RUMAH IMPIAN

ENI OKTAVIANI / RUMAH IMPIAN / TIDAK ADA / tenaga kerja asing

RUMAH IMPIAN

Namaku Eni, aku sulung dari tiga bersaudara. Namun, takdir telah merenggut adik perempuanku lima tahun lalu. Belum diketahui penyebab pasti kepergiannya. Namun, mantri yang memeriksanya kala itu mengatakan ia terkena serangan jantung, karena meninggal dengan tiba-tiba seusai melaksanakan sholat magrib berjama’ah, tepat di halaman masjid. Ya, Allah ternyata menyayangi adikku yang manis itu. Hingga, Ia tak ingin Adikku berlama-lama menghirup kotornya udara dunia.
Kepergian Adikku itu tentu saja menyisakan duka yang amat mendalam. Belum lagi hari pemakaman si manis itu bertepatan dengan hari dimana aku mengikuti ujian nasional SMA. Campur aduk rasanya perasaan ini. Air mata tak pernah surut, sebisa mungkin aku berusaha kuat dan berkonsentrasi mengerjakan soal, aku pasrah.
Selepas ujian, seorang guru yang akrab kupanggil Bapak sosiolongi, memelukku, menepuk bahuku dan berkata, “Sabar, cobaan bukanlah beban. Kamu kuat.”
kalimat Beliau itu dalah suntikan semangat yang sangat luar biasa, aku kuat. Sangat kuat, lebih kuat dari yang orang pikirkan. Terbukti dengan hasil ujianku yang cukup memuaskan, aku lulus.

Usai kelulusan, terbesit keinginanku untuk kuliah. Namun kondisi ekonomi mengurungkan niatku. Bagaimana tidak, kami tinggal di rumah berdinding papan semi anyaman bambu penuh lubang, yang berdiri dia tanah orang. Ya, tanah itu milik Nenek, kami masih menumpang.
Mulai saat itu aku berpikir dewasa dan memilih bekerja, tawaran untuk dikuliahkan gratis oleh saudara pun, aku tolak. Mimpiku satu, aku belum akan menikah ataupun kuliah sebelum bisa membuatkan rumah yang layak untuk orang tuaku.

Enam bulan bekerja sebagai pelayan toko, ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah. Bapak hanya seorang buruh tani. Beliau bekerja tidak tetap, sehingga tidak ada pemasukan tetap dalam rumah. Aku yang mau tak mau harus siap menjadi tulang punggung keluarga, mengingat Bapak juga mengidap penyakit diabetes. Beliau tentu butuh obat. Setiap pulang cuti, aku selalu membawa bulang dua kotak obat untuk ayah, sekotak bisa untuk 3 bulanan.

Waktu berlalu, dan selama itu pula aku masih terus berpikir keras, bagaimana mewujudkan rumah impian untuk mereka kelak, apa yang harus kulakukan?
Ternyata, Allah mengerti kegelisahanku. Aku dipertemukan dengan seorang pelanggan toko tempatku bekerja yang ternyata seorang sponsor TKW. Aku bertanya banyak pada beliau tentang proses menjadi TKW dan gaji perbulannya. Aku mendapatkan titik terang, aku akan bisa membangun rumah impian itu dengan jalan menjadi seorang TKW.
Akupun keluar dari pekerjaanku, boss ku sangat keberatan. Tapi apa boleh buat, gaji disana tidaklah cukup untuk membangun mimpi. Aku pulang, dan akan memutuskan menjadi TKW di singapura.

Dan,Allah lagi-lagi tidak tinggal diam. Keinginanku menjadi TKW tercium oleh sponsor dari desa tetangga. Beliau justru bersedia membiayai proses serta memberi uang saku, untuk bekerja ke Taiwan. Tentu saja langsung kusetujui. Bagaimana tidak, saat itu proses masuk taiwan harus membayar sekitar 2,5 juta, tanpa uang saku.
Tangis haru BAPAK dan ibu melepas kepergianku. Mereka tidak tahu tujuanku yang sebenarnya menjadi seorang TKW, yang mereka tahu hanyalah watakku yang sekali ingin, harus dilakukan. Itulah aku. Tujuanku untuk membangun rumah impian, masih kurahasiakan.
Setelah empat bulan merasakan getirnya tinggal di penampungan, tibalah aku di negeri yang serupa selembar daun mengapung, Taiwan. Negeri yang terkenal dengan sebutan formosa ini, akan mengajari serta membantuku membangun mimpi.
##
“ Pak, besok Eni kirim uang. Tolong belikan batu bata.” kataku pada Bapak dalam percakapan telepon malam itu.

“ Batu bata buat apa nduk?” tanya Bapak dengan nada heran.

“ Buat bangun rumah kita, buat apa lagi?”
Ya Allah ya Rabbi, apa ini mimpi? Alhamdulillah ya Allah. Buk e, anak kita mau bangun rumah buat kita Buk. Ya Allah ya rabbi, matursuwon,nduk.”
Suara Bapak dan Ibu terdengar serak,tangis bahagia beliau menumpahkan butiran bening di pipiku, aku lega.

Sejak saat itu,setiap bulan gajiku kukiririm ke rumah untuk mencicil bahan bangunan, mencicil rumah impian yang telah lama kami angankan. Dan, akhirnya setelah 2,5 tahun waktu berlalu, rumah itu telah berdiri kokoh. Dibangun tepat dimana hari aku aku dilahirkan, 20 oktober. Aku terharu, ternyata Bapaklah yang memilih tanggal itu. Ucapan selamat ulang tahun sekaligus senyum bahagia Bapak dan dan Ibu di hari itu, adalah hadiah terbesar yang takkan ternilai harganya. Rumah impian akan segera berdiri kokoh di depan mata dalam waktu singkat, melindungi mereka dari terik,hujan serata dinginnya angin malam. Aku lega.

“ Gimana Pak, rasanya tidur di rumah baru, Seneng gak?” tanyaku bahagia pada Bapak lewat telepon.

“ Ya seneng to Nduk. Kan sekarang kalo malam tidur sudah tidak khawatir kedinginan lagi. Tidak ada genteng bocor, dan tidak takut rumah roboh pas ada angin besar. Bapak dan Ibu berterimakasih sekali, Nduk. Lebih dari 20 tahun lamanya Bapak menjadi kepala rumah tangga, belum bisa membangun gubuk yang layak untuk kalian. Bapak sangat bersyukur, kini kamu bisa mengambil alih tanggung jawab Bapak. Maafkan Bapak, Nduk, Yang sakit-sakitan dan menjadi beban.”

Air mataku meleleh, aku tak kuasa menahan bahagia bercampur haru. Aku bisa mewujudkan rumah impian yan selalu dalam angan. Aku lega, bahagia. Sebuah rumah impian, sepetak kecil tanah untuk bercocok tanam serta sebuah motor second hand adalah harta yang amat tak ternilai yang kami punya. Mengingat sebelumya kami tak memiliki apa-apa. Aku bangga bisa mengukir senyum mereka dari balik formosa.

28 mei 2015, hari dimana aku akan cuti selama 2 minggu, pulang ke indonesia. Tiga hari aku harus menginap di jakarta untuk mengurus berkas di TETO dan KTKLN. Tentu saja hal itu mempersingkat waktuku untuk melepas kangen dengan keluarga, belum lagi tiketku pesawat yang terpaksa hangus karena lamanya proses pengurusan KTKLN. Aku harus pulang dengan jasa travel. Bapak mdnjemputku dengan sepeda motor supra fit hitam second, yang dibeli dengan uang yang kukirimkan untuk beliau, senyum bahagia melihat anaknya pulang, tergambar jelas diwajah.
Selama aku di rumah, Bapak selalu mengantarku kesana kemari. Ke pasar, nonton bola di Lapangan, kemanapun selalu aku diantar. Padahal aku bisa naik motor sendiri, tapi beliau bersikeras ingin mengantar, mungkin kangen, pikirku.

Rabu, 10 juni 2015, aku harus kembali terbang ke Taiwan. Kali ini dengan tujuan membangun mimpi keduaku, kuliah kemudian menikah dan dinikahkan langsung oleh Bapak.
Namun, Allah punya cerita lain untukku. 31 agustus 2015, Bapak berpulang kepangkuannya. Serangan jantung, katanya. Aku lemas, marah dan seperti orang linglung. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung, apa yang bisa kulakukan? Kenapa aku masih disini, sedangkan bapak terbujur kaku disana. Ternyata, keinginan Bapak mengantarku kemanapun aku pergi sewaktu di rumah kala cuti itu, dalah sebuah firasat bahwa beliau tidak akan mampu memboncengku lagi ketika aku finish kontraktiga tahun mendatang. aku ingin pulang. Ingin memeluk Bapak untuk terakhir kalinya. Tapi, kuurungkan niatku itu. Mengingat harga tiket pesawat yang melambung. Lebih baik uangnya kukirim saja ke rumah, untuk biayamengurus jenazah Bapak, biarlah aku disini menyulam do’a untuk beliau disana,serta menjadi tabungan pahala beliau di akhirat. Melanjutkn tanggung jawabku sebagai tulang punggung keluarga. Menghidupi Ibu dan Adik bungsu yang masih butuh pendidikan. Aku kuat, aku bisa dan yakin akan ada hikmah dibalik semua ini. Masih teringat jelas kalimat bahagia Bapak ketika tinggal di rumah baru. Tidak kedinginan saat tidur malam, serta tidak sibuk mencari ember kala hujan. Semoga Bapak bahagia dalam dekapNya, meski kini harus tidur di rumah yang sangat sempit dan gelap gulita, kami semua disini akan terus berdo’a untuk menerangi jalan Bapak disana.
Kami sayang Bapak serta Adik manis yang mendahului sebelum Bapak.

Kaohsiung city, 09 mei 2016.

Comments are closed.