SRI PON DAN DONGENG YANG MUNGKIN SALAH

🇮🇩 2020 Babak penyisihan 印尼文初選 🇮🇩

📜 SRI PON DAN DONGENG YANG MUNGKIN SALAH
👤 Sri

Dongeng ini adalah cerita di sebuah tempat yang kala itu semuanya masih dibalut warna hijau. Hutan jati masih hijau dengan kera menggelantung di dahan-dahannya, lalu tanaman di sawah yang bak permadani hijau dalam dongeng seribu satu malamnya Aladin. Lalu yang kuingat sekali adalah tai sapi dan kerbau yang berceceran di sepanjang jalan berkerikil yang waktu itu belum diaspal. Sapi dan kerbau akan merumput pada pagi buta sebelum mereka membajaak sawah. Percayalah bahwa bau tai sapi itu harum berbaur bau rumput liar dan semerbak embun kesiangan.

Dan tempat itu bernama Puguh yang berarti teguh dalam bahasa Indonesianya. Dongeng itu bermula dari sana, dari bangunan rumah beratap rumbia dan berdinding bambu. Dari bau asap pawon yang menyeruak kala nasi ditanak. Lalu bau wangi air tanah yang langsung bisa direguk dari pancuran. Bau harmoni keluarga-keluarga sebelum adanya sebuah mimpi yang akan mengubah segalanya.

Sri Pon lahir bukan di hari Pon tapi di hari Selasa Wage. Kenapa bernama Sri Pon karena dukun beranak yang membantu persalinan Pariyem emaknya Sri Pon bernama Poniyah. Jelas balas budi itu diutamakan di Puguh, maka bayi mungil yang menangis saat fajar itu bernama Sri Pon. Sri yang berarti dewi kemakmuran (Dewi Padi) dan Pon untuk sang penolong yang baik hati. Begitulah bayi mungil itu lahir di surga hijau bernama Puguh tanpa tahu kelak dialah yang akan bercerita, mendongengkan dunia yang hilang dan pergantian jaman,

Puguh masih tetap berkabut dengan harum tai sapi dimana-mana, termasuk rumah Sri Pon yang berdinding bambu dan beratap rumbia. Lantai tanah yang retak pada musim kemarau lalu becek berlumpur pada musim hujan semakin menguatkan hati Pariyem untuk pergi. Dia ingin Sri Pon dan adiknya Kaman tidak mencium bau tai sapi saat makan, dan tidak berbecek lumpur saat hendak sembahyang. Pariyem pergi saat Sri Pon masih berumur lima tahunan. Gadis kecil itu berdiri di ambang pintu lapuk dari kayu mahoni yang sudah digeroti rayap dalam kesedihan. Hatinya digerogoti pertanyaan. Kenapa emak pergi dalam hari berhujan?

Puguh beranjak siang dan sedikit berbeda. Rumah Sri Pon kini sudah berdinding papan. Rumbia pun sudah bergenting berwarna oranye kecokelatan. Walau demikian bau tai sapi tetap menyeruak karena rumah dan kandang masih bersebelahan. Emak tidak pernah pulang, begitupun bapak yang jarang sekali mengurus kandang. Jika dahulu timbul pertanyaan di hati Sri Pon kenapa emak pergi dalam hujan? Kini ada pertanyaan baru kapan emak pulang.

Sri Pon beranjak remaja. Puguh menjelma bedaa. Rumah-rumah sudah atap genting dan beberapa rumah punya piring besar (parabola) di atasnya. Banyak dinding kayu berubah menjadi bata. Banyak lantai tanah berubah menjadi ubin mengkilap. Dan banyak kandang tanpa sapi. Hampir tiap rumah punya sepeda motor. Puguh seperti dunia dalam lomba. Setiap rumah ingin tampil beda dan menjadi terkaya. Namun ada yang timpang. Puguh menjadi dunia tanpa wanita. Bapak-bapak sekarang memasak. Beberapa mencuci. Beberapa ke pasar berbelanja. Dunia terbalik demikian cepatnya.

“Punya anak perempuan itu seperti punya permata. Kau harus ke Taiwan, Sri!” kata bapak dengan ketusnya setelah tiga bulan tidak pulang. Kabar burung bilang bapak punya selingkuhan di Penundan. Penyanyi dangdut berdada besar yang katanya janda beranak lima.

Sri Pon tak bisa menjawab. Dipandanginya dinding papan yang kini tinggal sebagaian. Sebagian rumah sudah berdinding anyaman bambu lagi. Daun jendela sudah tanggal tiga, tersisa tiga daun jendela di kamarnya dan kamar tidur Kaman. Jendela yang tanpa tutup sekarang bolong dan angin malam bercampur bau bekas kandang sapi menerobos ke dalam. Rumah yaang beberapa tahun lalu berubah kini juga mulai berubah lagi. Pariyem sudah tak pernah kirim uang bahkan kini tak ada kabar dan tampuk tanggung jawab dibebankan di pundak Sri Pon begitu saja.

Begitulah Puguh yang tak sehijau dulu. Pohon jati satu persatu tumbang dan para kera sudah lama habis menjadi sate panggang. Jalan kerikil berganti aspal, sawah masih hijau namun kini tanpa kerbau. Traktor menderu membajak sawah, hanya tai sapi yang kadang masih tersisa dan kering di jalan aspal. Puguh bermetamorfosa menjadi tempat asing yang sekarang bising. Musik India terdengar mendentum keras dari rumah-rumah tembok para tetangga. Juga lalu lalang motor bebek berbagai merk meramaikan pagi hingga malam. Pak lurah bahkan sekarang punya sedan Toyota karena istrinya di Hongkong sepuluh tahun lamanya.

Bapak pergi dengan tergesa setelah mengantongi uang dari menjual tiga daun jendela. Pintu juga sudah diberi panjer. Lusa pintu jati satu-satunya akan diambil pembeli. Rumah Sri Pon sudah tak layak disebut rumah. Tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa dinding, tanpa soko.Tak ada bedanya bekas kandang sapi di sebelah dengan rumah yang ia tempati. Hanya dinding bambu yang menutup kamarnya dan Kaman. Semua sudah terbuka dan semua mata tetangga bebas melucuti keadaan yang setiap hari menjadi bahan perguncingan mereka.

“Kau harus segera ke Taiwan! Cari emakmu di sana dan kirimkan uang secepatnya!”

Bapak marah. Tak ada yang bisa dijual lagi selain anak gadisnya. Dengan menawarkan Sri Pon pada sponsor maka bapak mendapat pesangon empat juta. Tubuh Sri Pon bergetar menahan seluruh gemuruh amarah yang dari kecil dipendamnya. Ia ingin sekolah, ia tentu saja ingin pintar. Dan tentu saja ia tak ingin ke Taiwan.

Tak ada yang bisa melawan takdir. Demikian aturan baru di Puguh. Takdir para wanita dan anak gadis memang harus dipekerjakan ke luar negeri, sedangkan para bapak akan ongkang-ongkang kaki menunggu kiriman. Para lelaki seperti memakai daster di Puguh dan para wanita dan anak gadis seperti tak pernah dilahirkan ke dunia. Sepertinya jaman jahiliyah terulang di suatu tempat hijau yang dulunya damai. Puguh berbeda. Semua berbeda. Hanya Sri Pon yang tetap sama dengan jutaan pertanyaan yang tak pernah ada jawaban.

Ke mana emak? Ke mana dinding rumah, soko, jendela, dan pintu? Kenapa anak gadis harus ke Taiwan? kenapa Kaman tidak? Kenapa bapak demikian? Kenapa Puguh menjadi seperti sekarang.

Gadis itu menangis pada suatu sore berhujan saat sponsor menarik tangannya dengan kasar. Sebuah mobil telah menunggunya. Sri Pon akan dibawa ke Jakarta. Bapak telah menjualnya. Ya menjualnya untuk menghidupi penyanyi dangdutnya. Sore itu Sri Pon menyesal kenapa harus lahir sebagai perempuan. Baginya hidup Kaman demikian enaknya. Kaman bisa sekolah. Kaman tak perlu ke Taiwan. Kaman hanya tinggal kawin lalu menyuruh istrinya ke Taiwan. Adilkah dunia ini? Adilkah keadaan Sri Pon sekarang?

Puguh hujan deras tiga hari tiga malam sejak Sri Pon pergi sore itu. Kaman meringkuk dalam kamarnya yang bocor dan tanpa jendela. Tubuhnya setengah basah dengan sarung lusuh yang membungkus badannya. Umurnya sepuluh tahun waktu itu dan bocah itu harus mengurus dirinya sendiri setelah bapak jarang pulang. Sosok emak tak pernah dikenalnya karena Pariyem pergi saat dirinya masih bayi, yang ia tahu bahwa foto wanita yang tanpa bingkai yang ditempelkan kakaknya di balik pintu kamarnya adalah foto emaknya.

Waktu berjalan pelan. Puguh masih sebuah tempat yang aneh yang berisi para lelaki. Jangan heran jika melihat lelaki mengendong bayi-bayi berhidung mancung dan bermuka Arab. Jangan kaget jika anak-anak kecil berwajah asing banyak bermunculan. Istri pak lurah pulang dari Hongkong dengan rambut dicat merah dan hamil delapan bulan, tak lama kemudian lahir anak lelaki berkulit hitam yang katanya anak Banglades. Semua seakan wajar di Puguh, wajar seperti tai sapi yang jatuh di aspal lalu kering karena terik matahari lalu tertiup angin lalu bekasnya akan hilang oleh hujan.

***

Gadis itu berhijab. Dengan santunnya dia mengucap salam kepada wanita tua yang duduk di kursi roda dengan kepala yang lunglai ke kanan. Tubuh nenek itu berbalut aneka syal yang membungkusnya hingga ia sebesar panda. Taiwan sedang dalam puncak musim dingin hingga seluruh penghuninya berbaju ganda dan menutupnya lagi dengan aneka kain atau syal dan semacamnya.

Sri Pon sudah tak pernah bertanya. Ia meredam semua pertanyaannya ketika kakinya menapak Jakarta yang kumal. Ia tak mempersalahkan emaknya yang tak pernah pulang dan berkirim kabar. Buat apa pulang untuk bapak yang demikian! Ia juga tak pernah punya keinginan pulang. Sesekali ketika merindukan Kaman ia akan menelepon adik satu-satunya yang kini sudah lulus SMA. Kaman tak usah terlalu dikhawatirkan. Toh dia lelaki. Dia tak akan dijual ke luar negeri. Kemalangan hanya untuk para perempuan.

Dan seumur hidupnya Sri Pon baru sekali mengutuk. Ia mengutuk takdirnya sebagai perempuan yang di dongeng Puguh harus menjadi soko untuk keluarganya.

Catatan:
Panjer: uang muka
Soko: tiang rumah, tiang penyangga
Ongkang-ongkang: duduk sambil mengayun-ayunkan kedua kaki.

Taiwan, 17 Mei 2020


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Cerita yang menggugah, mengangkat isu ketidakadilan pada kehidupan perempuan. Seolah menjadi takdirnya, para perempuan secara turun menurun dari ibu hingga anak harus menjadi tulang punggung keluarga dan berangkat menjadi Pekerja Migran. Struktur plot dan alur cerita yang dibangun sangat kuat, penulisan EYD baik, pilihan diksi menggunakan metafor yang kuat dan stamina penulis dalam mengaitkan berbagai peristiwa terjalin dengan runut dan baik. Ada orisinalitas dalam ungkapan bahasa yang menjelaskan lokalitas latar tempat yang dijelaskan dengan detail tentang perubahan sebuah kampung/desa bernama Puguh yang digerus oleh materialisme seperti adanya parabola hingga pamer rumah bagus. Cerpen ini menjelaskan perubahan Desa Puguh dan manusia di dalamnya— secara sosial dan budaya— setelah para perempuan berangkat merantau menjadi pekerja migran, peran domestik digantikan oleh laki-laki yang menggurus bayi, memasak hingga berselingkuh sembari menunggu uang kiriman. Cerita ini dengan kritis mengangkat isu feminisme yang mungkin begitulah kenyataanya bahwa takdir perempuan dipaksa menjadi pekerja migran, seperti Sri Pon dan Dongeng yang Mungkin Salah.