Mengejar DNA

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 Mengejar DNA
👤 SUMAMI

Upacara kremasi jenazah Mama telah usai. Semua pelayat dan sahabat telah pergi. Yang tinggal hanya aroma dan kenangan indah tentangnya. Mama, wanita indah pemilik mata lotus dengan beribu kebeningannya yang ditinggalkan Tuhan dalam hidupku, kini telah pergi. Untuk selamanya.

Sepulang dari rumah kremasi aku langsung menuju meja persembahyangan. Kutatap lekat foto Mama. Kepergian yang mendadak, Pada usianya yang belum terlalu senja. Tapi Tuhan telah mengambilnya.

“Andi, bakarlah dupa untuk Mama,” Ujar Papa yang mendekati meja sembahyangan dengan suara parau.

“Iya Pa.” Jawabku singkat.

Selanjutnya aku mengambil tiga tangkai dupa. Kunyalakan dan menancapkannya pada cawan tepat berada didepan foto Mama. Tiga titik api mengeluarkan asap tipis. Harumnya menyebar bersama doa-doa. Doa yang kami harapkan dapat sampai pada pintu Nirwana. Doa yang kami harapkan dapat membersamainya.

“Andi, kemarilah.” Kembali terdengar suara Papa masih parau.

Aku menghampirinya. “Ada apa, Pa, tanyaku sambil mengambil duduk di hadapannya. Papa menduduki kursi rotan tempat biasa Mama bersantai dengan posisi menghadap ranjang. Aku mengambil duduk di tepian ranjang.

Papa meraih telapak tanganku dan mengelusnya. Hal itu biasa dilakukan sejak aku kecil. Ia menghela napas. Terasa begitu berat.

“ Ada apa Pa,” tanyaku kembali.

“Sepertinya ada yang ingin Papa sampaikan.” Imbuhku seraya menatap wajahnya. Wajah teduh yang selama ini menjadi penghangat rumah ini.

“Andi, sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang penting. Karena kepergian Mama baru beberapa hari lalu. Tapi, ini adalah pesan terakhir mamamu. Papa tidak boleh menundanya.”

Berkata demikian Papa terlihat menahan beban. Ia mengambil napas panjang. Papa berdiri, seraya menepuk pundakku dan memberikan amplop cokelat. Amplop itu terlihat usang. “Bacalah.” Ujarnya singkat.

Dengan ragu aku membukanya. Kuambil bundelan kertas yang tertekuk itu. Kertas pertama yang kubaca adalah surat keterangan lahir. Sekilas saja aku membacanya. Atas nama” Andi Marcello Lee”, itu namaku. Demikian pula dengan tanggal, bulan dan tahunnya. Tidak ada yang aneh. Karena setiap tanggal dan bulan tersebut Papa dan Mama membuatkanku pesta ulang tahun. Aku berhenti sejenak, dan memperhatikan Papa yang terlihat cemas.

Kembali aku membaca baris demi baris dari surat tersebut. Akhirnya aku sampai pada keterangan orang tua yang melahirkanku. Di sana aku menemukan kejanggalan. Yakni tidak menyertakan nama Maekel Lee dan Viona Lee sebagai orang tua yang selama ini tinggal dan merawatku dalam rumah ini. Tapi, justru aku lahir dari perempuan yang bernama “Sriasih. Berasal dari Indonesia. Bukan Viona Lee nama mama yang ku kenal selama ini sebagai ibuku. Sebagai orang tuaku.

“Aku terperanjat. Ada apa ini? “Kecamukku dalam hati. Rasaku mulai tidak nyaman. Dadaku berdebar. Tanganku bergetar. Hampir jatuh lembaran-lembaran kertas yang kupegang. Aku sempoyongan. Papa menangkapku seraya menepuk-nepuk punggungku. Bibirnya terkatup. Kami membisu. Hanya pancaran mata kami yang beradu, seakan sama-sama ingin menyibak rahasia yang selama ini mereka simpan dengan rapi.

Akhirnya, Papa mengajakku duduk. Ia memintaku membaca kertas-kertas itu kembali. Namun, aku tak sanggub lagi. Aku meletakkan lembaran kertas-kertas yang berisikan kebenaran atas jati diri ini. Aku meletakkannya di atas meja rias yang di atasnya terdapat topi bayi yang terbuat dari benang wol. Papa meraih topi itu. Topi yang tak pernah ku lihat. Namun Papa mengatakan, jika topi itu adalah topi yang kupakai sejak bayi yang masih tersimpan dengan baik.

“Pa…, apa maksudnya ini?” Tanyaku tak sabar. Aku tak mampu melanjutkan kata-kata. Papa mendekat. Memelukku dengan penuh kasih sayang. Memeluk layaknya seorang ayah terhadap putranya. Memeluk layaknya seorang ayah yang sekaligus takut kehilangan putranya

“Mamamu sengaja menyimpan topi wol ini, karena topi ini rajutan tangan ibu Sriasih sebelum meninggakanmu untuk kembali ke Indonesia.” Ungkap Papa mengawali perbincangan.

“Andi, dalam surat-surat tersebut kamu memang bukan anak bioligis kami. Namun kamu tahu sendiri, bagaimana kami selama ini telah menjadi orang tua yang mencintai dan menyanyangimu lebih dari apapun.” Ujarnya.

Aku mengakui itu. Saking besar rasa sayang dan cinta mereka hingga tak ada isyarat jika sebenarnya aku adalah anak yang diadopsi. Ya, aku adalah anak adopsi. Dari mana aku diadopsi? Kenapa aku diadopsi? Sungguh tragiskah kelahiranku? Aku tak berbapak? Atau jangan-jangan aku anak hasil perkosaan? Oh, kepalaku sungguh berat. Beribu pertanyaan berjejalan di pikiranku. Tapi mulutku tak sanggup menyampaikannya.

Tak terbayangkan, jika selama ini aku yang diperlakukan seperti pangeran di keluarga ini. Pendidikan, kasih sayang, kemewahan bertumpah ruah. Rasanya sangat tidak percaya dengan kebenaran jati diri ini. Siapa aku? Siapa Andi Marcello yang menyandang marga Lee dan akan menjadi pewaris tunggal Lee Brother Company yang terkenal itu? Siapa aku, kenapa aku terlahir dari seorang wanita bernama Sriasih. Wanita dari Indonesia?

Oh Tuhan…

“Andi, sebenarnya Papa ingin sekali menyimpan rasasia ini selamanya. Namun, ini menjadi tidak adil bagimu, juga bagi ibu kandungmu. Kamu adalah putra dari Sriasih. Ibu Sriasih dulunya adalah pembantu di rumah ini. Ia datang dari Indonesia untuk menjaga dan merawat nenek. Ibu Sriasih tinggal dengan nenek dan juga adik Papa yakni Liu Lee. Sementara Papa waktu itu lebih banyak tinggal di Luar negeri karena bisnis-bisnis yang baru kami rintis belum sepenuhnya dapat kami tinggalkan. Di rumah, nenek yang sudah tua butuh teman dan pengasuh. Paman Liu sepanjang hidupnya nyaris tidak pernah perduli terhadap kondisi rumah. Termasuk kondisi nenek. Ia terlampau terlena dengan harta yang ditinggalkan almarhum kakekmu. Dalam kamus hidupnya hanya berfoya-foya. Pesta, mabuk, uang itu yang ada dalam pikirannya. Tidak mempunyai arah hidup yang jelas.” Papa menghela napas.

Mendengar cerita Papa tentang Paman Liu, hatiku tidak menentu. Degup jantungku menjadi sangat kencang. Ada firasat yang mengarah jika Paman Liu dan Ibu Sriasih ada hubungannya denganku. Aku takut, jika aku anak dari Paman Liu. Paman yang kutahu berperingai buruk kepada kami selama ini. Aku tak bisa membayangkannya.

“Andi, sebenarnya engkau adalah anak dari Liu Lee dan Ibu Sriasih.” Ujar Papa dengan suara yang tercekat. Mendengar cerita Papa yang sama persis dengan kecamuk hatiku, aku melemas. Ambruk.

“Apakah Ibu Sriasih dan Paman Liu menikah? “Tanyaku perlahan.

Papa menggeleng.

“Lantas?” Lanjutku

“Ibu Sriasih mendapat pelecehan. Waktu itu Paman Liu mabuk. Ibu Sriasih dengan tubuh kecilnya tak berdaya. Atas perbuatan itu Paman Liu sudah mendapat ganjarannya. Ia disidang dan mendapat hukuman 5 tahun penjara.” Jawab Papa dengan jujur. Mengetahui kenyataan itu, hatiku semakin remuk. Seperti remuknya beras yang berproses menjadi tepung.

“Andi maafkan Papa. Seharusnya hal ini kami sampaikan, sejak Paman Liu belum tiada. Namun waktu itu kamu masih terlalu kecil. Sementara kehidupan paman Liu juga semakin berantakan setelah keluar penjara. Maka demi masa depanmu, demi penerus dan pewaris keluarga ini, maka kami mengangkatmu sebagai anak. Walau berat hati, Ibu Sriasih mengizinkanmu untuk kami asuh. Dengan berbagai pertimbangan tentunya. Itu surat-surat adopsinya dari pengadilan.” Ujar Papa seraya menyodorkan amplop lain yang sejak tadi dipegangnya.

“Sekarang kamu sudah dewasa, kamu berhak tahu atas jati dirimu. Jangan salahkan Ibu Sriasih atas kejadian ini. Karena waktu itu, kami memang menginginkanmu. Kami memohon kepada Ibu Sriasih agar merelakanmu tinggal. Apalagi waktu itu Mama dan Papa sudah ditetapkan dokter tidak dapat punya anak. Maka kamu kami angkat menjadi anak. Kami tak memandang dari rahim siapa kamu lahir. Kami tak peduli. Kamu mengaliri darah Lee. Kamu satu-satunya pewaris keluarga ini. Jika selama ini, mama dan papa mendidikmu dengan keras, itu semata-mata agar engkau tidak meniru kelakuan Liu Lee yang secara biologis adalah Papamu.” Jelas Papa menyakinkanku.

Aku masih tak percaya denga kenyataan hidupku yang diungkap Papa. Tetapi aku tak dapat mengelaknya. Antara percaya dan tidak saling bergumul. Laksana bergumulnya kawah dan asap belerang di puncak Xiaoyoukeng.

Air mata untuk kepergian Mama Viona belum kering, namun aku langsung mendapat pukulan atas kenyataan hidup yang tak mungkin dapat dipungkiri. Kenyataan jika aku anak pungut dan hasil perkosaan. Mengetahui semua tiba-tiba tubuh ini terasa kotor. Sekotor batu yang berbalut lumut. Lekat. Pekat.

Betapa tragisnya proses kehadiranku di dunia ini. Padahal kerap kali aku mengutuk para ibu yang tanpa nurani membuang anaknya. Atau memaki para lelaki yang tak bertanggung jawab dan meninggalkan perempuannya hamil. Ditinggalkan sendiri tanpa hati. Seperti anak-anak yang tinggal di Yayasan Buterfly Home ini, tempatku kerap menghabiskan waktu sebagai volunteer untuk sekedar berbagi. Tak menyangka jika aku tak lebih dari anak-anak itu. Akhirnya aku tahu, kenapa aku begitu kerasan menghabiskan waktu di yayasan ini. Walau sekadar menggendong bocah-bocah yang kekurangan kasih sayang. Atau sekedar mengajak mereka menggambar dan berbagi ilmu untuk mengajarkan bahasa. Tampaknya Tuhan menuntunku. Dan membukakan mataku, jika aku sebenarnya sama dengan mereka. Hanya saja, Tuhan memilihkanku menemukan orang tua asuh yang berhati mutiara.

Membayangkan suasana Buterfly Home aku tergeragap. Rasanya ingin berlari ke sana dan memeluk anak-anak itu satu persatu. Karena aku tak lebih dari mereka.

“ Andi. Sekarang kamu sudah mengetahui semua. Selama 27 tahun engkau telah menjadi bagian dan kebahagiaan kami. Sejak memutuskan mengadopsimu, sejak itulah kami adalah orang tuamu. Namun, Papa tidak mau egois. Bagaimanapun kamu berhak menemui ibu kandungmu. Demikian pula ibu Sriasih. Dia mempunyai hak yang sama untuk mengetahui darah dagingnya. Carilah ibumu. Pergilah ke Indonesia!” Berkata demikian terdengar getar suara Papa. Selanjutnya meninggalkan ruangan ini, dan membiarkanku sendiri.

Suasana sepi. Aroma dupa berpadu dengan wangi bunga Lili seakan mengusap-usap wajah Mama yang membisu dalam bingkai besar . Sementara sayup suara biksu suci membaca Parita melalui rekaman mp3 dimeja sembahyangan itu, menambah keheningan. Hanya Mama Viona Lee yang kurindui. Walau aku tidak terlahir dari rahimnya. Melalui tangan dan hatinya aku belajar tanggung jawab. Melalui senyum dan dermawannya aku belajar cinta. Dan, meja sembahyangan ini, laksana taman pertemuanku dengan Mama.

**

Hari berganti. Papa mulai dengan aktivitasnya. Ke kantor, meeting, bertemu rekan bisnis dan lain sebagainya. Namun, aku masih belum bisa sepenuhnya bangkit. Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang sedikit jika pengabdian hidup, menikmati kasih sayang, berbagi suka dan duka dan tiba-tiba harus tercerabut jika ternyata jati diri ini adalah milik orang lain. Paman Liu yang dalam ingatanku adalah paman dengan kehidupan paling buruk adalah orang tua yang darahnya mengalir pada tubuhku. Lebih menyakitkan lagi, jika aku lahir karena perkosaan. Hidupku terasa terhempas. Bahkan menjadi terombang-ambing. Ketidakpastian mulai memukul-mukul hariku. Jalanan panjang yang kemarin menjadi lapang dan benderang kini menjadi memar dan menganga luka. Aku ingin memprotes Tuhan.

Sementara kini, otakku dipaksa harus menghadirkan wanita itu. Wanita dengan nama Sriasih. Bagaimana warna kulitnya, seindah apa senyumnya, seteduh apa matanya. Selembut apa belaiannya. Tanganku memaksa mensketsa wajah Sriasih. Namun, tetap saja aku belum bisa menangkap sedikitpun bagaimana rupa dan garis wajahnya. Setiap kali aku mencoba mensangkutkan wajahku dengan Ibu Sriasih, setiap kali itu pula wajah Papa dan Mama Viona yang kutangkap. Kerap kali aku berpagut dalam cermin untuk mencari wajah Sriasih pada wajahku. Apakah ada pada hidungku, ataukah pada mataku. Apakah ada pada bibirku, ataukah ada pada senyumku, namun sekali lagi aku tak menemukan garis atau titik dari guratan ibu Sriasih atau Paman Liu. Kuhempaskan bokongku pada kursi putar. Ku sketsa kembali dan kembali wajah Ibu Sriasih melalui kertas-kertas, melalui tembok-tembok, melalui awang-awang. Kembali kekosongan yang kurasakan. Aku kecewa.

Di tengah kegalauan atas jati diri ini, aku memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Seperti saran Papa. Sebab Papa pun tak ingin terus gelisah karena melupakan Ibu Sriasih. Ibu yang melahirkanku.

“Miss Awing, tolong carikan tiket tujuan Surabaya untuk lusa. Open saja karena belum tahu kapan aku balik Taiwan.” Pesanku pada sekretaris.

“Indonesia!” jawab Awing setengah tak percaya.

“Ya, Indonesia. Kenapa?“ Oh gak. Tapi Pak Andi belum pernah melakukan kunjungan ke Indonesia.” Timpalnya, sambil pencet-pencet telepon travel agency untuk pendapatkan tiket pesananku. Aku hanya melirik tingkah sekretarisku itu.

Di dadaku, sebenarnya masih berkecamuk. Pertanyaan benarkah aku anak Paman Liu dan Ibu Sriasih? Batinku berontak, namun surat lahir dan cerita papa tak dapat kubantah. Aku tak ingin gila karena ini. Untuk itu kuputuskan, aku memang harus datang ke Indonesia.

Sejurus kemudian, Awing memberi informasi jika tiket ke Surabaya sudah disiapkan. Bahkan dapat berangkat esok hari. Tanpa pikir panjang aku bergegas meninggalkan kantor. Namun, langkahku tertahan. Setelah melihat mobil papa memasuki pelataran kantor.

“Andi, kamu serius akan ke Indonesia?” tanya papa dengan tergopoh.

“Iya Pa. Kebetulan ada tiket besuk pagi.” Jawabku seraya memandang papa penuh kepastian.

“Kalau begitu ini alamatnya. Ini nomor teleponnya.” Ujar Papa seraya menyerahkan selembar kertas. Aku menerima dan menyimpannya dengan baik.

“Ya sudah, bersiaplah dan jangan lupa membawa keperluanmu selama di Indonesia.” Aku mengangguk. Kutatap Papa, dan mengucapkan terima kasih. Terima kasih pada mata yang selama ini memberikan energi pertumbuhanku. Berterima kasih pada tangan dan tubuhnya yang selama ini telah memberikan perlindungan dan rasa aman. Aku tak sanggub berkata-kata, selain merangkulnya.

Keesokan harinya, Papa sendiri yang mengantarku ke Airport. Sebelum cek in Papa memberikan paper bag. Aku menerimanya. “Berikan pada Ibu Sriasih.” Ujarnya. Aku mengangguk dan memasukkannya pada Hand Carry bawaanku.

“Setelah semua urusan dengan Ibu Sriasih usai, Papa berharap kamu segera kembali. Papa menunggumu pulang. Perusahaan juga sangat membutuhkanmu.” Imbuh Papa seraya menepuk-nepuk punggung tanganku. Terlihat matanya berkaca.

“ Iya Pa.” Jawabku lirih.

Kami berangkulan. Selanjutnya aku langsung menuju meja cek in, berlanjut menuju gate sambil terus membayangkan ribuan memori kebahagiaan kami. Berseliweran tiada henti. Langkahku terhenti sejenak, aku menoleh kebelakang, dan tangan Papa masih melambai-lambai dari balik pintu kaca yang lebar.

Enam jam perjalanan karena adanya transit di Kuala Lumpur tidak membuatku kelelahan. Jam menunjuk di angka 02 sore waktu Indonesia. Aku langsung dijemput oleh travel dan hotel yang kemarin sudah diatur oleh Awing. ” Selamat sore Pak Andi, saya Diman dari Sunday Travel. Apakah bapak langsung ke Hotel atau ketempat lain dahulu?” Tanya sang sopir dengan sopannya. Karena aku tidak ingin membuang-buang waktu, maka aku menyodorkan alamat yang diberikan Papa. Selanjutnya sopir yang mengaku bernama Diman itu mengangguk-angguk tanda mengerti harus kemana. Selanjutnya mobil meluncur dengan lancar.

“ Diman, itu apa?“ Tanyaku pada Diman seraya menunjuk pada hamparan tanah yang luas, atap-atap rumah yang mengapung. Ada patung-patung. Dari kejauhan ada beberapa sumber asap yang mengepul.

“Oh itu Lumpur Lapindo Pak.” Jawab Diman singkat.

“Apa itu lumpur Lapindo?”

“Tahun 2006 ada perusahaan Pengeboran Gas yang menyemburkan lumpur dan tidak berhenti- henti. Sampai menjadi bencana.”

Mendengar jawaban itu aku manggut-manggut. Selajutnya aku browsing dengan kata kunci “ Lumpur Lapindo.” Aku mendapatkannya. Belasan desa tenggelam. Sawah, pertanian, sekolahan, kantor-kantor dan jalan-jalan. Saat tangan meng klik picture, tampak orang-orang menangis, orang-orang marah dan barang-barang yang tenggelam. Aku paham apa itu Lumpur Lapindo. Dan itu ada di Indonesia. Begitu miris.

“Oh, ini Sidoarjo.” Gumamku lirih.

“Iya Pak ini Sidoarjo.” Jawab Diman. Sepanjang perjalanan aku dan Diman menjadi akrab. Karena Diman sangat lancar berbahasa Inggris, supel dan sopan.

Melihat jalanan menuju Malang terasa gerah. Mobil-mobil tua, truk, sepeda motor berseliweran seperti tanpa kendali. Setiap lampu merah ada saja yang ketok-ketok mobil untuk menjajakan makanan atau minuman. Ada juga pengamen kecil dengan kecrek usang. Ada bapak-bapak yang mententeng kardus berisi krupuk dan kacang. Peluh pada wajah hingga mengkilat karena kepanasan. Ada ibu yang menggendong bayi menengadahkan tangan. Diman memberinya uang berwarna biru lusuh.

Oh, pikiranku segera menangkap nama Ibu Sriasih. Bagaimana dengannya? Apakah demikian pula pekerjaannya. Hatiku menjadi kacau. “ Masih jauhkah tujuan kita Diman?”

“ Tidak Pak Andi. Ini kita sudah memasuki kota Malang, selanjutnya kita akan menuju Desa seperti dalam alamat.” Ujar Diman sambil terus fokus membawa mobilnya.

Memang kurasakan berbeda. Udara mulai sejuk. Kepadatan kendaraan mulai terasa.Sesekali dapat melihat sawah, sungai, rel kereta api dan juga gunung-gunung. “Wah ini Indonesia yang ada dalam pikiranku Diman. Bukan seperti tadi, Lapindo atau orang-orang di lampu merah.”

“ Iya Pak, ini desanya. Di desa memang enak.” Jawab Diman sambil mulai mencari-cari alamat yang tadi ku sodorkan.

Selanjutnya, saat ada pedagang buah Diman berhenti, turun sebentar dan menanyakan alamat yang ada dikertas itu. Seperti petunjuk pedagang buah akhirnya mobil berhenti tepat di sebuah rumah dengan halaman luas. Ada beberapa pohon yang merindangi halaman itu. Aku meminta kepada Diman untuk mencari Ibu Sriasih. Dengan gesit Dimanpun memasuki halaman, dan mengetok pintu. Sejurus kemudian keluarlah seorang perempuan, kira-kira usianya 45 tahun. Wajahnya cantik, kulitnya putih dan pakaian perempuan itu layaknya pakaian orang Indonesia yang biasa kulihat duduk-duduk di Taipei Stasiun pada hari Minggu. Longgar dan kepalanya tertutup rapat.

Tampak Diman berbicara sebentar. Perempuan itu mengangguk-angguk. Selanjutnya aku melangkah mendekati mereka. Diman pamit untuk menunggu di mobil

“Selamat siang Ibu Sriasih, Apakah ibu berbahasa mandarin?” tanyaku perlahan.

Perempuan itu mengangguk dan sedikit gugup. Selanjutnya mempersilahkanku masuk.

Kakiku melangkah menuju deretan kursi kayu yang terlihat usang. Ibu Sriasih kembali mempersilahkanku duduk. Aku memilih kursi yang berada dipojok, mataku segera menyapu isi ruang tamu itu. Ada deretan foto-foto, ada tanggalan bergambar masjid, ada hiasan dinding dari batok kelapa dan tak lebih. Sederhana sekali. Sesederhana senyum yang kutangkap sejak pertama kali aku menatapnya.

Dengan bahasa mandarin yang sedikit terputus-putus, Ibu Sriasih menanyakan maksud kedatanganku. Segera saja aku menyerahkan amplop cokelat yang berisi tentang identitas diriku. Dengan ragu Ibu Sriasih membukanya.

Dengan terkejut, Ibu Sriasih menatapku. “Kau Andi, Kau putra Mam Viona?” Tanyanya dengan terbelalak. Amplop dan isinya segera dibaca dengan tergesa. “Andi?, Kau…?”

Ibu Sriasih tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya sebab, bibirnya bergetar. Refleks tangan Ibu Sriasih akan meraih tubuhku. Namun, tertahan.

“Iya Ibu, saya Andi, saya diminta Papa Maekel untuk datang ke Indonesia untuk mencari Ibu. Walau awalnya saya tidak percaya dengan isi surat lahir itu, tetapi ….” Kata-kataku terputus, karena tangan Ibu Sriasih sudah mendarat di punggung tanganku.

“Iya Nak, isi surat ini benar. Ibu yang melahirkanmu. Maafkan Ibu, maafkan Ibu.” Suara ibu Sriasih tercekat. Tubuhnya bergetar. Ia menangis tersedu-sedu. Mungkin ia teringat akan masa buruk yang telah menimpanya. Masa di mana Paman Liu yang merupakan Papaku sendiri yang akhirnya melahirkanku. Saya bisa merasakan, betapa beratnya bagi seorang perempuan jauh dari keluarga, menyandang beban bekerja namun juga masih mendapat perlakuan pelecehan dari anggota keluarga orang yang dijaganya.

“Andi, bolehkah ibu memelukmu? Sebentar saja.?” Pintanya dengan ragu.

Aku tersenyum. Kurentangkan tanganku dan memeluk erat ibu yang melahirkanku. Kubiarkan ia mengelus-elus kepalaku. Ku biarkan ia sesenggukan dipundakku. Tak lagi aku merasakan canggung. Dan, hatiku terasa tenang.

Haru terasa menyelimuti pertemuan kami. Selanjutnya aku pamit sambil meninggalkan paper bag berisi topi benang wol berwarna merah jambu dan kuselipkan pesan cinta jika aku bahagia telah bertemu ibu. Bahagia telah menemukan DNA ku. (*)

**

Mengejar DNA seperti mengejar asal-usul. Cerita yang menggugah sebagai refleksi dan perenungan tentang seorang anak yang akhirnya harus mengetahui kebenaran sesungguhnya bahwa ia adalah adalah anak korban pemerkosaan dari seorang pekerja migrant. Plot cerita mengalir dengan bahasa yang lancar dan diksi yang baik terutama di akhir cerita. Simbolisasi DNA dimaknai sebagai jati diri. Seberat apapun jati diri dan masa lalu, pada akhirnya kita harus menerimanya. Serupa tokoh Andi yang akhirnya memperjuangkan untuk menemui Sriasih, ibu kandungnya. Refleksi bahwa masih banyak sosok serupa Andi dan Sriasih yang mengalami pelcehan seksual dan pilihan adopsi ataupun di panti asuhan juga menjadi bagian untuk merawat kemanusiaan.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Mengejar DNA seperti mengejar asal-usul. Cerita yang menggugah sebagai refleksi dan perenungan tentang seorang anak yang akhirnya harus mengetahui kebenaran sesungguhnya bahwa ia adalah adalah anak korban pemerkosaan dari seorang pekerja migrant. Plot cerita mengalir dengan bahasa yang lancar dan diksi yang baik terutama di akhir cerita. Simbolisasi DNA dimaknai sebagai jati diri. Seberat apapun jati diri dan masa lalu, pada akhirnya kita harus menerimanya. Serupa tokoh Andi yang akhirnya memperjuangkan untuk menemui Sriasih, ibu kandungnya. Refleksi bahwa masih banyak sosok serupa Andi dan Sriasih yang mengalami pelcehan seksual dan pilihan adopsi ataupun di panti asuhan juga menjadi bagian untuk merawat kemanusiaan.

📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

文筆順暢,豐富的台灣元素。