我在寶島上的腳印 JEJAK LANGKAHKU DI FORMOSA

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 我在寶島上的腳印 JEJAK LANGKAHKU DI FORMOSA

👤 Disyak Ayummy

 

Setelah hampir satu bulan berlalu semenjak kematian akong yang aku rawat, akhirnya hari ini agency-ku, Nyonya Wang datang untuk menjemputku.

“Kamu sudah siap, Ayu? Ayo kita berangkat,” kata Nyonya Wang sambil berdiri dari sofa dan membantu membawakan koperku.

Aku pun ikut berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri kedua majikanku, Nyonya Ming Qiu dan Tuan Cheng Kang, untuk berpamitan.

“Tuan, Nyonya, Ayu pamit. Terima kasih sudah menerima dan memperlakukan Ayu dengan baik selama ini. Ayu minta maaf, kalau selama kerja di sini, Ayu punya banyak salah pada Tuan dan Nyonya,” pamitku dengan sopan.

Aku menjabat tangan kedua majikanku satu per satu dan mereka membalas dengan memelukku erat. Nyonya Ming Qiu bahkan mencium kedua pipiku, kemudian berkata, “Terima kasih juga kamu sudah menjaga dan merawat ayah saya dengan baik selama ini. Kalau kamu ada waktu atau rindu pada kami, berkunjunglah ke sini atau sekadar telepon juga boleh.”

“Terima kasih, Nyonya. Saya pasti akan merindukan kalian.” Aku membungkuk hormat kemudian mengambil tas, berjalan keluar rumah dan masuk ke mobil Nyonya Wang.

Setelah Nyonya Wang berpamitan kepada kedua majikanku, dia pun langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Saat mobil mulai berjalan, aku melihat kedua majikanku melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun membalas lambaian tangan mereka lewat jendela mobil. Rasanya sedih dan berat sekali berpisah dengan keluarga majikanku yang sangat baik itu. Selama ini mereka memperlakukanku dengan baik selayaknya keluarga sendiri.

“Sudah, jangan bersedih, Ayu. Saya akan usahakan mencari majikan yang baik untuk kamu,” kata Nyonya Wang menghiburku.

“Iya, terima kasih, Nyonya,” jawabku pelan.

Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar.

“Ayu, kita sudah sampai. Ini adalah rumahku. Untuk sementara waktu kamu tinggal di sini, karena penampungan di kantor agency sudah penuh. Ayo kita turun,” ajak Nyonya Wang sambil membuka pintu mobil. Aku ikut turun kemudian mengambil koper dan tasku di bagasi belakang, dibantu oleh Nyonya Wang.

Sampai di dalam rumah, Nyonya Wang menyuruhku duduk di sofa dan dia menjelaskan tentang peraturan di rumah ini.

“Ayu, kamu akan tinggal di lantai atas. Di sana ada 3 orang dari Indonesia dan 1 orang dari Pilipina. Mereka juga sedang menunggu majikan baru seperti kamu. Biaya tinggal di sini sehari NT.200, sebagai ganti biaya listrik dan air yang kalian pakai. Total biaya bisa dibayar kapanpun kamu punya uang. Untuk makan, kamu bisa beli nasi kotak di depan kompleks perumahan ini atau memasak sendiri di dapur rumah ini. Kamu mengerti, Ayu?” tanya Nyonya Wang.

“Iya, saya mengerti, Nyonya.” Aku mengangguk pelan.

“Kalau begitu, ayo, saya antar kamu ke atas untuk berkenalan dengan teman-temanmu dan beristirahat,” ajak Nyonya Wang dan aku langsung mengikutinya menaiki tangga ke lantai 3.

Sampai di lantai 3, Nyonya Wang membawaku masuk ke dalam sebuah kamar yang lumayan besar. Di dalam kamar tersebut terdapat beberapa tempat tidur bertingkat dan sebuah televisi. Aku pun diperkenalkan dengan teman-teman yang berada di situ. Ada Neli, Eva, dan Ririn dari Indonesia, serta Linda dari Pilipina. Setelah menjelaskan padaku di mana letak kamar mandi dan tempat tidurku, Nyonya Wang pun kemudian pergi.

Mulai hari ini, aku menghabiskan waktuku di rumah Nyonya Wang bersama keempat temanku, sambil menunggu dapat majikan baru. Meskipun dengan alasan yang berbeda tetapi nasib kami sama, yaitu sama-sama menunggu majikan baru. Kami berlima langsung akrab dan mereka bercerita padaku, kenapa mereka bisa berada di tempat ini.

Linda yang berasal dari Pilipina terpaksa memutuskan kontrak kerjanya di bulan kelima karena tidak kuat dengan pekerjaannya. Linda menjaga ama yang sudah pikun.

“Ama sering tidak mau tidur kalau malam hari. Dia sering bicara sendiri dan berjalan ke sana- ke sini. Aku terpaksa ikut begadang karena takut kalau ama jatuh. Kalau siang hari ama tidur, tetapi aku tidak diperbolehkan tidur oleh majikan dan harus bekerja membersihkan rumah. Aku tidak kuat dan jatuh sakit. Akhirnya aku minta sama Nyonya Wang untuk ganti majikan,” cerita Linda sambil menangis. Aku pun langsung memeluk Linda untuk menenangkannya. Walaupun kami berbeda asal negara, tetapi kami punya nasib yang sama di Taiwan ini. Kami sama-sama jauh dari keluarga dan sama-sama bekerja sebagai perawat orang tua.

Sedangkan alasan Neli balik ke agency adalah sama denganku. Akong yang dirawatnya meninggal dunia. Dia di sini sudah satu bulan dan katanya sudah dapat majikan baru.

“Besok Nyonya Wang akan mengantarku ke rumah majikanku yang baru,” kata Neli dengan senyum bahagianya.

“Wah, selamat, ya, Neli. Doakan aku juga cepat dapat majikan baru sepertimu.”

“Pasti aku doakan yang terbaik buat kalian semua, Sahabatku.”

Kalau Eva, dia berada di sini karena dikembalikan ke agency oleh majikannya. Eva dinilai tidak sungguh-sungguh menjaga ama. Dia lebih sering bermain ponsel-nya dan tidak memerhatikan ama yang dirawatnya. Nyonya Wang sudah tiga kali menegurnya setelah mendapat laporan dari majikan Eva, tetapi dia tidak mau memperbaiki diri.

“Pacarku sering meneleponku dan mengajak aku ‘chatting’. Kalau aku terlambat menjawab telepon atau membalas pesannya, dia selalu marah dan mengancam putus denganku,” kata Eva memberi alasan.

“Eva, kalau pacarmu sungguh-sungguh mencintaimu, dia akan mengerti keadaan kamu, bahwa saat ini kamu sedang bekerja. Bukan malah marah-marah kalau kamu terlambat membalas pesannya,” kata Neli menasihati Eva.

“Betul kata Neli, Eva. Kalau waktunya kerja, kita harus kerja dengan baik. Jangan mengecewakan majikan yang sudah mempekerjakan kita. Kalau waktunya istirahat, baru kita boleh bermain ponsel atau chatting,” kataku menambahi.

“Iya, aku tahu kalau aku salah. Nanti di tempat majikan yang baru, aku tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi,” janji Eva. Kami pun ikut senang karena Eva sudah sadar dan mau memperbaiki diri.

Di antara semua yang ada di sini, yang paling menyedihkan adalah alasan Ririn bisa berada di rumah ini. Ririn datang ke Taiwan untuk kedua kalinya melalui proses Direct Hiring. Begitu tiba di Bandara Tauyen, ternyata sang majikan tidak datang untuk menjemputnya. Saat Ririn menelepon majikannya, ternyata mereka tidak mau mempekerjakan Ririn lagi dan memutuskan kontrak kerja secara sepihak. Padahal Ririn sudah mengeluarkan banyak uang untuk proses Direct Hiring, karena memakai jasa agency. Ririn akhirnya ditampung di rumah ini sampai masalah dengan majikannya selesai.

***

Tiga minggu sudah aku berada di rumah Nyonya Wang dan akhirnya kabar bahagia itu datang. Aku sudah mendapatkan majikan yang baru. Dua hari kemudian Nyonya Wang mengantarkanku ke rumah majikan yang baru.

Rumah majikanku lumayan besar, tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai rumah makan atau restoran. Sedangkan lantai dua dan tiga sebagai tempat tinggal.

Majikan kedua-ku ini bernama Tuan A-Hong dan Nyonya Liem. Sesuai dengan kontrak kerja yang telah aku tanda tangani, di sini aku bekerja menjaga seorang ama yang lumpuh, memasak, dan bersih-bersih rumah.

Satu bulan pertama aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan majikan dan pekerjaanku. Aku merasa betah tinggal di sini. Gajiku pun dibayar tepat waktu. Nyonya Wang yang datang menjenguk dan mengecek keadaanku pun ikut senang dengan kondisiku yang baik-baik saja.

Namun, memasuki bulan kedua, majikanku mulai memberi pekerjaan tambahan untukku. Setiap hari aku harus bangun jam 3 pagi untuk membantu memotong-motong daging dan sayuran untuk keperluan restoran mereka. Setelah itu aku harus mengurus keperluan ama dan membersihkan rumah lantai dua dan tiga. Usai makan siang, aku harus membantu majikan di restoran sampai malam hari. Padahal majikanku sudah punya dua orang pelayan yang bekerja di restoran, tetapi dia tetap menyuruhku ikut membantu pekerjaan di restoran.

Sesekali aku masih harus melihat keadaan ama di lantai dua. Namun, kalau restoran sedang ramai pengunjung, majikan melarangku untuk melihat ama.

“Ama itu lumpuh, tidak bisa apa-apa. Jadi tidak akan jatuh. Nanti saja kamu lihat ama. Sekarang restoran sedang ramai, jadi kamu harus tetap di sini membantu kami,” kata Nyonya Liem saat aku minta izin untuk melihat keadaan ama.

“Tapi tugas utama saya adalah merawat ama, Nyonya. Sekarang adalah waktunya ama minum jus buah dan balik badan. Sekalian saya mau mengecek, apakah popok ama basah atau tidak.”

Baru saja aku hendak melangkah ke arah tangga, tiba-tiba tangan Nyonya Liem melayang ke wajahku.

Plaakk!!

Sebuah tamparan keras di pipi kiriku membuatku sedikit terhuyung. Kuraba pipi kiriku. Panas, perih, dan sakit.

“Aku peringatan kamu, ya. Jangan sekali-kali kamu berani membantah perintahku. Aku adalah majikanmu dan kamu harus menurut semua perintahku. Mengerti!” kata Nyonya Liem dengan nada tinggi.

“Me-mengerti, Nyonya …,” jawabku pelan dan gugup.

“Bagus. Sekarang antar masakan ini ke meja nomor 3, terus kamu bereskan meja nomor 8 dan segera cuci semua piring, mangkuk, dan sumpit-nya di dapur. Cepat lakukan!”

Aku segera melaksanakan semua perintah Nyonya Liem dengan perasaan takut. Aku takut melihat perubahan sikap Nyonya yang menjadi galak dan mulai memukulku. Aku juga khawatir dengan keadaan ama karena terlalu lama aku tinggal. Begitu restoran tutup jam 9 malam, Nyonya masih menyuruhku mencuci semua perkakas yang kotor di dapur. Setelah semuanya selesai, aku kembali mengurus ama dan beristirahat.

Satu bulan … dua bulan aku mencoba bertahan, tetapi lama-lama aku tidak kuat. Aku sering merasa sakit kepala dan badanku terasa lemas karena terlalu capek bekerja dan kurang istirahat. Nyonya Liem bahkan selalu memukulku kalau jam tiga pagi aku belum bangun. Dia juga tidak segan-segan memotong gajiku jika aku memecahkan mangkuk atau gelas yang aku cuci.

Akhirnya aku menelepon Nyonya Wang, dan memberi tahu kalau aku dipekerjakan di luar tugas yang tertulis di kontrak kerja, gajiku sering dipotong, dan sering dipukuli.

“Makanya, kamu kerja yang benar dan jangan suka membantah majikanmu. Kamu harus nurut, supaya kamu disayang sama majikanmu. Kalau untuk masalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja, kita harus punya bukti dan saksi untuk menguatkan tuduhan kamu. Baru kamu bisa proses pemutusan kontrak kerja,” jawab Nyonya Wang di seberang telepon.

Beberapa hari aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa memberi bukti seperti yang Nyonya Wang minta. Akhirnya terlintas di pikiranku untuk merekam semua perlakuan majikanku dan semua pekerjaanku di restoran ke dalam sebuah video dengan menggunakan ponselku.

Pagi hari sebelum jam 3 pagi, ponselku yang sudah siap merekam, aku taruh di sudut kamar. Kemudian aku pura-pura tidur lagi. Tidak lama kemudian Nyonya Liem masuk ke kamarku, menyalakan lampu kemudian memukuli tubuhku dengan tongkat kecil.

“Bangun, Pemalas! Bangun! Sudah jam berapa ini? Cepat turun ke dapur dan potong-potong semua daging dan sayuran,” kata Nyonya Liem dengan suara tinggi sambil terus memukuliku.

“Ampun … ampun, Nyonya. Iya, saya akan kerjakan perintah Nyonya sekarang.”

Aku langsung bangun dan membereskan tempat tidur. Sementara Nyonya Liem kembali ke kamarnya untuk tidur lagi. Aku segera mengambil ponselku dan menyimpan hasil rekaman video tadi. Tidak lupa aku mengambil foto luka memar di tubuhku.

Aku juga merekam video semua pekerjaanku di dapur dan restoran beberapa kali, secara diam-diam. Semuanya aku simpan ke dalam beberapa kartu memori. Secara berkala aku mengirim foto dan hasil video itu kepada Nyonya Wang. Dengan bukti-bukti itu, Nyonya Wang langsung datang menjemputku. Majikanku yang awalnya menolak semua tuduhan, langsung diam tidak berkutik saat Nyonya Wang memperlihatkan hasil foto dan video yang aku rekam.

Akhirnya aku kembali lagi ke rumah agencyku, Nyonya wang. Sementara itu untuk penyelesaian masalah dengan Nyonya Liem, semuanya sedang ditangani oleh pihak agencyku.

***

Saat ini aku sudah mendapat majikan yang baru lagi. Nyonya Fang adalah majikan ketiga-ku. Di sini aku bekerja merawat suami Nyonya Fang yang bernama Tuan Chen. Kami tinggal di lantai 6, sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari danau Lan Tan, Kota Chiayi. Aku adalah perawat kedua di rumah ini, menggantikan perawat pertama bermasalah dengan Nyonya Fang.

Tuan Chen mengalami kecelakaan mobil beberapa bulan lalu. Keadaannya kini sudah lumayan membaik, tetapi masih belum bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan sempurna. Seminggu tiga kali, Tuan Chen harus melakukan terapi di rumah sakit.

Satu bulan sudah aku bekerja di sini. Selama itu juga, aku berusaha bekerja dengan sebaik mungkin dan sepenuh hati. Namun, Nyonya Fang sepertinya belum bisa memercayaiku. Beberapa kali dia terlihat cemburu saat aku sedang memijat atau membersihkan badan tuan. Nyonya Fang juga beberapa kali memeriksa kamarku karena merasa ada barangnya yang hilang. Padahal aku sama sekali tidak mencuri apapun di rumah ini. Sepertinya Nyonya Fang masih trauma dengan kelakuan perawat pertama, yang ketahuan sering mencuri barang-barangnya.

Akhirnya Nyonya Fang memasang cctv di beberapa sudut ruangan. Aku tidak takut dan tidak masalah dengan pemasangan cctv itu. Aku malah senang. Dengan begitu, Nyonya Fang bisa melihat bahwa aku memang tidak pernah mencuri apapun dan tidak pernah menggoda suaminya. Aku merawat Tuan Chen sesuai dengan arahan dan petunjuk dokter serta petugas di tempat terapi.

Hari ini jadwal Tuan Chen periksa ke dokter untuk melihat sejauh mana perkembangan hasil terapinya. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter memberitahu Nyonya Fang, kalau keadaan Tuan Chen mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Setelah pemeriksaan selesai, kemudian kami menuju lobi rumah sakit untuk mengambil obat. Saat sedang mengantre obat, secara tidak sengaja aku bertemu dengan majikan pertamaku, Nyonya Ming Qiu dan Tuan Cheng Kang.

“Tuan, Nyonya, apa kabar? Siapa yang sakit?” tanyaku dengan perasaan cemas.

“Oh, tidak tidak ada yang sakit, Ayu. Kamu tenang saja. Kami ke sini hanya untuk pemeriksaan kesehatan rutin, setahun sekali,” jawab Nyonya Ming sambil tersenyum. Aku pun jadi lega mendengar mantan majikanku ini dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

“Oh, iya, hampir lupa. Tuan, Nyonya, kenalkan ini majikan baru saya. Namanya Nyonya Fang dan Tuan Chen,” kataku memperkenalkan majikan baruku.

“Apa kabar?” sapa Nyonya Ming kepada Nyonya Fang. “Saya dulu adalah majikannya Ayu. Bagi kami, dia adalah pekerja yang baik dan jujur.”

“Selama di rumah saya, dia juga bekerja dengan baik,” balas Nyonya Fang sambil menepuk pundakku. “Maaf, nomor antrean kami sudah tiba. Kami permisi dulu. Senang bertemu dengan anda.”

Setelah saling berpamitan, kami pun berpisah. Aku, dan majikanku berjalan menuju loket obat. Setelah semuanya selesai, kami pun pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Dalam perjalanan ke rumah, Nyonya Fang membawa kami ke danau Lan Tan. Di sana kami berjalan-jalan di sepanjang taman yang berada di tepi danau, sambil mendorong kursi roda Tuan Chen.

“Ayu.”

“Iya, Nyonya.”

“Saya minta maaf kalau selama ini saya sering curiga padamu. Dari cctv yang aku pasang dan cerita mantan majikanmu tadi, aku jadi yakin kalau kamu benar-benar pekerja yang baik dan jujur,” kata Nyonya Fang sambil merangkulku.

“Terima kasih atas kepercayaan Nyonya. Saya akan berusaha bekerja dengan baik, karena agama dan orang tua saya mengajarkan untuk tidak mencuri, saling mencintai sesama manusia, dan menghormati orang yang lebih tua.”

Miaaww …. miaaww …

Seketika langkah kami terhenti saat mendengar suara kucing. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, seekor anak kucing terlihat berusaha sembunyi di antara tanaman bunga.

“Aahh, kucing. Lucu sekali ….” Aku langsung menghampiri dan memungut anak kucing itu. Dia tidak banyak bergerak dalam dekapanku. Mungkin dia kelaparan. Aku segera melepaskan kucing itu dan mengambil biskuit yang ada di dalam tasku kemudian meremukkannya hingga hancur. Setelah hancur kemudian aku campur dengan sedikit air minum, aku aduk rata hingga menyerupai bubur. Dengan alas plastik biskuit, aku sodorkan bubur biskuit kepada kucing kecil itu.

“Ini, makanlah. Aku tahu kamu lapar,” kataku sambil membelainya. Kucing kecil itu langsung menghampiri bubur biskuit yang aku kasih dan memakannya dengan lahap.

“Kamu suka kucing, Ayu?” tanya Nyonya Fang.

“Iya, Nyonya, saya suka kucing. Hhmm … Nyonya, bolehkah kucing ini saya bawa pulang. Saya ingin merawatnya. Kasihan dia kalau di sini sendirian,” pintaku sedikit ragu.

“Asalkan kamu berjanji untuk selalu membersihkannya, saya tidak keberatan kamu memelihara kucing ini,” kata Nyonya Fang sambil tersenyum.

“Sungguh? Saya boleh memeliharanya? Aahh … terima kasih, Nyonya. Saya berjanji akan selalu memperhatikan kebersihan kucing ini. Kalau begitu, saya akan kasih nama kucing ini, mimi.”

“Mimi, nama yang bagus. Setelah dari sini, nanti kita mampir ke toko perlengkapan binatang untuk membeli kandang dan makanan buat mimi,” kata Nyonya Fang sambil ikut membelai mimi.

Hidup memang seperti roda yang berputar. Kadang sedih, kadang bahagia. Setelah sekian banyak cobaan yang aku lewati, akhirnya aku kembali dipertemukan dengan majikan yang baik hati. Terima kasih, Tuhan, untuk semua jejak langkah di perjalanan hidup yang telah aku lewati di Taiwan ini.
*** TAMAT ***


📜 我在寶島上的腳印 JEJAK LANGKAHKU DI FORMOSA

👤 Disyak Ayummy

 

我照顧的阿公已經過世快滿一個月了,今天,我的仲介王小姐,終於來到雇主家來接我。

「阿玉,妳準備好了嗎?我們出發吧!」王小姐從沙發上站起身來主動幫我提行李。我跟著起身,走向兩位雇主─明秋太太和成鋼先生道別。

「先生、太太,阿玉先走了,謝謝你們這些日子以來阿玉的照顧,對我很好。在這裡,阿玉要跟你們說聲抱歉,如果過去工作期間有任何過錯,還希望你們諒解。」我很有禮貌的道別。

我一一跟他們握手,他們給予熱情擁抱做為回應。臨走前,明秋太太還親了我的雙頰「謝謝妳這段期間,盡心照顧我爸爸,要是有空或想我們的話,不要客氣,歡迎來找我們,打電話也行。」

「太太,謝謝妳!我會想念你們的。」我向他們鞠了一躬,拿著行李走出家門,進王小姐的車內。王小姐兩位雇主道別,車子啟動後,兩位雇主向我揮了揮手,我也向他們揮手,心情好難過也很沉重,因為要跟那麼好的雇主分開,這段時間以來,他們把我當做自己家人一樣照顧。

「好了啦,阿玉。我會盡量為妳找個好雇主」王小姐安慰我。
「好的,謝謝小姐」我輕聲回話。

經過近一個小時的車程,我們終於停在一間大房子前

「阿玉,我們到了。這是我家。妳先暫時住在這裡,因為公司的宿舍已經滿了,我們下車吧」 王小姐開著門說,我跟著下車,到後車箱取出行李,王小姐也來幫忙。到了屋子裡,王小姐請我坐在沙發上,並向我解釋這屋子的格局

「阿玉,妳住樓上。那裡有三位朋友來自印尼,一位來自菲律賓。她們也跟妳一樣,在等新的雇主聘用。住在這裡的費用是每天200台幣,當作這裡的水電費。費用等妳以後工作有錢了再付。吃飯的話,可以到社區買便當或是自己煮,阿玉,這樣瞭解嗎?」王小姐問。

「我瞭解了,小姐。」我輕輕的點頭。
「那麼,我帶妳到樓上,認識朋友和休息一下」王小姐帶著我上三樓

到了三樓,王小姐帶我到一蠻大的房間。房間裡有好幾個上下鋪的床和一個電視。王小姐為我介紹室友,有來自印尼的內莉、伊娃和莉莉,以及來自菲律賓的琳達。介紹完後王小姐就離開了。

從今天開始,我所有的時間都花在與王小姐家的四位朋友相處,一邊等待著新雇主的到來。雖然我們在此相聚,出於不同的原因,但是我們有同樣的命運,就是等待新雇主的聘用。我們五個很快就熟了,室友們都大方告訴我,她們為什麼會出現在這個地方。來自菲律賓的琳達,在來台第五個月時解除工作合約,原因是因為她承受不了照顧失智的阿嬤的壓力

「阿嬤常常晚上不睡覺,一個人一直講話和走來走去。因為我怕阿嬤半夜跌倒,所以必須跟著熬夜。白天她睡覺時,雇主不准我睡,我必須整理家裡。長期下來,我承受不了就生病了。所以我要求王小姐換雇主。」琳達邊說邊哭。我馬上給她一個擁抱安慰她。雖然我們來自不同的國家,但我們在台灣,有著相同的命運。我們一樣遠離家人,一樣作為一名盡責的老人照護人員。

內莉回到仲介的原因,跟我同。她照顧的阿公去世了。雖然她在這裡已經一個月時間聽說已經到新的雇主。

「明天王小姐會帶我到新雇主家!」內莉開心的說。
「哇,內莉,恭喜妳呀,記得幫我祈禱,好讓我跟妳一樣,趕緊到新雇主。」
「我一定會幫妳們祈禱的,我的朋友們」。伊娃回到這裡的原因,是因為被她的雇主遣退。她被認為沒有好好盡責照顧阿嬤。她常常玩手機,沒有專注所照顧的阿嬤。接到雇主的抱怨前,王小姐已經叮囑她三次了,但是她都沒有改善。

「我的男朋友常常打電話找我聊天。如果我慢一點接電話或慢一點回他的訊息,他總會很生氣,威脅要分手。」伊娃連忙解釋。
「伊娃,如果妳的男朋友真的愛妳,他會理解妳的處境,體諒妳的工作。不會因為妳比較慢回覆他就生氣啊!」內莉試著開導伊娃。
「伊娃,內莉說的沒錯。工作的時候,我們必須好好工作,不要辜負我們的雇主。休息的時候,才可以玩手機和聊天」我跟著附和。
「是啊,我知道我錯了。等到服務下一個新的雇主,我再也不會重複這樣的錯誤」伊娃下了承諾,她知道自己的過錯也願意改善,我們也替她開心。

我們所有人裡,最鬱悶的恐怕就是莉莉了。莉莉是通過直聘的方式,第二次來台工作沒想到,當她抵達桃園機場時,發現雇主沒來接她。莉莉後來打電話給雇主,他們說不想雇用莉莉了,這是單方面解約,但是莉莉已經在直聘上花了很多錢了,因而請仲介幫忙,為了順利解決問題,莉莉就住在這屋裏,直到她與前雇主的問題落幕

三個星期後,好消息終於來了。我到一位新的雇主。兩天後王小姐帶我到新雇主家。雇主的房子還蠻大的,三層樓,一樓用來開餐廳,二樓和三樓是住家。

第二個雇主是阿洪先生和林太太。按照約,我的工作是負責照顧癱瘓的阿嬤、煮飯和整理家裡。第一個月,我很快適應了新雇主和工作。我覺得很喜歡這裡,我的薪資也準時支付。經常來探望我的王小姐,也因為我的狀況很好而為我感到開心。

但是,進入第二個月,雇主開始增加我的工作量。我每天凌晨三點就需要起床,幫忙切肉、切菜,為他們的餐廳開張做準備。弄好了之後,我還需要照顧阿嬤和整理二、三樓環境。吃完午餐,我又必須在餐廳幫忙到晚上。其實餐廳有雇用兩名員工,但是雇主仍然要求我到餐廳幫忙。我偶爾會到二樓去看阿嬤。但是當餐廳擠滿客人的時候,雇主不准我上樓

「阿嬤已癱瘓,無法做任何事,所以不會跌倒。妳等一下再看阿嬤,現在餐廳正忙,必須留下來幫我們才對」當我跟林太太表示要照顧阿嬤時,她是這樣說的。

「但是我主要的工作是照顧阿嬤呀,太太。現在是幫阿嬤補充點果汁和翻身的時間,還要檢查她的尿布有沒有濕」。想走向樓梯,林太太的手突然就飛到我的臉上了。啪!

一個重重的巴掌就這樣落在我的左臉頰上,害我無法站穩。我不敢置信的摸著我的左臉,感覺到臉上一股燙燙的灼熱感。「我警告妳,別想違抗我的命令,我是妳的雇主,妳要全部聽我的,聽懂了沒!」 林太太大聲的說。

「聽、聽懂了,太太…」我緊張的輕聲回應
「很好,現在把這個送到三號桌,然後整理八號桌,接著去廚房洗全部的盤子,碗和子。快點!」

心裡懷著恐懼,迅速執行林太太所有的指令。一方面,我很害怕看到太太性情大變開始打我的樣子另一方面,我也很擔心阿嬤的情形,因為長時間沒有我照顧,身體會出狀況。晚上九點,餐廳一打烊,太太還叫我洗廚房裡所有骯髒的廚具。總算一切做完了之後,我還需要照顧阿嬤,一切、一切忙完後才休息。

一個月、兩個月,這段期間我努力的撐著,但是久而久之,我體力不支了。我常常頭痛和感到身體無力,不只因為工作太累,休息時間又太少。林太太還經常打我,要是我凌晨三點沒有醒來,或是在洗碗時打破碗或杯子,她會毫不猶豫扣我薪水。

最後我實在受不了,打給王小姐求救向她投訴我被要求做合約以外的事情,我的薪水頻頻被扣錢,而且經常挨打。「所以啊,要好好工作才行,不要愛跟雇主爭辯,要聽話才會被疼。至於妳說被要求從事合約以外的工作這點我們要有證據,證實妳的指控,這樣才能終止合約」電話另一端的王小姐回答說。

我想了好幾天,如何蒐集證據給王小姐?最後終於想到,用手機錄下雇主所作所為和我在餐廳做的所有工作。凌晨三點前,我將準備的手機,偷偷放在房間的角落。然後假裝沒有按時間起床。沒多久,林太太走進我的房間,打開燈,用小棍子打我。

「起來,懶惰鬼!起來!現在都幾點了?趕快到廚房切所有的肉和菜!」林太太用尖銳的聲音說話並繼續打。
「請原諒我…太太,好,我現在就去做。」我立刻跳下床並簡單整理床鋪,趁著林太太回房睡覺,我趕緊拿起我的手機,保存剛剛錄下的影片,也拍下身上的瘀傷。

我偷偷的錄下幾次在廚房和餐廳所做的工作。這些,我全部存在我的記憶卡。我分別發送這些照片和影片給王小姐過目有了這些證據,王小姐馬上過來接我。剛開始,雇主還否定了所有指控,直到王小姐拿給他們看我所拍下的影片和照片,他們立刻無話可說。我終於可以回到我的仲介,王小姐的家。與林太太的事情,全都交由我的仲介來處理。

現在,我又得到了一個新的雇主。方太太是我第三位雇主。在這裡,我負責照顧方太太的先生,陳先生。我們住在六樓,一離嘉義市蘭潭湖不遠的公寓。我是這屋裏第二個看護,代替第一個跟方太太之間發生問題的看護。陳先生幾個月前發生車禍,雖然他現在的情況已有好轉,但他的手腳仍然無法完全行動自如。陳先生必須每週三次到醫院做復健。

我已經在這裡工作一個月。這一個月裡,我盡心盡力工作,但是方太太好像還是無法完全信任我。有好幾次,我感覺到當我為陳先生按摩或清潔身體時,她似乎心生嫉妒。方太太也好幾次檢查我的房間,只因為她覺得有東西弄丟了。事實上,根本沒偷這屋子裡的任何東西。但是方太太好像還被第一個看護的作為影響而感到焦慮,因為前看護偷了她的東西。

最後,方太太在幾個房間的角落裝了監視器。我不害怕,也不介意她的舉動。反而感到高興,因為這麼一來,方太太可以從螢幕看到,我從來沒有偷過東西也從來沒有引誘她的先生。我盡責地按照醫生與復健師的指示,用心照顧陳先生。

今天醫生要檢查陳先生的復健進度。檢查,醫生告知方太太,陳先生進步良多。結束檢查,我們到醫院大廳拿藥。排隊時,無意見遇到了我第一位雇主,明秋太太和成鋼先生。

「先生、太太,你好嗎?有誰生病了嗎?」我擔心的問。
「哦,沒有人生病,阿玉妳放心好了,我們來這裡只是例行性體檢,每年都要做一次。」明太太微笑回答,聽到前雇主說一切安好,我也就放心了。
「對了,差點忘了!先生,太太,向你們介紹這是我的新雇主,方太太和陳先生。」我向他們介紹我的新雇主。
「你好!」明太太跟方太太打招呼。「我是阿玉的前雇主,對我們來說,是一位誠實的好工人。」
「在我家,她也一直做的很好。」方太太回答,並拍拍我的肩膀。
「不好意思,我們的號碼到了,我們先走了,很高興認識。」再見,我們就分開了。我和雇主走向領藥區,等到一切告一段落,我們離開醫院回家。回家的路,方太太帶我們到蘭潭湖,我們推著陳先生的輸椅,沿著湖邊散步。

「阿玉。」
「是的,太太。」
「我要向妳道歉,這段時間,我經常懷疑妳,但是從我裝的監視器畫面和妳前雇主剛剛說的話,我敢肯定,妳是一位非常誠實的好工人。」方太太邊說邊抱住了我。

「感謝妳對我的信任,我會努力把工作做好,因為我的宗教和我的父母,教我不能偷東西,人類要彼此相愛,尊重年長的人。」

喵…喵…突然,我們被貓的聲音打斷了。離我們不遠的地方,一隻小貓正躲在花草間。

「哇,是貓耶。好可愛哦…」我走上前,抱起那隻小貓。可能是餓了,牠在我的懷裡沒有亂動。我馬上放下來,取出包包裡的餅乾,想辦法弄成碎片加點開水,拌勻成粥。然後放在一個塑膠袋上給小貓吃。食物在這裡,吃吧。我知道你餓了。」我邊說邊撫摸著牠。小貓吃得津津有味。

「阿玉,妳喜歡貓嗎?」方太太問。
「是的太太,我喜歡貓。呃…太太,我可以帶這隻貓回家嗎?我想照顧牠,牠獨自在這裡好可憐。」我有點猶豫的請求方太太。

「只要妳答應保持清潔,我不介意妳養這隻貓。」方太太微笑地說。
「真的嗎?我可以照顧牠嗎?哇…謝謝太太。我發誓,絕對會注意這隻貓的清潔。那…我為這隻貓取名,就叫做咪咪。」
「咪咪好名字。等一下我們到寵物用品店,買籠子和貓食給咪咪。」方太太說著說著,也撫摸起咪咪。

人生就像運轉中的紡輪,過程時而憂傷,時而快樂。在台灣經過許多考驗,我終於遇到一位好心的雇主。感謝上帝,為我在台灣的人生歷程所下的每一個腳印。


Comment  Tema biasa ditulis oleh BMI, tetapi ceritanya lebh rinci, dengan dialog segar dan komunikatif. Disyak Ayuma seperti mengolah kata dengan indah dan bahagia. Selamat! 常被印尼移工拿來寫的主題,但是故事寫得比較細緻,對話內容清晰,交代得很清楚。Disyak Ayuma 成功將文字處理得即優美又快樂。恭喜!

Comments are closed.