1672

🥉 優選 Choice Award

📜 1672
👤 Yuli Riswati

Apa yang terjadi padaku? Pada mulanya seperti sedang bersepeda menuruni lereng pegunungan sambil menikmati indahnya pemandangan alam. Roda sepedaku yang melaju cepat, mendadak menjadi berat, dan terhenti seketika. Membuatku kehilangan keseimbangan, terpelanting ke jurang, lalu hilang kesadaran. Ketika terjaga, aku sudah berada di dalam ruang berdinding batu yang tak terjangkau oleh sinar matahari juga waktu.

Tiba-tiba bukan hanya hubunganku dengan dunia luar yang terputus, ikatan namaku dengan diriku sendiri pun pupus. Tak pernah tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Eksistensiku sebagai seorang manusia dalam sekejap berubah menjadi deretan angka: satu enam tujuh dua.

“1672 Visit!”

Aku bangkit dari duduk, berdiri tegak di depan pintu, tanganku merentang serupa tangan Yesus yang disalibkan. Kemudian seorang perempuan berseragam yang tangannya berbalut sarung tangan plastik sibuk meraba-raba sekujur badan juga lipatan dan saku bajuku. Mencari-cari sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu apa itu.

“Jalan!”

Dengan tatapan tajam mengintimidasi, ia memintaku mengekor langkahnya. Melewati pintu, memasuki lift, turun ke lantai lain. Melewati pintu, menyusuri lorong sempit, berhenti, menunggu. Melewati pintu, menuruni tangga, berhenti, menyebutkan nomor identitas untuk dicatat petugas.

Setelah melewati total 4 pintu besi yang kesemuanya ketika dibuka dan ditutup memperdengarkan gemerincing kunci beradu gembok dan rantai, aku tiba di sebuah ruangan yang memiliki 4 bilik kecil berjendela kaca kedap suara.

“Duduk di sana!”

Aku duduk di kursi tunggu, merapatkan kaki sembari menyilangkan tangan di dada. Tanpa jaket tebal, udara musim dingin terasa menusuk tulang. Mataku nyalang mencari sesuatu yang tidak ada pada langit-langit beton. Lalu berpindah ke dinding tembok tanpa hiasan. Beralih ke salah satu bilik kecil yang sedang digunakan seorang tahanan.

Seorang lelaki jangkung berambut pirang terlihat berdiri di seberang, menempelkan wajahnya lekat-lekat ke kaca. Matanya berkedip, bibirnya mengerucut seolah sedang mencium perempuan di depannya. Perempuan berkaos ketat warna merah marun yang berdiri dalam posisi membelakangiku tak bisa kulihat ekspresi wajahnya. Tapi dari bahasa tubuh yang kusaksikan, bisa kupastikan keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Setelah si lelaki pergi, perempuan berambut sebahu itu mendudukkan badannya tepat di sebelahku. Aku menyapanya. Dari percakapan kecil kami, kuketahui ia migran asal Vietnam, sedangkan lelaki yang mengunjunginya berasal dari Perancis. Keduanya berjumpa dan jatuh cinta di Singapura. Karena tak ingin menjalin cinta berjarak, perempuan itu nekad menyusul lelakinya yang sedang ditugaskan perusahaan ke Hong Kong. Malangnya, ia tertangkap polisi saat perayaan pesta ulang tahun pacarnya di sebuah bar. Perempuan itu ketahuan datang sebagai wisatawan tapi tinggal melampaui batas 30 hari yang diizinkan. Cinta mereka yang awalnya tak ingin berjarak malah terhalang tembok tahanan.

“Sudah dua bulan lebih aku ditahan di tempat ini. Aku berharap bisa lekas bebas. Kekasihku berjanji akan menikahiku.”

Aku diam, membiarkan perempuan cantik itu menutup ceritanya dengan isakan. Aku tahu, sama sepertiku, untuk bertahan di tempat ini, ia lebih butuh kekuatan harapannya sendiri dibandingkan ucapan basa-basiku.

Giliranku tiba. Aku duduk berhadapan dengan Terenia. Dengan tangan kanan memegang gagang telepon dan tangan kiri terulur menempel di kaca, kami bertukar kabar dan berbagi energi atau apapun itu namanya. Sepanjang perjalanan pertemanan kami berdua, tak pernah terpikir sebelumnya kalau suatu ketika kami akan berada pada situasi rumit ini; berada di tempat dan waktu yang sama, tapi terpisah karena berada di dunia yang berbeda.

“Pokoknya semangat! Mbak, harus kuat.”

“Pastinya. Bukankah sebagian besar orang-orang hebat juga pernah merasakan menjadi tahanan seperti saya?”

Kami berdua tertawa. Menertawakan kesedihan adalah cara paling mudah bagi manusia untuk menghibur diri. Jatah temu 15 menit kami berlalu sekedipan mata. Setiap kali sesi kunjungan usai, rasanya aku serupa timba air di lubang sumur. Setelah diangkat ke atas, dilemparkan kembali ke kedalaman air tanpa ditarik ulur lagi. Leherku seperti tercekik. Sesak.

Dunia lain di mana aku terjebak ini adalah pusat penahanan imigrasi. Tempat untuk mengurung orang-orang yang sedang berada dalam kendali imigrasi sesudah terbukti melanggar hukum dan setelah menyelesaikan masa hukuman di penjara, sedang menunggu suaka atau pengajuan permohonan sebagai pengungsi. Sementara aku tidak termasuk di antaranya.

“1672, kamu dari penjara mana?”

“Aku tidak dari penjara manapun.”

“Lalu kenapa kamu di sini? Apa kasusmu?”

“Aku sedang menunggu mendapatkan visa baru untuk kembali bekerja di rumah majikanku.”

“Aneh! Kalau memang ada majikan dan kontrak kerja resmi, kenapa ditahan di sini?”

Bukan hanya sesama tahanan, beberapa pengawas pun penasaran, menanyakan dan berkomentar hal yang sama. Menganggap apa yang terjadi padaku hanya lelucon saja. Tapi begitulah faktanya, penahananku memang terkesan tidak sewajarnya.

Aku ditangkap petugas imigrasi di rumah majikan karena terlambat memperpanjang visa kerja selama beberapa minggu. Lalu dijadikan tahanan kota dengan jaminan sejumlah uang, diwajibkan lapor dua kali dalam seminggu di kantor polisi terdekat dan menjalani persidangan dua kali di pengadilan setempat. Hasil keputusan hakim menyatakan aku tidak dituntut, tidak dihukum ataupun didenda dan tidak memiliki catatan kriminal apapun. Aku hanya diperingatkan agar selalu berkelakuan baik dan tidak melakukan pelanggaran hukum untuk ke depannya. Keputusan yang terdengar menyenangkan dan baik-baik saja. Namun yang terjadi setelahnya malah sebaliknya, aku dibawa ke pusat penahanan imigrasi setelah semua permasalahan hukum dianggap selesai.

“Kamu harus menunggu visa di dalam tahanan karena kamu tidak memiliki keluarga dan teman yang bisa menampung dan menjamin kehidupanmu.”

Tentu saja aku berusaha menolak alasan yang terlalu mengada-ada. Alasan yang dipaksakan bahkan setelah aku menunjukkan surat pernyataan majikan yang siap menanggung selama penantian visa baru karena ingin tetap mempekerjakanku hingga kontrak kerja kami berakhir. Mereka seolah lupa kalau semua pekerja rumah tangga migran ketika datang ke negara penempatan memang tak memiliki keluarga atau teman, hanya berbekal dokumen kerja dan majikan sebagai jaminan.

Kasus lupa atau terlambat memperpanjang masa berlaku visa seperti yang kualami, banyak dialami oleh pekerja migran lainnya. Pada umumnya kasus selesai dengan penyelesaian administratif yang mudah: mengajukan permohonan perpanjangan visa dan membayar biayanya yang murah. Selesai. Tapi kemudahan itu ternyata tidak berlaku lagi untukku, sengaja dicari celah agar bisa menghukumku. Dan bahkan setelah lepas dari jeratan hukum, aku malah mengalami penahanan.

“Kalau tahu di tempat ini seburuk ini, aku mendingan tinggal di penjara saja.”

Pernyataan sesama tahanan yang telah mendekam di penjara selama 4 tahun mengagetkanku. Aku tidak pernah merasakan bagaimana hidup di penjara. Penderitaan di dalam tahanan kukira hanya kurasakan seorang. Tapi setelah mendengarkan pengakuan sesama tahanan yang baru menyelesaikan masa hukuman mereka di penjara, jadi percaya bahwa keadaan di penahanan imigrasi lebih buruk daripada penjara asli. Konon hal itu terjadi di mana-mana di berbagai negara.

Di penjara bukan hanya fasilitas dan pelayanan kesehatan serta akomodasi dan kebutuhan sehari-hari yang dipenuhi, perlakuan sipir kepada para napi juga lebih manusiawi. Sebab di tempat untuk menebus kesalahan sesuai hukum pidana itu masih bisa diakses dan diawasi banyak pihak yang peduli akan hak asasi manusia.

Sedangkan di pusat penahanan imigrasi yang tertutup rapat lebih menyerupai kamp konsentrasi nazi. Memang tak terjadi penyiksaan fisik, tapi sehari-hari para tahanan dibully dan disiksa secara psikologis. Akibatnya banyak yang mengalami kegelisahan, depresi berkepanjangan, kehilangan rasa percaya diri dan terjangkit bermacam penyakit karena imun tubuh yang semakin menurun. Bahkan pada puncak penderitaannya, beberapa orang sampai mencoba bunuh diri.

Ketika berada di penjara, setidaknya orang-orang akan bisa menghitung hari kepulangan. Dalam penahanan imigrasi tidak ada yang tahu pasti kapan kira-kira seseorang akan dibebaskan dan apa yang akan terjadi padanya esok hari. Jangankan apa yang akan terjadi besok, yang akan terjadi sebentar lagi pun tak bisa ditebak.

Aku sendiri, sejak menjadi manusia angka, pada setiap detik yang kurasakan, yang menimpali detak jantung dalam melanjutkan tarikan napasku adalah ketidaktahuan, kegamangan, dan kesendirian.

Di ruang berjeruji tempat para tahanan duduk berderet saling berhadapan di kursi panjang pada siang hari, ada sebuah televisi. Televisi itu dinyalakan tanpa suara. Tak ada berita. Chanel yang dipilih pun khusus menayangkan iklan dan acara jalan-jalan, kuliner serta gelar wicara artis. Itu pun nampak seperti gambar bergerak-gerak saja.

“1672, kamu dilarang meminta kiriman koran dari luar. Jika ingin membaca berita, kamu boleh meminjam koran yang tersedia.”

Pekerja sosial yang semestinya bertugas mendampingi dan menjadi konselor masalah yang dihadapi para tahanan menolak permintaan tertulisku. Mereka tak pernah terlihat ramah atau menunjukkan iktikad baik sesuai peran keberadaannya untuk membantu meringankan penderitaan kami. Sama dengan para penjaga yang bertugas mengawasi ruangan, mereka lebih nampak sebagai ancaman dibanding sebagai teman.

Ada satu koran berbahasa Inggris yang tersedia setiap hari. Koran itu boleh dipinjam dan dibaca tahanan secara bergantian. Itu pun setelah diperiksa dan beberapa lembar halamannya disobek pengawas ruangan. Tak mengapa, paling tidak aku masih bisa mendapatkan sedikit informasi tentang apa yang terjadi di luar sana. Berita utama; golongan pro demokrasi memenangkan suara pemilihan umum tingkat distrik, gerakan anti ekstradisi masih terus berlangsung, bentrokan antar demontran dan polisi pun masih terjadi di mana-mana.

Aku membaca berita sambil merenungi apa yang tengah kualami. Teringat kegiatanku di hari libur: memotret, merekam dan memberitakan seputar gerakan demontrasi. Bukan hanya hatiku yang jatuh berempati kepada para demontran muda yang teraniaya polisi, tapi diriku juga terjebak dalam lubang konspirasi. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, baik pengacara pun teman-temanku percaya aku berada dalam penahanan imigrasi sehubungan hal itu.

Kebebasan berpendapat dan berbicara banyak disebut-sebut sebagai hak asasi manusia di dunia. Tapi faktanya kebebasan itu tak merata, pihak yang berkuasa dengan berbagai cara selalu berusaha membungkam suara-suara yang dianggap bisa merugikan mereka. Terutama siara-suara orang pinggiran sepertiku.

Aku bertanya berulang kali kepada diriku sendiri: apakah aku menyesali apa yang telah terjadi padaku? Jika diam dan tidur saja atau hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tetap ada risikonya, tentunya kegiatanku juga. Aku tidak menyesal! Apa yang kulakukan adalah pilihanku, apa yang kualami adalah risiko dari apa yang telah kupilih sebagai manusia dewasa yang merdeka.

“1672 Meet Officer!”

Aku mengembalikan koran yang kubaca untuk mengambil kartu identitasku yang di dalamnya tertera angka sebai nama panggilanku. Setelah mengajukan surat permintaan 4 kali, akhirnya aku ditanggapi dan diberi kesempatan bertemu dengan petugas yang menangani berkasku. Aku menanyakan kelangsungan proses visaku dan mesti berapa lama lagi harus mendekam di tempat yang membuatku terjangkit flue dan sakit perut. Jawabnya aku diminta ‘menunggu’. Sebab petugas yang menemuiku mengaku tak memiliki kewenangan untuk menjawab dan menentukan.

“Tolong beri aku kepastian. Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini,” pintaku kepada petugas.

Malam-malamku terasa lebih panjang dari biasanya. Di kesunyian, suara kipas angin yang berputar terdengar mencekam. Belum lagi ditambah suara dengkur tahanan lainnya yang ditimpali suara sepatu bot penjaga yang berkeliling tiap satu jam sekali.

Tok…tok…tok… Mendekati sel. Berhenti. Menghitung jumlah tahanan yang meringkuk di deretan ranjang besi. Petugas berseragam lengkap itu seakan-akan khawatir kalau sewaktu-waktu para tahanan yang sudah menjadi deretan angka bisa berubah menjadi partikel dan meloloskan diri dari lubang angin. Jika benar bisa begitu, pasti akulah orang pertama yang akan melakukannya.

Di sebelah kiri ranjangku, tidur 774512 yang baru menyelesaikan hukuman 3 bulan penjara karena kasus pencurian uang. Katanya, ketika ia sedang membersihkan rumah, ada selembar uang seratus dolar di atas meja kerja. Karena ingin mengelap sampai bersih, barang-barang dan selembar uang itu disisihkannya sebelum kemudian dikembalikan ke tempat semula.

Namun beberapa saat kemudian polisi datang dan menangkapnya atas laporan majikan melalui telepon. Sidik jari pada selembar uang yang tidak hilang itu pun menjadi bukti kejahatan yang tak pernah dilakukannya. Menurut 774512, motif majikan menjebloskannya ke bui karena tak ingin membayar uang bonus yang ditanyakannya. Jumlah uang bonus itu seharusnya hitungannya sebesar gaji per bulan, dibagi dua per tiga, dikali 8 tahun lama ia bekerja. Benar-benar pahit nasibnya.

Sementara di sebelah kanan ranjangku, tidur 31875 yang memiliki kasus unik. Ia divonis hukuman penjara 3 bulan 2 minggu karena membeli dua nasi bungkus di Victoria Park. Menurut ceritanya, L31875 membeli makan siang dari sesama pekerja migran yang berjualan di tepi jalan. Sebelum sempat menyantap makanannya ia ditangkap petugas imigrasi dengan tuduhan telah berjualan secara ilegal. Ia menolak tuduhan. Malangnya, teman karibnya yang pada saat kejadian ada bersamanya menolak memberi kesaksian bahwa dua bungkus nasi yang dijadikan bukti tuntutan itu benar-benar dibelinya untuk mereka nikmati berdua. 31875 mengaku kecewa karena diperlakukan tidak adil oleh pihak berwenang tapi kekecewaan yang dirasakannya tidak lebih sakit dari sakit hatinya karena dikhianati seorang teman. Menyedihkan.

Aku gelisah. Kutelentangkan kembali tubuhku di balik selimut, lurus seperti ikan sarden dalam kaleng. Pikiran mengembara tapi tidak berjumpa siapa-siapa. Aku ingin tidur. Tapi mataku masih liar. Aku teringat perdebatan beberapa jam dengan petugas yang menangani berkasku.

“1672, jika kamu tidak tahan lagi tinggal di dalam penahananan kami dan lekas ingin kembali ke Indonesia, silakan mencabut aplikasi visa barumu dan menulis pernyataan di sini,” petugas menyodorkan selembar kertas kosong.

Awalnya aku menolak, tapi akhirnya memutuskan menulis pernyataan sesuai apa yang kurasa dan kupikirkan. Bahwa aku mencabut aplikasi visa baru bukan karena tidak mau menunggu, tapi karena tidak tahan tersiksa di dalam penahananan. Aku ingin pulang ke Indonesia bukan karena tidak niat bekerja kembali, tapi karena pihak Imigrasi tidak mengijinkanku menunggu visa di rumah majikan.

Pernyataanku dibaca petugas. Ditolak. Petugas menyodorkan kertas kosong baru. Aku merevisi pernyataanku. Petugas membaca dan menolak sekaligus membujukku agar menulis pernyataan seperti yang mereka inginkan. Aku menolak didekte. Pada akhirnya aku menulis singkat: aku mencaabut permohonan visa baru karena aku ingin pulang ke Indonesia.

Setelah menyerahkan surat pernyataan itu, aku tak tahu kapan jadwal kepulanganku. Aku juga tidak percaya kepada janji petugas yang akan mengabariku agar aku bisa mempersiapkan kepulanganku. Lagian apa yang mesti dipersiapkan untuk meninggalkan tempat jahanam ini? Semua tahanan sudah pasti selalu siap segera keluar dari dalam kurungan.

Tapi jika ada tahanan yang mengaku tidak siap keluar dari tempat penahanan ini, adalah 117521. Seorang perempuan paruh baya yang telah menghabiskan waktunya selama 12 tahun di dalam penjara. Menurut kisahnya, 117521 tertangkap basah di bandara Hong Kong sebagai kurir 3 kilogram obat-obatan terlarang. Belasan tahun terkurung membuatnya gamang. Ia tak ingin kembali ke tanah airnya karena khawatir sesampainya Filipina akan ditangkap dan dipenjarakan lagi karena pemerintahnya sedang gencar-gencarnya memerangi kasus narkoba. Sementara jika mengambil status pengungsi untuk tinggal di Hong Kong, ia juga cemas karena merasa tidak tahu apa-apa dan bagaimana menjalani kehidupan di kota yang terkenal sebagai salah satu kota dengan biaya hidup yang tinggi.

“Hidup di luar sana butuh biaya. Sedangkan kamu tahu, celana dalam saja aku tak punya kalau tidak mendapatkan jatah dari penjara dan tempat penahanan ini.”

Aku menahan tawa mendengar pengakuan jujur 117521. Bisa kupahami bagaimana perasaan dan kegamangannya saat ini. Tapi kukatakan padanya agar tidak takut mencoba. Setidaknya hidup penuh tantangan di luar sana masih lebih baik daripada hidup dalam tekanan di tempat ini. Mendengar omonganku, 117521 berjanji untuk mempertimbangkan pengajuan permohonan suaka. Dan setelah ada kepastian bagaimana nantinya jika pulang ke negara asalnya, maka ia akan pulang untuk menemui anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa, menikah dan melahirkan cucu untuknya tanpa kehadirannya di sisinya.

Kembali terdengar gemerincing suara gembok dan terali beradu dengan kunci. Suara pintu berkeriut. Langkah sepatu menyentak lantai. Lampu sel menyala. Aku menarik napas lega. Sudah pagi rupanya.

“1672 Go!”

Sesama tahanan dalam sel berteriak mengucapkan selamat atas kebebasanku. Aku turun dari ranjang. Melipat selimut, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dengan air dingin di musim dingin. Tepat seperti dugaanku. Kebebasan itu diumumkan tiba-tiba. Tapi meski begitu aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Setelah 28 hari tersiksa, akhirnya aku merdeka!

Setelah melewati berbagai pemeriksaan badan dan barang, aku diminta menunggu untuk diberangkatkan ke bandara. Aku duduk tercenung di dalam sel, menepuk-nepuk pipiku sendiri. Sungguh ini bukan mimpi. Sebentar lagi aku akan mendapatkan eksistensiku kembali, menjadi manusia yang memiliki nama.

Jakarta, Mei 2020


📜 1672
👤 Yuli Riswati

我到底怎麼了?剛開始好像騎著腳踏車下坡,一邊享受大自然的美。腳踏車輪胎轉得極快,突然變重,然後瞬間停止。讓我失去了平衡,掉入斷崖,失去意識。醒來時,我已經在一個被石牆包圍的空間,無法被時間或陽光觸碰。

突然我不僅失去了跟外界的連結,也失去了與自己姓名的關聯。從來沒有被描述,也沒有被好奇的文明本能捕捉。我身為人類的存在一瞬間變成一排數字:1-6-7-2。

「1672會客!」

我從坐姿起身,站立於門前,雙手撐開,就如被釘在十字架上的耶穌。然後有一位雙手戴著塑膠手套穿著制服的女人摸遍我整個身體、衣服的摺痕還有口袋。尋找我自己都不知道是什麼的東西。

「走!」

尖銳又恐嚇的眼神,她要我跟隨她的腳步。經過門,進入電梯,往其他樓層下去。經過門,穿過狹窄的通道,停下來,等待。經過門,下樓梯,停下來,說出識別號碼讓人員記下。

總共過了4道鐵門,每道門打開時都發出門鎖與鐵鍊互相撞擊的聲音,我到了一個有著四扇隔音玻璃牆的小房間。

「坐在那裡!」

我坐在等待座椅,邊合併雙腿邊把兩手交叉在胸前。沒有厚外套,冬天的空氣感覺刺骨。我的眼神空蕩,尋找著在水泥天花板上沒有的事物。轉至沒有裝飾的牆壁。然後轉到一個受刑者正在使用的小空間。

一位高大金髮的男人在對面站著,臉部緊緊貼著面前的玻璃。他眨著眼睛,嘟著嘴唇,如同正在親吻面前的女人。女人背對著我,穿著緊身酒紅色的上衣,我看不見他的表情。但是從他肢體語言來看,我能確認兩人是相戀中的情侶。

男人離開過後,那位長髮披肩的女人坐在我隔壁。我跟她打招呼。從我們的小對談,我知道她是越南移民,而來探望她的男人是從法國來的。這兩個人在新加坡相遇相戀。因為不想談遠距離愛情,那女人不顧一切跟著她被外派在香港的男人。不幸的是,她男朋友在一家酒吧舉辦慶生派對時,她被警察逮捕了。她被發現以觀光客的身分來訪,卻居住超過被允許的30天。他們不願遷就距離的愛情,現在卻被羈留中心的牆壁給隔離了。

「我已經在這裡兩個月多了。我希望可以趕快被釋放。我的男友答應要娶我。」

我沉默,讓那位女人用她的哭泣作為故事的結尾。我知道,就像我一樣,要在這個地方生存,比起我敷衍的話語,她更需要自己希望的能量。

輪到我了。我坐在Terenia對面。右手拿著電話筒而左手貼著玻璃,我們互相交換了彼此近況,分享著能量或什麼都好。我們兩個的友之路中,從來沒有想過有天我們會處於這種複雜的狀況;在同樣的地方以及時間,卻被分隔在不同的世界裡。

「總之要加油!姐,要堅強。」

「當然。大多數的偉人不都跟我一樣坐過牢?」

我們兩個人笑了。取笑悲傷是人類最容易自我安慰的方法。我們相會的15分鐘眨眼間就過了。每次會面結束,我覺得自己好像井裡的水桶。被拉上來後,又被丟到深處,不再被拉上來。脖子好像被掐著一般,快窒息。

我被困住的另一個世界是入境事務處的羈留中心。在這裡,監禁著已經被證實觸犯法律,還有剛在監獄完成服刑的人們,以及正在等待庇護或是提出難民申請的人。但我不屬其中任何一類。

「1672,妳從哪個監獄來的?」

「我不是從任何監獄來的。」

「那妳為什麼在這裡?妳的案子是什麼?」

「我正在等回去雇主家工作的新居留許可。」

「奇怪!如果妳有雇主和正式合約,為什麼會被關在這裡?」

不只是受刑者,幾個人員也很好奇地詢問,並做出同樣反應。認為發生在我身上的只是一場玩笑。但這就是事實,我被拘留的確不太正常。

我在雇主家被入境事務處官員逮捕,原因是因為晚了幾個禮拜延長工作簽證。付了保證金並被限制住居,我被規定每週至最近的警察局報到兩次,還得到法院出庭兩次。法官判定我不被起訴,沒有刑責也沒有罰款,而且不會留下任何犯罪記錄。我只被提醒,未來得表現良好且避免犯法。判決聽起來明朗且沒有什麼問題。但是之後發生的事卻是相反的,在所有法律問題被解決後,我被抓進入境事務處羈留中心。

「妳必須在羈留中心等妳的簽證,因為妳沒有可以收留、擔保妳生活的親友。」

我當然不會接受這種捏造的理由。這是很被迫的理由因為,即便我已經出示了雇主的聲明書,內容是在等待新簽證期間,願意收留我且有意雇用我到合約結束為止。他們好像忘了所有家庭幫傭來到了被派的國家是沒有家人或朋友的,只帶著文件還有擔保的雇主。

像我這樣忘了或太晚延簽的案件,很常發生在其他的移工身上。一般而言,這種案件透過簡單的手續就能夠解決:提出延長簽證申請,支付便宜的費用。完成。但是這種便利不適用於我,故意鑽漏洞罰我。擺脫了法網後,我卻被拘留了。

「如果我知道這麼糟,我寧可待在監獄裡。」

已經在監獄待了四年的被拘留人的話嚇到我。我從來沒有經歷過監獄裡的生活。在羈留中心的難受,我以為只有個人感受而已。但是聽了剛服刑完畢的受刑的話,我便相信羈留中心的狀況比真正的監獄還要糟。聽說這在許多國家都是如此。

在監獄不只是設施、健康服務、住宿、還有日常所需都能被滿足,監所人員對於受刑者也比較人道。因為在這個因應刑法矯正過錯的地方,能夠被關懷人權的人接觸與監督。

而在緊閉的入境事務處羈留中心有如納粹集中營。雖然沒有肉體的折磨,但是受刑者每天備受霸凌與心理折磨。後果是許多人焦慮、長期憂鬱、失去自信、因為抵抗力下降而患病。在痛苦的極限,有些人甚至試圖輕生。

在監獄裡,至少人們都可以倒數回家的日子。在羈留中心沒有人知道什麼時候可以出去,也不知道明天會發生什麼事。不只是未知的明天,待會兒會怎樣,也沒有人可以預期。

我,自從變了數字人,我經歷的、延續呼吸之心跳的每一秒鐘皆是無知、茫然、還有孤單。

在鐵欄後,受刑者白天坐的長椅對面,有一台電視。電視靜音地開著。沒有新聞節目,只有廣告、旅遊、美食、以及明星談話節目。畫面就像會動的圖案罷了。

「1672,妳不能要求從外面送報紙進來。如果想看報紙,妳可以借這裡有的報紙。」

原本應該要陪伴、作為受刑者諮詢窗口的社工,拒絕了我的書面請求。他們看起來從未友善,也沒有扮演好他們的角色,幫助我們減輕困難。他們就像負責監控的人員,說是朋友,看起來更像威脅。

有一份每天供應的英文報紙,雖然可以讓受刑者輪流看,那也是被檢查過,一些內容還被剪掉。不過沒關係,至少我還可以知道一些外面發生了什麼事。頭條新聞:民主派獲得區域選舉的勝利,反送中運動持續進行,示威者與警察間的衝突仍在四處發生。

我一邊讀著新聞,一邊回想我所經歷的事。想到我放假時做過的事:攝影、錄影、報導示威運動。我不只是同情被警察折磨的年輕示威者,而我自己也被困在陰謀的窟窿中。雖然沒有被明白地講出來,但律師還有我身邊的朋友都相信,我會進到這裡跟這件事情脫不了關係。

言論自由在世界上被稱為人權。但是事實上,這種自由並不平等,掌握權力的人使盡全力消弭反對的聲音,尤其是像我這種邊緣人的意見。

我多次反問我自己:我是否後悔發生在我身上的事? 如果沉默、睡覺、或花時間玩樂都有風險,那我做的事當然也是。我不後悔!我做什麼,都是我的選擇,我經歷的,是身為一個自由的成人,因為選擇所帶來的風險。

「1672,見官員!」

為了拿回我的識別證,我歸還了正在閱讀的報紙,識別證上頭的粗體數字是我的名字。提出四次要求後,我終於得到跟處理我案件的官員見面的機會。我詢問我的簽證狀況,還有我到底還得待在這個讓我感冒、肚子痛的地方多久。回應是,我被要求「等待」。因為跟我會面的官員聲明,他既沒有權利回答,也無權做決定。

「請給我一個確定的答案。我已經無法忍受繼續待在這種地方了。」我向官員請求。

夜晚感覺比平常來得長。寧靜中,旋轉的風扇,聲音聽起來壓迫。另外還加上受刑者的打呼聲,與監所人員每小時巡邏時,穿著靴子的腳步聲。

咚…咚…咚…接近牢房。停止。算著一排畏縮在鐵床上的受刑者們。這些穿制服的人員好像害怕著,這些已經變成一列數字的受刑者會化為微粒,然後從通風口溜走。如果真能這樣,我絕對是第一個這麼做的人。

在我床鋪左邊,774512因為偷錢,剛坐完三個月的牢。他說,他在清潔房間的時候,桌上有一張百元大鈔。因為要把桌面清乾淨,他把所有的東西及那張紙鈔都移到一邊,打算清潔後歸位。

但過了不久,警察來了並逮捕他,說是雇主打電話報警。在那張沒有消失的紙鈔上的指紋,變成了他從未犯的罪證。對774512來說,雇主因為不想支付他詢問過的年終獎金而把他送進監獄。那年終的算法是,月薪的三分之二,他工作了八年,所以再乘以八。他的命可真苦。

而我床鋪右邊,躺著擁有特案件的31875。他被判3個月又2個禮拜,只因為在維多莉亞公園買了兩份飯包。按照他的說法,31875從同為移工、在路邊叫賣的人那裡買了午餐。但他還沒開始享受他的食物,便被入境事務處警察逮捕,指控他非法販售。他反對警察的指控。但不幸的是,當時在現場跟他同行的朋友,拒絕替他作證,說這兩包飯是他買來給兩人一起享用的。31875說遭受有權人士的不平等對待,固然令人失望,但是遠比不上被朋友背叛的痛苦。實在悲哀。

我感到焦躁。我平躺在被子下,像罐頭裡的沙丁魚一樣。思緒游移卻誰也沒有想到。我想睡覺,但我的雙眼還在遊蕩。我想起幾個小時前,我和處理我案子的官員的爭執。

「1672,如果妳在我們的羈留中心已經待不下去了,想趕快回印尼,那就取消妳的簽證申請,然後在這裡填寫聲明。」官員將一張空白紙遞給我。

剛開始我拒絕,但後來決定按照我的感受與想法寫這份聲明。我取消我的簽證申請不是因為不想等待,而是受不了在羈留中心被折磨。我想回印尼並不是因為不想回去工作,而是因為入境事務處不讓我在雇主家等待簽證。

官員閱讀了我的聲明。被退回了。官員遞給我新的白紙。我修改了我的聲明。官員閱讀後又試圖說服我寫下他們要的。我拒絕聽他們的話寫,最後只簡短地寫:我取消我的簽證申請,因為我想回印尼。

交出這份聲明,我仍不知道回家的時程。我也不相信官員承諾的,說會先告知好讓我能做準備。離開這個鬼地方是需要準備什麼?所有受刑者肯定早就準備好脫離牢籠了。

如果說有人還沒準備好離開,那就是117521了。一位已經在監獄裡待了12年的中年女性。117521的故事是,她在香港機場因攜運3公斤的禁藥被逮捕。十幾年的牢獄生活讓她茫然。她不想回家,因為怕一到菲律賓她會被捕被關,因為她的政府正如火如荼地對抗毒品。如果拿到難民身分留在香港,她也因為覺得自己一無所知、也不知道如何在這個以高消費水平為名的城市生存而感到擔心。

「在外頭生活需要錢。而妳也知道,要不是監獄跟這羈留中心的配給,我可是連內褲都沒有。」

聽了117521的誠實敘述,我壓抑我的笑。我可以理解她的感受還有茫然。但我跟她說不要害怕嘗試。至少在外頭充滿挑戰的生活,比起這裡面的壓力好多了。聽了我的話,117521答應會考慮提出難民申請。如果確定要返國,她也要回去見她已經成年、結婚、生子的孩子們,即便她一直是缺席的。

又聽到鎖頭、鐵欄跟鑰匙碰撞的聲音。門打開的聲音。鞋子踏在地板上的腳步聲。牢房的燈開了。我吸了口氣。早晨已到來。

「1672 走!」

同房的受刑者歡呼,祝賀著我的自由。我下床。折了被子,然後去廁所用冬天的冷水洗臉。就如我所料。那自由突然被宣告了,我感受到極大的放鬆。28天的折磨後,我終於自由了!

經過各種身體與物品的檢查,我等待被送到機場。我若有所思地坐在牢房裡,拍打自己的臉頰。這真的不是夢。再過一會兒,我將重新取回自己的存在,成為一位有名字的人類。

雅加達,2020年5月


Yuli Riswati from Indonesia was a migrant domestic worker in Hong Kong, until she was detained at the Castle Peak Bay Immigration Detention Centre (CIC) for forgetting to renew her working visa, even though she was still on her two-year contract. It was believed to be a political suppression and a penalty for her high-profiled civil journalism during the anti-extradition protests in 2019. Yuli was detained at CIC for a month. She is now safely back home in Indonesia. – Editor’s note

Original text in Bahasa Indonesia. Translation into English by Celia Mather, Jenny Ng and SR

***

What was happening to me? At first, I felt as if I was biking downhill, appreciating the beauty of nature around me. The bike’s wheels, spinning at the double, suddenly became heavy and ground to a halt. I lost my balance, fell into a ravine, and lost my consciousness. I woke up in a room, surrounded by stone walls, unreachable by sunlight or time. 

Without warning, not only had I lost connection to the outside world, but I also to my own name. It was beyond description, never before described nor captured by the instincts of civilisation that give life to reason. My existence as a human being had been transformed into a set of numbers, one six seven two.

 “1672 Visit!”

I got up from my seat, stood in front of the door, and spread out my hands like Jesus on the cross. Then a uniformed woman with plastic gloves on searched all over my body, as well as in every fold and pocket of my clothing. She was looking for something I did not even know existed.

“Move!”

Her sharp, intimidating glare ordered me to follow her. Through a gate, into a lift, down to another floor. Through a gate, down a narrow passage, stop, wait. Through a gate, down the stairs, stop, give my identification number for the officer to jot down.

After passing through four iron gates, whose padlocks and chains would make heavy clangs and clashes each time they were opened and closed again, I finally arrived in a room with four small cabins with sound-proof glass walls.

“Sit there!”

I sat on a waiting chair, closing my legs and crossing my arms on my chest. With no thick jacket on, the freezing winter air pierced me to the bones. My eyes searched the ceiling for something that wasn’t there. My gaze turned to the empty stone walls. Then to a cabin, occupied by another inmate.

A tall blond man could be seen standing outside the cabin, his face pressed tightly against the glass wall. He was blinking, his lips pursed as if he was kissing the woman in front of him. The woman wore a fitted burgundy-coloured top and had her back to me. I couldn’t see the expression on her face. But from the body language, I was sure the two of them were in love.

After the man left, the woman, with shoulder-length hair, sat next to me. I greeted her and, from our short chat, learned that she was a migrant from Vietnam and the man who had visited her came from France. They had met and fallen in love in Singapore. Because they didn’t want a long-distance relationship, the woman followed her man when his company sent him to Hong Kong. Unfortunately, the police arrested her during a birthday party for her boyfriend at a bar. They found out that she had come as a tourist but had overstayed her 30-day permit. Their love, which from the beginning had desired to defy distance, was now separated by the walls of a detention centre.

“It is already two months that I have been held here. I hope I will be released soon. My boyfriend promised to marry me.”

I fell silent, letting that beautiful woman end her story with her own sobbing. I knew that, just like me, in order to survive this place she needed the strength of her own hope, and not meaningless words from me.

Now it was my turn. I sat opposite Terenia. With my right hand holding the telephone, and my left stuck to the glass, we swopped news and energy or whatever it is called. All along the path of our friendship, never had we thought we would, at some point, be in such a complex situation – inhabiting the same space and time, but a world apart.

 “Anyways, you must hold on! Be strong, Sis!”

 “I will. Haven’t most great people been detained, just like me?”

We both laughed. Laughing at our sorrows is the easiest way for us human beings to comfort ourselves. Our 15-minute meeting was over in the blink of an eye. Every time one of these visits ended, I felt like a bucket in a well. A bucket that was pulled up to the surface, and thrown back down into the deep again. It was as if my throat was being choked. I could not breathe.

This other world I was trapped in was an immigration detention centre. This is where they detain those who are subject to immigration control after they have committed a crime and have finished their prison sentence, and those who are seeking asylum or waiting for their refugee status to be approved. I belonged to none of those groups.

 “1672, You came from which prison?”

 “I wasn’t in any prison.”

 “Then why are you here? What’s your case about?”

 “I’m waiting for my visa to be renewed so that I can go back to the home of my employer.”

 “That’s strange! If you have an employer with a proper employment contract, then why are you here?”

The same questions and answers came not only from fellow detainees but also a few embittered officers. They all thought that what had happened to me was a terrible joke. But this is what it was like, the circumstances of my detention seemed abnormal.

I had been arrested by a couple of immigration officers at my employer’s home because I was late in renewing my work permit by a few weeks. I was then made a prisoner on bail, obliged to report to the nearest police station twice a week and to attend two court hearings. The judge ruled that I would not be charged, and there would be no punishment or fine, and no criminal record at all. The only thing I was given was a reminder to mind my behaviour and not violate any laws in the future. The ruling sounded positive and unproblematic, which was in sharp contrast to what followed. What happened then, after all the legal issues were thought to have been resolved, was that I was taken to the immigration detention centre.

“You must wait for your visa at the detention centre because you don’t have any family or friends who can take you in and act as your sponsor.”

Of course I refused such a preposterous argument. I had already shown them my employer’s letter explaining she is ready to take me in while I was waiting for my new visa, because she wanted to carry on employing me until the end of my contract. The officers seemed to have forgotten that all migrant domestic workers, when they get to their countries of employment, don’t have friends and family. All they have are their work documents and employers who are sponsoring them.

Cases like mine, where someone forgets or is late in renewing a visa, are common among migrant workers. Usually, they are resolved with a simple administrative procedure: apply for visa renewal and pay a small fee. Done. But it became clear that such simplicity didn’t apply in my case. They were deliberately trying to find errors so as to target me. Even though I had got rid of the legal snares, I was still detained.

 “If I had known this place would be as bad as this, I’d rather have stayed in prison.”

What that detainee, who had already spent four years in jail, said startled me. I had never known what life in jail would be like. I thought the difficulties I was facing in detention were merely personal feelings. But, after listening to others who had just finished prison sentences, I became convinced that being in a detention centre was worse than a prison. I have heard that this happens all over, in many other countries.

Prisons are equipped with better facilities, health services, and accommodation. Basic daily necessities are met. Prison guards are more humane towards prisoners. This is because, in a place set up for rehabilitation according to law, they can be visited and observed by people who care about human rights.

Meanwhile, behind the locked gates of an immigration detention centre, it almost resembles a concentration camp. There is no physical torture, but the detainees suffer daily bullying and psychological torture. As a result, many experience anxiety and long-term depression, and they suffer from a lack of self-confidence and sickness because their immune system is damaged. What is more, as they reach the limit of their suffering, some even try to kill themselves.

In prison, prisoners can in any case count down the days to their release. In an immigration detention centre, no-one has any idea when they will be freed, and what will happen to them the day after. Not merely tomorrow, they can’t even guess what will happen in just few moments’ time.

As for me, ever since being reduced to a set of numbers, every moment I experienced, every heartbeat I had, every breath I took, was filled with uncertainty, emptiness, and loneliness.

In another room behind bars, there was a place for detainees to sit during the afternoon, in rows on long benches, with a TV in front. The TV was on but without any sound. There were no news reports. The chosen channels specifically showed adverts, travel, cookery, and talk shows. They were no more than moving pictures.

 “1672, you are not allowed to ask for newspapers to be sent in from outside. If you want to read the news, you can borrow the papers we already have in here.”

Social workers who were supposed to accompany and provide counseling for the detainees turned down my written requests. They never seemed friendly, and nor did they carry out their duty to help us lighten our woes. Just like the guards who were supervising the rooms, they were more like threats than friends.

There was a daily newspaper in English which the detainees could take turns to borrow and read. Even that was checked and some pages were torn out by the prison officers. But that was all right, at least I could still get a bit of information about what was happening in the outside world. Headlines: a pro-democratic group won in the general election at district level, an anti-extradition movement was still on-going, conflicts between protesters and police were still happening all over the place.

While reading the news, I pondered on what I had gone through. I thought of all the things I had done on my days off: photographing, recording and reporting about the protest movement. Not only did my heart feel for the young protesters who were being persecuted by the police, but I was also being trapped into a deep hole of conspiracy. No-one has said it explicitly, but from my lawyers to my friends, all believe that my immigration detention was linked to this.

Freedom of speech is held to be a universal human right. But in reality, this freedom is asymmetrical. Those who wield power do their best to eliminate dissident voices, especially the voices of the marginalised like me.

Many times I asked myself: do I regret what happened to me? When staying silent and sleeping, or just passing time by having fun, all entail risks, then certainly what I did was risky. I have no regrets! What I did was my own choice; what I experienced were the risks that come from the choices of a free adult.

 “1672, Meet Officer!”

To retrieve my identity card, on which the number in bold was my name, I had to return the newspaper I had been reading. After submitting four written requests, I had got a response and was finally able to meet with the officer responsible for my case. I asked how my visa process was going, and how long did I need to stay in this place where flu and stomach sickness spread. His answer was, I needed to “wait”. Because this officer who met with me claimed he had no authority either to answer or to make decisions.

“Please give me a definite answer. I can’t bear to stay in this place any longer”, I pleaded with the officer.

It felt as though the night had dragged on longer than usual. Amidst the quiet, the sound of the fan whirring above became a creeping menace, an interlude to the heavy footfall of patrols echoing around the corridors at every hour. Occasionally, a cry of pain from a detainee under duress would pierce through the oppressive silence.

Dop… dop… dop… Approach the cell. Stop. Count the number of detainees curled up on the row of iron beds. It was as if an officer in full uniform was worried that detainees, who had already become just a series of numbers, might disintegrate into particles and slip away through the air vent. If we actually had such powers, I would surely be the first one to take that route.

To the left of my bed, slept 774512 who had just completed a three-month prison sentence for theft. She said she had found a hundred-dollar bill on top of a desk when cleaning a room. Because she wanted to wipe the surface properly, she had moved everything on the desk away, including the money, and put them back when she was finished.

But soon the police arrived to arrest her. They told her that it was her boss who had turned her in. The fingerprints she had left on this single bill, a hundred dollars that never actually disappeared into her pockets, were evidence of her guilt for a crime she never committed. According to 774512, the motive for her boss to have her thrown out was because she didn’t want to do anything about the bonus 774512 had enquired about. The bonus was supposed to be two-thirds of her monthly salary, multiplied by the eight years she had been on the job. She had certainly suffered a bad fate.

Meanwhile, to the right of my bed slept 31875 who had a unique case. She had been sentenced to 3 months and 2 weeks for buying two lunch boxes at Victoria Park. According to her story, 31875 was buying the lunch from a street vendor and fellow migrant. Before even getting a chance to enjoy the food, she was arrested by immigration police, who accused her of illegal vending. She rejected the accusation. Unfortunately, her close friend who was also at the scene refused to vouch that the two boxes that had become evidence were truly bought for the both of them to enjoy. 31875 was disappointed that she was unfairly treated by people with more power than her, but nothing could compare to the pain of a friend’s betrayal. It made her very sad.

I felt nervous. I lay flat under the covers like a sardine packed tightly in a can. My thoughts wandered but they found no-one. I wanted to sleep. But my eyes wouldn’t close. I was remembering the hours-long argument I had had with the officer handling my case.

 “1672, if you can’t bear to stay in our detention centre and want to return to Indonesia as soon as possible, feel free to cancel your application for visa renewal and write a statement here”, as he handed me a blank sheet of paper.

At first I refused, but later I decided to write a statement that truly reflected what I was feeling and thinking. That I had cancelled my visa application was not because I was unwilling to wait but because I couldn’t endure being tortured in detention. I wanted to return to Indonesia not because I didn’t intend to go back to work but because of the Immigration Department’s refusal to let me wait for the visa renewal at my employer’s home.

My statement was read by the officer. Rejected. He pushed a new sheet of blank paper towards me. I amended my statement. The officer read it and immediately rejected it, trying to persuade me to write a statement along the lines that they wanted. I refused to be dictated to. In the end, I wrote briefly: I wish to cancel my visa application because I want to return to Indonesia.

After handing over that statement I had no idea when my return might be scheduled. I also didn’t believe the promises the officer made that they would give me advance notice so that I could prepare for my departure. What exactly did I need to do to leave this godforsaken place? Surely all detainees were more than ready to leave the cage.

But, if anyone was unprepared to leave, it would be 117521. She was a middle-aged woman who had spent 12 years of her life in jail. According to her story, she had been arrested at Hong Kong airport for carrying 3kg of illegal drugs. Spending over a decade in jail had left her nervous. She didn’t want to go back home because she was afraid, as a Filipina, that she would be arrested and sent to jail again because of that government’s  sustained war on drugs. Meanwhile, to get the status of a refugee to stay in Hong Kong also made her apprehensive because she felt she didn’t know what and how to go about surviving in a city known to be one with a very high cost of living.

“Life on the outside requires money. And, as you know, I wouldn’t even have underwear if it wasn’t for the supplies I’ve got from the prison and this detention centre.”

I held back laughing at 117521’s honest confession. I could understand her feelings and her fear at that moment. But I told her not to be afraid to give it a go. At the very least, life there on the outside is full of challenges, but still much better than living under the pressures of this place. Hearing what I was saying, 117521 promised to consider applying for asylum. And, if she then got some certainty about how it would be back in her homeland, she would go back to see her children again, who had by now become adults, married and given birth to grandchildren, all without her being by their side.

Back to hearing the clanging noise of the padlock and the twist of the key. The door swings open. Footsteps creak on the floor. The cell’s light goes on. I breathe a sigh of relief. Apparently it is morning.

 “1672, Out!”

Others in the cell cheer, celebrating the arrival of my freedom. I get down from the bed. Folding the blanket, I then head to the bathroom to wash my face with the cold water of winter. Just as I had anticipated. My release was announced suddenly. But even so, I feel an immense sense of relief. After 28 days of torture, finally I am free!

After going through various checks of my body and belongings, I am asked to wait to be escorted to the airport. I sit dumfounded in the cell, patting my cheeks. This is true, not a dream. Soon I will reclaim my sense of self, become again a human being who has a name.

Jakarta, May 2020


📝 初選評語 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Kekuatan utama cerita ini terletak pada kemampuan penulis menyusun cerita dalam persinggungan antara fakta dan fiksi. Gagasan cerita tentang eksistensi manusia yang berubah menjadi angka, sebagai simbol metafor memasuki sistem tahanan. Tulisan ini sepertinya berdasarkan pengalaman nyata penulis sebagai tahanan penjara imigrasi karena alasan keterlambatan perpanjangan visa yang tidak wajar dan latar belakangnya yang mendukung isu demontrasi di Hongkong untuk membungkam kebebasannya bersuara.Plot cerita dibangun dengan padat, penulis mampu menceritakan dengan detail kondisi ruang tahanan yang represif dan berbagai kisah manusia-manusia angka lain seperti dirinya. Perasaan cemas, depresi, kesepian dan berbagai kebingungan akan waktu dan harapan untuk bebas. Cerita ini ditutup dengan apik karena tokoh utama kembali mendapat eksistensi kebebasannya kembali menjadi manusia.

故事的主力在於作者在真實以及虛擬之間建設故事的能力。故事的主軸有關化為數字的人類之存在,變成了服刑的象徵。文筆好像是作者的真實故事,因為延期居留的詭異原因而須入獄,但背景卻是因為支持香港遊行的議題而被限制了發聲的權益。故事的情節扎實的被建構,作者有辦法將牢裡壓迫性的狀況描述出來以及其他數字人的故事。焦慮的感覺、憂鬱、孤單還有對於時間的迷惑以及自由的希望。故事完美的落幕因為主角由重新獲得作為人類的自由存在。

📝 Komentar juri|Tony Thamsir 譚雲福

冷酷的一場人生,作者描述監獄的點滴,使人可以透過文章立即了解該另類文化。