya tahu bahwa perempuan itu menangis saat mencium dan berpamitan, menangis karena itu kebersamaan terakhir bagi kami.

Perempuan itu memang tak berada di sampingku lagi, tapi ia masih ada di sini,” Xiao Mei menyentuh dadanya, matanya berkaca-kaca.

Setelah mengambil napas panjang, Xiao Mei melanjutkan ceritanya, “kenangan tentang perempuan itu tetap bersamaku selama ini. Selama sebelas tahun terakhir.

Saya tumbuh dengan kenangan-kenangan itu….” Xiao Mei menunduk, dalam sekali, seakan pandangannya hendak menembus lantai aula, mencari wajah Kartini di dasarnya.

Perempuan-perempuan itu silih berganti memeluk Xiao Mei, mata mereka basah.

“Anggap kami sebagai perempuan itu. Anggap kami sebagai Kartini-mu.” Mereka berkata-kata, saling menyentuh kepala Xiao Mei.

“Terima kasih, Bibi. Semoga ada yang bisa membantu saya menemukannya…” Xiao Mei membalas pelukan mereka, pelukan tulus yang sudah lama sekali tak ia dapatkan.

“Mei-mei, kamu anak yang baik. Kamu boleh saja terus menyayangi Kartini, mengenangnya. Tapi kamu harus ingat, sudah lama sekali Kartini pergi, kita tak ada yang tahu di mana tempat tinggalnya. Kita semua tak ada yang tahu bagaimana keadaannya saat ini, apakah masih ada atau tidak.

Kami akan mencoba membantu Mei-mei, tapi Mei-mei tak boleh terlalu berharap.

Mei-mei tak perlu khawatir, anggap kami semua yang ada di sini sebagai Kartini, datanglah ke sini setiap hari Minggu, kita bisa berkumpul di sini. Minum bersama, makan bersama.” Salah satu dari perempuan itu berkata dengan lembut pada Xiao mei, memeluknya erat sekali.

Hati Xiao Mei terasa lega sekali, kenangan-kenangan yang sejak dulu menyesaki ingatannya, hari itu melebur, mejelma menjadi wajah-wajah di depannya, wajah-wajah teduh dan tulus.

Ia masih teringat Kartini, ia masih berharap bisa bertemu dengan perempuan itu, namun semuanya menjadi lebih terang baginya saat ini. Bayangan wajah Kartini yang buram, tak lagi berdesak-desakkan dalam pikirannya.

Hari itu Xiao Mei telah menemukan sebagaian dari kenangannya. Ia memang belum menemukan Kartini, namun ia telah menemukan perempuan-perempuan berperasaan seperti Kartini.

Ia berjanji, masih akan berusaha mencari sosok Kartini, namun ia juga berjanji bahwa apa pun hasilnya tak akan membuatnya kecewa.

Bersama perempuan-perempuan itu, Xiao Mei menghabiskan hari. Pulang setelah alam dijemput oleh gelap.

Satu-persatu Xiao Mei memeluk perempuan-perempuan itu, memberi mereka senyuman paling indah. Senyuman yang serupa Petunia, juga Adenium dan Alamanda. Senyuman yang serupa kenangan tentang Kartini. Senyuman yang teramat manis.

Selesai

Solo Mei 2020

Catatan: Seluruh kisah ini adalah fiksi, jika ada kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan saja.

Kisah ini ditulis berdasar kejadian bertemunya kembali seorang gadis Taiwan dengan pengasuhnya, setelah berpisah bertahun-tahun.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Daya tarik utama pada karya ini terletak pada kemampuan penulis menyusun cerita dalam persinggungan antara fakta dan fiksi. Diangkat dari sebuah kisah nyata, penulis meramu tulisan ini lewat imajinasi dan merefleksikan kisah tentang seorang remaja yang kesepian bernama Xiao Mei yang mencari seorang pengasuhnya bernama Kartini. Kekuatan tulisan ini terdapat pada plot jalinan peristiwa yang dirajut bertumpu pada kenangan masa lalu dan masa kini. Metafora alam melalui bunga, taman, ruang keluarga, melukiskan sketsa wajah, terus mencari Kartini hingga ending cerita diakhiri kehangatan dan keakraban Xiao Mei dengan para pekerja migran Indonesia di Taipei Main Station, seluruh jalinan peritiwa menjadikan tulisan ini menjadi utuh dan sangat menyentuh. Akhirnya, cerpen ini secara kritis dan kontemplatif mencoba mempertanyakan relasi seorang pekerja migran dengan majikannya, apakah mereka hanya sekedar “orang asing” atau menjadi keluarga? Pada cerpen ini, pekerja migran bagi orang tuanya hanya dianggap sebagai orang asing dan dengan mudah terlupakan, tetapi bagi anak yang diasuhnya, ia memiliki ikatan emosi sebagai kenangan abadi.