PRASASTI CINTA

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 PRASASTI CINTA
👤 Umar Darmansyah

Hingga tirai malam tersingkap oleh goresan cerahnya putik fajar. Aku sang Ksatria rapuh masih tertunduk lesu di sudut tersempit dalam alur kehidupan.

Brokehhome, cemoohan, dan Tali asmaraku yg patah karena wanita sang pujaan hati melacurkan CINTAnya kepada kedudukan dan harta .

Tidak ada yg bisa aku katakan,
Tidak ada yg bisa aku lakukan..
Semesta seolah berkata bahwa aku hanyalah seorang PECUNDANG!!!

Tepat dua bulan sudah sejarah kelam itu berlalu, yang masih melekat erat dalam ingatanku. betapa dalamnya aku tenggelam dalam rentetan peluru kesedihan maha dahsyat, yang menghujam dan memporak porandakan damainya relung di sanubariku.

Pintu survive adalah satu-satunya sasaran terbaik, sebagai gerbang untuk menuju perubahan arah haluan dari getirnya perjalanan nasib kehidupan.

Ku kecap segala cara untuk memastikan, bahwa biar bagaimanapun dan sehina apapun, aku “SATRIO” adalah bagian dari hiruk pikuknya peradaban dunia, yang setiap jengkal perjalanannya penuh dengan sejarah yang seharusnya membuatku merasa bangga.

Demi drama masa lalu yang luluh lantaknya menghinakan kegagahanku.

Ku kenakan jubah perjuanganku, ku nyalakan kobaran mahkota api ambisi dan mulai mengendarai badai-badai kelam di hidupku ini. mencoba mengendalikan situasi dengan rangkaian tali-tali asmara yang patah sebagai kemudinya.

Dengan tekad yang sempurna membulat, ku jejaki segala pertempuran nasibku. Hingga hembusan angin takdir membawaku menapaki “FORMOSA” (taiwan), tanah rantau yang menjadi landasan pacu bagi harapanku.

Bak kecepatan cahaya yang tak kasat oleh mata,
Ku terjang topan dan menembus badai beserta guruhnya.
Bersama barisan para pahlawan devisa nan perkasa
Ku berjuang demi harapan, cinta, dan cita-cita..

Demi nama imigran yang menitipkan kerabat dan sanak familynya kepada ibu pertiwi. Kabar duka adalah hal yang mau tak mau harus menjadi bagian dari yang kita jalani. betapa sedih yang tak terkiranya, ketika mendapat kabar duka bahwa kerabat atau saudara bahkan orang tua kami telah pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. tanpa kami bisa berada di sampingnya ketika saat-saat terakhir dalam kehidupannya.

“Pun juga itu terjadi pada diriku”

Ketika itu malam tahun baru, entah kenapa aku tak bergairah untuk pergi merayakannya dan bersuka cita bersama kumpulan masa menyaksikan gemerlapnya bunga api yang menghiasi langit-langit penjuru dunia.

Waktu menunjukan jam 23:00 waktu taiwan. Aku beranjak kedapur untuk membuat mie instan untuk meredam perutku yang mulai sedikit tak tenang. Di tengah penantian matangnya makanan khas anak rantau ini, seorang kerabat menelfonku dari indonesia.

Nada bicaranya berat, seolah tertahan oleh ketakutan atau apalah itu. Dengan bahasa dan tangisan yang beriringan, ia mengabarkan bahwa “PANJI” (sahabat karibku) mengalami pendarahan hebat karena kecelakaan yang membuat ia tersungkur tak berdaya dan meregang nyawa seketika.

Dengan sekejap tubuhku ini terasa sangatlah lemas, Tangan dan kaki ini bergetar gemetar, seolah jiwaku terlempar terpisah dari ragaku ini yang kekar. Sebagai sosok laki-laki yang tergolong kuat, aku tak mampu menahan derasnya deraian airmata dan kucuran keringat dingin yang mengiringi tangisanku yang seketika pecah menggelegar merobek sunyinya malam..

Bagaimana tidak, dialah satu2nya orang yang peduli dengan runtuhnya harapanku di masalalu. Dengan tak punya rasa bosan ia selalu memberikan acuan agar aku bangkit dari keterpurukanku, dan kembali bangkit seperti sediakala.

Sahabat..
Masih melekat celoteh-celoteh nakalmu dalam setiap senda gurau yang mengiringi hingar tawamu.

Sahabat..
Masih membekas kesetiaanmu dalam setiap jatuh dan tenggelamnya aku dalam keterpurukanku.

Sahabat..
Kau tebarkan pesona hanya demi menyatu mempesona bersamaku.

Sahabat..
Kau bahkan hina kan dirimu hanya demi melebur, menjadi hina bersamaku.

Sahabat..
Kau mengangkatku dari titik ter-rendah dalam hidupku, sebelum kau pergi bersama genangan darah dan jutaan iringan air mata”.

Selamat jalan kawan yang hatinya hancur ketika melihatku tersungkur.
Selamat jalan kawan yang hatinya berbunga ketika melihatku bahagia.
Tuhan menyayangimu melebihi rasa sayang kami kepadamu.
Tuhan merindukanmu melebihi rindu-rindu kami yang hanyalah menyusahkanmu.

Terimakasih kawan, Banyak cerita yang akan membuatmu bangga. Meski kau tak dapat menyaksikannya, tapi berkat jasamu aku kembali mengambil alih makna perkasa..

Hilanglah sudah salah satu dari sumber semangatku. Namun meski begitu aku beruntung aku masih punya SUCI, seseorang yang peduli dengan keadaanku yang terombang ambing oleh gelombang kesedihan. Ia senantiasa meluangkan waktu hanya untuk menyemangatiku.

Selain parasnya yang manis nan menggemaskan, SUCI juga Sosok yang riang namun sarat dengan kelembutan. Ketulusan serta perhatiannya, lambat laun mulai mendobrak pintu hatiku yang telah lama terkunci oleh trauma masa lalu yang menyakitkan..

Perasaan cintaku kepada SUCI tumbuh dari buah perhatian yang setiap waktu ia tanamkan. Aku tau SUCI pun menyimpan rasa kepadaku, namun aku tak mau gegabah untuk cepat-cepat mengutarakan perasaan ini, karena suasana hati yang pas akan membuat lebih berpotensi mempengaruhi perasaannya.

Kala itu aku mengajak SUCI pergi berjalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, menikmati suasana sore yang hangat di awal musim panas. Dari balik kacamata hitamku, diam-diam aku mencuri pandang melihat keceriaan di wajahnya yang ayu dan penuh pesona. Sembari di sela-sela guraun kami yang manis, aku sempatkan selalu pujian-pujian kepadanya yang telah menemani dan menyemangati dalam kebimbangan hati ini.

Dan aku yang memang sudah merancang pertemuan ini, merasakan inilah waktunya.

Akan kunyatakan perasaan ini. aku ingin berada di dalam hatinya, dan merasakan kehangatan cintanya melebihi hari ini.

Bersama iringan syahdunya hembusan angin dari samudera,

Ku sentuh hatinya dengan kelembutan cinta dan menyatakan perasaan ini padanya.

“SUCI.. Aku bahagia ketika bersamamu, namun aku akan lebih bahagia bila setiap waktu kamu bisa selalu menemani dalam hidupku.

Cintaku tak tumbuh dari kecantikan dan anggunnya lekukan tubuhmu, namun cinta ini lahir dari segala kepedulianmu kepadaku.

Aku sama sekali tak menginginkan kata penolakan terucap dari lisanmu, SUCI.

Jadi ku mohon, jadilah tambatan hatiku, merekahlah bersamaku dan bahagialah bersamaku.. aku sangat mencintaimu”

Bak gayung bersambut, dan kata berjawab.. Ia menatap tajam kedalam mataku dengan senyumnya yang khas dan sarat akan bahagia, seraya berkata.

“Tak ada tindakan tanpa maksud dan tujuan, SATRIO. Segala kepedulian dan separuh waktuku yang ku korbankan untukmu itu adalah satu-satunya modalku untuk menarik perhatian hatimu.

Tentu saja itu karena aku juga sangat mencintaimu”

Dua hati kami insan yang penuh cinta pun melebur jadi satu dan menjalani hari-hari dengan rasa dan perjuangan yang sama. Di tanah rantau yang penuh bunga-bunga cinta ini, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sedikit melonggarkan jeratan tali rindu yang senantiasa selalu mengganggu.

Ketika kesibukanku, juga kesibukan SUCI yang bekerja di sebuah panti jompo mulai senggang. Kami pun merencanakan waktu kencan sesegera mungkin, agar tidak terlalu lama kami tersayat-sayat oleh tajamnya belati rindu..

Di suatu senja yang mulai menguning, aku duduk di sebuah bangku taman dengan rimbunnya bunga-bunga musim semi yang cukup mewakili perasaanku yg di penuhi gejolak asmara yang tiada tara.

Hatiku tak henti-hentinya berpuisi memunajatkan cinta, kepada wanita bermahkotakan ikhlas yang menjunjung tinggi kasih sayang di atas singgasana megah cintanya.

Dialah perwujudan dari ketulusan yang selama ini membalut luka hatiku yang hampir tidak pernah bisa mengering..

Setelah beberapa saat aku bernafas dalam penantian, SUCI datang mendekapku dari belakang seraya mengelus dadaku yang mungkin sudah penuh dengan pekarangan bunga yang sedari tadi menanti untuk segera di petik oleh kelembutan jemarinya..

SUCI : sudah berapa lama kamu menunggu ku sayang?

AKU : sudah hampir setengah abad, mungkin.

SUCI: bukankah aku hanya terlambat setengah jam saja bukan?

AKU : YA.. Karena satu jam dalam ruang rindu itu rasanya setara satu abad dalam penantian, sayang..

Kurang lebih 730 hari sudah kita berdua menjalin kisah berlandaskan cinta. yang hati kita pun yakin bahwa tiada sesuatu apapun yang dapat memisahkan keharmonisan megahnya cinta kita. Kami dalam penantian setahun terakhir kontrak kerja kami berada disini, sudah tidak sabar ingin segera menyandarkan perahu cinta ini di tepi pelaminan. sebagai gerbang sakral menuju bahtera rumah tangga, yang akan kita kemudikan mengarungi dunia fana hingga memmbawa keromantisan cinta kita ini menuju keabadian di surga.

“Hingga senja di ufuk timur, cinta ini akan tetap ada dan abadi untuk selamanya”.

Aku tak sanggup bila harus tanpanya. Cintanya begitu hebat, ketulusan dan keikhlasan serta pengabdiannya sebagai seorang wanita yang aku tidak yakin bidadari pun memilikinya.

Setiap detik aku berpuisi tentangnya, mengagungkan pesona-pesona cinta untuknya.

“Setiap ba’itnya di penuhi oleh sajak-sajak sakral nan mempesona, yang kata-perkata di barisannya terbuat dari mutiara, dan setiap huruf di dalamnya terbuat dari keSUCIan namanya..”

Namun garis kehidupan tak selalu lurus dan datar dalam perjalanan alurnya, akupun sadar betul akan hal itu.

Dan..

Kala kesunyian menyapu seluruh penjuru dimensi malam, dan formasi gugusan bintang pun terlelap padam berselimut mendung yang teramat kelam.

Di tengah keheningan ini suara melodi dering telfonku berbunyi memecah kesunyian. seseorang menelfonku dari kampung halaman, ia menyapa dengan sayup Suarany yang lirih seolah penuh penderitaan.

“Hallo SATRIO, aku mohon jangan tutup telfonnya”

“Iya, ini siapa” (jawabku)

“Aku CINDY, mas”

Hatiku tertegun entah perasaan apa yang aku rasakan, aku masih sangat mengenali suaranya yang dulu setiap hari di konsumsi oleh indera pendengaranku ini.

Tapi apakah iya benar ini mantanku yang dulu meninggalkan aku demi lelaki lain yang menjanjikan masadepan untuknya, dan membiarkan aku tenggelam larut dalam keterpurukan??

Tapi gelombang apa yang menggiringnya untuk menghubungi aku yang pernah ia rendahkan?

Demi rasa penasaran yang ingin aku ketahui jawabannya, aku pun menggali apa lagi gerangan lakonan yang akan terjadi dalam hidupku ini.

AKU : sama sekali aku tidak lupa dengan suaramu, CINDY

CINDY: terimakasih mas, kamu tidak lupa denganku. Ribuan kata maaf mungkin tidak dapat melebur dosa-dosaku padamu mas. Tapi ada badai rindu yang menghempaskan aku hingga mengingat tentang dirimu.

AKU : setiap malam aku menciumi setiap angin yang melintas, berharap agar ia bisa sampai di keningmu hanya untuk mengekspresikan rasa rinduku kepada dirimu. Segila itu aku mencintaimu, cindy.

Tangisan CINDY yang mengalunkan penyesalan dan mulai membuat kebangkitanku saat ini mulai roboh tersungkur kembali kedalam hatinya.

Durasi panjang Perbincang ini membuat semakin banyak kisah indah dulu terhisap kembali oleh nafasku yang memang kepadanya aku masih menyimpan rasa rindu.

Tak sedetikpun CINDY berhenti memelodikan kenangan hingga terbentuk rayuan yang mengoyak-oyak gendang telingaku dan menembus masuk ke dalam dada, hingga menebas hatiku yang utuh terbelah menjadi dua. Terbagi sudah hatiku, entah ini anugerah ataukah kutukan untukku.

Rahasia tak selamanya bisa tetap menjadi rahasia.. CINDY mulai memainkan peranannya yang selalu tampil apik dan maksimal dalam lakonnya. Ia menghubungi SUCI, menceritakan segalanya tentang apa yang sudah terjadi dalam keadaan hatiku yang kini terbagi.

CINDY menegaskan

“hanya ada satu wanita saja yang akan mendampingi satrio”.

Namun SUCI dengan karakternya yang lembut dan anggun hanya sedikit merespon perdebatan diantara mereka. Yang ada di benaknya hanyalah “pasrah”.

SUCI tahu betul CINDY adalah sosok yang membuatku sangat tergila-gila.

Dan SUCI juga sadar betul ia hanyalah wanita sederhana yang hanya ketulusan saja yang ia punya.

Dia hanya mengirim pesan singkat kepadaku sebagai perwakilan dari pengunduran dirinya..

“SATRIO, aku tahu ini sangat berat bagimu karena di hadapkan dengan dua pilihan yang bagimu keduanya sangatlah berarti.. Namun untuk terakhir kalinya, izinkan aku sekali lagi berbuat suatu hal berarti dalam kisah hubungan asmara menyakitkan ini. aku melangkah mundur, semata hanya sebagai tanda pengabdianku atas cintamu.

Sekarang bebanmu sudah sedikit ringan SATRIO, pilihanmu kini hanyalah CINDY.

Maaf…. Maafkan aku SATRIO.. Hanya sebatas sampai disini pengabdianku untukmu, aku sudah tak layak untuk menjagamu lagi..”

SUCI menutup semua akses yang bisa terhubung dengannya.. Aku kehilangan semua kabar tentang dirinya, yang membuat semakin hari hatiku di hujani oleh kerikil resah dan penuh rasa bersalah padanya.

Bagaimana keadaannya?

bagaimana kehidupannya?

Karena aku sadar, bahwa SUCI benar-benar merasakan kekecewaan mendalam yang pernah aku rasakan dulu ketika CINDY menghianatiku.

Dosa terbesarku adalah hatiku sendiri..

Dulu aku mengutuk CINDY karena menjadi penyebab penderitaan hatiku. Namun kini justru aku yang berhianat menjelma menjadi malapetaka bagi malaikat yang menjadi sandaran segala keluh kesahku.

Dia membalut luka-luka lamaku dengan taburan kasih sayang secara bertubi-tubi tiada henti. Memberiku harapan baru dengan sejuta pengabdian yang mengiringi perjuanganku..

“Kala rundung problema tak mampu menggerus kegagahanku, namun badai rindu ini seketika mengoyak keperkasaanku, dan menjadi penyebab luluh lantaknya hujan air mataku”

“Ku tembus langit berpuisi lewat do’a,

menyampaikan penyesalan dengan deraian air mata.

Ku berharap jalan untuk memulai penebusan dosa,

karena pengabdian seharusnya di balas dengan pengabdian yang setara”

Aku sangat khawatir dengan keadaan SUCI. aku sadar cintaku begitu hebat kepadanya, jauh melebihi perasaanku kepada CINDY yang hanya sebatas obsesi.

Dan demi rasa bersalah serta penyesalanku yang dalam kepada SUCI, aku mulai memblock semua yang berhubungan dengan CINDY. Aku sudah tak mau tau lagi tentang apapun yang berkaitan dengan benalu yang menjadi parasit dari segala sumber permasalahanku. Kini yang ada di benakku hanyalah SUCI,, SUCI,, dan SUCi..

Segala cara aku lakukan untuk bisa menemui SUCI, yang aku yakin hatinya masih ada ruang untuk cintaku yang murni.

Namun kawan-kawannya pun seolah menjadi benteng penghalang yang menghalauku, ketika beberapa kali aku mendatangi tempat SUCI bekerja.

Tapi beruntung saat itu salah satu diantara mereka mau mengajakku bicara tentang gerangan apa maksud dan tujuanku.

Setelah ku jabarkan segala niat baikku yang ku pikul setiap hari untuk ku hantarkan kepada SUCI, lalu dia bersedia menjadi jembatan untuk pertemuanku dengan SUCI.

Dan kemudian dengan sesegera mungkin aku memintanya mengajakku ke suatu tempat dimana suci sedang berada.

Langkah kakiku di iringi getaran yang tak seperti biasanya. Penuh rasa malu akan semua dosa dan penghianatan yang pernah ku suguhkan untuknya. Lalu tiba lah di suatu tempat yang sunyi, aku melihat SUCI sedang duduk menyendiri. dengan aura temaram penuh kesedihan, ia memain-mainkan makanannya seolah tak ada gairah di dalam hidupnya.

Dia tahu akan kedatanganku, namun dia hanya diam membisu bagai samudera luas yang membeku.

Dengan penuh rasa canggung dan rasa bersalah aku memberanikan diri duduk tepat di depannya, dan memulai membuka perbincangan..

AKU :

“aku merindukanmu SUCI, bagaimana keadaanmu.”

Dia hanya diam tak menjawab apapun. Bibirnya bergetar menahan kesedihan, dan matanya berkaca hampir tumpah.

AKU :

“Apa yang terjadi ketika aku tak di sisimu?”

Meski dengan terbata-bata karena kesedihan yang menghujam relung hatinya, namun akhirnya SUCI mulai mau untuk menjawab

SUCI :

“Aku melakukan rutinitasku seperti biasanya, hanya saja ada sedikit yang berbeda”

AKU :

” apakah itu?”

SUCI:

“Tangisan.. Ya, Aku melakukan segala runtinitasku dengan iringan air mata, yang sungguh aku tak kuasa untuk membendungnya.

Setiap hari aku menangisimu SATRIO, aku terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan ini. Sampai detik ini pun aku tak yakin bisa hidup tanpamu….

Tangisannya pecah menumpahkan segala kesedihan yang terpendam sekian lama di dalam relung hatinya.. Bibirnya yang semula resah menahan pilu pun mulai robek beriringan dengan derasnya deraian air mata, dan dengan sekejap berlutut meraih pangkuanku seraya berkata

“aku mohon…. Aku mohon…

SATRIO,, aku mohon…
Aku mohon temani aku menjalani kehidupanku..
Aku mohon SATRIO…”

Sanubariku tertampar oleh gelegar kepedihan, yang lahir dari malaikat penyelamatku, pemberi harapan baru dalam langkah kehidupanku.

“Duhai kusuma nirmala, engkaulah candra di suramnya belantara gulita.
Kasihmu suci, Cintamu adalah bakti.
Bak perisai perang kau gagah nan congkak untuk mengabdi.
Duhai pesona asmara candu jelitaku
Akulah pelurumu, arahkan saja kemanapun laras senapanmu”

Ku usap segala peluh yang tumpah di pipinya yang basah bergelimang airmata, seraya mengatakan.

“bangkitlah sayang, kamu adalah permaisuriku. Aku akan bersamamu hingga dunia tak berwaktu”.

Lalu ia memelukku, juga dengan air mata. Namun kini ia hinggap dalam bahagia..

Demi dosa terbesarku kepada dirinya, aku berjanji atas nama cinta, akan ku korbankan segalanya demi kebahagiaannya. Meski harus hancur bercucur keringat darah..

Aku dan SUCI pun kini mulai mematangkan cita-cita yang memang sudah kita rancang sedemikian rupa untuk kebahagiaan masadepan kehidupan kita.

Sebagai buruh migran, aku dan SUCI tergolong yang sukses dalam sudut pandang kami sendiri. Bukan karena kami mampu membeli istana atau sesuatu hal yang mewah. Namun kami lebih terfokus pada infestasi jangka panjang untuk menopang perekonomian di hari depan..

SUCI sudah memulai usaha katering yang di jalankan orang tua dan saudaranya di kampung halaman. Dan aku, di samping aku sudah membeli sawah dan ladang untuk bekal hari tua, kebetulan aku juga mempunyai cukup pengalaman dalam bidang design grafis. Aku sudah menelfon BOS ku yang dulu, dan akan kembali bekerja disana sepulangnya aku di indonesia..

Dengan jiwa yang terbahagiakan, Waktu pun seolah tak bisa kita jabarkan. ia berlalu begitu cepat, di giring oleh manisnya hidup bertabur cinta.Lewat gerbang sakral pernikahan, akan kita lewati perjuangan-perjuangan dengan bersama.

dan tak terasa kini aku dan SUCI sudah berada di bandara, menunggu pesawat yang akan mengahantarkan kita pulang ke tanah air indonesia.

Duhai tanah yang memacu kebangkitanku
Engkaulah perantara terbaik dari tuhan untuk segala urusanku
Di atas perutmu, kami ini menemukan cinta
Di atas perutmu, kami bertarung melawan kejamnya dunia

Selamat tinggal tanah rantau yang sakti.
Jagalah kawan-kawan migran kami disini.
Ada perjuangan, penghianatan, dan cinta suci yang kami prasastikan disini.


📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

寫作方式很文雅,充滿藝術的詞句,帶讀者進入到另一個現實與夢幻之境。