疫情中的承諾 Janji Dimasa Pandemi

🥉 優選 Choice Award
🏅 青少年評審獎 Teen Choice Award

📜 Janji Dimasa Pandemi
👤 Etik Nurhalimah

“Kapan pulang? Apa ndak kangen sama anak dan keluarga? Apa ndak kepingin menikah? Atau pulang sudah bawa suami?”

Pertanyaan tersebut kerap sekali dilontarkan oleh teman-teman atau pun tetangga di kampung halaman, saat berkomunikasi di media sosial atau sekadar bertegur sapa denganku. Mereka mengira orang yang bertahun-tahun di negeri orang sudah mati rasa sehingga tidak memiliki hasrat hidup bersama dengan keluarga di Indonesia.

Brakk! …

Lamunanku terjaga saat mendengar Ken menangis karena terjatuh. Bocah kecil berumur delapan tahun tersebut, selalu mengingatkanku pada Damar ̶ buah hati yang kutinggalkan sejak umur dua tahun dan kini telah duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD).

“Lain kali jangan naik kursi, Ken! Kalau mau ambil sesuatu bilang saja, pasti aku akan mengambilkannya untukmu,” ucapku pada Ken, sambil menenangkannya agar tidak terus menangis.

Ken adalah buyut nenek dari anak ketiga, setiap akhir pekan ia datang kemari untuk mengunjungi aca dan aco [1]. Tadi ia dititipkan padaku, karena ibunya mengantar nenek ke salon untuk cuci rambut. Melihat Ken, sama halnya melihat sosok Damar, karena perawakan dan umur mereka sama persis. Hanya yang membedakan Ken berkulit putih dengan bermata sipit dan berambut cokelat. Sedangkan Damar berkulit sawo matang dengan mata bulat dan berambut hitam tebal.

**

Namaku Larasati. Aku memliki satu putra dan kini tengah mengarungi lautan perjuangan di perantauan. Awal kedatanganku di Taiwan pada 2014 silam, merupakan waktu terberat yang harus kulalui karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Negara ini belum pernah kukunjungi sebelumnya, meski di dalam mimpi. Banyak perbedaan yang harus kupelajari, mulai dari bahasa, adat istiadat, hingga cara kerja dan kebiasaan sehari-hari.

Hal terberat kedua adalah menahan rindu pada Damar, buah hatiku. Enam tahun lalu, aku meninggalkannya saat menjelang perayaan ulang tahun yang kedua. Masih terngiang jelas, bagaimana dia menangis, saat ibu menggendongnya ke belakang, agar tak melihat kepergianku merantau. Sepanjang jalan menuju Jakarta, aku terus menangis karena sulit harus berpisah dengannya.

Sejak saat itu, aku kehilangan masa-masa indah bersama Damar. Aku tak dapat lagi merasakan harumnya bedak tabur yang kuborehkan setelah memandikannya. Bangun tengah malam, mengganti celananya yang basah terkena ompol atau mengulurkan tangan pada saat ia terjatuh karena belajar jalan. Aku tenggelam dalam kerinduan. Tiga bulan pertama saat bekerja nyaris membuatku gila. Tanpa terasa air mataku mengalir deras, saat membayangkan sedang apa Damar di sana, sambil mengharap dia memanggilku “mama”.

Masih hangat di dalam ingatan, bagaimana sibuknya aku menjadi seorang mama sekaligus papa bagi Damar. Pasca perceraian rumah tangga kami, aku menghidupi Damar sendirian. Aku memilih berpisah dari orang tua dan menyewa ruko untuk membuka sebuah usaha di pedalaman dengan menyembunyian statusku sebagai janda. Aku tidak mau, ada orang yang berasumsi negatif bahwa janda suka menggoda suami orang. Dua tahun kulalui hidup mandiri dengan penuh ketegaran, hingga akhirnya kubulatkan tekad meninggalkan kampung halaman untuk mengubur masa laluku yang kelam. Taiwan negara pilihanku.

**

Gerimis turun membasuh bumi, membuat cuaca dingin kian mencekat. Kesiur angin malam semakin membuat hening suasana. Waktu berlalu menggerus apa pun yang berada di lingkarannya. Waktu jua yang menyirami kesedihan hingga hilang tak berbekas. Karamnya rumah tangga, hidup sendiri dan harus berpisah dengan putra semata wayang. Semua terasa lengkap menjadi paket cobaan yag harus kurasakan, sekaligus pemantik semangat dalam perjuangan.

Selain selembar foto ukuran dompet, aku membawa satu stel baju Damar yang bergambar Upin dan Ipin [2] untuk mengobati rasa rinduku padanya. Kaus berwarna biru itu sering kupakaikan setelah dia mandi. Menjelang tidur, aku memeluk kaus tersebut, mengelus dan menciuminya. Kubayangkan jika Damar di sini dan kami tidur bersama. Aku menjaganya, memastikan dia tertidur pulas, tanpa terganggu gigitan nyamuk.

“Damar, mama kangen…”

Setiap hari Damar tak pernah lekang dalam ingatan, bayangan wajahnya menemaniku berjuang di Negeri Formosa. Mulai dari membuka mata hingga malam tiba, sederet pekerjaan telah menanti: mengurus kakek dan nenek, memasak untuk keluarga besar yang terdiri dari sebelas orang, membersihkan rumah dan hewan piaraan. Semuanya telah terjadwal di setiap jamnya. Menelepon keluarga merupakan obat penghilang lelah paling mujarab yang bisa aku lakukan.

“Bagaimana kabar di rumah, Bu?” tanyaku memulai percakapan.

“Alhamdulillah semua sehat, Nduk. Damar sudah mulai belajar bisa jalan, tidak jatuh-jatuh lagi. Kabarmu bagaimana?”

“Alhamdulillah saya sehat, Bu. Hmm … Apa Damar ndak pernah menanyakan saya ya?”

“Ya pernah, Nduk. Kadang pas minum susu dia bilang mama .. mama, sambil mencarimu di sekitar ruangan, atau menciumi fotomu saat sedang duduk memangku Damar di ruangan TV.”

Degh! …

Kalimat itu memberikan pukulan telak di hatiku, membuat rindu semakin membuncah. Namun, perjuangan baru dimulai. Aku tidak boleh menyerah dengan keadaan. Aku tahu ini berat dan sangat sulit. Ibarat meniti, aku tengah mencari jalan, menyibakkan segala rumput yang menghadang. Menembus semak belukar. Hanya ada dua pilihan: menyerah berarti kalah atau terus berjuang mewujudkan kemenangan.

**

Di tahun pertama aku diizinkan libur satu bulan sekali. Tentu saja bukan tanpa syarat! Aku harus bekerja dengan baik untuk meraih hati mereka. Bahkan, untuk dapat menggunakan handphone (HP), aku harus melalui uji coba bekerja selama tiga bulan. Mereka takut, karena HP aku jadi melupakan segala kewajiban dan tanggung jawabku. Namun kubuktikan, dapat berkomunikasi dengan keluarga, dan mendengar suara Damar membuatku semangat dalam bekerja untuk masa depan yang lebih baik.

Saat liburan aku selalu ke Toko Indonesia, sebuah tempat yang menjual beraneka ragam produk dan makanan tanah air. Sayup-sayup kudengar dentingan musik dari balik ruangan dan suara karaoke lagu dangdut koplo Indonesia. Beberapa menit kemudian keluar dua orang perempuan, yang satu rambut disemir cokelat, sedangkan satunya berambut lurus sebahu dengan hidung dan telinga penuh tindikan.

“Baru datang ya, Mba?”sapa mereka.

“Ia Mba. Baru setahun aku di sini.”

Begitulah realita bekerja di negeri orang. Lamanya jangka kerja kerap diprediksi dari penampilan seseorang. Jika telah bertahun-tahun di Taiwan, banyak yang tergerus gaya luar negeri dengan dandanan bak selebriti. Mengkoleksi barang bermerk, sehingga pulang tidak membawa apa-apa. Istilahnya. Finish kontrak, habis juga pendapatan.

Waktu terus bergulir tanpa terasa, berkomunikasi melalui sambungan telepon, menghantarkanku pada tiga tahun di kontrak pertama. Selesai kontrak aku mengambil cuti pulang ke kampung halaman selama satu bulan. Keluarga nenek memberikan banyak oleh-oleh untuk Damar. Orang tua Ken banyak memberikan barang-barang putranya yang masih bagus dan tidak terpakai untuk Damar. Mereka juga membelikan beberapa robot dan mobilan baru. Kuhitung hari demi hari menuju kepulangan, tak sabar bertemu dengan putra tersayang.

**

Lampung, Juni 2017

Saat bertemu pertama ketika menjemput di Bandara Raden Indan II, Bandar Lampung, Damar terkesan malu-malu. Ia lebih sering sembunyi di balik punggung ibu. Namun, ikatan batin antara anak dan ibu tak akan hilang. Dengan cepat kami akrab kembali. Saat itu, Damar berumur 5 tahun, baru masuk Taman kanak-kanak (TK). Kucurahkan sepenuhnya waktuku untuk Damar. Kami belajar bersama, memasak nasi goreng kesukaannya, dan mengantarnya pergi ke sekolah. Sesekali tetangga datang ke rumah berkunjung, selayaknya ibu-ibu di kampung yang suka ngobrol bersama.

“Kamu pulang cuti atau selamanya, Aty ? Kasihan Damar, tinggal bersama nenek dan kakeknya. Dia kurang perhatian. Orang mah selalu kurang sama uang. Namun, kalau mau bersyukur pasti bisa cukup. Banyak orang kaya, tanpa bekerja ke luar negeri,” kata Bude Ranti berusaha menasehatiku.

“Saya pulang cuti, Bude. Minggu depan berangkat lagi ke Taiwan. Hmm … sebenarnya saya juga ingin di rumah, agar bisa mengetahui pertumbuhan Damar. Namun, jika saya di rumah, siapa yang akan membiayai sekolahnya, membelikan baju dan mainan, agar dia bisa berkumpul dan setara dengan anak-anak yang lain,“ jawabku datar.

Bude Ranti, adalah satu dari sekian banyak yang menanyakan perihal yang sama. Entah mengapa, mereka selalu berpikir meninggalkan anak dengan orang tua di rumah untuk bekerja ke luar negeri merupakan tindakan jahat dan mau menang sendiri. Padahal, akan lebih jahat lagi jika kelak anak-anak tersebut tidak memiliki masa depan sehingga mengalami hal sama seperti yang orang tua mereka rasakan. Putus sekolah karena tidak ada biaya, menjadi buruh serabutan hanya untuk makan.

**

Tak terasa satu bulan telah berlalu, masa cuti pun telah selesai. Malam itu, selepas maghrib mobil yang akan mengantarku ke Pelabuhan Bakauheni telah tiba. Jika tiga tahun lalu, ibu menggodeng Damar ke belakang agar tidak menangis saat aku pergi. Kali ini bocah yang sebulan ini akrab denganku justru memegangi koperku yang akan diangkat ke dalam mobil. Seolah berat melepaskan kepergianku. Menggurat kesedihan di raut wajahnya. Rasa bersalah kembali melingkupi, baru saja kuberikan kehangatan dan kasih sayang, tetapi kini dia harus kutinggalkan.

Sepanjang jalan kami berpegangan tangan, Damar duduk di pangkuanku. Kuusap rambutnya penuh kasih sayang.

“Dek, di rumah harus rajin belajar ya. Mama kerja cari uang untuk biaya sekolah dan masa depan kita. Adek harus menurut sama Uti dan Akung [3] .”

“Iya Mah, tapi jangan lama-lama, lebaran pulang ya, Mah?”

Aku memeluk dan menciumi Damar dengan erat, tak ingin kulepaskan. Ucapannya menohok hatiku. Tiga kali lebaran Idul Fitri aku tidak pernah di rumah, padahal selayak anak-anak kecil pada umumnya, lebaran menjadi moment istimewa untuk mendapat sangu [4] dan pergi bersama keluarga yang tidak pernah Damar rasakan. Pasca berpisah, ayah Damar tidak pernah peduli tentang bagaimana keadaan putranya. Kabar terakhir yang kudengar dari seorang teman, ia telah menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan. Aku pun tidak pernah memedulikan semuanya. Sebagai ibu, aku siap mengorbankan segalanya demi kebahagiaan Damar.

**

Taoyuan, Juli 2017

Mobil jemputan agensi telah menunggu di pelataran parkir Bandara Taoyuan. Selain aku yang pulang cuti, terdapat tiga orang pekerja Indonesia yang baru datang. Semuanya berambut pendek dan belum pernah bekerja ke Taiwan. Terbias semangat menyongsong harapan di negeri rantau dari wajah mereka. Sesekali mereka melontarkan beberapa pertanyaan bagaimana kondisi dan pengalaman saya bekerja di Taiwan.

“Mba, dulu saat pertama datang ke Taiwan sudah bisa bahasa belum ya? Karena kami baru mengerti sedikit-sedikit,” tanya Dede, gadis yang berasal dari Indramayu.

“Sudah bisa, tetapi belum lancar sekali, Mba. Perhatikan jika majikan berbicara, jika belum paham jangan takut bertanya ulang secara sopan,” jawabku menyemangati.

Sepanjang jalan, ingar bingar Kota Taoyuan dengan lampu berwarna warni, kendaraan berlalu lalang, gedung-gedung tinggi dan megah menjadi hiasan negeri dengan sebutan pulau Formosa ini. Negeri cantik yang menjanjikan sejuta harapan dan tujuan favorite kedua pekerja migran Indonesia mencari rezeki. Namun, aku belum bisa melupakan suasana desa yang sebulan ini aku temukan. Suara jangkrik di malam hari, atau kodok yang bersahutan setelah turun hujan. Salat berjamaah di musala pinggir lapangan ataupun tegur sapa ibu-ibu saat membeli sayuran di pedagang keliling. Kebersamaan dalam bertetangga yang menjadi ciri khas kehidupan di kampung halaman.

Menghabiskan waktu semalam tidur di rumah agensi terasa panjang. Aku tidak dapat memenjamkan mata. Ingin rasanya cepat sampai ke rumah nenek dan berkutat kembali dengan segala kesibukan, agar mendapat penghasilan. Satu bulan kutinggalkan, rumah sangat berantakan. Bunga-bunga di taman lantai 4 mati karena tidak tersirami. Daun-daun kering berserakan di mana-mana. Nenek menyambut kepulanganku dengan gembira. Kubawakan beberapa macam oleh-oleh jajanan khas dari Lampung, seperti bolu lapis dan keripik pisang untuk keluarga lainnya.

“Bagaimana keadaan keluargamu, Aty? Apakah liburanmu menyenangkan?” tanya nenek di suatu pagi, saat aku tengah membereskan ruang tamu.

“Alhamdulilah sehat, Nek. Putraku juga sudah besar dan sekolah. Ini, Nek. Kami pergi jalan-jalan bersama,” seraya kutunjukkan beberapa foto jalan-jalan kami saat pergi ke pantai.

Nenekpun melihatnya dengan seksama sembari manggut-manggut dan berkata, ”Putramu tampan. Pasti dia bangga memiliki ibu sepertimu.”

Nenek sosok yang baik. Dialah yang membuat aku betah bekerja di sini, meskipun dengan pekerjaan yang melelahkan. Dia kerap memberiku uang tambahan untuk membeli pulsa dan keperluan bulanan, seperti membeli shampoo, sikat, dan pasta gigi. Tidak lupa terselip mie instans setiap aku belanja. Bahkan, jika dia dan kakek pergi jalan-jalan dan sarapan di luar, nenek selalu membelikan makaan tanpa daging babi khusus untukku. Karena takut ketahuan dengan yang lain sehingga menimbulkan kecemburuan sosial, nenek menyuruhku menyimpannya di dalam kamar atau segera memakannya secara diam-diam.

“Aty, ini untukmu. Karena aku hanya membeli satu, maka cepatlah kau makan atau kau simpan di dalam kamar!” ucap nenek seraya memberikan bungkusan yang ia bawa.

Aku pun mengambilnya, seraya mengucapkan terima kasih.

**

Di kontrak yang kedua aku semakin giat menabung untuk persiapan membuat rumah idaman. Rencananya rumah itu akan digarap enam bulan sebelum kontrak keduaku selesai, sehingga jika ada kekurangan aku bisa menutupinya, karena masih bekerja di Taiwan. Aku juga harus menyiapkan dana untuk pendidikan Damar. Meskipun berjauhan, tak mengurangi perhatianku kepadanya. Apalagi setelah adalah ponsel pintar, kian memudahkan kami dalam berkomunkasi dan melakukan video call.

Damar tumbuh menjadi anak cerdas, meskipun tergolong pendiam. Suara renyahnya kerap melafazkan doa-doa yang diamalkan pada rutinitas keseharian. Seperti doa makan, hendak tidur, hingga doa ayah dan ibu. Saat mendengarkan doa ini hatiku luruh. Seorang bocah kecil yang kutinggalkan saat umur dua tahun, kini sudah bisa mendoakanku. Menyebut namaku dalam rapalnya.

“Tuhan, sungguh ini karunia yang tak ternilai hargamu. Akan kupertaruhkan seluruh kehidupanku untuk masa depannya.”

**

Menjelang tahun baru Cina, merupakan saat-saat tersibuk bagi diriku. Selain membersihkan rumah, menantu pertama nenek (Nyonya) akan belanja banyak untuk persiapan sembahyang dan makan besar keluarga. Sudah seminggu ini aku estafet membersihkan ruangan, dimulai dari lantai lima, tempat tidur kakek lengkap dengan ruang tamunya. Lalu lantai empat, tempat tinggal anak ketiga dan keluarganya. Sedangkan aku dan nenek tinggal di lantai tiga, dimana terdapat dapur, tempat makan, ruang tamu dan altar sembahyang di sana.

Satu hari menjelang tahun baru Imlek, semua disibukan oleh kegiatan. Kami memiliki tugas masing-masing. Anak pertama nenek, beserta keluarganya membersihan altar sembahyangan. Mereka mengelap dinding dan patung dewa-dewi, guci-guci kecil serta membuang tumpukan abu dupa dan mencuci tempatnya. Mereka saling bahu membahu. Nyonya datang membawa bucket bunga berwarna-warni untuk menghiasi altar, sedangkan aku dan menantu nomor tiga di dapur, memasak dan menyiapkan makanan untuk sembahyangan berlanjut dengan malam bergantian tahun. Di luar mereka bekerja sambil bercakap-cakap membahas banyak hal.

“Laras, tolong ambilkan saya satu ember air untuk mengisi guci-guci bunga,” perintah nyonya dari arah luar.

Satu ember air kubawakan untuk mengisi guci dan menaruh bunga Lily di dalamnya. Kata nenek, leluhur di keluarga ini sangat menyukai bunga Lily, karena harum dan indah. Pada perayaan tahun baru Imlek, tradisi masyarakat Tionghoa untuk menghormati leluhur atau keluarga yang sudah meninggal dunia dengan cara menyediakan makanan dan sesuatu yang digemari pada saat makan besar keluarga.

“Laras, sekarang ada penyakit berbahaya dan mematikam. Kamu harus hati-hati dan jaga kebersihan, keluar harus memakai masker dan mencuci tangan sesering mungkin,” ujar nyonya memberi tahu.

“Ia, Nyonya. Saya juga selalu menjaga kebersihan,” jawabku tak banyak, karena di belakang masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.

**

Tibalah malam pergantian tahun, semua keluarga datang untuk makan dan bagi-bagi hong pau, amplop merah yang berisikan uang sebagai hadiah menyambut tahun baru imlek. Jumlah isi hong pau tidak ditentukan, tetapi biasanya dalam jumlah genap. Warna merah melambangkan semangat, kegembiraan, kebaikan, dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Seperti malam ini, semua orang bergembira sembari mengucapkan “Xin Nian Kuai Le”.[5]

Dari semua yang datang, yang mengusik perasaanku adalah Ken, bocah itu nampak bahagia sekali di tengah keramian. Ia berlarian sambil membawa hong pau pemberian Aco. Sesekali tangan kecilnya mengambil permen di atas meja, yang sengaja disuguhkan pada perayaan Imlek. Konon, permen melambangkan manisnya kehidupan yang diinginkan setiap insan. Dari arah dapur kuperhatikan tingkah Ken dengan seksama. Hatiku teriris pilu, berjuang keras menahan embun yang berdesak-desak keluar. Membayangkan jika yang berlarian adalah Damar dan saat ini merupakan moment perayaan Idul Fitri di keluarga kami, berkumpul bersama. Semua berbahagia.

Pada tanggal 1 Imlek, sudah menjadi tradisi masyarakat Tionghoa tidak melakukan pekerjaan bersih-bersih. Menurut kepercayaan mereka, bersih-bersih pada saat tahun baru akan membuang semua keberuntungan yang ada di rumah. Nenek menyuruhku istirahat setelah beberapa waktu terakhir sangat sibuk. Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk kakek dan nenek aku kembali ke kamar untuk menelepon rumah, menanyakan kabar Damar dengan segala aktivitas sekolahnya. Benar saja, kali ini dia menagih kepulanganku pada lebaran Idul Fitri yang jatuh pada bulan Mei, 2020.

“Ma, lebaran nanti jadi pulang kan? Kita bisa jalan-jalan bersama ya?” tanyanya merajuk di ujung telepon.

“Iya, Sayang. Insya Allah mama pulang. Doakan mama murah rezeki ya, jadi bisa punya sangu untuk pulang.”

“Iya, Ma. Pasti selalu adek do’akan. Sebelum tidur adek selalu berdo’a untuk mama.”

Aku sangat berterima kasih kepada bapak dan ibu yang telah merawat dan menjaga Damar dengan baik. Tanpa mereka, aku tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan dan tegar menatap masa depan.

“Terima kasih, Pak, Bu. Semoga Allah memberi panjang umur dan sehat selalu, hingga aku mampu membahagiakan kalian.”

**

Karena tidak ada pekerjaan, aku memainkan gadget, membuka media sosial. Sepanjang scrool yang yang kutemukan mengenai Novel Corona Virus-19 (COVID-19), sebuah virus yang bermula dari kota Wuhan, Provinsi Hubei. Virus ini sangat mudah mengalami penyebaran melalui droplet oleh penderita, seperti saat batuk, bersin, dan air mata. Bahkan, droplet yang terjatuh di benda-benda dapat bertahan delapan jam. Untuk itu pemerintah menganjurkan untuk mengenakan masker jika keluar, tidak diperbolehkan menyentuh wajah mata dan telinga, melakukan pysical distancing, dan mencuci tangan sesering mungkin.

Topik Corona terus menghiasi layar kaca, setiap kali aku memijat kaki nenek sambil melihat berita itu. Panic buying sempat terjadi pada nyonya. Dia membeli banyak sekali masker, tissue, can food, beras, dan beberapa kebutuhan lainnya. Nyonya khawatir kapan pandemi ini akan berakhir, sedangkan jumlah anggota keluarga di sini sangat banyak, sehingga takut kehabisan stock kebutuhan. Sejak wabah virus menyebar, perilaku masyarakat banyak berubah. Mereka lebih aware pada kesehatan dan kebersihan. Aku memiliki tambahan pekerjaan baru, yakni ikutan antre membeli masker di apotek terdekat dan membeli alcohol.

Tiga bulan sudah pandemic global, Jumlah korban yang terinveksi kian bertambah. China me-lockdown kota Wuhan untuk mencegah penyebaran virus. Pemerintah Taiwan melarang pekerja migran melakukan cuti ke negara asal, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan kematian tinggi di Asean. Hanya pekerja migran yang telah finish kontrak dan tak akan kembali lagi yang diperbolehkan ke luar Taiwan yang harus memiliki health certificate surat keterangan negative COVID-19, berdasarkan pemeriksaan test dan PCR. Padahal menjelang Hari Raya Idul Fitri merupakan momen anak perantau pulang ke kampung halaman.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan semuanya.Tiket pesawat yang telah kupesan terpaksa kubatalkan, mengingat suasana yang tak memungkinkan. Untuk pulang seterusnya, aku belum siap. Karena masih banyak yang harus kupersiapkan. Pandemi menggerus kesejahteraan segala bidang. Di Indonesia, harga kebutuhan pangan terus meningkat, pengangguran merajalela. Banyak pabrik, rumah makan, dan perhotelan yang merumahkan pekerjanya. Kedua adikku yang bekerja di sebuah bengkel service motor juga menganggur, karena tidak orang yang datang untuk men-service kendaraan. Praktis, semua kebutuhan ekonomi keluarga akulah yang menanggungnya.

“Aty, keputusanmu untuk membatalkan cuti sangat tepat. Lihatlah! Di Indonesia banyak orang kehilangan pekerjaan, ekonomi pun berantakan. Dengan di Taiwan, kamu masih bisa membantu perekonomian keluarga,” ujar nyonya, saat kami melihat berita di TV.

Aku diam dan berlalu pergi, memendam kesedihan yang mendalam. Tak dapat kubayangkan bagaimana kekecawaan Damar yang telah menunggu sekian lama, momen perayaan Idul Fitri bersama.

**

“Dek, maafin mama ya belum bisa pulang lebaran ini karena ada Virus Corona,’ ucapku pada sambungan video call.

Bocah yang tengah dihadapanku itu tertunduk lesu. Gurat kecewa membayang di wajah dengan mata berkaca-kaca. Impian untuk jalan-jalan bersama pupus sudah karena Corona. Pandemi membuat nyeri, karena tidak dapat menepati janji kepada sang buah hati. Taiwan menjadi salah satu negara terbaik dalam menanggulangi penyebaran COVID-19, tetapi tidak dengan Indonesia yang memiliki jumlah pasien terinveksi terus meningkat setiap harinya.

Ramadan kali ini benar-benar menguras kesabaran, antara corona dan gagal cuti merayakan lebaran. Ditambah lagi sebuah kejutan dari-Nya yang benar-benar membuatku tehuyung dari pijakan dan nyaris putus asa.

“Mba, Bapak dan Damar jatuh dari motor saat hendak pergi ziarah ke makam keluarga,” sebuah pesan dari adikku tepat pada hari penghujung bulan Ramadan. Dia mengirimkan sebuah foto dua orang yang kukenal tergelak tak berdaya di ruang perawatan.

Kesedihan seorang anak, saat mengetahui orang tua sakit, tetapi dia tak berada di sisinya untuk merawat. Kesedihan seorang ibu, saat anak sakit, tetapi tidak dapat merawat sang buah hati yang disayangi. Semua kesedihan ini lengkap aku rasakan, ditengah pandemi global sehingga tak dapat mengajukan cuti untuk pulang. Di sini aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhan mereka–orang-orang yang kusayangi. Pasti indah di akhir nanti.

Taipei, 15 Mei 2019

Catatan Kaki

• aca dan aco = Panggilan untu nenek dan kakek buyut dalam Bahasa Tionghoa

• Upin dan Ipin = Tokoh kartun dari Malaysia, yang terdiri dari dua anak kecil lincah dan berkepala botak.

• Uti dan akong = panggilan nenek dan kakek dari daerah Jawa.

• Xin Nian Kuai Le”.=Ucapan selamat tahun baru pada tahun baru Imlek

• Sangu = pemberian uang kepada anak-anak saat lebaran Idul Fitri, hampir mirip dengan istilah hong pau.


📜 疫情中的承諾 Janji Dimasa Pandemi
👤 Etik Nurhalimah

「什麼時候回來?沒有想念孩子和家人嗎?不想結婚?還是已經帶了丈夫回來?」

在社群媒體上交流或者只是跟我互相問好,那些問題常常從在家鄉的朋友或是鄰居口中說出。他們以為待在他人國家好幾年的人,已經對於跟在印尼的家人沒有共處的慾望。

咚!

我的放空突然被Ken的大哭給打斷,他跌倒了。那八歲的小孩,時常讓我想到達瑪(Damar),從他兩歲開始我就離開的兒子,現在已經就讀小學二年級。

「下次不要再爬椅子,Ken!如果要拿東西的話就說吧,我一定幫忙拿給你的。」我向Ken說明,一邊安撫他不要再哭泣。

Ken是奶奶第三個孩子的孫子,每個週末他會來拜訪阿祖。他剛剛被寄放在我這,因為他的媽媽送奶奶去洗頭髮。看到Ken,好像看到達瑪的影像,因為他們的身影還有年齡一模一樣。差異是Ken的膚色是白的、眼睛小小的、頭髮是棕色的。但是達瑪的皮膚顏色就如熟成的人心果,圓圓的眼睛還有厚厚的頭髮。

**

我的名字是Larasati。我有一個兒子,目前在離家的努力中探險。2014年抵達臺灣的過往是我最難熬過的時間,因為要適應新的環境。即便在睡夢中,我也未曾拜訪過這個國家。有許多我需要學習的差異,從語言文化到工作方式,還有每一天的習慣。

最沉重的事情是壓抑對於達瑪的思念,我的心頭肉。六年前,我在他即將兩歲的生日時離開。仍然清晰地浮現,他如何哭泣,母親將他抱到後面,不讓他看到我離家的影子。在去雅加達的路途中,我一直流下眼淚,因為跟他離別是一件多麼困難的事情。

從那時起,我失去了與達瑪的美好時光。我不再能聞到每次幫他洗完澡會塗的痱子粉香氣。半夜起床,幫他換尿濕的褲子,或是在他學習走路快跌倒時伸出手。我在思念中淹沒。前三個月我快被搞瘋了。完全沒有感覺到我已淚流成河,想像達瑪在那正在做什麼,希望他叫我「媽媽」。

在我心裡還是熱騰騰的,我當初是怎麼同時成為達瑪的媽媽還有爸爸。我們家庭的離婚之後,我一人扶養達瑪。我選擇跟父母離別,在鄉下租了店鋪來隱藏我寡婦的身分。我不想要別人負面認為寡婦喜歡誘拐別人的丈夫。兩年來,我艱鉅的過著獨立生活,直到我下定決心離開家鄉埋葬我以往的黑暗。臺灣是我選擇的國家。

**

毛毛雨下著,洗禮大地,讓寒冷的天氣更加嚴峻。夜晚的風吹著,讓氣氛更寧靜。然而時間沐浴著哀傷,直到失去了蹤影。家庭沉沒,得獨自生活且要跟唯一的兒子離別。一切宛如一整套我需要面對的桃戰,同時也燃起了我的鬥志。

除了一張皮夾大小的照片,我帶著一套Upin&Ipin的衣服治癒我對他的思念。每當他洗完澡後,我會幫他穿上那藍色衣服。睡前,我抱著那件衣服,撫摸並親吻它。我想像達瑪在這裡,然後我們睡在一起。我照顧他,確保他熟睡,不被蚊子干擾。

「達瑪,媽媽想念……」

每天達瑪未曾從記憶裡消失,他臉龐的影子陪伴我在福爾摩沙之國奮鬥。從睜開眼睛直到夜晚來臨,已經有一排工作等待著:處理爺爺奶奶、為十一人大家庭煮飯、打掃房屋還有寵物。每個小時都已經被規畫好。跟家人通話是我消除疲累最有效的緩解方式。

「媽媽,家裡最近狀況如何?」我問道,開啟話題。

「Alhamdulillah大家都健康,女兒(Nduk)。達瑪已經開始學會走路,不再跌倒。妳的狀況如何呢?」

「Alhamulillah我很健康,媽。嗯……達瑪從來沒有詢問過我嗎?」

「當然有,女兒。有時候,他喝奶時會說媽媽…媽媽…一邊在房間裡找妳,或是在客廳抱著達瑪的時候,他會親著妳的相片。」

咚!

那句話使我的心深受打擊,讓我的思念溢出。但是,奮鬥才剛開始。我不能因為現況而放棄。我知道這件事情很沉重而且很困難,就像踮腳走路一樣。我正在尋找道路,掀開各種阻擋的草叢,穿越灌木叢。只有兩個選項:放棄認輸,或是繼續奮鬥實現勝利。

**

第一年,我被允許一個月放一次假。當然不是無條件!為了收買他們的心,我需要好好的工作。甚至,為了能夠使用手機,我需要經過三個月的工作試用期。他們害怕有了手機我會忘記所有義務和責任。但是我證明,可以跟家人聯繫,還有聽到達瑪的聲音讓我為了更美好的未來更有精神工作。

放假時我都會去印尼商店,一間會賣各種家鄉產品的地方。我隱約聽到房間後面傳來的音樂,還有印尼東爪哇的噹嘟樂的卡拉OK聲音。幾分鐘過後,兩個女人出現,一個披著棕色頭髮,另一個長髮披肩,鼻子跟耳朵穿了許多洞。

「妳剛來嗎,女士(Mba)?」他們打招呼。

「對呀,女士。我在這裡才一年。」

那就是在他人國家工作的事實。工作的年資往往能從一個人的打扮揣測出來。如果已經待在臺灣數年,很多人會被外國的風格影響,裝扮得像明星一樣。收集名牌的商品,導致回家時什麼也沒帶走。人家說,合約結束,收入也結束。

時間不知不覺地流逝,透過電話的聯繫,把我送到第一張合約的第三年。合約結束後,我請了假回家鄉一個月。奶奶的家人給達瑪許多伴手禮,Ken的父母親把許多他兒子狀況還很好又沒用到的東西給達瑪,他們也買了幾個機器人還有新的汽車玩具。我倒數著回家的日子,迫不及待與心愛的兒子見面。

**

楠榜(Lampung),2017年6月

第一次在班達楠榜的雷丁印甸二世國際機場(Bandara Raden Indan II)見面時,達瑪看起來害羞,他經常躲在母親的背後。但是,孩子跟母親的心裡連結不會消失,我們很快又熟悉起來。達瑪當時五歲,才剛進入幼稚園。我把所有的時間投入在達瑪身上。我們一起讀書,煮他喜歡的炒飯,還有送他去學校。有時鄰居來家裡拜訪,如同鄉村裡喜歡一起聊天的媽媽們。

「妳是請假還是永遠回來,阿蒂?達瑪很可憐,跟奶奶還有爺爺住,他缺乏關心。人總是缺錢,但是如果願意感恩一定是夠的。許多有錢人不用出國工作。」蘭蒂姊姊(Bude)試著勸我。

「我休假回來啊,姊。下個禮拜又會出發去臺灣。嗯…其實我也想待在家,可以知道達瑪的成長。但是,如果我待在家,誰可以支付他的學費,買衣服還有玩具,讓他能平等的跟其他小孩聚在一起。」我平淡的回覆。

蘭蒂姊姊,是提出相同問題的許多人之一。不知為何,他們都認為為了出國工作,將小孩留給父母帶是一件殘忍且自私的舉動。其實,如果那些孩子之後沒有未來,又要經歷與父母相同的經驗反而更殘忍。因為沒有經費而輟學,為了糊口只能打零工。

**

不知不覺中一個月過去了,假期也已經結束。那一晚,馬格里布過後要送我到巴考尼(Bakauheni)港口的車來了。如果是三年前,母親將達瑪抱去後面,不讓他在我離去時哭泣。這次,親密相處一個月的小孩卻抱著我的行李箱上車。他的臉上掛著哀傷,似乎很難送我離去。罪惡感又來臨,我才剛給他溫暖還有愛,但現在我不得不離開他。

路途中我們一直握著手,達瑪在我腿上坐著,我憐愛的撫摸他的頭。

「弟弟,在家裡要認真念書喔。媽媽為了付學費還有我們的未來要工作賺錢。弟弟要聽奶奶(Uti)還有爺爺(Akung)的話。」

「好的,媽媽,但是不要太久,媽媽開齋節回家好嗎?」

我緊緊抱著親吻達瑪,不想放開他。他所說的話擊中我的心。這三次的開齋節我從來不在家,其實對於一般小朋友來說,開齋節變成是收到紅包(sangu)還有跟家人出門的特別時刻,這一切達瑪從來沒有經歷過。分開後,達瑪的父親從來沒有關心過他兒子的狀況。最後從朋友聽來的消息,他再婚而且生了一個女兒。這一切我也不在乎了。身為母親,我願意為達瑪的快樂犧牲一切。

**

桃園,2017年7月

仲介的接駁車已經在桃園機場的停車場等待。除了休假回國的我,還有其他三個剛來的印尼勞工。他們都是短頭髮,也從來沒有來臺灣工作過。在他們的臉上燃起在異國奮鬥的精神。有時他們問一些有關臺灣的狀況,以及我在臺灣的工作經驗。

「女士,以前妳剛來臺灣的時候已經會語言了嗎? 因為我們只有懂一點點。」那位從Indramayu來的女孩Dede問道。

「已經可以,但是還沒很流利,女士。雇主講話的時候,如果還沒聽懂,不要害怕再次有禮貌的詢問。」我替他們加油。

路途中,熱鬧的桃園有許多五光十色的燈、來來去去的車輛、高聳的大樓,成了號稱福爾摩沙島之國的裝飾。這漂亮的國家帶來百萬個希望,也是印尼移工第二喜愛的目的地。但是,我還是無法遺忘在鄉下這一個月發現的一切。夜晚的蟲鳴,或是下雨時互相呼應的青蛙。操場旁清真寺的團拜,或是在小販買菜時其他媽媽們的打招呼。在家鄉,社區裡的團結是生活特性。

在仲介家過一晚感覺如此的漫長,我無法閉上眼睛。好想趕快抵達奶奶家,在忙碌中奮鬥才能有收入。離開一個月,家裡很髒亂。在四樓的植物因為沒有人澆水而枯掉,枯枝落葉滿地都是。奶奶快樂的迎接我回來,我帶了各種楠榜特產做為伴手禮給其他家人,例如千層蛋糕還有香蕉餅。

「妳的家人狀況如何,阿蒂?妳的假期開心嗎?」一個早晨,當我正在整理客廳的時候奶奶問到。

「Alhamdulillah很健康,奶奶。我的兒子已經長大也上學了。這裡,奶奶。我們一起出去玩。」我把我們去海灘玩的照片拿給她看。

奶奶仔細的看著,一邊點點頭說道:「妳兒子很帥,他有妳這種母親一定很驕傲。」

奶奶是一個善良的人,儘管工作很累,但她讓我在這裡有歸屬感。她常常給我額外的錢來買儲值卡,還有每月的生活所需,如洗髮精、牙刷、牙膏。也在我每次買菜的時候塞藏泡麵。甚至,如果她跟爺爺出門散步並在外面吃早餐,奶奶會特地買沒有豬肉的食物給我。因為怕被其他人發現會引起社會階層上的不滿,奶奶叫我藏在房間裡或是偷偷的吃。

「阿蒂,這個給妳的。因為我只有買一個,妳趕快吃掉或是放在房間!」奶奶邊把手裡的包裹給我邊說。我拿走,同時道聲感謝。

**

在第二份合約,我更加努力存錢準備完成夢想中的房子。按計畫,那房子會在我第二份合約結束前六個月開工,所以萬一有不足的地方我還能解決,因為我還在臺灣。我也需要準備達瑪的教育資金。雖然距離遙遠,但是我對他的關心沒有減少。尤其是有了智慧型手機,我們之間的溝通還有視訊越來越方便。

達瑪長大成為聰明的小孩,雖然他算是被歸類為安靜的。他清晰的聲音時常背誦禱告,在日常生活中實踐。像吃飯、準備睡覺、甚至為父母禱告。當時聽到他的禱告,我的心融了。這個兩歲時我留下的小孩,現在已經可以為我禱告。在他的祝福中說出我的名字。

「上帝,這真是祢賜給我無價的禮物。為了他的未來,我將以生命作為賭注。」

**

即將邁入農曆新年,是我最忙碌的時候。除了要打掃家裡,奶奶的大媳婦(太太)為了準備拜拜還有大家族的聚餐買許多東西。我已經一個禮拜像接力賽般的打掃房屋,從五樓開始,爺爺的床加上客廳。然後四樓,第三個孩子還有家人的住所。而我和奶奶在三樓住,有廚房、吃飯的地方、客廳還有神桌都在那裡。

除夕前一天,大家都有忙碌的事情,我們有自己的任務。奶奶的第一個小孩,還有他的家人打掃神桌。他們擦遍所有牆壁還有神像,將香爐裡的灰燼丟掉再把它清乾淨。他們肩並肩,太太拿著五顏六色的花束來裝飾神桌,而我還有三媳婦在廚房,準備拜拜的飯菜以及過年的團圓飯。在外頭他們一邊工作一邊聊好多事情。

「Laras,請幫我拿一桶水要裝在花瓶裡。」太太從外頭的方向命令。

我帶著一桶水倒入花瓶,把百合花插進去。奶奶說,這家的祖先很喜歡百合花,因為很香又美麗。在慶祝農曆新年時,中華文化的傳統是尊重祖先,透過準備祭品給過世的家人,還有準備團圓飯時家人喜歡的食物。

「Laras,現在有一個很危險且致命的病毒。妳要小心注意安全,出門要戴口罩,越常洗手越好。」太太告知。

「是的,太太。我也都會保持清潔。」我沒有多回覆,因為背後還有許多我需要完成的工作。

**

到了除夕夜,所有的家人都來吃飯還有發紅包,裝著金錢的紅色信封作為迎接農曆新年的禮物。紅包的金額沒有規定,但通常都是雙數。紅色在中華文化象徵精神、快樂、善良還有福利。如同今晚,每個人快樂的說著新年快樂。

從每個蒞臨的人中,最影響我情緒的是Ken,那小孩在眾人中看起來多麼的快樂。他一邊拿著阿祖給予的紅包一邊跑著。有時他的小手會拿起桌上的糖果,這是專門在過年期間端出來的。聽說,糖果象徵每個人渴望的甜蜜生活。從廚房裡,我仔細觀察Ken的行動。我的心如刀割,努力抵抗搶著冒出眼中的霧氣。想像奔跑的是達瑪,而這是我們家族的開齋節慶祝,聚在一起,大家都快樂。

農曆初一,不做打掃的工作已經成為中華文化的傳統。按照他們的信仰,在新年打掃會把家裡所有的福氣給掃光。奶奶要我休息,這幾天非常的忙碌。準備爺爺還有奶奶的早餐後,我回到房間打電話給家裡詢問達瑪的消息,還有他學校裡的所有活動。如我所料,他追問我今年落在2020年5月的開齋節,我回家鄉的時刻。

「媽,開齋節的時候回來吧?我們可以一起出門吧?」他在電話另一端悶悶不樂。

「是的,寶貝。Insya Allah媽媽會回家。為媽媽禱告,賺錢順利,回家的時候才有紅包。」

「好的,媽。弟弟一定會一直禱告。睡覺前弟弟都會為媽媽禱告。」

我非常感謝這麼好的父母,妥善照顧、關懷達瑪。沒有他們,我無法從逆境中崛起並勇敢的展望未來。

「謝謝,爸、媽。願上帝賜予長壽還有健康,讓我有機會讓你們快樂。」

**

因為沒有要做的事,我玩起手機,打開社群軟體。我在滑手機時只見到有關COVID-19的新聞,一個從湖北省武漢傳來的病毒。這個病毒很容易在患者咳嗽、打噴嚏、還有眼淚時透過飛沫感染。甚至,掉在物品上的飛沫會維持八小時。因此政府建議出門時要帶口罩,不准碰臉、眼睛還有耳朵,維持社交距離還有勤洗手。

新型冠狀肺炎的議題一直上電視,每次幫奶奶的腳按摩時一邊看新聞。搶購的恐慌潮曾經在太太身上發生。她買了好多口罩、衛生紙、罐裝食物還有其他需求。太太擔心這個流感不知何時會結束,而這裡的家庭成員又很多,怕民生用品會不夠。自從病毒散播,大眾的行為轉變。他們對於健康還有衛生意識更高。我多了新的工作,就是在最近的藥局排隊購買口罩還有酒精。

全球性流感後,被感染的患者逐漸攀升。中國對武漢進行封城,避免病毒擴散。臺灣政府禁止移工放假回國,包含在東南亞有著最高死亡率的印尼。只有已經結束合約,還有不會回來臺灣的移工可以離開,並且持有陰性COVID-19的健康報告,透過檢測還有PCR檢測。其實,接近開齋節是離鄉背井的大家回家鄉的時刻。

人類只能計畫,一切由上帝決定。我已經訂好的機票只好被迫取消。如果要永久回去,我還沒有準備好,因為還有許多我要準備的東西。新流感刷掉許多產業的富麗。在印尼,食物的價格一直上升,失業率也是。許多工廠、餐廳、還有飯店要員工待在家。我兩個在機車修理店工作的弟弟也失業,因為沒有人來修理機車。一瞬間,所有家裡的經濟需求落在我的肩膀上。

「阿蒂,妳取消休假的決定是對的。看!在印尼許多人失去工作,經濟也一蹋糊塗。在臺灣,妳還能幫助家裡的經濟。」我們在看電視時太太說道。

我安靜地離開,把深深的難過埋藏起來。一起慶祝開齋節的願望將被打破,無法想像盼望已久的達瑪會有多麼失望。

**

「弟弟,因為有新型冠狀病毒,原諒媽媽還沒有辦法在這次開齋節回家。」我在視訊時說道。

在我面前的小孩無精打采的低著頭。他眼眶泛淚,臉上滿是失望。一起出門的願望因為新冠肺炎而消失。流感造成疼痛,因為無法對心頭肉信守承諾。臺灣成為因應新冠肺炎最好的國家,但是印尼的確診人數卻是每日攀升。

這次的開齋節真是考驗耐心,因為疫情取消慶祝開齋節的假期。加上從祂收到的驚喜,真的讓我從站立中失去平衡跟希望。

「女士,爸爸還有達瑪去祭拜祖墳時從機車上摔倒。」我弟弟在齋戒月之末跟我說道。他把兩人的照片寄給我,他們無助的躺在病房。

一個孩子的悲傷,知道自己的家長生病,卻不能在他身邊照顧。一個母親的傷心,在小孩生病時,卻不能照顧心愛的心頭肉。這些哀傷我完完整整的感受,在一個無法讓我休假回去的全球流感中。在這裡我只能為他們的康復祈禱——我心愛的人。結果一定是美麗的。

台北,2019年5月15日


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Kisah dalam tulisan ini mengangkat narasi kerinduan seorang ibu pada anaknya. Detail tentang kerinduan ini dijelaskan dengan bahasa yang menyentuh. Plot cerita pendek ini juga disajikan dengan holistik dan merangkum berbagai peristiwa dan budaya di Indonesia dan Taiwan—seperti budaya Imlek dan lebaran— Penulis memiliki stamina yang baik untuk menjalin serangkaian peristiwa tersebut dengan bahasa yang lancar, berikut refleksi keharmonisan dengan keluarga majikan yang baik. Penulis menjadikan isu Covid 19 sebagai peristiwa utama sebagai penutup atas ketidakhadiran dirinya untuk buah hati tercinta dan keluarga.


這篇文章中敘述想念自己孩子的一名母親。思念的細節用動人的語言說明。故事的敘述也已全方位的方式呈現,蓋擴各種印尼以及台灣的時事還有文化—如過年還有開齋節的習俗——作者有著好的體力,將這些故事串聯在流利的語文中,加入與雇主好好相處的倒影。作者將COVID-19議題作為主軸以及他無法出現在心頭肉還有家人生命中出現的結尾。

📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

文筆很穩,順暢。