SRI PON以及或許有誤的童話 SRI PON DAN DONGENG YANG MUNGKIN SALAH

🥈 評審獎 Jury Award
🏅 青少年評審獎 Teen Choice Award

📜 SRI PON DAN DONGENG YANG MUNGKIN SALAH
👤 Sri Lestari

Dongeng ini adalah cerita di sebuah tempat yang kala itu semuanya masih dibalut warna hijau. Hutan jati masih hijau dengan kera menggelantung di dahan-dahannya, lalu tanaman di sawah yang bak permadani hijau dalam dongeng seribu satu malamnya Aladin. Lalu yang kuingat sekali adalah tai sapi dan kerbau yang berceceran di sepanjang jalan berkerikil yang waktu itu belum diaspal. Sapi dan kerbau akan merumput pada pagi buta sebelum mereka membajaak sawah. Percayalah bahwa bau tai sapi itu harum berbaur bau rumput liar dan semerbak embun kesiangan.

Dan tempat itu bernama Puguh yang berarti teguh dalam bahasa Indonesianya. Dongeng itu bermula dari sana, dari bangunan rumah beratap rumbia dan berdinding bambu. Dari bau asap pawon yang menyeruak kala nasi ditanak. Lalu bau wangi air tanah yang langsung bisa direguk dari pancuran. Bau harmoni keluarga-keluarga sebelum adanya sebuah mimpi yang akan mengubah segalanya.

Sri Pon lahir bukan di hari Pon tapi di hari Selasa Wage. Kenapa bernama Sri Pon karena dukun beranak yang membantu persalinan Pariyem emaknya Sri Pon bernama Poniyah. Jelas balas budi itu diutamakan di Puguh, maka bayi mungil yang menangis saat fajar itu bernama Sri Pon. Sri yang berarti dewi kemakmuran (Dewi Padi) dan Pon untuk sang penolong yang baik hati. Begitulah bayi mungil itu lahir di surga hijau bernama Puguh tanpa tahu kelak dialah yang akan bercerita, mendongengkan dunia yang hilang dan pergantian jaman,

Puguh masih tetap berkabut dengan harum tai sapi dimana-mana, termasuk rumah Sri Pon yang berdinding bambu dan beratap rumbia. Lantai tanah yang retak pada musim kemarau lalu becek berlumpur pada musim hujan semakin menguatkan hati Pariyem untuk pergi. Dia ingin Sri Pon dan adiknya Kaman tidak mencium bau tai sapi saat makan, dan tidak berbecek lumpur saat hendak sembahyang. Pariyem pergi saat Sri Pon masih berumur lima tahunan. Gadis kecil itu berdiri di ambang pintu lapuk dari kayu mahoni yang sudah digeroti rayap dalam kesedihan. Hatinya digerogoti pertanyaan. Kenapa emak pergi dalam hari berhujan?

Puguh beranjak siang dan sedikit berbeda. Rumah Sri Pon kini sudah berdinding papan. Rumbia pun sudah bergenting berwarna oranye kecokelatan. Walau demikian bau tai sapi tetap menyeruak karena rumah dan kandang masih bersebelahan. Emak tidak pernah pulang, begitupun bapak yang jarang sekali mengurus kandang. Jika dahulu timbul pertanyaan di hati Sri Pon kenapa emak pergi dalam hujan? Kini ada pertanyaan baru kapan emak pulang.

Sri Pon beranjak remaja. Puguh menjelma bedaa. Rumah-rumah sudah atap genting dan beberapa rumah punya piring besar (parabola) di atasnya. Banyak dinding kayu berubah menjadi bata. Banyak lantai tanah berubah menjadi ubin mengkilap. Dan banyak kandang tanpa sapi. Hampir tiap rumah punya sepeda motor. Puguh seperti dunia dalam lomba. Setiap rumah ingin tampil beda dan menjadi terkaya. Namun ada yang timpang. Puguh menjadi dunia tanpa wanita. Bapak-bapak sekarang memasak. Beberapa mencuci. Beberapa ke pasar berbelanja. Dunia terbalik demikian cepatnya.

“Punya anak perempuan itu seperti punya permata. Kau harus ke Taiwan, Sri!” kata bapak dengan ketusnya setelah tiga bulan tidak pulang. Kabar burung bilang bapak punya selingkuhan di Penundan. Penyanyi dangdut berdada besar yang katanya janda beranak lima.

Sri Pon tak bisa menjawab. Dipandanginya dinding papan yang kini tinggal sebagaian. Sebagian rumah sudah berdinding anyaman bambu lagi. Daun jendela sudah tanggal tiga, tersisa tiga daun jendela di kamarnya dan kamar tidur Kaman. Jendela yang tanpa tutup sekarang bolong dan angin malam bercampur bau bekas kandang sapi menerobos ke dalam. Rumah yaang beberapa tahun lalu berubah kini juga mulai berubah lagi. Pariyem sudah tak pernah kirim uang bahkan kini tak ada kabar dan tampuk tanggung jawab dibebankan di pundak Sri Pon begitu saja.

Begitulah Puguh yang tak sehijau dulu. Pohon jati satu persatu tumbang dan para kera sudah lama habis menjadi sate panggang. Jalan kerikil berganti aspal, sawah masih hijau namun kini tanpa kerbau. Traktor menderu membajak sawah, hanya tai sapi yang kadang masih tersisa dan kering di jalan aspal. Puguh bermetamorfosa menjadi tempat asing yang sekarang bising. Musik India terdengar mendentum keras dari rumah-rumah tembok para tetangga. Juga lalu lalang motor bebek berbagai merk meramaikan pagi hingga malam. Pak lurah bahkan sekarang punya sedan Toyota karena istrinya di Hongkong sepuluh tahun lamanya.

Bapak pergi dengan tergesa setelah mengantongi uang dari menjual tiga daun jendela. Pintu juga sudah diberi panjer. Lusa pintu jati satu-satunya akan diambil pembeli. Rumah Sri Pon sudah tak layak disebut rumah. Tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa dinding, tanpa soko.Tak ada bedanya bekas kandang sapi di sebelah dengan rumah yang ia tempati. Hanya dinding bambu yang menutup kamarnya dan Kaman. Semua sudah terbuka dan semua mata tetangga bebas melucuti keadaan yang setiap hari menjadi bahan perguncingan mereka.

“Kau harus segera ke Taiwan! Cari emakmu di sana dan kirimkan uang secepatnya!”

Bapak marah. Tak ada yang bisa dijual lagi selain anak gadisnya. Dengan menawarkan Sri Pon pada sponsor maka bapak mendapat pesangon empat juta. Tubuh Sri Pon bergetar menahan seluruh gemuruh amarah yang dari kecil dipendamnya. Ia ingin sekolah, ia tentu saja ingin pintar. Dan tentu saja ia tak ingin ke Taiwan.

Tak ada yang bisa melawan takdir. Demikian aturan baru di Puguh. Takdir para wanita dan anak gadis memang harus dipekerjakan ke luar negeri, sedangkan para bapak akan ongkang-ongkang kaki menunggu kiriman. Para lelaki seperti memakai daster di Puguh dan para wanita dan anak gadis seperti tak pernah dilahirkan ke dunia. Sepertinya jaman jahiliyah terulang di suatu tempat hijau yang dulunya damai. Puguh berbeda. Semua berbeda. Hanya Sri Pon yang tetap sama dengan jutaan pertanyaan yang tak pernah ada jawaban.

Ke mana emak? Ke mana dinding rumah, soko, jendela, dan pintu? Kenapa anak gadis harus ke Taiwan? kenapa Kaman tidak? Kenapa bapak demikian? Kenapa Puguh menjadi seperti sekarang.

Gadis itu menangis pada suatu sore berhujan saat sponsor menarik tangannya dengan kasar. Sebuah mobil telah menunggunya. Sri Pon akan dibawa ke Jakarta. Bapak telah menjualnya. Ya menjualnya untuk menghidupi penyanyi dangdutnya. Sore itu Sri Pon menyesal kenapa harus lahir sebagai perempuan. Baginya hidup Kaman demikian enaknya. Kaman bisa sekolah. Kaman tak perlu ke Taiwan. Kaman hanya tinggal kawin lalu menyuruh istrinya ke Taiwan. Adilkah dunia ini? Adilkah keadaan Sri Pon sekarang?

Puguh hujan deras tiga hari tiga malam sejak Sri Pon pergi sore itu. Kaman meringkuk dalam kamarnya yang bocor dan tanpa jendela. Tubuhnya setengah basah dengan sarung lusuh yang membungkus badannya. Umurnya sepuluh tahun waktu itu dan bocah itu harus mengurus dirinya sendiri setelah bapak jarang pulang. Sosok emak tak pernah dikenalnya karena Pariyem pergi saat dirinya masih bayi, yang ia tahu bahwa foto wanita yang tanpa bingkai yang ditempelkan kakaknya di balik pintu kamarnya adalah foto emaknya.

Waktu berjalan pelan. Puguh masih sebuah tempat yang aneh yang berisi para lelaki. Jangan heran jika melihat lelaki mengendong bayi-bayi berhidung mancung dan bermuka Arab. Jangan kaget jika anak-anak kecil berwajah asing banyak bermunculan. Istri pak lurah pulang dari Hongkong dengan rambut dicat merah dan hamil delapan bulan, tak lama kemudian lahir anak lelaki berkulit hitam yang katanya anak Banglades. Semua seakan wajar di Puguh, wajar seperti tai sapi yang jatuh di aspal lalu kering karena terik matahari lalu tertiup angin lalu bekasnya akan hilang oleh hujan.

***

Gadis itu berhijab. Dengan santunnya dia mengucap salam kepada wanita tua yang duduk di kursi roda dengan kepala yang lunglai ke kanan. Tubuh nenek itu berbalut aneka syal yang membungkusnya hingga ia sebesar panda. Taiwan sedang dalam puncak musim dingin hingga seluruh penghuninya berbaju ganda dan menutupnya lagi dengan aneka kain atau syal dan semacamnya.

Sri Pon sudah tak pernah bertanya. Ia meredam semua pertanyaannya ketika kakinya menapak Jakarta yang kumal. Ia tak mempersalahkan emaknya yang tak pernah pulang dan berkirim kabar. Buat apa pulang untuk bapak yang demikian! Ia juga tak pernah punya keinginan pulang. Sesekali ketika merindukan Kaman ia akan menelepon adik satu-satunya yang kini sudah lulus SMA. Kaman tak usah terlalu dikhawatirkan. Toh dia lelaki. Dia tak akan dijual ke luar negeri. Kemalangan hanya untuk para perempuan.

Dan seumur hidupnya Sri Pon baru sekali mengutuk. Ia mengutuk takdirnya sebagai perempuan yang di dongeng Puguh harus menjadi soko untuk keluarganya.

Catatan:
Panjer: uang muka
Soko: tiang rumah, tiang penyangga
Ongkang-ongkang: duduk sambil mengayun-ayunkan kedua kaki.

Taiwan, 17 Mei 2020


📜 SRI PON以及或許有誤的童話
👤 Sri Lestari

這個童話故事的地點在一個彼時被綠色包覆的地方。柚木森林裡有掛在樹上的猴子,還有田裡綠油油植物,如同阿拉丁一千零一夜童話裡的綠掛毯。然而刻印在我腦海裡的是撒著滿地的牛屎,那時都是碎石的道路還沒鋪上柏油。牛和水牛會在耕田前的凌晨去吃草。相信我,那牛屎味與草還有晨露的香氣混合在一起的味道,是香的。

那個地方名叫普古(Puguh),印尼文的意思是「堅強」。童話從那裡開始,有一座以茅草為屋頂、竹子為牆壁的房屋,米飯被烹煮時自廚房冒出的煙,還有可以直接從水源頭取得的地下水味道,是在一個改變一切的夢想出現之前,家庭和諧相處的香氣。

Sri Pon不是在Pon那一天出生的,而是禮拜二的Wage。取名Sri Pon的原因是因為幫助帕里安(Pariyem),也就是Sri Pon的母親生產的助產祭司名叫Poniyah。當然,在普古報恩是很重要的,所以這位在日出時刻出生的小嬰兒被命名為Sri Pon。Sri的意思是繁榮女神、稻米之女神,而Pon是好心的幫手。

小嬰兒就這樣在綠色天堂普古誕生,還不知道之後會是由她來說故事,講著消失的世界以及時代的輪替。普古仍然被霧包覆著,且飄揚四處的牛屎味,包含Sri Pon的家:一座用茅草作為屋頂、竹子為牆壁的房屋。夏天乾裂、雨季淹水的土壤使帕里安離家的決定更堅定。她想要讓Sri Pon還有她的弟弟卡曼(Kaman)不必在吃飯時還要聞著牛屎味,拜拜時不再淹水。

帕里安在Sri Pon五歲時離開家,小孩在被白蟻咬透的桃花心木門前難過的站著。心裡充滿著問號。為何母親在下雨天離去?

普古逐漸長得不一樣了。Sri Pon現在家裡的牆壁已經是木板。茅草已被棕色的瓦片替代。但是牛屎味仍然經常飄進屋裡,因為房子還是與養牛的籠子緊挨著。母親從未回來,還有不常處理籠子的父親也一樣。過去在Sri Pon心中出現的問題是,為何母親在下雨天離去?現在新的疑問則是,母親何時會回來。

Sri Pon已是青少年。普古進化了。那裡的房子都已經是瓦片屋頂,有些在上頭出現盤子(衛星天線)。許多木牆已變成紅磚牆,許多地板變成閃亮亮的瓷磚地板。還有許多沒有養牛的籠子。幾乎每個家戶都有一台摩托車。普古好像在競爭的世界,每一個房子都想展現自己是最不一樣、最富裕的那個。

但是有件事情偏了。普古變成一個沒有女人的世界。父親們有些正下廚、有些在洗衣服、有些去菜市場買菜。世界如此迅速的顛倒。

「擁有一個女兒就像擁有鑽石。妳一定要去臺灣,Sri!」三個月沒回家的父親用惡劣的語氣說到。聽說父親在另一個城市有外遇對象,她是個有著豐滿胸部、五個小孩的噹嘟樂單親歌手。

Sri Pon無言以對。她看著只剩一部份的木板牆。家裡有些牆壁又變回竹編了。窗扇已掉了三個,只剩三扇留在她和弟弟卡曼的房間。無法關閉的窗戶,夜晚的風吹來曾經是牛籠的籠子味。前幾年改變的房子,現在又改變了。

帕里安已經不再寄錢回來,而且失聯了,突然間責任就這麼地落在Sri Pon的雙肩。普古也已不像之前那麼綠。柚木樹一一倒下,猴子們都成了烤肉串。碎石路已變成柏油路,田仍然是綠的,但是現在已經沒有牛了,換成拖拉機耕田,有時牛屎仍殘留在柏油路上曬乾。普古已經進化成陌生且吵鬧的地方。印尼歌曲穿透鄰居的牆壁大聲地震動著,還有不同品牌的機車從早到晚熱鬧地穿梭。村長也有了一台TOYOTA轎車,因為他的妻子已經到香港十年了。

父親將賣掉三扇窗的錢收進口袋後,匆匆離開。門已經有人付訂金,後天唯一的柚木門會被買家取走。Sri Pon的家已經稱不上一座房子了。沒有窗,沒有門,沒有牆,沒有樑柱。跟隔壁那曾經是牛籠的籠子相比,沒什麼兩樣。她與卡曼的房間只有竹編牆,其餘都是半開放的,鄰居的雙眼可以時刻穿透,觀察並且討論他們每天的生活。

「妳要趕快去臺灣!去那裡找妳媽,然後趕快寄錢回來!」父親在氣頭上。除了她的女兒,已經沒有其他東西可以賣了。把Sri Pon介紹給仲介,她父親就能收到四百萬賞金。Sri Pon的身軀顫抖著,壓抑從小就被埋沒的憤怒。她想要上學,她當然想要變聰明,她當然不想去臺灣。

沒有人可以戰贏命運。這就是普古的新規則。女人還有女孩們本來就要被送出國,而父親將晃著腳等待錢被寄來。這些男人就像在普古穿著洋裝,而女人還有女孩們好像從來沒有被誕生在這個世界過。就如蒙昧時代在一個曾經寧靜且綠油油的地方重演。普古不一樣。所有事情不一樣。只有Sri Pon是一樣的:腦裡充滿了百萬個沒有答案的問題。

母親去哪了?牆壁、樑柱、窗戶還有門去哪了?為什麼女生要去臺灣?為什麼卡曼不用?為什麼父親這樣?為什麼普古變成現在這個樣子。

那個女孩在一個下著雨的黃昏哭泣,她的仲介粗魯地拉著她的手。有一輛車在等著她。Sri Pon會被帶到雅加達,父親已經賣掉她了。是的,賣掉她來養活他外遇的噹嘟樂歌手。那個下午Sri Pon很後悔為什麼要被生為一個女生。對她來說卡曼的生活是如此的好,卡曼可以上學,卡曼不用去臺灣,卡曼只需要結婚然後叫他的妻子去臺灣。世界公平嗎?Sri Pon現在的狀況公平嗎?

普古從Sri Pon離開的那天下午後,下了三天三夜的雨。卡曼在他滴水且沒有窗戶的房間裡躺著。他的身體有一半是濕的,蓋著破舊的布巾。他那時才十歲,因為他父親不常回來,他需要照顧自己。母親的身影他從未見過,因為帕里安在他嬰兒時就已經離開了,他只知道他姐姐貼在房間後方那張沒用相框裝起來的照片,裡頭的女人是他媽媽。

時間過得很緩慢。普古還是一個充滿男人的詭異之地。不要嚇到,如果你看到這些男人抱著高鼻子的嬰兒,或有著阿拉伯的面孔。如果你看到許多陌生的臉孔,不要嚇到。村長的妻子從香港回來時,頂著一頭紅色頭髮還懷有八個月的身孕,不久後生出了黑皮膚的兒子,聽說是孟加拉的小孩。這一切在普古好像是正常的,就像牛屎會掉在柏油路上,被陽光曬乾又被風吹走,下雨後不留痕跡。

***

那女孩包著頭巾,有禮貌地向在那位坐在輪椅上、頭往右歪的年長女士問好。那位奶奶的身體被多條圍巾包得跟一隻熊貓一樣大。臺灣正逢冬天的寒流,所有居民都穿雙倍衣服,並且用各種布料、圍巾包裹自己。

Sri Pon已經不再問問題了。當她的雙腳踏上雅加達破舊的土地時,已經把所有的問題埋起來了。她已經不再責怪不曾回來且失聯的母親。為何要為了這種父親回來!她也沒有任何一絲想回來的念頭。有時想到卡曼的時候,她會打電話給已經高中畢業的那唯一的弟弟。不用太擔心卡曼,反正他是男生。他不會被賣到國外去。壞運只落在女生身上。

Sri Pon的一生只受過一次詛咒,詛咒她在普古童話裡身為一個女人,必須成為家庭支柱的宿命。

臺灣,2020年5月17日


初選評審評語:

動人的故事,提了女人生活當中的不平等為議題。如同是命中註定,女人從母親開始到女兒都要成為家庭的經濟支柱,出國成為移民工。故事的架構還有情節建立的很堅固,使用好的文法,用詞的隱喻是強的,而且作者在串聯故事的精神是連貫且好的。在敘述在地化的場景有著作者的原創風格,把一個被唯物主義包覆著,名為普古的鄉村,從有衛星電視到炫耀房子。這篇短文敘述著普古的變化以及在裡頭的人們—從社會以及文化層面來觀看—當女人出國成為移民工,家庭角色由男人替代,例如帶小孩、煮飯、到一邊等待金錢的到來進行外遇。這個故事批評女權主義的議題,且或許這就是被逼迫成為女移民工背後的故事,就如Sri Pon以及或許有誤的童話。

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Cerita yang menggugah, mengangkat isu ketidakadilan pada kehidupan perempuan. Seolah menjadi takdirnya, para perempuan secara turun menurun dari ibu hingga anak harus menjadi tulang punggung keluarga dan berangkat menjadi Pekerja Migran. Struktur plot dan alur cerita yang dibangun sangat kuat, penulisan EYD baik, pilihan diksi menggunakan metafor yang kuat dan stamina penulis dalam mengaitkan berbagai peristiwa terjalin dengan runut dan baik. Ada orisinalitas dalam ungkapan bahasa yang menjelaskan lokalitas latar tempat yang dijelaskan dengan detail tentang perubahan sebuah kampung/desa bernama Puguh yang digerus oleh materialisme seperti adanya parabola hingga pamer rumah bagus. Cerpen ini menjelaskan perubahan Desa Puguh dan manusia di dalamnya— secara sosial dan budaya— setelah para perempuan berangkat merantau menjadi pekerja migran, peran domestik digantikan oleh laki-laki yang menggurus bayi, memasak hingga berselingkuh sembari menunggu uang kiriman. Cerita ini dengan kritis mengangkat isu feminisme yang mungkin begitulah kenyataanya bahwa takdir perempuan dipaksa menjadi pekerja migran, seperti Sri Pon dan Dongeng yang Mungkin Salah.